Di dua artikel sebelumnya, kita sudah mengkaji mengenai teori dan asal-usul MBTI serta macam-macam fungsi kognitif yang menyusun kepribadian. Sekarang, kita akan mencoba menjawab pertanyaan Tiyok dari artikel pertama, “Apa sih pentingnya MBTI?” sekalian memasuki pembahasan selanjutnya yang lebih ringan, yaitu manfaat MBTI sebagai salah satu instrumen asesmen kepribadian.

MBTI untuk Meningkatkan Efektivitas dan Efisiensi Kinerja

Penggunaan MBTI memang paling banyak mencakup dunia karir. Kita juga tahu bahwa semua manajer perusahaan di dunia menginginkan karyawan yang bisa diandalkan agar pekerjaan bisa efektif dan efisien serta tujuan perusahaan bisa tercapai. Maka dari itu, dalam pembentukan tim-tim kerja, dibutuhkan komposisi karyawan yang tepat. Dengan memperhatikan tipe-tipe kepribadian karyawan, manajer bisa memperkirakan karyawan seperti apa yang cocok ditempatkan pada posisi tertentu atau pada tim kerja tertentu, serta menghindari konflik karena ketidakcocokan antar anggota tim kerja. Keuntungan lebihnya, bila anggota tim juga memahami MBTI adalah adanya saling memaklumi apabila terjadi kesalahpahaman, karena tahu bahwa gaya kerja satu individu akan berbeda dengan individu lainnya. Selain itu, manajer juga bisa mengevaluasi kinerja karyawan dengan memperhatikan aspek-aspek kepribadian karyawan. Omong-omong, laporan MBTI juga dibuat dalam format yang menarik dan menyesuaikan dengan kebutuhan asesmen, misalnya laporan untuk gaya kerja karyawan yang diperuntukkan bagi organisasi akan berbeda dengan self report untuk individu.

MBTI dalam Asesmen Rekrutmen dan Seleksi

Masih pada setting karir dan pekerjaan, manfaat MBTI lainnya adalah untuk rekrutmen dan seleksi karyawan. Ide ini sudah banyak digagas juga oleh sejumlah perusahaan, salah satunya Shell Australia. Secara umum, MBTI bisa digunakan untuk mengukur preferensi psikologis dalam cara orang memandang dunia dan membuat keputusan, maka dari itu MBTI dipercaya menjadi alat asesmen yang cukup efektif bagi rekrutmen dan seleksi. Namun, kita harus ingat bahwa konsep inti di balik instrumen MBTI adalah nilai dari semua tipe kepribadian dan pentingnya keragaman. Selain itu, ada kecenderungan seseorang untuk menilai bahwa kepribadian bisa berpengaruh pada jabatan. Hal ini dapat mengakibatkan judgment subjektif. Itulah mengapa laman web resmi Myers Briggs Foundation sudah mewanti-wanti untuk tidak menggunakan MBTI semata-mata sebagai alat asesmen dalam seleksi dan rekrutmen, apalagi memutuskan penugasan pekerjaan. Namun, pengetahuan tentang teori tipe dapat membantu orang mengenali mengapa mereka mungkin puas atau tidak puas dengan pekerjaan mereka, dan pengetahuan tentang tipe akan membantu tim dan rekan kerja berkomunikasi dengan lebih baik.

Maka dari itu, apabila dibutuhkan instrumen lain, masih ada DISC, SHL, PAPI, atau HPI yang bisa dipertimbangkan. Atau, jika memang ada kebutuhan untuk menyeleksi kandidat untuk jabatan yang lebih tinggi, kita bisa menggunakan assessment center agar hasilnya lebih komprehensif.

MBTI untuk Pengembangan Diri

Penilaian MBTI dirancang untuk mendeskripsikan karakteristik khas orang-orang dengan tipe kepribadian yang berbeda. Maka dari itu, setiap orang pasti memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Tapi, bagaimana kita mengetahui bagian dari kepribadian mana yang perlu kita kembangkan?

Hm, gini, deh. Sebagai contoh, coba kalian ingat baik-baik kembali, apa tipe kepribadian kalian? Berdasarkan percakapan di artikel pertama, Tono menyatakan kepribadiannya adalah ENFP. Kalau kalian sudah membaca artikel sebelumnya mengenai teori MBTI dan fungsi kognitif masing-masing tipe, kalian akan mengetahui bahwa mem-breakdown fungsi kognitif dalam satu tipe MBTI bisa dilakukan dengan model pesawat terbang.

Nah, untuk mengingatkannya kembali, susunan fungsi kognitif itu akan terdiri dari seperti ini:

  1. Pilot/fungsi dominan
  2. Ko-pilot/fungsi sekunder
  3. Teknisi/fungsi tersier
  4. Penumpang/fungsi inferior

Menurut fungsi kognitifnya, ENFP adalah tipe kepribadian yang memiliki pilot/didominasi oleh Ne (extrovert intuition), diikuti fungsi sekunder Fi (introvert feeling), fungsi tersier Te (extrovert thinking), dan fungsi inferior Si (introvert feeling). Fungsi dominan dan sekunder ENFP (Ne dan Fi) adalah yang berfungsi sebagai penggerak pesawat kepribadian Tono. Maka dari itu, secara sadar, Tono akan lebih sering menggunakan Ne dan Fi-nya untuk memproses sesuatu dan menentukan sikap terhadap lingkungannya. Di sisi lain, Tono juga memiliki Te dan Si yang melengkapi pesawat kepribadian itu. Te akan digunakan Tono untuk membuat penilaian atas apa yang harus dia lakukan, sehingga tindakan Tono akan berdasar pada logika apa yang menurutnya benar. Lalu, bagaimana dengan Si? Well, Si-nya Tono juga berperan, namun karena hanya sebagai fungsi inferior, Si akan jarang digunakan. Ah, tapi rupanya, melalui sebuah wawancara kerja, diketahui bahwa Tono suka mendengarkan lagu-lagu 80’an atau bertemu dengan teman-teman lamanya untuk mengembalikan mood. Dan ternyata, Tono memiliki perhatian terhadap detail yang baru akan muncul apabila ia terpaksa. Inilah contoh penggunaan Si, sebuah fungsi kognitif yang berkaitan dengan perincian dan memori.  

Nah, dengan mengetahui susunan fungsi kognitif itu, kalian sudah mampu mengira-ira laporan kepribadian Tono sebagai ENFP. Tono bisa dideskripsikan sebagai “pribadi yang mengandalkan intuisi, memiliki ketertarikan terhadap ide-ide baru dan berbeda, serta punya keteguhan terhadap nilai-nilai yang dianutnya. Namun, ada kalanya ia akan bertindak sesuai dengan yang dia pikir benar dan mengabaikan nilai-nilai tradisional. Di sisi lain, ia memiliki perhatian terhadap detail, meskipun tidak terlalu teliti dalam melakukannya.” Maka dari itu, kebanyakan ENFP seperti Tono akan terkesan sebagai pribadi yang inovatif dan kreatif, namun cenderung impulsif dan akan mudah clash dengan orang-orang yang berpola pikir tradisional. Hasilnya, untuk mengoptimalkan kepribadiannya, Tono harus belajar untuk menghormati nilai-nilai dan tradisi, bersikap lebih sabar, dan mencoba untuk menyelaraskan ide-idenya dengan realita, sehingga ide-ide yang ia kemukakan bisa bermanfaat bagi lingkungannya.

MBTI untuk Mengetahui Strategi Coping yang Efektif

Kasus Tono tadi adalah salah satu bukti bahwa setiap tipe kepribadian MBTI memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing, namun bagaimana bila seandainya Tono tidak mampu mengoptimalkan fungsi tersier dan inferiornya? Hasilnya adalah Tono bisa kesulitan mengatasi masalahnya, bahkan sulit mengetahui strategi coping yang efektif bagi dirinya ketika terjadi situasi penuh tekanan atau stres berat. Situasi penuh tekanan ini dinamakan dengan grip dan loop.

Grip

Grip adalah istilah yang menggambarkan situasi fungsi dominan yang menjadi terbalik dengan fungsi inferior. Ketika kita berada di bawah tekanan, kita cenderung menggunakan secara berlebihan fungsi dominan kita. Tapi, bila terlalu lama mengalami tekanan ini, kita akan menghabiskan semua energi dari fungsi dominan kita dan jiwa kita beralih ke fungsi inferior kita, yang jelas-jelas berlawanan dengan fungsi dominan.

Dalam kasus ENFP seperti Tono, misalnya, apabila ia mengalami grip, akan beralih dari dominasi Ne menuju ke Si, yang merupakan fungsi inferiornya. Dengan kata lain, peran Ne sebagai fungsi andalan Tono diambil alih oleh bagian kepribadiannya yang paling tidak disukai dan paling tidak terlatih. Alhasil, dalam situasi ini, Tono bisa jadi terlalu sering mengkhawatirkan hal-hal detail dan kadang terlalu nyaman di zona nyaman, padahal seharusnya ia bisa berinovasi.

Munculnya Fungsi Bayangan versus Grip

Keadaan grip akan berbeda efeknya dengan munculnya fungsi bayangan. Bagi yang belum tahu, fungsi bayangan adalah ‘sisi gelap’ dari kepribadian kita. Fungsi bayangan ini bukan bagian dari ego dan tidak selalu dapat diterima atau diterima secara sosial oleh diri kita. Akibatnya, fungsi bayangan hanya keluar ketika ego kita terancam. Misalnya, nih, ketika kamu berada di bawah tekanan yang sangat berat dan kamu merasa apa pun yang kamu lakukan tidak berhasil. Ketika fungsi bayangan memegang kendali, kamu akan menemukan dirimu bertindak dengan cara yang sama sekali berbeda sampai-sampai kamu tidak memahami perilakumu.

Nah, dalam kasus Tono, misalnya, sebagai ENFP dengan susunan fungsi kognitif Ne-Fi-Te-Si, akan ‘terbalik’ menjadi versi gelap dari dirinya apabila stres, yakni Ni-Fe-Ti-Se. Kalau kalian sudah membaca artikel sebelumnya, Ni-Fe-Ti-Se adalah fungsi kognitif INFJ. Ehm, mari kita sebut saja si INFJ ini teman sekelas Tono yang bernama Teddy. Dalam tekanan yang besar, Tono akan cenderung berperilaku seperti Teddy, namun karena susunan Ni-Fe-Ti-Se hanya merupakan ‘bayangan,’ Tono takkan menggunakan susunan ini sebaik Teddy. Sebaliknya, apabila Teddy mengalami stres berat, ia akan cenderung berperilaku seperti Tono, namun tak bisa menggunakan Ne-Fi-Te-Si sebaik Tono.

Loop

Loop terjadi ketika kita mengabaikan fungsi sekunder dan malah menggunakan fungsi tersier kita. Dalam kasus Tono, misalnya, seharusnya dia menggunakan kombinasi Ne-Fi sebagai fungsi pilot dan ko-pilot. Namun saat mengalami loop, Tono tidak memperhatikan Fi-nya sebagai penilai, tetapi malah melompat ke Te untuk menilai. Padahal, Te yang berada pada posisi tersier akan cenderung kurang berkembang dibandingkan pada posisi sekunder. Inilah yang menyebabkan sikap Tono nantinya akan didominasi Ne dan Te, yang kira-kira akan diwujudkan dalam tindakan impulsif untuk melaksanakan sesuatu berdasarkan ide-ide yang dianggapnya benar secara logis, sehingga kecenderungannya Tono akan cenderung blak-blakan dan tidak bijaksana. Karena Te bukan salah satu fungsi terkuat Tono, ia akan cenderung sering melebih-lebihkan akurasi dan efisiensi argumennya. Meskipun loop tidak mesti terjadi karena stres, keadaan ini bisa menyebabkan frustrasi dan lelah secara mental.

Maka dari itu, untuk menghindari terjadinya grip dan loop kita harus bisa melakukan strategi coping yang efektif sesuai dengan kepribadian kita. Strategi coping terbagi menjadi emotional based dan problem based. Emotional based dilakukanhanya akan bertahan sementara karena hanya berfungsi untuk meredakan stres (misalnya dengan humor, relaksasi, atau distraksi), namun problem based akan membantu kita untuk mencari inti permasalahan dan memecahkannya. Strategi problem based coping bagi Tono ini bisa dilakukan dengan mencari cara meningkatkan fungsi Te-nya, misalnya dengan mengikuti latihan kepemimpinan atau berkomunikasi secara asertif, sehingga Te-nya bisa diaplikasikan secara lebih halus dan tidak ‘meledak-ledak.’ 

Apakah MBTI Akurat?

Terlepas dari manfaat penggunaan MBTI, masih ada kontroversi mengenai MBTI dan relevansi teorinya untuk diaplikasikan dalam asesmen saat ini. Apalagi, penggunaan MBTI yang seharusnya merupakan alat asesmen malah menjadi fenomena pop culture yang mengakibatkan confirmation bias atau efek barnum. Contohnya, orang dengan kepribadian tertentu bisa jadi menggunakan kepribadiannya sebagai excuse untuk melakukan perilaku yang kurang berkenan. Di sisi lain, penelitian terkini melaporkan bahwa MBTI memiliki validitas dan reliabilitas yang cukup untuk menjadi instrumen dalam asesmen kepribadian yang aplikatif. Selain itu, penelitian lain juga membuktikan bahwa MBTI adalah instrumen yang efektif dalam membantu guru-guru dalam mengidentifikasi gaya belajar siswa dan menerapkan pendekatan dalam pembelajaran yang sesuai dengan kepribadian siswa.

Sesungguhnya, tidak ada satu pun alat asesmen kepribadian yang bisa dinyatakan akurat. Selalu ada variasi acak yang dapat mempengaruhi penilaian dalam asesmen, sehingga asesor harus selalu siap untuk mempertanyakan hasil asesmen dalam bentuk apa pun. Kepribadian manusia bukan merupakan suatu konstruksi tetap yang bertahan seumur hidup. Memang, kita bisa mewarisi sifat dari ayah dan ibu kita secara genetik, tetapi dunia akan selalu berubah. Mustahil bila kita tidak terpapar oleh pengalaman dari luar, sehingga sikap dan gaya penilaian kita terhadap lingkungan pun juga akan terpengaruh. Maka dari itu, ada baiknya bila hasil asesmen kepribadian tidak dijadikan sebagai justifikasi dari perilaku seseorang. Meskipun demikian, hasil asesmen kepribadian bisa menjadi cara yang efektif untuk mengevaluasi kelebihan dan kekurangan diri sendiri serta membantu kita untuk memahami variasi kepribadian orang lain. Yang jelas, para ahli yang berkontribusi dalam penyusunan alat asesmen juga tidak pernah berhenti mengembangkan konstruk melalui riset-risetnya. Siapa tahu di masa depan ada instrumen kepribadian yang lebih hype atau lebih bermanfaat daripada MBTI, kan?

Referensi:

Jung, C. (2016). Psychological Types. Abington: Routledge.  

Myers, I. B. (1987). Introduction to Type : A Guide to Understanding Your Results on the Myers-Briggs Type Indicator. Consulting Psychology Press, Inc.

Myers, I. B. (1998). MBTI Manual: A Guide to the Development and Use of the Myers-Briggs Type Indicator, 3rd ed. Consulting Psychology Press, Inc.

Priebe, H. (2015). The Comprehensive ENFP Survival Guide. E-book: Thought Catalog Books.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *