Image default

Cara Menguatkan Mental Dengan 10 Tips & Trik Psikologi!

Tidak terasa, ya, akhirnya kita memasuki tahun 2021. Memulai tahun baru merupakan sesuatu yang sangat ditunggu-tunggu kebanyakan orang, termasuk kamu, karena kamu pasti memiliki resolusi tahun baru yang ingin segera kamu penuhi. Namun ingatlah, tahun baru pasti disertai juga dengan tantangan baru dalam hidup, apalagi pandemi COVID-19 juga masih belum sepenuhnya surut dari Indonesia. Kita masih harus setia menerapkan protokol kesehatan dalam kehidupan sehari-hari. Kondisi pandemi COVID mendorong kita untuk memiliki mental yang tangguh. Ya, memang benar bahwa tidak semua orang lahir dalam keadaan yang beruntung. Kekuatan mental setiap orang pun berbeda-beda. Tetapi sesungguhnya, tidak peduli siapa pun kamu dan latar belakangmu, kita bisa berlatih agar mengerti cara menguatkan mental. Nah, seperti apa saja caranya? Yuk, kencangkan sabuk pengamanmu dan mari kita meluncur pada poin-poin berikut ini!

1. Jangan Takut!

OK, mungkin kamu agak kaget mengapa harus kalimat pertama ini yang kamu baca, tapi kenyataannya, setiap orang pasti pernah merasa takut, namun jangan biarkan ketakutan itu membuat kamu merasa terbebani dan tidak berharga. Justru kalau kamu merasa takut, itu adalah sesuatu yang manusiawi. Rasa takut merupakan sebuah reaksi biologis dan merupakan ekspresi perilaku adaptif yang bersifat defensif dalam evolusi manusia, sehingga manusia bisa melarikan diri dari sumber bahaya atau konflik (Steimer, 2002). Sejumlah penelitian juga mengaitkan rasa takut dengan kecemasan, karena gejala-gejala kecemasan yang muncul bisa diakibatkan apabila otak memproses stimulus yang menghasilkan rasa takut (Adwas, dkk., 2019). Mental yang kuat juga berarti mengerti cara mengatasi kecemasan.

Tapi jika sudah terlanjur takut duluan, bagaimana cara menguatkan mental? Dikutip dari Mental Health Foundation (2020), sejumlah cara bisa dilakukan untuk mengatasi rasa takut, antara lain mencari tahu asal ketakutan tersebut, mengenali ciri-ciri dan gejala rasa takut, dan mengenal kemampuan diri. Namun, yang terpenting adalah kamu tidak lari dari rasa takut dan tidak menyerah. Di situlah kekuatan mental didapatkan. Kamu tidak boleh menyerah pada rasa takut itu, namun ubahlah rasa takut menjadi mindset yang baru, yaitu bahwa segala ketakutan disebabkan karena kita tidak mengetahui mengenai apa yang terjadi di kemudian hari. Maka, ketika kamu mulai merasa takut, ingatkanlah dirimu sendiri bahwa kamu masih memulai. Kamu masih belum mengetahui keseluruhan dari situasi yang akan kamu hadapi.

Nah, catatlah baik-baik. Langkah pertama untuk menguatkan mental adalah… jangan takut dulu!

2. Fokus pada Dirimu, Here and Now

Segala hal bisa terjadi di dunia ini selama kamu hidup, jadi pastikan bahwa kamu selalu siap menghadapinya. Logikanya, kalau kamu tidak siap menghadapi apa yang kamu alami saat ini, bagaimana kamu bisa menghadapi apa pun yang bakal terjadi di masa depan? Karena itulah fokus pada diri sendiri dibutuhkan. Fokus pada diri sendiri bisa dilakukan dengan hal-hal sederhana seperti self-care, misalnya membersihkan kamar, merapikan barang-barang yang kamu miliki, atau berolahraga.

meditasi mental sehat
Meditasi rutin akan menghasilkan mental yang sehat

Kamu juga bisa mempraktikkan meditasi apabila dibutuhkan. Namun apabila kamu merasa cukup melakukan self-care, gunakanlah waktumu untuk memfokuskan diri pada orang-orang di sekitarmu atau lingkungan tempat tinggalmu. Bila kamu memperhatikan dengan seksama, segala sesuatu di dunia ini terus berubah, baik itu menit, jam, hari, minggu, hingga bulan dan musim. Satu hal yang perlu diingat adalah, setiap tantangan hidup yang yang datang dari waktu ke waktu adalah ujian. Kita diberi tantangan dan diuji agar kita bisa berubah, entah seperti apa pelajaran yang akan kita dapatkan. Seperti yang sudah kita bahas di trik nomor 1, kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, jadi daripada mengkhawatirkan apa yang belum tampak, lebih baik fokus pada apa yang sudah tampak.

3. Tantang Dirimu Sendiri

Siapa yang sewaktu duduk di bangku sekolah pernah ikut lomba? Atau mungkin pernah mengikuti try out ujian nasional? Lomba atau try out yang pernah kamu ikuti dulu adalah bukti bahwa kamu pernah mencoba menantang dirimu sendiri. Menantang diri bukan hanya untuk menguji kemampuan, tetapi juga membiasakan diri kepada ketidakpastian, sehingga kamu bisa lebih siap menghadapi kenyataan hidup sepahit apa pun.

Eits, kamu tidak harus menantang diri secara ekstrim. Cara gampangnya, nih, cobalah menantang diri untuk berbuat kebaikan dan menebarkan semangat kepada orang lain selama sebulan. Atau kalau kamu lagi susah move on dari mantan, misalnya, tantanglah dirimu untuk tidak membuka akun sosmed mantan selama seminggu. Setelah itu, coba bandingkanlah keadaanmu sebelum dan setelah melakukan tantangan, lalu jadikanlah hasil tersebut sebagai evaluasi diri.

4. Hilangkan Kebiasaan Mengucapkan “Aku Tidak Bisa” dan “Seharusnya Aku”

Nah, dalam membahas cara menguatkan mental, kita sudah bicara sampai bagaimana kamu perlu menantang diri sendiri. Namun, mungkin masih ada di antara kamu yang masih suka mengucapkan, “Ah, aku tidak bisa melakukannya!” kepada dirimu sendiri. Hayo, ada, nggak?

Kedengarannya sederhana, tetapi sebenarnya ucapan “aku tidak bisa” bermakna bahwa kamu tidak sanggup melakukan sesuatu, sehingga secara tidak sadar, kamu telah membatasi dirimu sendiri dan tidak percaya pada kemampuanmu.

Ketika kamu mengalami kegagalan, seluruh pikiranmu akan cenderung berkutat pada hal-hal negatif, salah satunya adalah penyesalan terdalam yang diwujudkan dengan perilaku menyalahkan diri sendiri. Sebuah penelitian telah menetapkan hubungan antara penyesalan dan depresi dan kecemasan, dengan hasil yang menunjukkan bahwa interaksi antara penyesalan dan pemikiran berulang bisa memprediksi general distress ditinjau dari berbagai jenis kelamin, ras/etnis, usia, pendidikan, dan pendapatan (Roese, dkk., 2009). General distress atau psychological distress merupakan keadaan di mana seseorang mengalami penderitaan emosional terkait dengan stressor dan tuntutan yang sulit diatasi dalam kehidupan sehari-hari (Arvidsdotter, dkk., 2015).

Apabila kamu pernah merasa bersalah karena suatu hal, ucapan yang paling mungkin keluar adalah, “Seharusnya aku…” dan demikianlah, penyesalan itu akan terus berkutat dalam pikiranmu. Maka dari itu, coba renungkanlah sejenak. Kita tidak bisa mengontrol semua hal yang akan terjadi dan sudah terjadi. Kamu tidak bisa mengubah masa lalu, tetapi kamu masih bisa memperbaikinya dengan fokus pada masa kini dan masa depan. Ah, here we go again. Tidakkah ini berarti kamu perlu kembali lagi pada trik nomor 2 tentang fokus pada masalah?

Kegagalan memang menyakitkan, tapi jangan terlalu sering meratapi apa yang pernah terjadi. Karena seburuk apa pun yang kamu alami di masa lalu, semua itu adalah pembelajaran yang berharga bagimu. Juga, jangan pernah menyesali apa pun keputusanmu. Setiap keputusan yang kamu ambil akan membawamu pada suatu jalan yang akan membawamu pada pengalaman baru. Siapa tahu pengalaman itu akan membantumu menjadi pribadi yang lebih baik, kan?

5. Cari Solusi Atas Masalahmu

Ada sebuah cerita tentang pegawai magang bernama M di sebuah biro arsitektur yang memiliki masalah dengan rekan kerjanya. Sebut saja namanya T. Dikisahkan bahwa T diminta untuk memegang sebuah proyek besar yang pertama kalinya dikerjakan oleh biro tersebut. Saat itu, pengerjaan proyek sudah mendekati batas deadline, namun belum juga diselesaikan karena masalah teknis. Ketika diselidiki, rupanya salah satu tukang bangunan yang mengerjakan proyek kurang memahami instruksi yang disampaikan oleh T, yang kebetulan menjadi penanggung jawab utama, sehingga ia mengkomplain kepada M, yang jelas tidak memiliki tanggung jawab penuh, tetapi hanya bertugas sebagai pengawas. Rupanya, usut punya usut, T jarang berkunjung ke proyek karena kesibukannya. Ketika dihubungi pun amat sulit. Maka dari itu, M pun menjadi kesal pada T. Ketika mereka dipertemukan untuk berbicara tentang teknis, T justru menyalahkan M karena baginya masalah si tukang itu hanya masalah ringan yang seharusnya bisa diselesaikan oleh M. Dengan marah, M pun balas menyalahkan T karena dia tidak membeberkan instruksi dengan jelas dan menyampaikan detail proyek tersebut kepadanya.

Nah, bukankah jelas bahwa kedua pegawai biro ini sama-sama memiliki isu yang sama? Kalau kamu menebak bahwa keduanya kurang berkomunikasi dengan baik, maka kamu benar. Sepele, memang. Tapi ketika kedua pihak yang berselisih tidak menemukan titik terang, maka yang terjadi adalah sebuah masalah kecil bisa menjadi semakin besar.

Selama kita hidup, masalah kecil atau besar memang tidak bisa terhindarkan. Merasa tak berdaya itu wajar, tapi kemudian kita harus bersikap realistis. Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya jika kita mau berusaha menyelesaikannya. Tentu saja, penyelesaian masalah ini tidak hanya dengan otak, tetapi juga dengan hati yang terbuka dan mau memaafkan. Pahami hal ini agar mental menjadi kuat.

6. Lakukan Self Talk

Cara menguatkan mental yang unik lainnya adalah Self talk. Self talk adalah melakukan dialog internal dengan diri sendiri. Ada self talk yang bersifat positif dan ada pula yang bersifat negatif, tergantung dari bagaimana kita berdialog dengan diri sendiri. Namun yang kita bicarakan kali ini adalah self talk yang positif, yang bisa dilakukan dengan merefleksikan kejadian hidup atau memotivasi diri sendiri.

wanita melakukan self talk
Self talk bukanlah hal yang aneh

Riset-riset dan teori terdahulu telah membuktikan pentingnya melakukan self talk untuk menguatkan mental seseorang. Psikolog sekaligus ilmuwan psikologi bernama Lev Vygotsky (1896-1934) menyebutkan bahwa self talk penting bagi kemampuan regulasi diri, sebab baginya, bahasa adalah suatu bagian kesadaran, dan kesadaran dibentuk melalui pembentukan kata-kata yang diutarakan (Vygotsky, 1986). Dengan kata lain, Vygotsky mendorong orang untuk bersikap terbuka, baik kepada orang lain dan diri sendiri agar kesadaran kita tetap terjaga. Penelitian-penelitian selanjutnya telah membuktikan teori Vygotsky, dan menyampaikan bahwa self talk positif penting bagi pertumbuhan pribadi anak agar ke depannya menjadi individu yang mandiri, sehingga kebiasaan self talk yang positif harus diterapkan sejak kecil (Leong & Bodrova, 2006). Sebuah penelitian pada atlet juga membuktikan manfaat self talk positif, yang apabila dilakukan terus menerus akan meningkatkan performansi, menaikkan kemampuan kognitif, memotivasi diri, mengontrol perilaku, meningkatkan self efficacy, dan membantu menciptakan afeksi kepada diri sendiri (Tod, Hardy, & Oliver, 2011; Hardy, 2016). Pada setting pendidikan, self talk yang positif juga terbukti meningkatkan performansi akademik siswa dan kepercayaan diri dalam belajar (Sánchez, 2015). Jangan lupakan juga efeknya kamu akan lebih mencintai diri sendiri.

Nah, sudah banyak manfaat self talk yang sudah kita bahas, namun apakah kamu termasuk dari orang yang suka melakukan self talk? Jika belum, maka sebaiknya kamu mulai membiasakannya sekarang juga. In the end, berdialog positif dengan diri sendiri bukan sesuatu yang aneh, melainkan suatu tanda bahwa kamu sudah mengenal dirimu dengan baik, sehingga kamu tahu bagaimana membuat dirimu bangkit kembali.

7. Rajin Membaca

Congrats! Kalau kamu sudah sampai di tips dan trik nomor 7 tentang cara menguatkan mental, berarti kamu termasuk orang yang gemar membaca. Nah, bagi kamu yang masih sering mengasosiasikan membaca sebagai hobi membosankan, kamu harus tahu bahwa membaca ternyata memiliki banyak manfaat secara edukasional. Seperti kata George R. R. Martin, penulis serial Game of Thrones, melalui tokohnya, Tyrion Lannister: “Pikiran membutuhkan buku seperti pedang membutuhkan batu pengasah agar dirinya tetap tajam.” Sekedar informasi untuk kamu yang belum menonton Game of Thrones, Tyrion Lannister terkenal sebagai salah satu tokoh paling cerdas dengan kemampuan strategi yang brilian dalam serial tersebut. Ia memperolehnya melalui kegemarannya membaca dan belajar mengenai tata pemerintahan. Ia tahu bahwa ia tidak bisa menandingi ketampanan dan kecantikan saudara-saudaranya, di samping memiliki kecacatan fisik. Bahkan, ayahnya sendiri pun sering membanding-bandingkan dirinya dengan kakaknya, Jaime, yang tumbuh menjadi ksatria pemberani. Maka dari itu, Tyrion pun menghabiskan waktunya dengan membaca dan belajar, sehingga ia pun tumbuh menjadi politisi yang handal dengan wawasan yang luas. Namun tahukah kamu, bahwa selain memperkaya wawasan, membaca juga memiliki manfaat untuk kesehatan fisik dan mental?

orang membaca
Membaca merupakan salah satu cara menguatkan mental

Menurut sebuah literature review yang dilakukan Alexander Technological Educational Institute of Thessaloniki, Yunani, berdasarkan banyaknya penelitian, terbukti bahwa membaca berkontribusi pada pertukaran informasi yang lebih baik di antara individu serta meningkatkan kinerja sistem pernafasan dan kardiovaskuler, karena saat kita membaca, kita mengaktifkan lobus frontal, di mana semua fungsi otomatis tubuh, termasuk diantaranya fungsi pernapasan dan jantung (Kourkouta, dkk., 2018). Sementara itu, manfaat membaca bagi kesehatan mental dibahas dalam kajian-kajian mengenai efektivitas bibliotherapy. Sebuah penelitian membuktikan bahwa bibliotherapy terbukti dapat mengurangi gejala depresi dan kecemasan, bergantung pada kualitas bacaan yang disajikan (Fakhrany, 2015).

Ada satu tips bagi kamu yang tidak terbiasa membaca buku-buku tebal atau bacaan berat. Kamu bisa menggunakan alternatif lain, misalnya mulai dengan membaca cerpen atau komik. Atau jika kamu lebih suka mendengarkan, kamu bisa mengakses podcast atau audiobook, atau menggunakan web seperti Coursera, Udemy, Skillshare, dan lain-lain sebagai sarana memperkaya sumber literasi.

8. Buatlah Life Goals

Walt Disney (1901-1966) pernah berkata, “Jika kamu bisa memimpikan sesuatu, maka kamu bisa mewujudkannya.” Ia dikenal sebagai seorang entrepreneur, produser,dan animator yang sangat berpengaruh bagi perkembangan film animasi di dunia. Namun, perjalanan hidup Walt tidak semudah itu. Ia berkali-kali jatuh bangun saat memulai karirnya di tahun 1920-an sebagai seorang kartunis, mulai dari mengalami masalah dengan rekan kerja sampai kehilangan hak cipta atas karakter animasi pertamanya, Oswald the Lucky Rabbit tahun 1928. Hingga suatu ketika, Walt berhasil menciptakan tokoh Mickey Mouse yang kepopulerannya meledak di pasaran animasi, bahkan lebih populer daripada Oswald. Mickey Mouse tidak hanya menjadi bintang utama di kartun-kartun ciptaan Disney, tetapi juga menguasai pasar merchandise di dunia. Berkat kepopuleran Mickey Mouse dan serial animasinya, Walt Disney pun mendapatkan Academy Award pertamanya. Namun Walt masih belum puas, karena ia masih ingin mendobrak batasan-batasan dalam animasi. Ia pun memproduseri Snow White and the Seven Dwarfs yang rilis di bioskop tahun 1937 sebagai film animasi berwarna pertama yang memiliki durasi hampir 1 jam, padahal di zaman itu, durasi film animasi tidak lebih dari 10 menit.

Sekarang, coba pikirkan kembali kutipan di awal tadi. Walt Disney adalah salah satu tokoh dunia dengan life goals yang jelas dan mental yang kuat. Jika Walt tidak memiliki life goals yang jelas, maka ia tidak akan bisa menjadi animator yang sukses dan menyerah begitu saja saat terpuruk dalam pekerjaannya. Alhasil, tidak ada kartun Mickey Mouse, tidak ada tokoh Snow White, tidak ada studio animasi Disney dan tidak ada taman bermain Disney World. Pendek kata, mimpinya akan sia-sia belaka.

Itulah mengapa life goals diperlukan, agar kamu bisa memiliki arah yang jelas dalam hidup. Menurut Victor Strecher, seorang profesor dari University of Michigan’s School of Public Health, membuat life goals melibatkan tiga jenis tujuan hidup, yaitu:

  • be goals (apa yang kamu inginkan),
  • do goals (kemampuan yang harus kamu miliki untuk meraihnya),
  • action goals (bagaimana kamu merealisasikan be goals).

Nah, contoh penerapannya begini. Pertama-tama, ambillah secarik kertas, lalu buatlah daftar life goals-mu melalui be goals, do goals, dan action goals tersebut. Be goals adalah apa yang ingin kamu capai dalam hidup. Semisal kamu memiliki life goals menjadi seorang animator sukses seperti Walt Disney, maka tuliskan be goals-mu, yaitu menjadi animator. Jika sudah demikian, pikirkan hal-hal yang harus kamu lakukan untuk mewujudkan be goals tadi. Misalnya, apabila kamu ingin menjadi animator, kamu harus menjadi orang yang punya pengetahuan bisnis animasi, punya skill menggambar, dan task oriented. Inilah yang disebut do goals. Selanjutnya, pikirkanlah usaha realistis yang kamu lakukan untuk mencapai do goals tersebut. Semisal kamu ingin meningkatkan skill menggambar, maka kamu harus latihan terus menerus. Begitu pula jika kamu ingin punya wawasan soal bisnis animasi, kamu harus bergaul dengan orang-orang yang satu minat denganmu atau mencari link ke komunitas animator yang sudah ahli. Terakhir, jika kamu ingin menjadi lebih task oriented, kamu bisa mulai dengan bangun lebih pagi, belajar tepat waktu, dan tidak menunda-nunda pekerjaan.

Usaha-usaha realistis inilah yang disebut action goals. Tidak hanya untuk membantu kamu merekam jejak, kamu juga bisa melakukan evaluasi terhadap life goals kamu melalui daftar be, do, dan action goals ini, misalnya apakah goals-mu termasuk jangka pendek atau jangka panjang, sudah sejauh apa kamu melakukan usaha mewujudkan goals, dan sebesar apa kesulitan yang kamu hadapi ketika menjalaninya. 

9. Habiskan Waktu dengan Orang-orang Terdekat

Memang, masalah quality time ini merupakan tantangan besar bagi kita di sepanjang tahun 2020 gara-gara pandemi COVID-19. Kita tidak bisa berkumpul bersama teman-teman dan keluarga sesering biasanya karena physical distancing. Untungnya, zaman sudah semakin modern sekarang, karena kita sudah memiliki teknologi video call untuk bertatap muka dengan orang-orang terdekat. Jadi, meskipun kita berjauhan, kita masih bisa bertukar kabar dengan mereka. 

Sejumlah penelitian psikologi menyampaikan manfaat dari salah satu cara menguatkan mental yaitu menghabiskan waktu dengan orang terdekat. Antara lain, menghabiskan waktu bersama orang terdekat, terutama keluarga, akan meningkatkan well being pada remaja, serta menjadi sumber support sosial, emosional, dan psikologis bagi individu yang sudah lanjut usia (Treas & Bengtson, 1987; Offer, 2013). Selain itu, pemanfaatan quality time dengan baik juga bisa membantu menguatkan hubungan suami-istri dan meningkatkan kepuasan dalam relasi interpersonal (Milek, 2015). Maka dari itu, apabila kamu merasa down atau kehilangan gairah dan semangat, mungkin itu tandanya kamu perlu bertegur sapa dengan keluarga atau teman-temanmu.

10. Senantiasa Bersyukur

bersyukur, salah satu cara menguatkan mental
Selalu ingat untuk bersyukur

Ada sebuah legenda Yunani tentang seorang raja bernama Midas. Ceritanya, Midas adalah raja yang sangat berkuasa dan kaya raya. Ia selalu mengadakan pesta besar dan mengundang rakyatnya untuk berpesta bersamanya. Namun, kekayaan dan kegemaran Midas untuk berpesta itu mengantarkannya pada ketamakan. Ia terobsesi dengan uang dan tidak segan-segan membelanjakan uangnya untuk berfoya-foya. Suatu ketika, ada seorang laki-laki bernama Silenus yang tersesat dalam perjalanan. Rupanya, Silenus adalah pengikut rombongan Dionysus, Dewa Pesta dan Perayaan. Silenus kebetulan melewati kerajaan Midas, lalu Midas pun mengundangnya masuk dan menikmati pesta, sebelum mengantarkannya kembali pada Dionysus. Dewa Dionysus terkesan dengan kebaikan Midas, sehingga ia berjanji untuk mengabulkan apa pun permintaan sang raja. Midas pun berpikir, betapa enaknya bila ia memiliki kekuatan ajaib untuk mengubah semua perabotnya menjadi emas dengan sekali sentuhan. Dionysus merasa terkejut, namun Midas bersungguh-sungguh dengan permintaannya, sehingga Dionysus pun mengabulkannya.

Awalnya, Midas sangat bahagia karena seluruh perabotnya bisa berubah menjadi emas. Sampai suatu ketika, ia merasa lapar dan ingin makan. Namun saat ia menyentuh makanannya, seluruh hidangannya berubah menjadi emas. Begitu pula saat putrinya datang untuk menyambutnya dengan pelukan, putrinya pun berubah menjadi patung emas. Midas pun sadar bahwa ketamakannya justru menjadi kutukan baginya, sehingga ia pun memohon pada Dionysus untuk menarik kekuatan tersebut darinya dan mengembalikan keadaan seperti sediakala. Dionysus pun mengabulkannya, dan mulai saat itu Midas tidak lagi menjadi raja yang tamak. Kekayaannya pun sering dibagikannya kepada fakir miskin dan rakyat yang membutuhkan.

Kisah Midas tersebut mengingatkan kita bahwa sebagai manusia, kita memang dianugerahi sifat yang tidak mudah puas. Kita sering lupa bahwa ada hal-hal kecil dalam hidup yang lebih penting daripada status, harta, dan kehormatan. Secara psikologis, individu yang suka bersyukur memiliki tingkat harapan yang lebih tinggi, juga lebih jarang mengalami gejala depresi dan kecemasan, serta iri dan dengki, sehingga mereka akan lebih sering merasakan pengalaman positif dalam kehidupan sehari-hari (Bono, Emmons, & McCullough, 2012). Rasa syukur juga dapat meningkatkan psychological, spiritual, dan emotional well being, sehingga mendorong seseorang untuk lebih empatik dan mengembangkan perilaku menolong sesama, karena  ketika kita selalu bersyukur dengan apa yang kita miliki, kita dapat menguatkan mental karena pola pikir kita terlatih untuk merasa puas dengan apa yang kita miliki dan selalu berpikiran positif terhadap lingkungan kita (Elosua, 2015).

Nah, dari 10 trik psikologi untuk menguatkan mental di atas, trik mana saja, nih, yang sudah mulai kamu terapkan? Kalau belum ada, kamu masih belum terlambat untuk memulai. Yuk, mari belajar menguatkan mental bersama-sama!   

References:

Arvidsdotter, T., Marklund, B., Kylén, S., Taft, C., & Ekman, I. (2015). Understanding persons with psychological distress in primary health care. Scandinavian Journal of Caring Sciences, 30(4), 687–694. doi:10.1111/scs.12289

Adwas, A. & Jibreal, J., Azab, A. (2019). Anxiety: Insights into Signs, Symptoms, Etiology, Pathophysiology, and Treatment. The South African journal of medical sciences. 2. 80-91.

Bono, G., Emmons, R., & Mccullough, M. (2012). Gratitude in Practice and the Practice of Gratitude. 10.1002/9780470939338.ch29.

Elosua, M. (2015). The Influence of Gratitude in Physical, Psychological, and Spiritual Well-Being. Journal of Spirituality in Mental Health. 17. 110-118. 10.1080/19349637.2015.957610.

Encyclopedia Britannica. (2020). Walt Disney. Dipetik dari Encyclopedia Britannica: https://www.britannica.com/biography/Walt-Disney#:~:text=Walt%20Disney%20%2C%20in%20full%20Walter,as%20Mickey%20Mouse%20and%20Donald.

Fakhrany, K. (2015). Treatment of Depression by bibliotherapy: Empirical study based on a sample of students of Faculty of Arts, Tanta University. Dipetik dari Researchgate: https://www.researchgate.net/publication/281555387_Treatment_of_Depression_by_bibliotherapy_Empirical_study_based_on_a_sample_of_students_of_Faculty_of_Arts_Tanta_University

Greeka. (2020). Myth of King Midas and His Golden Touch. Dipetik dari Greeka: https://www.greeka.com/greece-myths/king-midas/

Hardy, J. (2006). Speaking clearly: A critical review of the self-talk literature. Psychology of Sport and Exercise. 7. 81-97. 10.1016/j.psychsport.2005.04.002.

Kourkouta, L., Iliadis, C., Frantzana, A., Vakalopoulou, V. (2018). Reading and Health Benefits. Journal of Healthcare Communications. 03. 10.4172/2472-1654.100149.

Leong, D. J. & Bodrova, E. (2006). Developing self-regulation: The Vygotskian view. Academic Exchange Quarterly. 10.

Offer, S. (2013). Family Time Activities and Adolescents’ Emotional Well‐being. Journal of Marriage and Family. 75. 10.1111/j.1741-3737.2012.01025.x.

Roese, N., Epstude, K., Fessel, F., Morrison, M., Smallman, R., Summerville, A., & Segerstrom, S. (2009). Repetitive Regret, Depression, and Anxiety: Findings from a Nationally Representative Survey. Journal of Social and Clinical Psychology. 28. 671-688. 10.1521/jscp.2009.28.6.671.

Sánchez, F. (2015). Self-Talk and academic performance. Anales de Psicología. Anales de Psicología. 10.6018/analesps.32.1.188441.

Steimer, T. (2002). The biology of fear- and anxiety-related behaviors. Dialogues in Clinical Neuroscience. 4. 231-49.

Strecher, V. (2020). Finding Purpose and Meaning in Life: Living for What Matters Most. (Lecture video). Dipetik dari Coursera: https://www.coursera.org/learn/finding-purpose-and-meaning-in-life/home/welcome.

Tod, D., Hardy, J., Oliver, E. (2011). Effects of Self-Talk: A Systematic Review. Journal of Sport & Exercise Psychology. 33. 666-87. 10.1123/jsep.33.5.666.

Treas, J., & Bengtson, V. (1987). The Family in Later Years. 10.1007/978-1-4615-7151-3_23.

Vygotsky, L. S. (1986). Thought and language (A. Kozulin, Trans.). Cambridge, MA: MIT Press (Original work published 1934).

Artikel Terkait

6 comments

ulfatul_0701 Februari 8, 2021 at 11:39 AM

Makasih tipsnya kak, sangat bermanfaat sekali.

Reply
Syarifah Fatimah Februari 8, 2021 at 8:31 PM

Makasih banyak artikel nya sangat bermanfaat
Bagaimana saya akhirnya bisa kembali pada mental yang tadinya sangat ingin berteriak keras menemukan apa yang sebenarnya saya inginkan, dan tidak sengaja postingan give away nya muncul dan ketika saya mengikuti aturan main nya saya tertarik pada mental dan dari artikel inilah saya menemukan jawaban. Waktu saya sekolah dulu teman saya pernah membawa buku filosofi teras dan saya meminjamnya dan ada kata yang saya ingat dari buku itu, buku ini bukan sekedar selesai di baca, habis itu selesai tapi bagaimana tetap membaca nya dan menerapkannya, kurang lebih seperti itu. Dan saya sangat ingin sekali memiliki buku ini pada saat itu bahkan sampai saat ini saya selalu mendamba dambakan kehadiran buku itu, dan juga katanya arictoteles “kita tdk bisa mengontrol sesuatu di luar kendalinya kita, tapi kita bisa melakukan sesuatu yang ada di kendalinya kita” contoh nya seekor anjing yang diikat dengan tali di sebuah motor misalnya si anjng punya 2 pilihan berlawanan hingga mati tercekik atau tetap mengikuti nya sambil menghirup udara segar sambil melirik ke anjing yg lain” begitupun hal nya kita

Reply
Ahra Maret 22, 2021 at 12:03 PM

Terima kasih tipsnya, walaupun saya baca ini di bulan maret tapi mungkin kedepannya saya bisa menguatkan mental saya dengan cara-cara diatas.

Reply
selly Maret 22, 2021 at 1:00 PM

Terimakasih banyak atas trik dan tips nya kak.. ini sangat bermanfaat

Reply
Yeniarti Theresa Maret 22, 2021 at 1:56 PM

Terimakasih artikelnya, dengan ini saya jadi tertarik dengan dunia psikologi yang membuat saya penasaran. Kenapa orang orang suka mental sickness apa penyebabnya? Kenapa orang suka suicide apa juga penyebabnya? Kenapa sih anak bisa rusak dalam hal mental dan sikap sifatnya penyebabnya apa? Apakah orangtua jadi titik tumpu penyebab anak menjadi seperti itu? Gimana sih cara mendidik anak yang benar apakah dibentak seperti ospek tahun lalu? Atau kah dengan cara lembut? Kalau orangtua sering memanjakan anaknya apa yang terjadi pada sang anak? Bagaimana sang anak bisa mengandalkan dirinya sendiri tanpa mengandalkan orang sekitar dan orangtuanya? Yaah sebetulnya, masih banyak banget pertanyaan seputar dunia psikologi mulai dari pendidikannya sampai selesai dll juga masi saya pertanyakan sama diri saya sendiri sebetulnya ehehe

Reply
Anneliese Valerie Ong Maret 22, 2021 at 2:44 PM

OMG This article rocks! Tahu aja saat ini apalagi di masa pandemi, mental bener-benar drop. 10 tips ini akan sangat membantu dalam pengembangan diri, memperjelas arah tujuan hidup, dan tetap menjadi individu yang produktif walau di rumah saja! Thank youuu.. hopefully 2021 will be better thanks to this article. Pengen terapin, wish me luck!

Reply

Leave a Comment