Image default

Peran Psikologi Lingkungan dalam Desain Interior

Siapa yang pernah bekerja di coworking space? Hm, sepertinya hampir semua milenial punya pengalaman bekerja di coworking space, bukan? Fenomena munculnya coworking space sekitar satu dekade ini membuktikan bahwa kebanyakan generasi milenial ingin bekerja di tempat yang aman, nyaman, fleksibel, dan diharapkan mampu menstimulasi kreativitas dan produktivitas kerjanya. Tidak hanya itu, munculnya coworking space juga memungkinkan orang-orang untuk bersosialisasi sambil bekerja, tanpa meninggalkan kesan nyaman.

coworking space

Nah, kesan nyaman pada coworking space tentunya diperoleh dari perancangan dan tata letak lingkungan fisik. Komponen-komponen lingkungan fisikini meliputi pengaturan ruangan dalam mendukung efisiensi dan kenyamanan dalam bekerja serta kondisi-kondisi lingkungan yang meliputi suhu, kelembaban, pencahayaan, ventilasi, dan level kebisingan. Mungkin beberapa di antara kalian ada yang mendecakkan lidah dan berpikir, “Ah, itu kan hanya soal mengatur furnitur dan menata tanaman saja!” Tapi rupanya, pengaturan ruangan alias interior designing itu tidaklah mudah. Selain memperhatikan aspek-aspek fisik, seorang desainer interior juga menggunakan environmental perception dan ilmu psikologi dalam menghasilkan desain yang usable.

Keuntungan Memiliki Ruangan yang Nyaman

Di artikel sebelumnya, kita sudah berkenalan dengan environmental perception dalam psikologi lingkungan. Environmental perception manusia dapat mempengaruhi tata letak dan perancangan lingkungan fisik, begitu pula sebaliknya. Dengan kata lain, seseorang akan berusaha menciptakan lingkungan kerja yang sesuai dengan persepsinya tentang sesuatu. Nah, jadi kira-kira, hubungan hal ini dengan penggunaan coworking space sebagai tempat kerja anak-anak milenial itu begini: “Generasi milenial menghendaki lingkungan kerja yang nyaman, maka perancangan coworking space yang sesuai dengan kehendaknya akan memenuhi persepsinya tentang lingkungan kerja yang nyaman.”

Tapi, apa sih sebenarnya keuntungan ruang yang nyaman secara psikologis? Penelitian-penelitian terkini menyampaikan bahwa terdapat hubungan positif antara physical work environment dengan employee engagement, serta bahwa physical work environment mampu menjadi salah satu faktor pendukung employee engagement dengan memperhatikan well being karyawan, level of engagement, dan pola interaksi karyawan. Sebuah penelitian lain juga menyatakan bahwa physical work environment adalah faktor yang paling berpengaruh terhadap kepuasan kerja, diikuti oleh social environment dan psychological environment.

Lalu, apa saja kriteria desain interior yang baik itu? Berikut ini adalah tiga di antaranya yang berhasil dirangkum:

1.  Memiliki Nilai Estetik

ruang estetik

Nah, sekarang cobalah perhatikan ruangan di sekelilingmu. Atau apabila kamu berada di luar rumah, perhatikanlah objek-objek apa saja yang ada di dekatmu. Setelah itu, coba kamu gambar lingkaran imajiner untuk menandai objek apa saja yang paling menonjol, lalu berikan kesan terhadap keberadaan objek-objek tadi. Objek-objek dalam lingkungan dapat dilihat melalui lima kesan utama:

(1) Interposisi (objek mengganggu latar belakangnya),

(2) Support (objek cenderung bertumpu pada permukaan),

(3) Probabilitas (objek cenderung ditemukan dalam beberapa adegan tetapi tidak pada yang lain),

(4) Posisi ( mengingat sebuah objek kemungkinan besar dalam sebuah adegan, itu sering ditemukan di beberapa posisi dan bukan yang lain),

(5) Ukuran familiar (objek memiliki himpunan hubungan ukuran terbatas dengan objek lain).

Setelah itu, coba kalian nilai, kira-kira seperti apa lingkungan sekitar kalian. Secara umum, penilaian terhadap desain dapat melalui tiga macam, yaitu penilaian deskriptif (mengukur konfigurasi spasial dan atribut fisik dari rangsangan), penilaian afektif (mengukur reaksi atau suasana hati subjek saat terpapar pada desain), dan appraisal (mengukur kualitas estetika suatu desain). Namun yang terpenting, dalam mendesain, kita perlu memperhatikan tidak hanya kesan objek, namun juga keamanan, keterhubungan sosial, kemudahan bergerak, dan stimulasi sensorik seperti suhu, kelembaban, dan pencahayaan. Dilansir dari Architecture Lab dan The Spruce, berikut ini adalah beberapa hal yang perlu diperhatikan apabila kamu ingin mendesain interior secara estetik:

  1. Perhatikan kombinasi warna

Penggunaan warna bisa mempengaruhi suasana dan mood. Misalnya, merah dan oranye dapat menimbulkan perasaan bersemangat dan energik, sementara hijau dan biru akan memiliki efek menyejukkan atau menenangkan.

  1. Aturlah penggunaan space

Space adalah istilah yang merujuk pada volume suatu struktur, bagian dari bangunan yang kita lalui dan alami. Gampangnya begini, bayangkan sebuah rumah yang kosong tanpa perabot. Itulah besar space yang kamu lihat dari rumah itu. Penggunaan space ruangan dengan jendela besar, pintu kaca, atau skylight dapat membiarkan banyak cahaya alami masuk, yang mengarah pada kesan area yang lebih luas. Interior berwarna terang juga bisa menambah efeknya. Persepsi mengenai ruangan yang lebih luas bisa juga dilakukan dengan menaruh cermin pada ruangan.

  1. Perhatikan ritme

Ritme dalam desain adalah tentang menciptakan pola pengulangan dan kontras untuk menciptakan daya tarik visual. Kamu bisa melakukannya dengan menggunakan warna atau bentuk yang sama pada interval yang berbeda.

  1. Tonjolkan area-area tertentu

Suatu ruangan akan terasa membosankan bila tidak mempunyai tempat menarik seperti perapian atau jendela dengan pemandangan yang indah. Cara untuk meningkatkan titik fokus ini bisa dilakukan dengan mengatur furnitur di dalam ruangan tersebut.

  1. Perhitungkan proporsi dan skala

Proporsi adalah perbandingan antara ukuran satu bagian dengan bagian lainnya, sebuah efek visual dari hubungan berbagai objek dan ruang yang membentuk struktur satu sama lain dan secara keseluruhan. Sedangkan skala adalah bagaimana ukuran suatu benda berhubungan dengan yang lain atau dengan ruang tempat benda itu ditempatkan. Misalnya, kita mengukur panjang meja jika dibandingkan dengan panjang sofa, atau tinggi suatu lemari dengan tinggi plafon.

2. Mendukung Well Being

ruang terbuka hijau

Desain yang baik adalah desain yang mendukung well being bagi penggunanya. Suatu riset yang dilakukan di Swedia menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif antara tingkat stres dan well being karyawan dengan akses fisik dan visual lingkungan hijau di tempat kerja, terutama bagi karyawan dengan jenis kelamin laki-laki. Selain itu, terdapat hubungan antara sikap kerja positif dan penurunan tingkat stres melalui eksposur visual dengan lingkungan hijau. Riset ini diperkuat dengan hasil penelitian lain bahwa tingkat well being karyawan yang lebih banyak terekspos dengan ruang terbuka hijau pada workspace setting lebih tinggi dibandingkan dengan yang tidak sering terekspos. Hasil penelitian ini juga mengkonfirmasi riset sebelumnya yang menyatakan bahwa karyawan mempersepsikan ruang terbuka hijau sebagai tempat yang baik untuk memulihkan diri dari stres dan kelelahan mental melalui stimulus yang disediakan dalam ruang terbuka hijau di tempat kerjanya.

3. Tanggap Bencana

Selain dari sisi estetika, membuat disaster planning juga dibutuhkan dalam mendesain interior, khususnya dalam perencanaan wilayah atau infrastruktur pada daerah yang rawan terkena bencana alam (Holahan, 1982). Salah satu contoh nyatanya adalah perancangan rumah di Manila yang didesain untuk tanggap bencana puting beliung dengan memperhatikan layout hingga furnitur apa saja yang sebaiknya digunakan. Menurut studi yang dilakukan Robert Kates (dalam Holahan, 1982), persepsi lingkungan membantu orang-orang yang tinggal di wilayah rawan bencana untuk melakukan upaya preventif ketika gejala-gejala bencana alam terjadi.

Contohnya, kembali lagi pada kisah coworking space, patut dipikirkan letak tangga darurat atau alat pemadam api yang mudah diakses kapan saja oleh pengguna ruangan, sehingga perancangan interior yang ideal tidak hanya memikirkan tentang kenyamanan dalam berkegiatan, melainkan juga keamanan dan kesiagaan terhadap bencana.

Psikologi dalam Desain Interior

Setelah bicara panjang lebar tentang desain interior, mari kembali ke… laptop! Ehm, maksudnya kembali ke ilmu psikologinya, hehehe. Charles Holahan (1982) menyatakan dalam buku Environmental Psychology bahwa environmental perception bisa membantu kita menciptakan desain interior guna menciptakan physical work environment yang ideal. Hal ini dikarenakan persepsi manusia terhadap elemen dan feel dari suatu desain interior diperoleh dari sensasi visual, auditorial, perabaan, maupun pembauan terhadap elemen-elemen lingkungan. Secara visual, manusia dapat membedakan jarak, tinggi, bentuk, serta warna. Secara auditorial, manusia dapat mengatur seberapa parah tingkat kebisingan. Sedangkan melalui perabaan dan penciuman, manusia dapat membedakan tekstur kasar dan lembut, serta mengenali bau-bau tertentu yang bisa mendukung atau mengganggu.

Satu hal lagi yang perlu diingat, secara psikologis, pertimbangan fungsionalitas mendorong orang untuk hidup dan bekerja secara efektif, serta kenyamanan psikologis dan fisik pengguna terkait dengan tingkat kelayakan dan fleksibilitas desain. Maka dari itu, desainer interior juga perlu mempertimbangkan bahan dan material yang digunakan dalam desainnya. Kepuasan pengguna ruangan terkait langsung dengan fitur yang terencana dan dirancang dengan baik, sehingga suatu ruangan akan lebih berguna dan bermanfaat.

Jadi, gimana, nih? Adakah dari kalian yang tertarik untuk mempelajari desain interior lebih mendalam? Atau mungkin ada yang ingin melakukan riset psikologis mengenai desain interior sambil di rumah aja? Hitung-hitung kalian berperan dalam mengembangkan ilmu psikologi lingkungan, lho!

Referensi

Holahan, C. J. (1982). Environmental Psychology. New York City: Random House.

Artikel Terkait

Leave a Comment