Emosi adalah bagian penting yang membantu kita untuk dapat berfungsi dalam hidup. Dari penelitian Alexander (2012) menyebutkan seseorang melaporkan mengalami setidaknya satu emosi 90% setiap waktu, dengan emosi positif dilaporkan lebih dari 2,5 kali lebih sering dibandingkan dengan emosi negatif.

Namun, terdapat pula kondisi ketika seseorang tidak dapat merasakan apa pun secara emosional atau mati rasa secara emosional. Hal ini dikenal juga dengan istilah emotional numbness dalam psikologi. Yuk, kita kenali lebih lanjut!

Mengenal Mati Rasa Secara Emosional (Emotional Numbness)

Mati rasa (emosional numbness) adalah kondisi ketika seseorang mengalami defisit respon ataupun reaktivitas emosional (Lindberg, 2021). Sering kali, mati rasa emosional menghasilkan pembatasan sementara dalam kapasitas untuk merasakan atau mengekspresikan emosi. Adapun beberapa hal yang menjadi ciri dari emotional numbness ialah:

Mati rasa emosional dapat terjadi ketika sistem limbik dibanjiri dengan hormon stres (Goodwin, 2017). Situasi stres yang tinggi dapat membebani emosi secara berlebihan sehingga menyebabkan kelelahan pada tubuh. Kombinasi dari keduanya dapat menyebabkan perasaan terkuras dan, akibatnya, mati rasa.

Mati rasa juga bisa menjadi mekanisme coping untuk melindungi diri dan mencegah lebih banyak rasa sakit memasuki jiwa yang berkaitan dengan trauma. Kondisi mati rasa atau emotional numbness juga sering dikaitkan sebagai bentuk ciri dari berbagai gangguan kesehatan mental seperti depresi, kecemasan, hingga gangguan stres pasca-trauma (PTSD).

Cara Mengatasi Mati Rasa

Kondisi mati rasa secara emosional merupakan hal yang dapat terjadi pada siapa pun dan bukanlah kondisi yang sifatnya menetap, kamu dapat melakukan beberapa tips berikut untuk dapat menghadapi dan melalui mati rasa yang kamu rasakan secara emosional.

1. Lakukan aktivitas yang bergerak

Move your body! Salah satu cara untuk dapat melatih rasa emosi ialah dengan melakukan aktivitas yang sifatnya bergerak. Centers for Disease Control and Prevention (2020) merekomendasikan untuk melakukan setidaknya 30 menit latihan fisik setidaknya 5 hari dalam satu minggu. Olahraga akan membuatmu berkeringat dan meningkatkan kinerja jantung. Hal ini mendorong endorfin untuk dapat mengalir  dengan lancar dan membuatmu jauh lebih merasa nyaman dan bahagia.

Aktivitas gerakan ringan seperti berjalan kaki, bermain sepeda, hingga melakukan kegiatan indoor seperti aerobik dengan tayangan, dapat menjadi beberapa pilihan untuk kamu lakukan!

2. Berceritalah!

Tumpukan emosi yang ditekan dan dipendam dalam waktu yang lama dapat menyebabkan mati rasa secara emosional atau emotional numbness. Jika kamu merasa sudah kebingungan mengenai apa yang kamu rasa, tak ada salahnya untuk dapat membuka diri dan mencari sosok support system, baik dari teman, keluarga, dan lainnya sebagai wadah mengekspresikan dan berbagi emosi yang kamu rasakan.

Terjalinnya komunikasi dan ikatan selama prosesmu berbagi cerita akan melepaskan neurotransmitter yang disebut oksitosin, yang dikenal juga sebagai hormon pelukan (cuddle hormone). Perasaan terhubung ini mungkin melegakanmu dari perasaan mati rasa yang kamu rasakan!

3. Lakukan latihan pernafasan ringan dan grounding

Untuk dapat melatih ‘rasa’, praktik latihan pernafasan ringan dan grounding dapat menjadi salah satu solusi yang menuntunmu. Hal ini dapat dilakukan dengan mengambil jeda sejenak dari kesibukan untuk membantumu menuju pada kesadaran dan dapat terhubung dengan baik dengan lingkungan sekitarmu.

Latihan teknik pernafasan ringan dan grounding bisa dilakukan dengan menarik nafas dalam-dalam dan memperhatikan setiap nafas yang masuk dan keluar dari dalam tubuh. Selanjutnya kamu dapat merasakan setiap elemen yang ada di sekitarmu dengan menggunakan panca indramu, seperti menyentuh objek di sekitar, rasakan dengan seksama berat, tekstur, maupun hawa yang dihasilkan dari objek tersebut. Lakukan secara berulang hingga kamu bisa merasa jauh lebih tenang dibandingkan dengan sebelumnya!

Hubungi Profesional Jika Kamu Mengalami Mati Rasa

Untuk pemeriksaan lebih lanjut, kamu bisa segera menghubungi profesional, baik psikolog ataupun psikiater terdekat di lokasimu atau menggunakan telekonseling dari berbagai platform psikologi terpercaya. Dengan berkonsultasi dengan profesional kamu dapat menghindari self diagnose dan mendapatkan bantuan yang tepat untuk mengatasinya!

Referensi:

One Response

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *