Kata kunci pada hari ini memang jarang diucapkan dalam pembicaraan sehari-hari. Jadi apa itu katarsis dalam psikologi? Apakah bisa dimakan? Apakah penting bagi kelangsungan hidup saya? Mari kita bedah topik ini bersama-sama dari definisi dan kemudian relevansinya di masa ini.

Apa Itu Katarsis

Katarsis adalah penyucian diri dalam bahasa Yunani. Aristoteles kerap menggunakan kata ini untuk menjelaskan rasa pelepasan emosi para penonton sebuah sandiwara.

Dalam psikoterapi (sebuah metode terapi dalam psikologi), maksud katarsis dijelaskan sebagai proses “menghilangkan ingatan traumatis dengan menceritakan semua yang terjadi.”

Tokoh psikologi Sigmund Freud menjelaskan bahwa emosi yang terus menerus dipendam didalam diri seseorang sangat berbahaya. Emosi yang tertahan itu bisa meledak dan untuk mencegahnya perlu disalurkan. Pelepasan emosi dan agresi kadang didasarkan oleh tragedi masa lalu.

Penyaluran emosi secara konstruktif ini disebut “katarsis.” Metode Talking therapy digunakan sebagai teknik mengendalikan emosi berupa pelepasan emosi yang tertahankan ini dapat menciptakan efek terapeutik yang menguntungkan. Namun, teknik psikoterapi dari Freud ini dianggap kurang relevan di masa ini. Agak panjang sih ini topiknya, tapi nanti kita bakal bahas poin di artikel lain kok.

Manfaat Katarsis

Teori katarsis dalam psikologi dari Baron dan Byrne (2004) menyimpulkan bahwa katarsis merupakan metode yang efektif untuk mengurangi agresi. Namun, masih terdapat perdebatan yang besar mengenai manfaat katarsis dan efektivitasnya dalam mengurangi agresi.

Di sisi lain, masyarakat sudah menyerap istilah katarsis sebagai sosok penyaluran emosi melalui media seni ataupun sebuah tindakan, singkatnya ya semacam pelampiasan. Ibarat membuka bendungan yang penuh dengan emosi kita agar bisa kembali kosong lagi. Apabila bendungannya tidak pernah dibuka, ada resiko kerusakan/ledakan dari emosi. Dan semua orang tidak ingin emosinya meledak-ledak bukan?

Nah, konsep ini juga bisa menjelaskan salah satu manfaat katarsis yaitu mengapa kita kadang merasa lega setelah curhat mengenai semua masalah kita.

Metode Untuk Mencapai Katarsis

Ada beberapa metode yang umum dilakukan untuk mencapai momen katarsis, seperti mendengarkan musik, menonton film, curhat dengan teman, ataupun olahraga.

1. Curhat dan Diskusi

Sebuah diskusi dengan teman dekatmu mengenai permasalahan yang menghantui pikiranmu bisa menuntun kepada saat-saat yang membuka mata. Kamu bisa mendapatkan solusi permasalahan, sudut pandang yang baru untuk mendekati permasalahan tersebut, ataupun analisis tentang caramu berperilaku. Tapi, bagaimana cara seseorang bisa merasakan empati terhadap orang lain?

Dalam bukunya “Mirroring People” ahli Neurologi Marco Iacoboni menjelaskan bahwa perasaan “memahami” orang lain (emotional empathy) saat curhat merupakan ulah dari Mirror Neurons. Neuron ini membantu kita merasakan dan memahami perasaan/pengalaman orang lain meskipun dengan intensitas yang rendah (Iacoboni, 2008).

Kita juga bisa mengakui kesalahan kita agar bisa melepaskan rasa bersalah, mendapatkan kepercayaan (Kassin & Gudjonsson, 2004). Namun, kita perlu sepenuhnya jujur mengenai masalah tersebut.

Sebuah riset dari Eyal Peer, Alessandro Acquisti, dan Shaul Shalvi (2014) mengatakan bahwa pengakuan yang menjelaskan bahwa orang-orang yang sepenuhnya mengakui kesalahan mereka akan lebih diterima oleh lawan bicaranya. Studi mereka juga menjelaskan bahwa orang-orang yang tidak sepenuhnya mengakui kesalahan mereka akan merasa lebih bersalah daripada sebelumnya.

2. Mendengarkan Lagu

Terkadang ketika kita sedih, kita langsung buka hape dan nyalain lagu sedih di volume yang paling tinggi. Studi dari Junko Matsumoto (2002) menjelaskan kalau lagu-lagu sedih bisa membantu orang-orang yang sangat sedih dalam merasa lebih baik. Namun, dia juga mengatakan kalau lagu sedih tidak memiliki dampak signifikan kepada orang-orang yang sedikit sedih.

Entah kenapa lagu sedih terkadang terasa… enak? Lagu dengan tema sedih terkadang bisa membantu kita menghadapi perasaan sedih sesuai dengan kepribadian dan suasana hati kita (Sachs, M. E., Damasio, A., & Habibi, A. 2015).

3. Berolahraga

Olahraga sering dipakai sebagai sebuah media untuk melampiaskan amarah diantara teman-temanku. Mereka menggunakan emosi mereka sebagai sumber tenaga tambahan dan melepaskannya dalam sebuah bentuk yang konstruktif. Bahkan mereka sering merasa lebih lega dengan metode ini. Dalam jurnal milik Michael Sachs (2019), dirinya menemukan bahwa olahraga, latihan, dan kegiatan fisik lainnya lebih diminati untuk mengurangi stress/katarsis.

Setiap orang akan memiliki pengalaman dan solusi yang berbeda-beda dalam menemukan solusi agar mencapai katarsis. Semua dipengaruhi oleh faktor-faktor individual seperti kepribadian, masa lalu, pola pikir, dan masih banyak lainnya.

Apakah Melampiaskan Amarah Bisa Membuat Kita Lebih Lega?

luapan emosi
Emosi yang meluap bisa diredakan dengan katarsis

Mungkin setelah kamu membaca beberapa contoh diatas, kamu berpikiran kalau menghancurkan/merusak amarah bisa membuatmu lebih tenang. Padahal, ternyata semua itu salah!

Tapi tenang saja, kamu tidak sendirian kok, bahkan ada industri yang berpusat di antara ide tersebut yaitu “Rage Room”. Mereka menawarkan sebuah fasilitas yang bisa kamu rusak semua dan separah apapun itu, selama kamu membayar.

Sebuah studi dari Bushman (2002) membuktikan bahwa pelampiasan amarah bukanlah solusi jangka panjang. Risetnya meminta beberapa kelompok untuk meninju sebuah bantal dan menerapkan beberapa konsep. Salah satunya memakai konsep Rumination, kelompok tersebut diminta untuk meninju bantal sambil memikirkan orang yang mereka benci. Pada akhir riset, kelompok Rumination menjadi kelompok yang paling agresif dan lebih marah daripada sebelumnya.

Kesimpulan

Katarsis merupakan perasaan lega yang didapatkan setelah meluapkan emosi dalam metode yang konstruktif. Jenis emosi menurut teori psikologi dapat berupa amarah, rasa kecewa, sedih, maupun duka.

Metode konstruktif yang bisa digunakan seperti olahraga, mendengarkan musik, curhat ataupun diskusi. Kamu juga dapat mengombinasikannya dengan terapi mindfulness. Meluapkan amarah dengan menghancurkan barang atau berteriak terbukti sebagai media katarsis yang tidak efektif.

Katarsis merupakan sebuah konsep yang sudah terintegrasi dalam keseharian kita. Sayangnya, terdapat riset yang minim dalam metode-metodenya karena berbagai faktor personal yang mampu merusak hasilnya.

Daftar Pustaka:

A. Baron, R., & Byrne, D. (2004). Psikologi Sosial. Jakarta: Erlangga.

Bushman, B. J. (2002). Does Venting Anger Feed or Extinguish the Flame? Catharsis, Rumination, Distraction, Anger, and Aggressive Responding. Personality and Social Psychology Bulletin, 28(6), 724–731. doi:10.1177/0146167202289002

Iacoboni, M. (2008). Mirroring People. Farrar, Straus and Giroux.

Kassin, S. M., & Gudjonsson, G. H. (2004). The psychology of confessions: A review of the literature and issues. Psychological Science in the Public Interest, 5, 33–67.

MATSUMOTO, JUNKO. (2002). Why people listen to sad music: Effects of music sad moods. Japanese Journal of Educational Psychology. 50. 10.5926/jjep1953.50.1_23.

Peer, E., Acquisti, A., & Shalvi, S. (2014). “I cheated, but only a little”: Partial confessions to unethical behaviour. Journal of Personality and Social Psychology, 106(2), 202–217. doi:10.1037/a0035392

Sachs, M. E., Damasio, A., & Habibi, A. (2015). The pleasures of sad music: a systematic review. Frontiers in Human Neuroscience, 9.doi:10.3389/fnhum.2015.00404

Sachs, M. L. (2019). Sport as Catharsis. The Blackwell Encyclopedia of Sociology, 1–2.doi:10.1002/9781405165518.wbeoss226.pub2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *