Film-film psychological thriller sedang menjamur belakangan ini. Dan namanya saja psychological, jadi pasti film-film genre ini biasanya mengangkat kisah orang-orang dengan gangguan kejiwaan atau kelainan psikologis yang beragam, termasuk dissociative identity disorder atau kepribadian ganda.

Salah satu sutradara film yang setia dengan genre psychological thriller adalah M. Night Shyamalan yang menggarap film Split. Film ini berkisah tentang seorang penjahat yang jadi buronan polisi bernama Kevin Wendell Crumb. Kevin adalah penyebab hilangnya sejumlah perempuan muda yang diculiknya sebagai persembahan bagi salah satu kepribadiannya yang bernama The Beast. Diketahui bahwa selain The Beast, Kevin memiliki 22 macam kepribadian yang berbeda dalam dirinya, yang satu per satu muncul sebagai hasil coping mechanism dari pengalaman buruk di masa kecilnya. Kepribadian ‘The Beast’ adalah sosok yang paling kuat di antara kepribadiannya yang lain, sehingga ketika Kevin menjadi The Beast, dia akan berperilaku seperti manusia yang liar, buas, dan tak terkalahkan.

Well, film Split memang bukan kisah nyata, tapi rupanya, kasus-kasus gangguan psikologis seperti yang dialami Kevin Wendell Crumb itu sungguhan ada. Namanya adalah gangguan kepribadian disosiatif atau bisa sering disebut gangguan kepribadian ganda. Istilah bahasa Inggrisnya adalah dissociative identity disorder atau DID.

Pengertian Dissociative Identity Disorder

Dissociative Identity Disorder adalah gangguan kepribadian yang dicirikan dengan pembentukan banyak kepribadian pada individu. Salah satu kasus yang fenomenal di dunia psikologi adalah kasus kepribadian yang dialami wanita bernama Sybil, alias Shirley Mason, dari Amerika Serikat. Ia memiliki 16 kepribadian yang berbeda, yang terdiri dari laki-laki dan perempuan. Di Indonesia, kasus gangguan identitas disosiatif yang paling populer adalah seorang wanita bernama Wella yang diketahui memiliki 9 kepribadian yang berbeda. Kedua kasus ini mengkonfirmasi bahwa selain dianggap sangat langka, DID lebih sering didiagnosis pada wanita daripada pria. Meskipun demikian, ada kemungkinan bahwa jumlah pria dengan gangguan tersebut lebih tinggi daripada yang dilaporkan karena pria lebih cenderung menunjukkan perilaku agresif daripada mengalami sejenis ketidaksinkronan dalam ingatan yang merupakan salah satu gejala DID.

Ciri-ciri dan Gejala

Dilansir dari WebMd, ada beberapa gejala kepribadian ganda yang dikenal sebagai DID yang tampak dari bagaimana gangguan tersebut mengubah cara hidup seseorang, antara lain:

Sedangkan untuk lebih lanjutnya, panduan DSM-5 memberikan kriteria berikut untuk mendiagnosis gangguan identitas disosiatif:

Seiring berjalannya waktu, individu dengan gangguan disosiatif mungkin mengalami sejumlah masalah kejiwaan lainnya, termasuk di antaranya:

Latar Belakang Penyebab Gangguan Identitas Disosiatif

Dilansir oleh Zeligman, dkk. (2017) dan Dorahy, dkk. (2014), kebanyakan penyebab DID adalah trauma masa kecil atau riwayat perkembangan diri yang terkait dengan kombinasi faktor-faktor internal dan eksternal, seperti sosial dan budaya. Demikian pula dalam film Split, Kevin Wendel Crumb adalah pria yang memiliki trauma masa kecil, sehingga ia mengembangkan 23 kepribadian yang berbeda dalam dirinya, termasuk The Beast.

Dissociative Identity Disorder

Selain itu, secara biologis, berdasarkan studi MRI, pasien dissociative identity disorder diketahui memiliki struktur sistem limbik yang lebih kecil daripada orang pada umumnya, kebanyakan pada bagian hippocampus dan amygdala. Hippocampus berperan sebagai pengontrol ingatan, sementara amygdala berfungsi dalam manajemen emosi. Secara lebih lanjut, penurunan fungsi pada bagian orbitofrontal cortex juga berkaitan dengan pengurangan aliran darah ke otak pada pasien DID. Fakta ini sesuai dengan pernyataan DSM-5, bahwa salah satu gejala kepribadian ganda adalah terjadinya amnesia atau ketidakmampuan dalam mengingat informasi yang relevan, bahkan dalam jangka waktu yang singkat.

Treatment Untuk DID

Dilansir dari web Cleveland Clinic, terdapat sejumlah terapi yang bisa digunakan untuk menangani gangguan identitas disosiatif, antara lain:

Dari sekian banyaknya pilihan treatment yang bisa digunakan untuk menangani DID, sejumlah studi mengenai treatment DID masih mengalami kendala disebabkan oleh post-traumatic stress yang dialami pasien dissociative identity disorder, karena mengorek trauma di masa lalu merupakan sesuatu yang sangat tidak nyaman dan menyenangkan bagi pasien. Selain itu, hampir semua praktisi menggunakan tes kesehatan mental berupa wawancara diagnostik standar yang seringkali tidak disertakan pertanyaan tentang disosiasi, gejala pasca trauma, atau riwayat trauma psikologis. Kemudian, sejumlah kejadian tak diduga bisa saja muncul di sela-sela treatment. Dalam kasus Wella, salah satu dari 9 kepribadiannya bisa muncul untuk mencegah Wella berobat ke psikiater. 

Menjawab persoalan di atas, dilansir dari Huntjens, dkk. (2019), penelitian terkini masih mencoba mencari tahu apa treatment paling efektif yang bisa digunakan untuk menangani DID, karena sejauh ini belum ada penelitian yang terbukti menyatakan terapi macam apa yang efektif bagi DID. Sejauh ini, treatment yang disarankan lebih berfokus pada trauma psikologis dan emosional masa lalu, mengelola pola pikir dan perilaku, serta mengidentifikasi trigger yang menyebabkan munculnya kepribadian-kepribadian berbeda dalam diri individu.

Penutup

Oke, mari kembali pada film Split. Penggambaran gangguan kepribadian disosiatif atau DID dalam film-film psychological thriller memang kadang menyeramkan. Tapi ingat, bagi siapa pun yang memiliki kerabat dengan gangguan psikologi kepribadian, bukan berarti selamanya kalian melihat sesuatu yang menyeramkan dan harus dihindari, apalagi jika kalian memiliki latar belakang keilmuan psikologi. Apabila kita bisa melihat jauh ke dalam diri tiap individu, semua gangguan psikologis, tak mesti gangguan kepribadian, memiliki penyebab yang tersembunyi. Ya, kita semua tahu, memang sulit untuk menanggalkan stigma negatif terhadap mereka yang mengalami gangguan psikologis. Namun dengan mencoba memahami secara empiris dan memberikan compassion serta simpati dan empati terhadap individu yang mengalaminya, itu sudah merupakan langkah yang bagus untuk membantu mereka untuk bertahan hidup.

Referensi:

American Psychiatric Association. (2013). Diagnostic and statistical manual of mental disorders (5th ed.). Arlington, VA: Author.

Ashraf, A., Krishnan, R., Wudneh, E.,  Acharya, A., & Tohid, H. (2016). Dissociative Identity Disorder : A Pathophysiological Phenomenon. Journal of Cell Science and Therapy, 7, 251. doi: 10.4172/2157-7013.1000251.

Dorahy, M., Brand, B., Sar, V., Krüger, C., Stavropoulos, P., Martinez, A.. Lewis-Fernández, R., & Middleton, W. (2014). Dissociative identity disorder: An empirical overview. The Australian and New Zealand journal of psychiatry, 48, 402-417. doi: 10.1177/0004867414527523.

Huntjens, R. J. C., Rijkeboer, M. M., & Arntz, A. (2019). Schema therapy for Dissociative Identity Disorder (DID): rationale and study protocol. European Journal of Psychotraumatology, 10(1), 1571377. doi:10.1080/20008198.2019.1571377

International Society for the Study. (2011). Guidelines for Treating Dissociative Identity Disorder in Adults, Third Revision. Journal of Trauma & Dissociation, 12(2), 115–187. doi:10.1080/15299732.2011.537247

Zeligman, M., Greene, J. H., Hundley, G., Graham, J. M., Spann, S., Bickley, E., & Bloom, Z. (2017). Lived Experiences of Men With Dissociative Identity Disorder. Adultspan Journal, 16(2), 65–79. doi:10.1002/adsp.12036

2 Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *