Image default

Cara Berkomunikasi yang Baik dengan Pasangan

Menjalin hubungan romantis dan memiliki pasangan merupakan fenomena yang normal terjadi pada perkembangan individu sejak masa remaja hingga dewasa (Shulman dkk., 2011). Hubungan romantis sendiri dapat berupa hubungan yang terikat komitmen jangka panjang seperti pernikahan maupun jangka pendek seperti pacaran. Meskipun hubungan ini terbilang mendalam, akan tetapi tidak menutup kemungkinan untuk mengalami gangguan keharmonisan hingga berakhir dengan perpisahan.

Dari sekian penyebab perpisahan yang belakangan ini terjadi, salah satu penyebabnya adalah buruknya komunikasi pasangan tersebut (Crowley, 2021). Komunikasi yang efektif merupakan hal mendasar yang diperlukan setiap individu untuk beragam keperluan, hampir setiap saat, dengan beragam pihak dan dengan maksud yang berbeda-beda pula.

Dalam relasi romantis terutama dengan pasangan, cara berkomunikasi yang baik dengan pasangan memiliki peran vital karena dapat mempengaruhi kemungkinan munculnya kesalahpahaman yang mengakibatkan ketidakharmonisan hingga perpisahan. Komunikasi yang efektif dapat meminimalisir terjadinya selingkuh dan ghosting.

Agar tidak mengalami hal-hal tersebut, ada baiknya jika individu menerapkan komunikasi yang sehat dengan harapan, komunikasi yang baik dapat menghadirkan hubungan yang lebih hangat dan saling memahami satu sama lain.

Apa itu Komunikasi?

Sebelum memasuki pembahasan mengenai komunikasi yang baik dan sehat dengan pasangan, terlebih dahulu kita perlu memahami konsep komunikasi secara umum sehingga dapat lebih mudah memahami penjelasan selanjutnya.

Komunikasi secara general didefinisikan sebagai proses memberikan, menerima dan bertukar informasi maupun pesan yang dilakukan secara verbal maupun non-verbal melalui media yang tepat (Definitions of Communication, 2010). Dalam praktiknya, komunikasi memiliki peran dan pengaruh yang penting bagi tumbuh kembang individu dari masa kanak-kanak hingga dewasa, sama seperti relasi antar individu.

Dengan adanya komunikasi, individu memiliki kesempatan untuk belajar, berinteraksi, hingga menjalin relasi atau hubungan dengan individu lain maupun kelompok yang lebih besar.

Tipe Komunikasi

Secara umum, komunikasi dapat dikelompokan ke dalam 3 kategori, yakni komunikasi verbal, komunikasi non-verbal serta komunikasi tertulis (Publisher, 2015).

1. Komunikasi verbal

Tipe komunikasi verbal merupakan salah satu bentuk komunikasi yang paling sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Seperti Namanya, komunikasi verbal merupakan komunikasi yang dilakukan dengan cara bertukar kata-kata secara oral atau lisan.

Dalam kehidupan sehari-hari, contoh komunikasi verbal berupa percakapan dan perbincangan individu dengan orang lain, seperti teman, keluarga maupun pasangan.

2. Komunikasi non-verbal

Tipe komunikasi ini sangat berbeda dengan komunikasi verbal. Dalam komunikasi non-verbal, pesan disampaikan melalui bahasa tubuh, kontak mata, ekspresi wajah hingga sentuhan. Tipe komunikasi ini dapat berperan lebih signifikan dan lebih banyak digunakan kehidupan sehari-hari dibandingkan komunikasi verbal.

Hal ini ditunjukkan pada sebuah penelitian yag menunjukkan bahwa komunikasi verbal hanya dilakukan sebesar 7% dan sisa informasi yang ada disampaikan secara non-verbal, baik melalui gerakan tubuh, cara berpakaian hingga ekspresi wajah pemberi informasi (Bambaeeroo & Shokrpour, 2017).

3. Komunikasi tertulis

Tipe komunikasi terakhir ialah komunikasi tertulis atau printed. Pada komunikasi tipe ini, pesan atau informasi diberikan melalui tulisan melalui media tulisan tangan, diketik, maupun tertulis di layar.

Gaya komunikasi

Selain memiliki tiga tipe, dalam kehidupan sehari-hari kita juga sering menemui empat basic style atau gaya dalam berkomunikasi (The Four Basic Styles of Communication, t.t.). Berikut merupakan keempat gaya dalam komunikasi.

1. Komunikasi pasif

Pada individu yang memiliki gaya komunikasi pasif, mereka memiliki kecenderungan untuk menghindar dari pengekspresian pesan, informasi, maupun opini dengan tujuan tidak mau mengganggu hak-hak lawan bicaranya. Selain itu juga bertujuan untuk menlindungi diri mereka dari situasi yang tidak menyenangkan.

Meskipun demikian, individu dengan komunikasi pasif juga bisa mengalami ledakan emosi saat situasi yang ada sudah tidak dapat ditolerir lagi. Setelah itu, mereka cenderung merasa bersalah, malu serta bingung dengan hal yang telah ia lakukan.

2. Komunikasi agresif

Gaya komunikasi agresif ini ditunjukkan individu yang menyatakan opini maupun apa yang dibutuhkan dengan cara yang mengganggu orang lain, serta cenderung menggunakan kekerasan secara verbal maupun fisik.

Biasanya orang-orang yang berkomunikasi secara agresif memiliki karakteristik seperti menggunakan pernyataan “kamu”, mendominasi, mempermalukan orang lain, tidak mendengarkan orang lain dengan baik hingga memiliki bahasa tubuh yang mengintimidasi.

3. Komunikasi pasif-agresif

Berbeda dari kedua gaya komunikasi sebelumnya, gaya komunikasi ini memiliki beberapa karakteristik yang serupa dengan komunikasi agresif dan pasif. Individu dengan gaya komunikasi pasif-agresif secara sekilas dari luar terlihat seperti pasif, tetapi di dalam diri mereka terdapat kemarahan yang tidak bisa diperlihatkan dengan gamblang seperti komunikasi agresif.

Hal ini dikarenakan orang yang berkomunikasi dengan gaya pasif-agresif merasa stuck dan tidak mampu menunjukkan apa yang sebenarnya ia rasakan. Tentu saja dalam psikologi cinta pria dan wanita jenis komunikasi ini tidak disarankan.

Mereka yang berkomunikasi secara pasif-agresif biasanya lebih banyak menampilkan perasaannya melalui ekspresi wajah seperti tersenyum saat marah atau sedih, menggunakan pernyataan sarkasme, menggerutu kepada diri sendiri dan lain sebagainya.

4. Komunikasi asertif

Gaya komunikasi terakhir adalah komunikasi asertif dimana individu dengan gaya komunikasi ini mampu menyampaikan opini, hak dan kebutuhannya dengan tepat, menghargai dan tidak menyinggung hak-hak orang lain. Tentu saja jenis ini direkomendasikan menurut psikologi komunikasi.

Beberapa karakteristik komunikasi asertif seperti menggunakan pernyataan “aku”, memiliki bahasa tubuh yang tenang, memiliki kontak mata yang baik, mampu mengontrol diri, membela haknya dan tidak mengizinkan orang lain mengotrol diri mereka. Penerapan komunikasi asertif memberikan peran penting dalam menjaga hubungan dengan orang lain serta meningkatkan Kesehatan mental kita.

Cara Berkomunikasi yang Sehat dengan Pasangan

Setelah mengetahui hal-hal mendasar mengenai komunikasi, kini saatnya kita memasuki pembahasan mengenai komunikasi seperti apa yang cocok diterapkan dalam sebuah hubungan romantis dengan pasangan. Cara berkomunikasi apa yang sebenarnya tepat untuk menjaga hubungan keharmonisan hubungan? Berikut ini terdapat lima tips cara berkomunikasi yang baik dengan pasangan:

1. Berempati kepada pasangan

Pertama-tama sebelum terlalu jauh menerapkan tips and trick dalam komunikasi, penting bagi kita untuk memahami dan berempati kepada pasangan kita. Salah satu cara untuk berempati adalah mencoba memposisikan diri kita pada situasi yang sedang dihadapi pasangan (Natalie, 2020). Sebuah penelitian menunjukkan bahwa empati yang dimiliki individu terhadap pasangannya dapat meningkatkan kepuasan hubungan yang ada (Long dkk., 1999).

2. Meingkatkan Self-awareness

Wignal (2019) menjelasakan bahwa self-awareness atau kesadaran diri sangat diperlukan untuk bekal diri sendiri maupun menghadapi pasangan yang memiliki gaya komunikasi agresif. Gaya komunikasi tersebut tidak sepenuhnya dikarenakan kebencian, akan tetapi juga dipicu oleh rasa takut dan tidak berdaya.

Meningkatkan self-awareness pada individu diharapkan mampu merasakan saat ketakutan maupun rasa tidak berdaya tersebut muncul, sehingga dapat mencari bantuan maupun mengkomunikasikan kondisinya kepada pasangan dengan lebih cepat dan tepat. Dengan demikian, komukasi agresif yang biasanya muncul serta dapat buruknya dapat dikurangi.

3. Kurangi penggunaan sarkasme

Individu yang berkomunikasi dengan gaya pasif-agresif cenderung menggunakan sarkasme dalam berkomunikasi dengan orang lain. Penggunaan sarkasme membatasi individu dalam mengungkapkan emosi, opini, maupun perasaan mereka secara langsung, namun tetap dapat mengarahkan orang lain untuk melakukan hal yang diinginkan individu tersebut (Wignal, 2019).

Dengan mengurangi atau menghentikan penggunaan sarkasme, kualitas komunikasi dan hubungan dengan pasangan akan mengalami perbaikan atau improvement.

4. Jujurlah dengan diri sendiri dan pasangan

Pada beberapa kondisi menerapkan beribahasa “diam adalah emas” memanglah tepat, akan tetapi hal ini tidak dapat diterapkan dalam jangka waktu yang lama. Sebagai individu terlebih memiliki hubungan romantis dengan pasangan, komunikasi dengan gaya pasif yang berlangsung lama dapat berakibat buruk untuk hubungan yang dibina.

Untuk mengatasi hal tersebut, ada baiknya individu belajar untuk lebih jujur dalam mengutarakan pendapat, emosi maupun keinginan dengan cara yang tepat (Wignal, 2019). Individu juga harus meyakinkan dirinya bahwa mengungkapkan apa adanya tidak berarti menciptakan konflik maupun tidak menghargai dengan pasangan.

5. Tumbuhkan kepercayaan dan rasa menghargai

Meningkatkan kepercayaan serta rasa menghargai terhadap pasangan menjadi salah satu kunci utama untuk menjaga keharmonisan hubungan. Salah satu hal yang dapat dilakukan adalah mengupayakan komunikasi secara asertif, dimana pasangan mengungkapkan perasaan dan kebutuhan secara langsung dan tetap menghargai pasangannya (Wignal, 2019).

Menjaga keharmonisan dalam sebuah hubungan tidak hanya menjadi tugas salah satu pihak, melainkan sebuah bentuk kerja sama antara dua individu. Melatih cara berkomunikasi yang baik secara verbal, non-verbal maupun tertulis pada diri sendiri maupun pasangan dapat memberikan dampak tersendiri bagi hubungan tersebut. Tidak hanya itu, memperhatikan hal-hal kecil seperti berempati dan menghargai pasangan juga perlu untuk diperhatikan dalam menjaga jalinan kasih yang ada.

Referensi

BAMBAEEROO, F., & SHOKRPOUR, N. (2017). The impact of the teachers’ non-verbal communication on success in teaching. Journal of Advances in Medical Education & Professionalism, 5(2), 51–59.

Crowley, J. (2021, Januari 15). 11 Most Common Reasons for Divorce. Survive Divorce. https://www.survivedivorce.com/common-reasons-for-divorce

Definitions of Communication. (2010, Februari 13). Communication Theory. https://www.communicationtheory.org/definitions-of-communication/

Fransiska, R. (2006). Communication Style. Bina Ekonomi, 10(1), 75–85.

Long, E. C. J., Angera, J. J., Carter, S. J., Nakamoto, M., & Kalso, M. (1999). Understanding the One You Love: A Longitudinal Assessment of an Empathy Training Program for Couples in Romantic Relationships. Family Relations, 48(3), 235–242. https://doi.org/10.2307/585632

Natalie. (2021, Februari 9). Lack of communication in a relationship: Why it happens and how to fix it! Happily Committed. https://happilycommitted.com/lack-of-communication-in-a-relationship-why-it-happens-and-how-to-fix-it/

Publisher, A. removed at request of original. (2015). 12.5 Different Types of Communication. Dalam Principles of Management. University of Minnesota Libraries Publishing edition, 2015. This edition adapted from a work originally produced in 2010 by a publisher who has requested that it not receive attribution. https://open.lib.umn.edu/principlesmanagement/chapter/12-5-different-types-of-communication/

Shulman, S., Connolly, J., & McIsaac, C. J. (2011). Romantic Relationships. Dalam B. B. Brown & M. J. Prinstein (Ed.), Encyclopedia of Adolescence (hlm. 289–297). Academic Press. https://doi.org/10.1016/B978-0-12-373951-3.00083-1

The Four Basic Styles of Communication. (t.t.). the UK Violence Intervention and Prevention Center. Diambil 10 April 2021, dari https://www.uky.edu/hr/sites/www.uky.edu.hr/files/wellness/images/Conf14_FourCommStyles.pdf

Wignall, N. (2019, November 18). Relationship Killers: 3 Toxic Communication Styles Sabotaging Your Relationships. Nick Wignall. https://nickwignall.com/toxic-communication-styles/

Artikel Terkait

Leave a Comment