Image default

Fenomena Selingkuh Menurut Psikologi: Bagaimana Perselingkuhan Bisa Terjadi

Belum lama ini, topik perselingkuhan beberapa public figure menjadi trending topic yang banyak dibicarakan oleh warga net di media sosial. Warga net pun kadang turut kesal dengan pelaku perselingkuhan. Banyak yang menghujat pelaku meskipun belum tahu bagaimana permasalahan yang sebenarnya terjadi dalam hubungan mereka. Padahal perilaku selingkuh sendiri menurut psikologi dapat dilatarbelakangi oleh berbagai motif dari pelaku perselingkuhan.

Apa itu Selingkuh?

Menurut Hertlein, Wetchler, dan Piercy (2005), selingkuh adalah seluruh perilaku yang melanggar kontrak yang dimiliki antar pasangan. Tidak hanya itu, perselingkuhan juga menyangkut hubungan seksual dengan orang lain, perilaku cybersex, melihat pornografi, keintiman secara fisik seperti berciuman dan bergandengan tangan, serta keintiman secara emosi dengan orang lain selain pasangan.

Selingkuh sebenarnya adalah masalah yang umum kita temui dalam hubungan zaman sekarang. Tidak hanya di public figure saja namun mungkin kita pernah menemui perilaku tersebut disekitar kita. Atau mungkin kamu sendiri yang pernah mengalaminya? Sungguh ironis ya, meskipun semua orang setuju bahwa selingkuh adalah perbuatan yang salah, tapi nyatanya banyak orang melakukannya.

Para peneliti di bidang psikologi cinta dan seksual sudah banyak mengkaji tentang fenomana ini dan hal-hal apa saja yang bisa melatarbelakangi seseorang untuk selingkuh. Agar kita dapat lebih memahami bagaimana seseorang bisa selingkuh yuk simak informasi yang didapat dari beberapa jurnal berikut!

Apa Saja Tipe Selingkuh?

Selingkuh sendiri ternyata memiliki 3 tipe loh! Menurut Hertlein, Wetchler, dan Piercy (2005) perselingkuhan terdiri dari perselingkuhan secara seksual, perselingkuhan secara emosional, dan kombinasi antara seksual dan emosional.

Perselingkuhan secara seksual ditunjukkan dengan adanya hubungan seksual dengan orang lain. Sedangkan perselingkuhan secara emosional dicirikan dengan kedekatan emosional dengan pasangan selingkuh yang dapat meliputi perilaku saling berbagi, memahami, persahabatan, self-esteem yang layaknya pasangan. Perselingkuhan secara emosional dilakukan tanpa adanya perilaku berhubungan seksual antara pasangan selingkuh.

Ada asap berarti ada api, tidak akan ada akibat jika tanpa sebab. Semua bentuk perilaku selingkuh baik emosional dan seksual dilatarbelakangi oleh faktor-faktor tertentu yang mendorong seseorang untuk berselingkuh. Lantas apa saja hal yang mendorong perilaku tersebut?

Mengapa Seseorang Berselingkuh?

ilustrasi perselingkuhan

Menurut penelitian psikologi, sebagian besar orang berselingkuh disebabkan karena beberapa aspek dalam hubungannya dengan pasangan utama tidak memenuhi ekspektasi atau dengan kata lain merasa tidak puas (Selterman, Garcia, & Tsapelas, 2019). Tidak terpenuhinya ekspektasi inilah yang kemudian mendorong perilaku seseorang untuk mencari kepuasan baik fisik maupun batin di luar pasangan utama.

Selain itu, menurut teori psikologi tentang perselingkuhan bernama deficit model of infidelity (Thompson, 1983), faktor utama yang mendorong seseorang untuk berselingkuh adalah rendahnya kepuasan dalam hubungan, timbulnya konflik, dan kurangnya komunikasi. Lemahnya komitmen untuk menjaga hubungan satu sama lain juga merupakan salah satu faktor yang mendorong seseorang untuk menjalin hubungan lain diluar hubungan dengan pasangan utama (Selterman, Garcia, & Tsapelas, 2020). Namun, dari beberapa pendapat tersebut faktor yang secara umum dapat mendorong seseorang untuk berselingkuh ialah ketidakpuasan dalam hubungan (contoh: merasa pasangan cenderung aromantik).

Kemudian, apabila dibandingkan antara pria dengan wanita. Ternyata pria lebih cenderung melakukan perselingkuhan karena nafsu seksual, keinginan variasi dalam seks, dan faktor situasional. Sedangkan, perempuan lebih sering melakukan perselingkuhan ketika dirinya merasa diabaikan oleh pasangan dan merasa kurang kasih sayang (Selterman, Garcia, & Tsapelas, 2019).

Apa Dampak Selingkuh Bagi Hubungan?

Perselingkuhan dapat berdampak pada kerenggangan hubungan dengan pasangan. Menurut Selterman, Garcia, dan Tsapelas (2020), individu yang bercerai akibat perselingkuhan memiliki tingkat kelekatan yang rendah dengan pasangannya atau dapat dikatakan mengalami kerenggangan dalam hubungan. Selain kerenggangan dalam hubungan, perselingkuhan juga berdampak pada munculnya kasus-kasus kekerasan dalam rumah tangga yang dapat berujung membahayakan nyawa salah satu atau bahkan kedua pasangan.

Masalah-masalah yang diakibatkan karena perilaku selingkuh tersebut juga banyak menjadi latar belakang tingginya angka perceraian (Amato & Previti, 2003). Memang perceraian bukan satu-satunya jalan untuk menyelesaikan masalah perselingkuhan dalam rumah tangga. Apabila pasangan yang berselingkuh berkomitmen untuk tidak akan melakukannya lagi dan pasangannya juga telah memberikan maaf, maka kembali rujuk dan memperbaiki hubungan bisa jadi adalah jalan yang tepat untuk ditempuh.

Bagaimana Cara Mencegah Perilaku Berselingkuh?

Bagi kamu yang sudah menikah atau memiliki pasangan, pasti tidak ingin kan pasanganmu berselingkuh? Karena dikhianati itu pasti sangat menyakitkan dan dari penjelasan sebelumnya perselingkuhan juga berefek buruk bagi keberlangsungan hubungan.

berhenti selingkuh, stop cheating

Nah, sebenarnya ada beberapa cara loh untuk mencegah perilaku selingkuh terjadi dalam hubungan. Menurut penelitian yang dilakukan Fye dan Mims (2018), terdapat beberapa cara yang dapat mencegah terjadinya perselingkuhan dalam hubungan, yaitu sebagai berikut:

1. Membangun secure attachment atau ikatan emosional

Ketika individu telah memilki ikatan emosional dengan pasangannya maka ia akan merasakan bahwa kebutuhan emosionalnya telah terpenuhi dan memiliki rasa kebersamaan dengan pasangan yang tinggi sehingga tidak berkeinginan untuk mencari yang lain. Ikatan emosional dapat dibangun dengan jalan melakukan aktivitas-aktivitas bersama, terbuka, memberikan afirmasi positif, dan menunjukkan empati kepada pasangan.

2. Sex dalam hubungan pernikahan

Terpenuhinya kebutuhan seksual dalam suatu pernikahan juga turut mencegah adanya perilaku berselingkuh loh. Hal yang dapat ditempuh adalah dengan cara membuat kehidupan seksual lebih menarik dan terdapat ikatan emosional yang melatarbelakanginya.

3. Strategi coping dalam menghadapi masalah

Strategi coping merupakan cara yang dilakukan untuk menanggulangi permasalahan baik dari individu maupun diantara pasangan. Coping secara individu dapat dilakukan misalnya dengan jalan menjauhi luka batin, menyeimbangkan peran, melakukan self-care dan kontrol diri, serta memiliki keinginan untuk berubah menjadi lebih baik. Sedangkan coping sebagai pasangan dapat dilakukan dengan cara memberikan dukungan kepada pasangan satu sama lain, memperhatikan hubungan, serta mempraktikan fleksibilitas dan adaptabilitas dalam hubungan.

Dengan menerapkan ketiga perilaku positif tersebut, kamu dapat membangun hubunganmu ke arah yang lebih positif dan harmonis. Terciptanya pola interaksi yang harmonis akan mendorong satu sama lain untuk menjaga komitmen yang telah dibuat karena satu sama lain telah menghargai keberadaan pasangannya.

Nah, itu tadi bahasan mengenai fenomena selingkuh menurut ilmu psikologi. Dengan lebih memahami mengapa suatu perilaku bisa terjadi maka ketika dihadapkan pada situasi serupa, kita diharapkan bisa mengambil sikap dan langkah yang tepat untuk menyikapinya.

Referensi:

Amato, P. R., & Previti, D. (2003). People’s reasons for divorcing: Gender, social class, the life course, and adjustment. Journal of Family Issues, 24(5), 602–626.

Fye, M. A., & Mims, G. A. (2018). Preventing Infidelity. The Family Journal: Counseling and Therapy for Couples and Families, 1 – 9.

Hertlein, K. M., Wetchler, J. L., & Piercy, F. P. (2005). Infidelity: An overview. Journal of Couple & Relationship Therapy, 4(2–3), 5–16.

Selterman, D., Garcia, J. R., & Tsapelas, I. (2019). Motivations for Extradyadic Infidelity Revisited. Journal of Sex Research, 56(3), 273–286.

Selterman, D., Garcia, J. M., & Tsapelas, I. (2020). What Do People Do, Say, and Feel When They Have Affairs? Associations between Extradyadic Infidelity Motives with Behavioral, Emotional, and Sexual Outcomes. Journal of Sex & Marital Therapy, 20-36.

Thompson, A. P. (1983). Extramarital sex: A review of the research literature. Journal of Sex Research, 19(1), 1–22.

Artikel Terkait

Leave a Comment