Image default

Memahami Bullying atau Perundungan: Definisi, Penyebab, hingga Cara Mengatasi

Beberapa tahun terakhir, sepertinya istilah bullying ramai digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Penggunaan istilah bullying atau dalam bahasa Indonesia disebut dengan perundungan ini tidak hanya dijumpai pada kalangan anak muda, tetapi juga hingga mereka yang telah dewasa. Kejadian perundungan yang terjadi di tengah masyarakat memiliki beragam intensitas dari kecil hingga besar.

Tidak hanya itu, beberapa kasus perundungan secara verbal dikaitkan atau ditutupi dengan embel-embel bercanda atau guyonan tetapi membuat korbannya merasa tidak nyaman. Contoh perundungan dalam skala atau intensitas yang besar misalnya dikucilkan oleh orang-orang di sekolahnya karena korban memiliki perbedaan tertentu, bisa karena fisik, kognitif bahkan dari segi materi.

Berkaca dari beragam kondisi perundungan dan penyebab bullying tersebut, sepertinya penting bagi kita untuk memahami lebih dalam mengenai bullying atau perundungan. Harapannya dengan mengetahui lebih baik mengenai perundungan, kita dapat menekan perilaku tersebut sehingga tidak ada lebih banyak korban bullying lainnya di luar sana.

Pengertian Bullying atau Perundungan

Bullying (perundungan) adalah penyalahgunaan kekuatan serta perilaku agresif atau yang bertujuan untuk menyakiti orang lain yang dilakukan oleh rekan atau peers secara berulang dan melibatkan ketimpangan kekuatan baik secara nyata atau menurut anggapan antara pelaku dan korban. (Olweus D. dalam Wolke & Lereya, 2015)

Sedangkan American Psychological Association (APA) mendefinisikan bullying adalah sebagai sebuah bentuk perilaku agresif yang dilakukan secara berulang dan disengaja untuk menimbulkan perasaan tidak nyaman maupun cidera bagi korban (Bullying, t.t.)

Berdasar kedua definisi tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa pengertian bullying atau perundungan merupakan sebuah perilaku agresi yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang melalui secara sengaja dan berulang dengan tujuan agar orang lain merasa tidak nyaman maupun hingga menimbulkan dampak buruk lain seperti cedera secara psikologis, fisik, dan sosial.

Dalam praktiknya, fenomena perundungan ini melibatkan tiga pihak yaitu pelaku, korban dan bystanders. Bystanders pada perilaku perundungan merujuk pada individu yang melihat terjadinya perilaku bullying baik secara online atau cyberbullying, maupun offline yang mana bullying bisa berupa teman, kolega, guru, atasan, pelatih, orang tua dan masih banyak lagi (Assistant Secretary for Public Affairs (ASPA), 2019).

Selayaknya bystanders maupun saksi mata dalam kejadian lainnya, bystanders pada perundungan dapat memberikan efek positif terutama menghentikan perbuatan para pelaku. Namun demikian, apabila ia tidak bertindak dan hanya melihat maka perbuatan pelaku bullying tidak akan berhenti dan cenderung semakin intens.

Penyebab Bullying

Perilaku atau fenomena perundungan atau bullying ini dapat terjadi dengan penyebab yang sangat beragam. Berkaitan dengan penyebab munculnya perilaku ini tidak serta merta hanya melihat dari satu sisi saja, melainkan harus melihat dari semua pihak yang terlibat. Berikut ini penjelasan singkat mengenai penyebab dari perilaku bullying dilihat dari pelaku, korban dan bystanders.

1. Pelaku

Biasanya pelaku perundungan melakukan perilaku ini karena beberapa hal yang bisa saja berbeda-beda dari satu individu ke individu lain. Seunagal (2021) menjelaskan bahwa beberapa hal yang bisa menjadi penyebabnya seperti merasa bahwa pihak lawan sebagai “bahaya” (perceived of threats), adanya keinginan untuk memiliki power sehingga dapat lebih berkuasa, balas dendam, hingga adanya trauma masa lalu yang belum terselesaikan.

Sebagai contoh kasus bullying, seorang senior di klub berenang yang bernama Rai merundung seorang juniornya yang bernama Nio karena Rai merasa juniornya ini dapat menjadi sosok yang lebih powerful dan lebih disukai oleh rekan-rekan di klub tersebut.

2. Korban

Selain pelaku, perundungan juga dapat disebabkan oleh beberapa hal yang berkaitan dengan atau berada pada diri korbannya. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa korban perundungan atau bullying karena memiliki karakteristik psikologis tertentu, seperti sering mengalami emosi negatif berupa kesedihan, marah, hingga insecure (Emamzadeh, 2018).

Pada kasus tertentu, individu yang menjadi korban perundungan cenderung memiliki suatu sisi yang lebih baik daripada pelaku sehingga pelaku merasa dalam bahaya jika bersaing dengan korban, seperti lebih skillfull, cekatan, pintar dan sebagainya (Gordon, 2020).

Contohnya Nio mengalami perundungan oleh Rai bukan hanya karena ia junior, tetapi ternyata Nio sendiri merupakan individu yang sering merasa insecure dengan kemampuan berenangnya yang belum sebaik para anggota klub lainnya. Dengan adanya kesempatan tersebut serta perceived of threats karena merasa Nio lebih mudah berteman dengan anggota klub, makaRai tidak segan untuk merundung Nio.

3. Bystanders

Saksi atau bystanders yang melihat perundungan dapat berperan dalam keberlangsungan perilaku perundungan itu sendiri. Bystanders yang tidak bertindak atau hanya diam saja ketika perundungan terjadi cenderung meningkatkan perilaku bullying tersebut.

Diamnya bystanders ini dapat membawa beragam akibat, seperti pelaku maupun korban merasa bystanders ini setuju dengan perundungan yang terjadi sehingga pelaku terus melakukannya sedangkan korban semakin merasa sendirian (Assistant Secretary for Public Affairs, 2019).

Tipe Bullying

Perilaku bullying jika dilihat secara general dan berdasarkan pada definisi yang telah disampaikan pada bagian sebelumnya, dapat dipahami bahwa memiliki beragam tipe atau bentuk. Tipe perilaku bullying ini dapat dibedakan menjadi beberapa hal berdasarkan kategori tertentu. Secara garis besar dan general terdapat dua tipe bullying, yakni tradisional dan cyberbullying (Smith, 2018).

  1. Perundungan tradisional merupakan jenis bullying yang mana sebuah perilaku perundungan yang dilakukan secara offline dan cenderung ditemukan di kehidupan sehari-hari. Contoh dari perilaku ini misalnya saja memalak, memukul, mengatai secara langsung, menjauhi dan lain sebagainya.
  2. Cyberbullying adalah bentuk dari perilaku perundungan yang dilakukan dengan media internet atau secara online. Pada awalnya tipe bullying ini masih jarang ditemukan, tetapi seiring berjalannya waktu dan perkembangan teknologi yang pesat, perilaku cyberbullying ini juga mengalami peningkatan. Contoh dari cyberbullying ini mudah ditemukan misalnya saja Afi seorang pelajar mendapatkan komentar yang merendahkan pada foto yang baru saja ia unggah di sosial media.

Selain dua bentuk bullying tersebut, masih terdapat beberapa bentuk atau tipe dari perilaku perundungan lainnya. Menurut New Zealand Ministry of Education (t.t.) terdapat setidaknya tiga bentuk perilaku bullying jika dilihat dari sasaran atau bentuk perilakunya.

Ketiga tipe perilaku bullying tersebut dijelaskan sebagai berikut.

  1. Bullying fisik: merupakan salah satu dari bentuk perundungan tradisional yang di dalamnya terdapat perilaku ataupun intensi untuk melukai fisik pihak lawan (New Zealand Ministry of Education, t.t.). Contoh perilaku bullying fisik ini misalnya saja memukul, menendang, mencubit, mencuri dan/atau merusak barang milik orang lain, menjambak dan masih banyak lainnya. Tipe perundungan ini yang biasanya lebih banyak ataupun lebih mudah diketahui, karena memang jelas terlihat oleh masyarakat atau komunitas yang ada di sekitarnya.
  1. Bullying verbal: memiliki persamaan dengan dengan tipe perundungan fisik, karena juga lebih mudah untuk ditemui baik pada perundungan tradisional maupun cyberbullying. Hal ini dikarenakan perundungan verbal bullying biasanya dilakukan dengan menuliskan dan atau mengucapkan kata-kata atau kalimat yang tidak mengenakan (New Zealand Ministry of Education, t.t.). Misalnya saja, seorang karyawati baru bernama Ina mendapatkan kalimat sarkasme yang menyakiti hati setiap kali ia tidak dapat mengerjakan tugas yang diberikan oleh rekan-rekan yang lebih senior.
  1. Bullying sosial: Berbeda dengan bullying fisik dan verbal yang cenderung dilakukan secara langsung terhadap individu, perundungan sosial merupakan bentuk perundungan yang bertujuan untuk merusak hubungan atau reputasi seseorang (New Zealand Ministry of Education, t.t.). Tipe perundungan sosial ini sebenarnya sering terjadi di tengah masyarakat, tetapi tidak banyak yang menyadari akan hal tersebut. Perilaku perundungan sosial bisa terjadi misalnya dalam bentuk Via mengajak teman-temannya agar tidak berteman dengan Nini karena ia siswa baru di sekolah dan berasal dari desa.

Dampak Bullying

Perilaku bullying atau perundungan seperti yang disampaikan di atas memang dapat terjadi di mana saja tanpa memandang usia maupun status korbannya. Banyak contoh perilaku bullying yang terjadi di berbagai setting mulai dari institusi pendidikan, tempat kerja bahkan lingkungan tempat tinggal. Disadari maupun tidak, perundungan memberikan dampak negatif tertentu bagi seluruh pihak yang terlibat, baik korban, pelaku, maupun bystander.

Korban perundungan atau bullying dapat mengalami beragam hal dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Secara umum, dampak jangka pendek yang dapat ditemukan pada korban bullying, seperti trauma, psikosomatis, rasa marah, depresi, cemas, penurunan prestasi, motivasi menurun hingga pemikiran untuk bunuh diri (“The Long Term Effects of Bullying,” t.t.; Wolke & Lereya, 2015).

Pada jangka panjang, efek dari perundungan dapat berakibat pada berkurang atau tidak mampunya seseorang untuk beradaptasi saat sudah dewasa, seperti kesulitan mempertahankan hubungan romantis dalam jangka panjang, sulit adaptasi saat bekerja dan sebagainya (Wolke & Lereya, 2015).

Sedangkan dari sisi pelaku, perilaku perundungan yang ia lakukan juga dapat berdampak buruk bagi dirinya sendiri, terutama ketika beranjak dewasa. Beberapa diantaranya adalah cenderung lebih banyak terlibat dalam kegiatan kriminal berupa perusakan, penyalahgunaan napza, menjadi sosok yang abusive, dan sebagainya (Assistant Secretary for Public Affairs, 2019).

Dampak bullying tidak hanya pada korban dan pelaku, bystander juga dapat merasakan dampak buruk yang ada. Pada kasus pelajar, dampaknya dapat berupa membolos dan pada konteks yang lebih luas bystander dapat mengalami peningkatan penggunaan napza, rokok, serta mengalami gangguan kesehatan psikologis seperti kecemasan dan depresi maupun fisik (Assistant Secretary for Public Affairs, 2019).

Cara Mengatasi Bullying

Memahami sebuah fenomena rasanya kurang lengkap jika tidak mempelajari cara mencegah bullying dan mengatasinya. Dengan mengetahui cara atau solusi mengatasi bullying, maka diharapkan dapat menentukan langkah yang tepat ketika menemukan atau mengalami perundungan.

Secara umum terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan untuk  menghentikan perundungan yang terjadi pada diri sendiri (kita sebagai korban) maupun yang terjadi pada orang lain.

  1. Komunikasikan dengan orang yang terpercaya mengenai perundungan yang dialami, baik kepada atasan, guru, teman, saudara, pasangan, dan sebagainya.
  2. Apabila terjadi di lingkungan formal seperti kantor maupun sekolah, jangan ragu untuk melapor kepada departemen, bagian atau pihak khusus yang dapat dimintai bantuan, seperti bimbingan konseling, wali kelas, bagian atau departemen human resources atau Sumber Daya Manusia.
  3. Amy Cooper Hakim dalam Barth (2017) menyampaikan bahwa ketika menghadapi pelaku bullying kita harus berupaya untuk tampil percaya diri untuk menunjukkan bahwa Anda kuat tanpa harus membalas dengan kekerasan.
  4. Saat berdialog atau menjawab perlakuan pelaku, jawab secara asertif tetapi tanpa emosi untuk menunjukkan bahwa Anda tidak mau dijadikan korban, tidak mau “meminta maaf” atas yang mereka tuduhkan, tetapi juga tidak mencari ribut dengan mereka (Signe Whitson dalam Barth, 2017).
  5. Buat batasan yang jelas atas hal yang bisa diselesaikan secara profesional dan tetap tegas agar perundungan tidak semakin berkembang (Chrissy Scivicque dalam Barth, 2017).
  6. Apabila kondisi semakin tidak kondusif dan ancaman yang ada semakin meningkat, maka jangan pernah ragu untuk mencari bantuan kepada kepolisian untuk mencegah perluasan kekerasan.
  7. Selain itu, carilah bantuan profesional kesehatan baik fisik maupun psikologis jika diperlukan untuk meminimalisir dampak pada diri Anda.

Apabila Anda tidak mengalami perundungan, tetapi menjadi bystanders maka penting untuk tetap berupaya membantu menghentikan tindakan tersebut. Berikut terdapat beberapa cara untuk membantu menghentikan atau mengatasi perundungan bagi para saksi mata atau bystanders. Beberapa cara yang diberikan pada bagian ini dikembangkan dari artikel Becoming an Upstander to Bullying Just Got Easier! (2018)

  1. Tanyakan tentang perilaku perundungan kepada pelaku, seperti apakah yang ia lakukan benar atau tidak? Adakah dasar tertentu untuk melakukan itu (hukuman yang ada peraturannya dan sebagainya)?
  2. Alihkan perhatian pelaku melalui aktivitas tertentu untuk mengurangi atau mencegah terjadinya perundungan yang semakin tidak terkendali.
  3. Apabila ada orang lain yang turut melihat atau menjadi bystanders, maka dapat bersama-sama untuk menunjukkan kepada perundung bahwa para saksi tidak setuju dengan perilaku mereka.
  4. Hal terpenting adalah dekati korban dan yakinkan bahwa ia tidak sendirian.
  5. Jika memang tidak bisa secara langsung turut andil, Anda dapat membantu untuk membuat laporan kepada pihak yang berwenang maupun memberikan dukungan kepada korban.

Demikian sedikit pembahasan dan penjelasan mengenai perundungan atau bullying yang akhir-akhir ini banyak terjadi di sekitar kita. Melalui artikel ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran, kepedulian dan juga keberanian untuk bangkit bagi para korban.

Apabila Anda atau orang di sekitar mengalami perundungan, jangan ragu untuk melakukan beberapa cara yang telah disampaikan dan pastinya disesuaikan dengan kebutuhan serta kondisi yang dihadapi. Selain itu, ketika kondisi sudah diluar kendali dan telah mengalami dampaknya, jangan ragu untuk mencari bantuan profesional.

Referensi

Artikel Terkait

Leave a Comment