Image default

Yuk, Belajar Menghadapi Dukacita dari Wanda Maximoff!

Hai, para fans Marvel Cinematic Universe! Tentunya kalian sudah khatam dengan film-film Infinity Saga hingga Phase 4, bukan? Tidak apa-apa bila kalian belum menonton semuanya. Jika kalian belum nonton Wandavision atau Multiverse of Madness, sebaiknya kalian berhati-hati karena artikel ini mengandung beberapa spoiler. Namun jika kalian memang tertarik mengkaji MCU secara psikologis, yuk baca sampai selesai!

Wanda Vision

Pendahuluan (Spoiler Alert!)

Kali ini, penulis ingin membahas soal Wanda Maximoff. Fans Marvel pasti sudah paham siapa dia. Yap, Wanda adalah salah satu tokoh utama di MCU. Kisahnya yang terkini dibeberkan dalam Wandavision, sebuah serial Disney+ yang mengangkat kehidupan Wanda setelah film Avengers: Endgame.

Jangan dikira kehidupan Wanda biasa-biasa saja. Sebab, setelah pertempuran melawan Thanos, ia bersama anggota Avengers lainnya kehilangan sosok Tony Stark, salah satu original member Avenger, dan Vision, Avenger lain yang menjadi kekasihnya. Kematian Vision yang paling berefek pada Wanda, sebab ia adalah orang terdekat kedua Wanda setelah saudara kembarnya, Pietro, yang terbunuh di film Age of Ultron.

Nah, spoiler besarnya di sini, nih! Melalui kekuatannya, Wanda menciptakan sebuah realita baru di mana ia dan Vision hidup bahagia di kota kecil bernama Westview. mereka juga punya anak kembar bernama Billy dan Tommy. Pietro juga hidup bersama mereka sebagai seorang paman. Kebahagiaan itu harus berakhir ketika satu per satu penduduk Westview menyadari keanehan yang terjadi.

Rupanya, kota Westview adalah kota sungguhan, bukan dari imajinasi Wanda saja. Seluruh penduduk kota tersebut terjebak dalam hex atau kekuatan sihir yang dimiliki Wanda. Hex-nya Wanda adalah kulminasi dari penderitaan dan rasa sakit akibat berduka yang dialami Wanda.

Selanjutnya, di film Multiverse of Madness, Wanda ingin mengambil kekuatan seorang anak bernama America Chavez untuk digunakannya berpindah ke dimensi lain. Alasannya karena di dimensi lain itu, anak-anak Wanda hidup sungguhan, bukan hanya karena hex. Namun, Doctor Strange tidak membiarkan hal itu terjadi. Strange berniat menghentikan Wanda karena jika kekuatannya diambil, America bisa kehilangan nyawanya.

Mengapa perubahan karakter Wanda bisa sedrastis itu? Apakah rasa duka bisa benar-benar mengubah seseorang menjadi kejam hingga berniat melukai orang lain? Kalau dipikir-pikir, kita bisa menganalogikan pengalaman Wanda ke dalam 5 stages of grief. Mari bahas bersama.

Apa itu Stages of Grief?

Stages of grief adalah istilah bagi tahapan-tahapan memproses suatu perasaan dukacita. Namun, stages of grief ini tidak mesti berurutan terjadi. Ada stage yang bisa dilewati bila kita memproses rasa duka.

1. Denial

Tahap pertama dari 5 stages of grief adalah denial atau penolakan. Tahapan ini ditandai dengan pemikiran “tidak mungkin, ini tidak mungkin terjadi” yang muncul dari diri kita. Contohnya dalam Wandavision, sulit bagi Wanda untuk menerima kematian orang-orang terdekatnya, sehingga ia pun menciptakan realita baru di mana ia bisa bersama-sama dengan mereka. Namun, pada akhirnya, Wanda berbohong pada dirinya sendiri. Ia juga menjebak penduduk Westview yang tak berdaya ke dalam realitanya.

Denial

2. Anger

Tahap kedua, anger, muncul saat kita sudah menyadari bahwa perasaan kehilangan kita dimunculkan dari peristiwa yang benar-benar ada. Tapi, saat kita menyadarinya, muncul amarah yang muncul. Kita juga menyalahkan diri sendiri dan orang lain yang kita tuding menjadi penyebab kejadian itu. Ketika Wanda pertama memproses kematian Vision, ia pergi ke pangkalan militer untuk mengambil bagian-bagian tubuh Vision.

Ia begitu marah kepada pemerintah yang menggunakan Vision untuk diteliti. Saking marah dan bersalahnya karena tidak bisa menyelamatkan Vision, Wanda kemudian menciptakan realita baru Westview. Giliran saat penduduk Westview mulai sadar bahwa mereka menjadi “boneka” Wanda, Wanda berkelit dan mengatakan bahwa mereka akan baik-baik saja. Namun, di tengah kekalutan itu, ia menjadi marah lagi sehingga serangannya melukai orang-orang.

Anger

3. Depression

Setelah anger, tahap selanjutnya adalah depression, yakni munculnya rasa hampa yang berkaitan dengan kehilangan. Pada fase ini, kita merasa tak bisa berbuat apa-apa. Semua hal yang kita usahakan gagal. Nah, kalau Wanda, fase depression-nya mulai muncul ketika ia merasa tak bisa melakukan apa-apa untuk merubah hidupnya. Kehampaan karena kehilangan Vision dan anak-anaknya pun menguasainya sehingga ia menjadi penyendiri. Namun ternyata, belum sampai situ.

Depression

4. Bargaining

Tahap bargaining ini bisa terjadi, bisa tidak. Tergantung bagaimana seseorang memproses perasaan duka. Istilah bargaining mengacu pada keinginan untuk mengulang kembali atau pemikiran “seandainya hal itu tidak terjadi.” Dalam film Multiverse of Madness, Wanda memasuki tahap bargaining ketika ia mulai tergoda mencari keberadaan anak-anaknya menggunakan buku sihir Darkhold. Parahnya, ia juga menggunakan kekuatan jahat buku tersebut untuk mencelakai siapa pun yang menghalanginya.

Bargaining

5. Acceptance

Tahap acceptance dialami seseorang yang sudah mengikhlaskan atau merelakan kepergian orang yang mereka sayangi. Di tahap ini, sudah tidak ada lagi perasaan kehilangan atau bersalah. Kesedihannya masih ada, namun tidak sehebat di tahap-tahap anger hingga bargaining.

Wanda memasuki tahap ini setelah menyadari bahwa sihir Darkhold terlalu berbahaya dan mencelakakan dirinya. Ia juga menyadari bahwa ia bisa melukai orang-orang di bawah pengaruh Darkhold. Maka dari itu, ia pun memutuskan untuk merelakan kepergian anak-anaknya dan menghancurkan Darkhold.

Acceptance

Nah, dengan berakhirnya artikel ini, ada satu pertanyaan besar. Apa yang akan terjadi selanjutnya menurut teori kalian? Akankah dengan memasuki tahap acceptance, seorang Wanda kembali menjadi Avengers yang baik hati? Atau dia justru akan semakin tergoda oleh kegelapan?

Entahlah. Sepertinya kita tetap harus menunggu terlebih dahulu kelanjutan filmnya di Marvel Cinematic Universe, agree?


Artikel Terkait

Leave a Comment