Siapa, sih, yang tidak tahu istilah work life balance? Bisa dibilang, hampir dari 80% dari kalian pasti paham bahwa media zaman now sering menggunakan istilah work life balance atau WLB di kalangan budaya populer untuk menggambarkan kehidupan yang seimbang antara pekerjaan dengan kehidupan personal.

Meskipun demikian, work life balance bukan hanya sekedar istilah yang tengah populer di kalangan millennial dan Gen Z, karena bila kita telaah lebih dalam, work life balance itu sangat kompleks, sehingga untuk beberapa kasus, akan sulit menerapkannya.

Mengapa demikian? Berikut alasannya mengapa kita sulit mencapai work life balance!

a. Bekerja Tak Selamanya Terpisah dari Kehidupan Pribadi

Menurut salah satu artikel di Time Magazine yang ditulis oleh Marcus Buckingham dan Ashley Goodall, istilah “keseimbangan” atau “balance” dalam work life balance mengacu pada keadaaan di mana hidup kita dituntut untuk statis, tidak ada yang berubah.

Jadi, dengan kata lain, work life balance berarti ada dua kutub yang berbeda. Salah satu kutub mengindikasikan bekerja sebagai sesuatu yang sangat tidak menyenangkan, sementara salah satunya lagi mengatakan bahwa segala hal positif bisa diambil dari kehidupan pribadi.

Padahal, belum tentu bekerja itu dipandang sebagai sesuatu yang toxic. Harvard Business Review setuju bahwa pekerjaan itu haruslah sesuatu yang menyenangkan, karena lingkungan kerja yang menyenangkan dapat memiliki dampak positif pada keterlibatan karyawan, kreativitas, dan mengurangi turnover.

Sedangkan di sisi lain, tidak selamanya kita bisa having fun waktu bekerja. Sebuah survei tahun 2013 di Inggris menyatakan bahwa 73% dari CEO sepakat bahwa kehidupan personal seringkali menjadi isu yang bisa menyebabkan karyawan berpindah kerja.

Maka dari itu, kehidupan personal kita juga bisa terganggu jika kita tidak belajar memisahkan antara urusan pekerjaan dengan urusan keluarga, anak-anak, atau pasangan. Agak merepotkan, bukan?

b. Work Life Balance Bergantung pada Situasi Sosial-Ekonomi

Data melaporkan, hanya beberapa negara di dunia saja yang terbukti mencapai work life balance. Berdasarkan statistik tahun 2019, Belanda dinyatakan sebagai negara paling work life balance karena memastikan kesehatan pribadi dan keselamatan kerja, sehingga tingkat stres kerjanya tergolong rendah bagi karyawan di sana.

Di sisi lain, di Amerika, 66% karyawan mengklaim bahwa mereka tidak bisa menyeimbangkan kehidupan kerja dengan kehidupan pribadi. Apabila dikaitkan dengan people of color (penduduk kulit berwarna) di Amerika, penelitian tahun 2018 menyebutkan bahwa wanita Afrika-Amerika sangat rentan mengalami depresi dan kecemasan, padahal mereka harus bekerja memenuhi kebutuhan hidup keluarga di samping membesarkan anak. Jadi, wajarlah bilakita menyatakan work life balance kurang terjaga di negara maju seperti Amerika Serikat.

Menurut data dari Kisi.com tahun 2021, tidak ada kota Asia yang mencapai top 10kota paling work life balance berdasarkan intensitas kerjanya. Data ini sekaligus mengkonfirmasi penelitian tahun 2009 bahwa work life balance dipengaruhi oleh faktor struktural dan institusional suatu negara. Tokyo sendiri menempati urutan ke-19, diikuti Singapura di urutan ke-41 dan Bangkok di urutan ke-43. Nah, bisa dibayangkan Jakarta urutan keberapa, bukan?

c. Work Life Balance Harus Didukung Banyak Faktor

Dari segala kesulitan yang ada, apakah tidak ada solusinya bagi kita yang ingin menerapkan work life balance sebagai pekerja Indonesia? Tentu saja ada.

Meskipun belum ada data spesifik yang menyatakan apakah pekerja Indonesia sudah mencapai work life balance, sebuah penelitian di Indonesia oleh Universitas Airlangga menyebutkan bahwa work life balance sangat mungkin dicapai apabila pekerja memenuhi 4 macam kebutuhan:

1. Kebutuhan untuk didukung oleh keluarga.

Keluarga adalah salah satu support terbesar bagi well-being kita secara fisik maupun mental. Maka dari itu, faktor dukungan keluarga sangat penting bagi work life balance.

2. Kebutuhan akan power dalam pekerjaan.

Maksud power di sini bukan kekuasaan seperti “jadi bos,” namun bagaimana kita punya andil dalam menciptakan lingkungan kerja yang baik bagi kita. Jika kita tidak punya power, kita akan mudah terseret lingkungan kerja toxic dan tidak bisa menerapkan boundary bagi diri kita.

3. Kebutuhan self improvement.

Hal ini juga bisa menunjang work life balance karena training tidak terbatas pada hard skill, namun juga soft skill karyawan, misalnya komunikasi, manajemen waktu, dan manajemen stres. Lagipula, tidak ada yang lebih disenangi karyawan daripada diberi kebebasan untuk belajar dan difasilitasi training untuk meng-upgrade kemampuannya.

4. Kebutuhan akan kualitas hidup

Kualitas hidup karyawan tentu saja bergantung pada imbalan atau gaji yang sesuai dengan skill dan beban kerja, asuransi, serta kemampuan mengakses layanan kesehatan, baik fisik maupun mental. Jaminan kualitas hidup yang baik juga akan meningkatkan produktivitas karyawan dan kepuasan kerjanya.

Kesimpulannya, kalau dibilang work life balance itu ideal bagi well-being kita, ada betulnya juga. Tapi tetap saja, banyak tantangan yang harus dihadapi dalam menerapkannya. Artikel ini bukannya mengatakan bahwa keseimbangan antara bekerja dan kehidupan personal itu mustahil, namun kita tetap harus berkaca pada kenyataan dan situasi sosial dan ekonomi di sekitar kita.

Sebagai pekerja entry level yang masih fresh graduate, misalnya, kamu tak perlu muluk-muluk healing di Bali untuk mencapai work life balance. Cukuplah dengan menyediakan waktu yang cukup buat istirahat, bertemu dengan keluarga, dan menekuni passion. Lagipula, tak ada yang tak mungkin jika kita berani memulai, bukan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *