Pandemi virus corona sudah berlangsung hampir satu tahun. Banyak perubahan yang terjadi selama pandemi, termasuk work life balance. Misalnya keharusan untuk bekerja atau belajar dari rumah dan pembatasan sosial berskala besar yang dampaknya dapat membatasi ruang gerak kita. Kegiatan sehari-hari menjadi lebih monoton karena hanya berkutat di tempat dan aktivitas yang tidak jauh berbeda. Bagi sebagian orang yang tidak terbiasa untuk bekerja dari rumah tentu akan merasa tidak nyaman dengan kebijakan tersebut.

Bekerja dari rumah cenderung berpotensi lebih banyak mengalami distraksi dibandingkan bekerja dari kantor. Pada saat di rumah fokus kita akan terpecah antara pekerjaan rumah dan segudang pekerjaan kantor yang menumpuk. Melihat rumah yang masih berantakan sekaligus deadline tugas dadakan dari atasan yang harus dikirim hari itu juga, bikin pusing kan? Jika terjadi berlarut-larut, hal tersebut akan berpengaruh pada work life balance. Wah, apa itu work life balance? Dan bagaimana sih caranya agar work life balance tetap terjaga di masa pandemi ini?

Definisi Work-Life Balance

work-life balance

Menurut teori dari Fisher dkk. (2009), work life balance merupakan upaya seseorang untuk menyeimbangkan dua peran atau lebih yang dijalaninya. Work life balance dirasakan ketika seseorang merasa puas dengan keadaan yang tengah dijalaninya.

Selain merasa puas, Guest (2002) mengungkapkan bahwa work life balance adalah keadaan dimana individu memiliki waktu yang cukup untuk memenuhi komitmen di tempat kerja maupun di rumah, sehingga meminimalisir terjadinya konflik peran, yaitu konflik yang diakibatkan tidak terpenuhinya salah satu peran baik peran sebagai anggota keluarga atau teman maupun peran sebagai pekerja. Dampak positif dari tingkat work life balance yang baik adalah individu dapat merasakan peningkatan well-being dan self-fulfilment dalam diri.

Jika work-life balance diabaikan, berbagai gangguan psikologis seperti depresi ringan hingga gangguan depresi mayor, burn out, dll. bisa muncul.

Dimensi & Faktor Yang Memengaruhi

Menurut Fisher dkk. (2009), terdapat empat faktor yang memengaruhi work life balance, keempat dimensi tersebut adalah sebagai berikut:

1. Work Interference With Personal Life

Dimensi ini merujuk pada sejauhmana kehidupan pribadi individu dipengaruhi oleh pekerjaan yang dijalaninya. Contohnya, bekerja lembur/overtime dapat membuat seorang kayawan sulit untuk membagi waktu dengan kehidupan pribadinya.

2. Personal Life Interference With Work

Personal Life Interference With Work adalah sejauh mana kehidupan pribadi individu memengaruhi kehidupan pekerjaannya. Contohnya, apabila individu sedang memiliki masalah didalam kehidupan pribadinya, maka akan berdampak pada kinerja dan efektivitas individu saat bekerja.

3. Work/Personal Life Enhancement

Work/Personal Life Enhancement adalah sejauh mana pekerjaan dapat meningkatkan kualitas kehidupan pribadi individu dan sebaliknya. Contohnya, keterampilan yang diperoleh individu pada saat bekerja, memungkinkan individu untuk memanfaatkan keterampilan tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Sebaliknya, apabila individu merasa bahagia dikarenakan kehidupan pribadinya menyenangkan maka hal tersebut dapat membuat suasana hati individu pada saat bekerja menjadi bahagia. Perasaan positif ini kemudian berdampak pada peningkatan produktivitas seseorang dalam bekerja.

Cara Mempertahankan Work Life Balance di Masa Pandemi

sehat mental dengan work dan life yang seimbang
Work dan life bisa diseimbangkan kok!

Dilansir dari beberapa sumber ada beberapa tips yang cukup efektif untuk meningkatkan work life balance di masa pandemi. Berikut tipsnya!

1. Buat jadwal kegiatan

Penelitian yang dilakukan oleh Felstead dan Henseke (2017) menunjukkan bahwa salah satu tantangan dalam bekerja di rumah adalah sulitnya berhenti bekerja, meski jam kerja telah usai. Cara yang dapat dilakukan untuk mencegah hal tersebutialah membuat jadwal kegiatan yang akan dilakukan dalam sehari. Membuat jadwal kegiatan secara detail dapat membantu kita lebih fokus dengan tugas dan meminimalisir adanya gangguan diluar pekerjaan. Selain itu, kita juga bisa menjadwalkan kapan harus melakukan hobi, istirahat, atau quality time dengan keluarga. Hal ini bisa menjaga agar kita tidak bekerja saat jam kerja telah usai. Kunci dari kegiatan ini adalah komitmen untuk mematuhi jadwal yang telah dibuat, sehingga waktu dan kegiatan kita menjadi lebih terkontrol.

2. Buat working space di rumah

Ketika bekerja di kantor terdapat meja, kubik-kubik, atau coworking space sebagai area khusus bekerja. Selama bekerja dari rumah hal ini juga diperlukan untuk membuat batasan area bekerja dengan area keluarga atau personal. Membuat area yang nyaman dengan meja dan kursi dapat membantu kita lebih mudah berkonsentrasi selama bekerja. Dengan membuat batasan tersebut anggota keluarga lain juga menjadi paham ketika kita sedang bekerja, sehingga dapat mengurangi adanya gangguan dari anggota keluarga lain.

3. Keluar rumah setelah lelah bekerja

Setelah penat seharian bekerja, sempatkanlah waktu untuk keluar ruangan dan menghirup udara segar. Tidak perlu jauh-jauh cukup di area teras rumah atau taman rumah sudah cukup untuk meredakan kepenatan di depan laptop. Berjalan-jalan disekitar rumah di pagi atau sore hari sembari menyapa tetangga atau ngobrol dengan anggota keluarga lain juga baik untuk dilakukan. Dengan melihat objek yang hijau dan segar, bisa membantu mata kita untuk beristirahat sejenak dari layar laptop. Selain itu, jalan-jalan juga dapat merilekskan sejenak pikiran sehingga membantu otak kita lebih produktif setelahnya. Mengetahui cara menguatkan mental memang penting, tapi terkadang yang kita perlukan hanyalah relaksasi. Tapi dengan catatan ketika keluar rumah harus mematuhi protokol kesehatan ya!

4. Komunikasikan perasaan dan kondisi

Bersikap terbuka dan jujur tentang perasaan atau kondisi yang tengah dihadapi, sangatlah penting untuk mencegah burnout selama bekerja dari rumah. Selama masa pembatasan sosial, komunikasi yang baik menjadi hal yang sangat penting, karena selama bekerja jarak jauh kita hanya bisa berinteraksi via daring. Dengan mengkomunikasikan perasaan dan kondisi, atasan atau rekan kerja kita dapat mengetahui jika kita mengalami kesulitan dalam mengelola tugas sehingga dapat bersama-sama menemukan solusi terbaik. Selain itu, komunikasi dengan keluarga juga perlu dibangun, agar anggota keluarga lain mengetahui jika kita sedang mengerjakan tugas penting sehingga tidak akan mengganggu kegiatan kerja kita. Jadi jangan sampai kamu merasa burnout hanya karena kurang komunikasi ya!

Nah itu dia, pengertian serta tips-tips untuk menjaga work life balance selama masa pandemi. Work life balance di masa pandemi menjadi sangat penting karena banyaknya perubahan serta ketidaknyamanan yang kita hadapi rentan mengganggu kesehatan mental kita. Dengan berusaha untuk menjaga keseimbangan antara kehidupan kerja dengan pribadi, secara tidak langsung akan turut meningkatkan well-being sekaligus produktivitas kita selama bekerja.

Ingat, produktif itu baik, namun jangan lupa jaga kesehatan mental ya!

Referensi & Jurnal:

Fisher, G. G., Bulger, C. A., & Smith, C. S. (2009). Beyond Work and Family: A Measure of Work/Nonwork Interference and Enhancement. Journal of Occupational Health Psychology, 14, 441-456.

Guest, D. E. (2002). Perspective on the study of work-life balance. Social Science Information, 41, 255-279.

Felstead, A. & Hnseke, G. (2017). Assessing the growth of remote working and its consequences for effort, well‐being and work‐life balance. New Technology, Work, and Employment, 32, 195-212 (link dapat diakses di https://onlinelibrary.wiley.com/doi/full/10.1111/ntwe.12097)

https://www.forbes.com/sites/forbestechcouncil/2020/06/23/how-to-maintain-work-life-balance-when-working-from-home/?sh=12b20af276e8

 

9 Responses

  1. Alhamdulillah, membaca artikel di website kampus psikologi banyak membantu aku untuk berubah menjadi lbh baik lagi dan mengatasi permasalahan dgn cara santay. Sukses trs!

  2. Wah, ini bermanfaat banget. Terimakasih buat kampus psikologi atas ilmu ilmu yg bermanfaat ini!!!! Benar benar membuka Mata banget.

  3. Artikel dari kampus psikologi ini sangat bermanfaat untuk menambah pengetahuan dan wawasan saya, the best pokoknya!!!!

  4. benee bgt sih di masa pandemi harus produktif tapi juga harus diimbangi dengan hal lain biar nggak stress, seperti self reward hihi

  5. Artikel kampus psikologi ini sangat bermanfaat, menambah pengetahuan, dan tentu sangat menarik!
    Selain itu artikel kampus psikologi ini juga lengkap, mulai dari pengertian, dampak positif dan dampak jika mengabaikan work life balance, faktor-faktornya, serta tips untuk mempertahankan work life balance, yang menurut saya merupakan pengetahuan yang sangat penting untuk menjaga keseimbangan peran dalam kehidupan terutama selama masa pandemi ini. Terima kasih kampus psikologi✨

  6. Wah thanks nih ilmunya… , Aku pernah baca artikel tentang Work life balance juga, tapi disini berbeda dan aku mendapatkan ilmu baru dari sini. Buat referensi anak kuliahan terutama jurusan psikologi atau suka baca mengenai self improvement cocok banget deh di web ini

  7. Selama kuliah daring ini, aku merasa belum bisa beradaptasi. Rasanya seperti bener-bener amburadul gitu, bener-bener gabisa mikir dan bingung harus ngapain. But thanks, aku bakal coba buat mempraktekkan tips dari kampuspsikologi.com, terutama untuk melakukan self reward ke diriku sendiri 🙂

  8. Ini menjadi salah satu artikel yang saya suka dari website Kampus Psikologi,karena selain penelitiannya yang setau saya belum begitu banyak di Indonesia, informasi yang dihadirkan juga dapat membantu pembaca mengerti serta lebih memahami tentang Work Life Balance

  9. Alhamdulillah cocok banget buat kondisi baru seperti pembelajaran daring sekarang, dengan lingkungan baru yang masih terasa asing, semangat semua!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *