Image default

Uang Gajian Selalu Habis? Simak Tips Psikologi Ini Biar Kamu Nggak Boros Lagi!

Gajian merupakan tanggal paling ditunggu-tunggu bagi karyawan, baik entry level maupun yang sudah senior. Tapi, jangan senang dulu!

Soalnya, kalau tidak hati-hati, bisa-bisa uang gajian selalu habis karena terlalu sering spending alias boros, karena menghabiskan uang buat hal-hal yang kurang penting. Yuk, kita usut dari sisi psikologi tentang bagaimana cara mencegahnya!

Kenapa Kita Bisa Boros?

Dilansir oleh CNBC, associate professor Universitas of Michigan, Scott Rick, mengatakan bahwa sebagian dari perilaku boros manusia merupakan hasil dari bagaimana keluarga mendidik kita.

Namun, seiring berjalannya waktu, seseorang akan belajar tentang cara berhemat jika keadaan ekonominya menuntutnya demikian. Nah, sekarang coba kita renungkan dan pikirkan baik-baik.

Apakah kamu termasuk yang dididik orang tua untuk boros, atau justru diajari menabung sejak kecil? Jika kamu memang punya kecenderungan boros, apakah itu karena tuntutan ekonomi? Atau hanya masalah perilaku impulsif?

Selain itu, dikutip dari artikel oleh Eric Bruehl di Current.com, kesulitan seseorang menabung disebabkan oleh beberapa alasan, diantaranya karena kita jarang mendapatkan hasil atau reward dari perilaku menabung secara langsung.

Sebagai contoh, jika kita membelanjakan uang, maka kita bisa secara langsung mendapatkan barang yang kita inginkan. Sedangkan jika menabung, katakanlah, kita akan mendapat bunga 2.5% per bulan dari bank. Anggaplah bunga ini sebagai reward. Namun, bunga 2.5% itu tidaklah seberapa. Jumlah uang kita di bank takkan terlihat jauh bedanya, kecuali kita sudah menabung selama satu tahun.

Sebuah wujud perilaku boros yang ekstrim bisa tampak dari fenomena impulsive buying. Menurut penelitian Bhakat dan Muruganatham (2013), banyak faktor yang mempengaruhi seseorang menjadi impulsive buyer, di antaranya:

Aspek Emosional Perilaku Boros

Boros tidaknya seseorang juga berkaitan dengan kemampuannya mengontrol emosinya. Dikutip dari pernyataan Rakshitha Arni Ravishankar dari Harvard Business Review, setiap keputusan yang berkaitan dengan uang selalu melibatkan emosi.

Memikirkan untuk membeli barang yang kita suka bisa menimbulkan emosi positif seperti bahagia, namun jika kita terlanjur membeli barang yang tidak penting dan membuang-buang uang secara percuma, hal itu bisa menimbulkan emosi negatif seperti marah, sedih, atau kecewa.

Maka dari itu, penting bagi kita untuk menyadari setiap emosi yang kita rasakan saat kita akan membeli suatu barang.

Seperti yang dikutip dalam penelitian Carter (2014), ada dua jenis emosi yang muncul saat seseorang mau membelanjakan uangnya.

  1. Anticipatory emotion, yakni emosi yang kamu rasakan apabila kamu sedang memikirkan atau berniat membeli suatu barang.
  2. Anticipated emotion, yakni emosi yang diprediksi ketika kamu menjadi pemilik dari suatu barang yang kamu beli.

Apakah dari sini kalian sudah memahami bedanya? Jika belum, mari kita bahas menggunakan dua contoh di bawah!

Contoh A: Lintang sedang scrolling di media sosial dan mendapatkan sebuah iklan yang menjual sandal gunung. Lintang sendiri sudah lama berpikir untuk membeli sandal gunung baru, namun saat melihat iklan tersebut, keinginan Lintang untuk membeli sandal gunung semakin memuncak.

Ia menjadi sangat tergiur dan excited untuk membuka website online shopping untuk segera check out sandal gunung tersebut.

Yang dirasakan oleh Lintang ini adalah anticipatory emotion karena dirasakan oleh Lintang secara langsung saat berniat membeli sandal gunung.

Contoh B: Wahada sedang pergi ke swalayan untuk belanja bulanan. Ketika berada di salah satu segmen, ia melihat sebuah produk skincare baru yang dikeluarkan salah satu merk kosmetik favoritnya. Wahada sangat tertarik dengan produk tersebut, namun ia belum punya cukup uang untuk membelinya.

Ia pun berniat menabung untuk membeli produk skincare tersebut. Sepanjang jalan pulang ia tersenyum-senyum membayangkan akan secantik apa kulitnya jika menggunakan produk skincare tersebut.

Oleh sebab itu, emosi yang dirasakan Wahada ini adalah anticipated emotion karena dirasakan ketika berangan-angan memiliki sebuah produk.

Lalu, bagaimana caranya kita mengontrol emosi agar tidak boros?

Mari Berhemat dengan Mindful Spending!

Dilansir dari artikel oleh Carter Kilmann dari Quill.com, mindful spending adalah cara terbaik untuk memanajemen pengeluaran kita tanpa harus repot-repot menerapkan budgeting alias membagi-bagi uang ke dalam prioritas tertentu.

Sebab bila kita punya kebiasaan budgeting berlebihan, yang ada kita malah jadi pelit atau malah sebaliknya, kita bisa jadi impulsive buyer.

Berikut ini adalah cara agar uang gajian tidak cepat habis dengan berhemat melalui mindful spending:

1. Lawan keinginan “harus” dengan berpikir logis

Setiap waktu, bangunlah kesadaran saat berpikir untuk mengeluarkan uang. Tidak selamanya mengeluarkan uang itu buruk, namun kamu harus bisa membedakan, mana yang penting untuk dibeli dan mana yang tidak terlalu penting.

Keinginan “harus” bisa menjadi pemicu emosi kita untuk membelanjakan uang karena kita dikuasai oleh ekspektasi berlebihan terhadap suatu barang yang ingin kita beli. Coba pikirkanlah konsekuensi jangka panjang dari hasil pembelian itu.

Apakah kamu akan menikmatinya saja, atau memang betul-betul membutuhkannya? Jika memang hanya sebagai sarana “khilaf” alias menuruti keinginan emosi saat itu, lebih baik jangan dilakukan. Kamu bisa menyimpan uang untuk hal yang lebih penting.

2. Buatlah kategorisasi pembelian

Mindful spending harus disertai dengan kemampuan menyusun prioritas dan me-review keuangan kita. Membuat kategorisasi pembelian adalah cara efektif agar kamu bisa melacak setiap uang yang kamu keluarkan untuk membeli sesuatu.

Misalnya, untuk belanja bulanan, investasi, hiburan, dan sebagainya. Dengan demikian, kamu juga bisa menyusun rencana keuangan selanjutnya.

3. Pilih-pilih lingkungan pertemanan

Sebuah penelitian psikologi mengkonfirmasi bahwa ketika kita bergaul dengan orang-orang yang suka boros, besar kemungkinan kita juga akan ikut-ikutan boros.

Maka dari itu, mengurangi perilaku boros bisa dimulai dengan menjauhkan diri dari lingkungan yang membuatmu boros. Tidak hanya pertemanan, tapi keluarga dan budaya bisa jadi faktor terjadinya pemborosan.

Dengan menjauhkan diri dari pemicu kebiasaan buruk itu, kamu akan mampu menentukan pilihan objektif terkait pengeluaranmu.

Jika kamu membaca ini dalam keadaan sudah menghabiskan gaji bulanan, jangan khawatir. Tidak ada kata terlambat pula untuk memulai kebiasaan positif dan mengurangi pemborosan. Jadi, yuk, mulai memanajemen pengeluaran kita dari sekarang demi masa depan yang lebih baik!

Artikel Terkait

Leave a Comment