Image default

10 Trik Psikologi Marketing Yang Unik

Beberapa waktu terakhir ini dunia bisnis atau entrepreneur semakin banyak dilirik oleh masyarakat. Pertumbuhan yang pesat pada ranah ini dapat terjadi, karena berbagai hal dan salah satunya adalah pengaruh dari perkembangan teknologi. Salah satunya adalah pengaruh dari perkembangan teknologi. Perkembangan teknologi yang ada memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk merintis maupun mengembangkan bisnis mereka.

Trik Unik Psikologi Marketing

Menjamurnya bisnis di tengah masyarakat tidak jarang memunculkan rasa waswas bagi sebagian pihak untuk kelancaran bisnis mereka, terutama terkait dengan persaingan dalam memasarkan produk. Dengan salah satu tujuan dari marketing atau pemasaran yakni untuk meningkatkan hubungan antara customer dengan penjual atau penyedia jasa, maka tidak ada salahnya untuk menerapkan beberapa aspek psikologi mencapai tujuan tersebut. Pada artikel ini terdapat setidaknya 10 trik pemasaran atau menggunakan pendekatan psikologis

1. Data mining

Pada kehidupan sehari-hari, sebenarnya strategi pemasaran seperti ini cukup mudah untuk dijumpai. Secara sederhana, dijelaskan oleh Baryshnikova (2017) bahwa data mining yang digunakan dalam pemasaran dengan cara mengumpulkan data personal salah satunya melalui program membership.  Meskipun terdengar sedikit riskan, strategi data mining ini sebenarnya banyak diterapkan dan terbilang menjanjikan untuk dicoba dengan catatan tetap menghormati dan menjaga privacy konsumen.

Sebagai contoh, saat mendaftar menjadi member di sebuah toko perlengkapan olahraga konsumen A diminta mengisi data diri secara general. Selanjutnya data diri tersebut digabungkan dengan data lain yang berkaitan dengan karakteristik barang yang dibeli, misalnya A membeli perlengkapan renang berupa kacamata renang model R123 berwarna biru. Keseluruhan data tersebut kemudian dianalisis untuk menentukan informasi diskon, voucher, atau iklan peralatan apayang sesuai dengan preferensi belanja A.

2. Information Processing Approach

Dalam menjalin relasi dengan konsumen terutama berkaitan dengan pemasaran, pendekatan psikologis berupa pemrosesan informasi dapat diterapkan. Pada pemasaran yang menyasar konsumen dewasa, pendekatan yang lebih cocok digunakan adalah pemrosesan informasi melalui central route. Pada tipe pemrosesan ini, untuk memproses informasi utama  membutuhkan motivasi dan kemampuan mempertimbangkan pesan secara detail serta matang (Liao & Huang, 2021) yang mana dimiliki oleh orang dewasa.

Hasil literatur review Harris dkk. (2009) menunjukkan bahwa efek persuasif paling kuat dapat muncul dari keterlibatan calon konsumen dalam mempertimbangakan pesan utama maupun manfaat dari produk yang ditawarkan. Untuk praktiknya di lapangan, penyedia barang atau jasa dapat menggunakan berbagai media terutama media sosial untuk meningkatkan engagement dengan calon konsumen dengan produk yang ditawarkan. Misalnya saja menggunakan fitur polling hingga question and answer yang ada di Instagram untuk berinteraksi dengan calon konsumen.

3. Perceived benefit

Dalam ilmu psikologi, perceived benefit erat kaitannya dengan ranah psikologi kesehatan, tetapi dapat juga diterapkan untuk strategi pemasaran dan dimaknai sebagai rasa kepercayaan pelanggan terhadap manfaat dari produk. Strategi marketing dengan mempertimbangakan perceived benefit sudah terbukti mampu meningkatkan intensi membeli secara efektif (Dong dkk., 2021; Wang dkk., 2021).

Selain itu, penerapannya juga sudah sering dijumpai di tengah kehidupan masyarakat, terutama melalui media elektronik dan di dunia maya. Misalnya saja sebuah tim pemasaran dari produk peninggi badan melakukan pemasaran dengan menampilkan video atau gambar yang berisikan review maupun testimoni dari orang-orang yang telah menggunakan produk peninggi badan yang dipasarkan.

Lalu bagaimana cara kerja pemasaran dengan strategi ini? Strategi ini bekerja dengan cara memberikan informasi yang cukup untuk calon konsumen mengenai produk yang ditawarkan, dengan adanya informasi tersebut masyarakat menjadi lebih rasional dan selanjutnya perceived benefit dari produk tersebut akan meningkat dengan sendirinya. Meskipun strategi ini terlihat sederhana, akan tetapi sebelum mempraktekannya diperlukan pemikiran yang matang dan mempertimbangkan berbagai aspek lain seperti demografi dari sasaran pemasaran (Dong dkk., 2021).

4. Perceived Value

Menurut Dodds dan Monroe (dalam Chi dkk., 2011) selain harga dan kualitas barang, perceived value menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi konsumen membeli suatu produk  atau tidak. Perceived value sendiri merupakan persepsi konsumen bahwa suatu produk memiliki kualitas dan kegunaan yang sesuai dengan harapan mereka, terutama ketika dibandingkan dengan produk serupa lainnya (Kopp, 2020). Serupa dengan dinamika yang terjadi pada strategi pemasaran yang memperhatikan perceived benefit, ketika perceived value yang dimiliki calon konsumen tinggi, maka kecenderungan untuk produk juga semakin meningkat.

Terdapat beragam cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan perceived value dari suatu produk, salah satunya melalui advertising endorser. Salah satu contoh penerapan strategi pemasaran ini adalah iklan endorsement yang dilakukan oleh figur masyarakat selebgram atau tokoh lainnya yang biasa ditemui di berbagai media. Pada strategi pemasaran ini, advertising endorser memberikan impresi dan rasa percaya atau trustworthy terhadap produk yang diiklankan.

Dengan munculnya perceived value setelah melihat produk yang diiklankan oleh figur masyarakat tersebut, kecenderungan calon konsumen untuk memiliki atau melakukan pembelian produk juga meningkat. Meskipun demikian, perlu diingat bahwa advertising endorser tidak semata-mata menjadi faktor yang meningkatkan intensi pembelian, sehingga kualitas dari produk juga tetap harus diperhatikan (Chi dkk., 2011).

5. Hunger marketing

Hunger marketing merupakan strategi pemasaran dimana penyedia barang atau jasa secara sengaja membatasi kuantitas produk untuk mendapatkan permintaan yang berlebih (Zhao dkk., 2021). Pada praktiknya, penyedia produk menjual produk dengan harga murah atau diskon sekaligus membatasi jumlah produk maupun kuota pre-order sehingga memunculkan efek seolah-olah produk tersebut langka atau terbatas.

Zhao dkk. (2021) menjelaskan bahwa dengan adanya kelangkaan produk tersebut rasa ingin tahu dan perceived value calon konsumen terhadap produk yang ditawarkan mengalami peningkatan. Kondisi ini yang menjadi salah satu faktor yang membantu dalam meningkatkan kemungkinan calon konsumen membeli dengan jumlah lebih besar (Munro & Schiffer dalam Zhao dkk., 2021).

Strategi pemasaran ini sudah banyak diterapkan dan berbagai perusahaan besar juga berhasil menerapkannya, salah satunya adalah Xiaomi (Feng dkk., 2020). Bagi usaha kecil dan menengah, strategi pemasaran ini juga dapat diterapkan dengan beberapa cara. Misalnya dengan menjual makanan ringan tertentu secara eksklusif melalui website yang kita kelola sendiri tanpa melakukan penjualan di media yang lain sekaligus membatasi jumlah pre-order dengan periode pemesananyang terbatas.

6. Timbal-balik

Seperti yang telah diketahui bersama, bahwa proses pemasaran sangat erat kaitannya dengan hubungan antara penyedia produk dengan konsumen. Menjalin hubungan pada tahap awal terkadang menjadi tantangan dan memerlukan effort tersendiri. Dengan pendekatan psikologis, pendekatan untuk memulai relasi antara penyedia produk dengan konsumen dapat dilakukan dengan cara yang lebih mudah.

Salah satu pendekatan psikologis yang dapat dilakukan adalah menerapkan konsep reciprocity atau timbal balik. Bahkan penelitian yang Behavioural Insight Team (2013) di Inggris menunjukkan bahwa dengan memberikan free gift berupa permen sebagai upaya membangun hubungan timbal balik terbukti dapat meningkatkan tingkat donasi sebanyak 11%. Hasil temuan ini menunjukkan bahwa sekecil apapun gift  dapat bermanfaat, sehingga bagi yang sedang merintis bisnis strategi pemasaran ini tetap bisa digunakan dengan beberapa penyesuaian.

Pada kehidupan sehari-hari kita sering menemukan strategi pemasaran ini pada pemberian voucher tertentu saat membeli barang atau makanan di berbagai media, seperti Gojek, Grab, Shopee dan sebagainya. Apabila bisnis yang dijalankan belum bisa memberikan hadiah yang besar, strategi pemasaran ini dapat tetap diterapkan dengan memberikan kartu ucapan yang dipersonalisasi untuk setiap konsumen.

7. Psychological compliant techniques

Apabila pada bagian sebelumnya dijelaskan trik untuk menarik perhatian dan engagement calon konsumen dengan hadiah, maka ada pula cara yang lain. Trik yang akan dibahas pada bagian ini menerapkan teknik psikologis berupa kepatuhan atau compliance. Secara umum, teknik ini mengubah perilaku konsumen berdasarkan permintaan ataupun arahan dari penjual (Parnabas dkk., 2018). Strategi ini cocok dilakukan untuk menginisiasi hubungan yang baru antara penjual dengan calon konsumen.

Terdapat setidaknya empat cara yang bisa dilakukan dalam penerapan teknik kepatuhan ini, salah satunya adalah foot-in-the-door. Parnabas dkk. (2018) menjelaskan bahwa dengan strategi ini penjual dapat memulai dengan mengajukan bantuan atau permintaan sederhana yang kemungkinannya kecil untuk ditolak. Setelah mendapatkan kepatuhan yang pertama, dapat dilanjutkan untuk meminta bantuan lain yang masih terkait tapi nilainya lebih besar dan seterusnya. Melalui proses ini, kepatuhan dari calon konsumen terbentuk dan intensi mereka untuk membeli produk dapat meningkat pula.

Contoh dari strategi pemasaran ini sering ditemukan pada pihak yang melakukan pemasaran jasa. Mungkin beberapa diantara pembaca pernah ditawari oleh seseorang untuk membaca brosur atau booklet yang berisi kondisi tertentu yang terjadi di masyarakat. Setelah kita tertarik dengan permintaan awal, yang bersangkutan menjelaskan beberapa hal yang berkaitan dengan isi brosur tersebut. Kemudian ketika kita sudah banyak “menyetujui” hal yang dijelaskan tersebut, yang bersangkutan memasuki poin inti yakni menawarkan kita untuk ikut berdonasi atau membeli jasa yang ditawarkan. Fenomena tersebut merupakan salah satu contoh dari pemasaran dengan menerapkan psychological compliant techniques.

8. Musical primings

Mengkombinasikan seni ke dalam strategi pemasaran yang dilakukan sepertinya sudah banyak disadari oleh masyarakat. Sebagian besar masyarakat pasti pernah setidaknya satu kali datang ke toko buku gramedia yang memutar musik yang khas dan melekat di ingatan kita? Ketika kita mendengar musik serupa, kita seakan teringat dengan toko tersebut bukan?

Fenomena yang terjadi pada contoh tersebut merupakan bentuk dari musical priming yang sadar atau tidak sering dialami. Sebuah hasil eksperimen menunjukkan bahwa 40% dari partisipan penelitian tersebut mengalami efek musical priming yang diberikan (Levrini dkk., 2019). Berdasarkan hasil eksperimen tersebut dapat diketahui bahwa strategi ini terbilang menjanjikan untuk dipraktikkan. Penerapannya bisa dengan memutar musik yang unik dan khas, baik di toko, saat melakukan promosi untuk membantu konsumen agar lebih mudah mengingat bisnis tersebut dengan karakteristik musik yang khas. Misalnya memutar playlist musik yang easy listening ketika memasarkan pakaian anak muda.

9. Anchoring

Apabila trik-trik sebelumnya tidak cocok untuk diterapkan pada bisnis yang sedang dijalani, tidak ada salahnya mencoba strategi pemasaran anchoring. Strategi ini menggunakan salah satu teori psikologis anchoring yakni suatu teori yang menjelaskan bahwa proses pengambilan keputusan pada individu  dipengaruhi oleh informasi awal yang mereka terima (Adaval & Wyer, 2011).

Salah satu contoh penerapan anchoring ini dapat ditemukan pada penjualan dengan potongan harga. Mineo (2017) menjelaskan bahwa untuk memunculkan efek anchoring ini diperlukan informasi awal seperti harga sebelum mendapatkan potongan dan harga setelah potongan. Misalnya saja seperti yang biasa ditemukan di toko-toko sekitar kita seperti Alfamart maupun toko lainnya yang menyandingkan harga sebelum diskon dan setelah diskon.

10. Kesesuaian warna

Trik terakhir yang disampaikan pada artikel ini adalah penyesuaian warna dengan sasaran program pemasaran ini. Selama ini penggunaan warna untuk kebutuhan pemasaran memang sudah banyak dipraktikkan. Namun demikian, literatur yang membahas warna tidak hanya dari makna dan simbolnya masih terbatas (Rathee & Rajain, 2019). Pemasaran yang mengedepankan penggunaan dan kesesuaian warna dapat diperdalam lagi dengan mengetahui tendensi tertentu untuk kelompok tertentu tidak hanya saat mengiklankan tetapi juga untuk memilih packaging dan sebagainya.

Misalnya menyesuaikan hue dari tema dekorasi, kemasan atau produk yang dipasarkan yang mana warna dengan hue lebih hangat seperti merah muda untuk sasaran marketing wanita dan sebaliknya untuk sasaran pria menggunakan hue yang lebih cool seperti warna biru (Funk & Nubisi dalam athee & Rajain, 2019). Misalnya seperti yang dilakukan salah satu situs penjualan kosmetik yakni Sociolla yang menggunakan warna merah muda dalam merepresentasikan situs mereka.

Demikian sepuluh trik unik dari perspektif psikologi yang dapat diterapkan ke dalam pemasaran. Kesepuluh trik tersebut hanyalah sedikit dari beragam penerapan pendekatan psikologis untuk membantu proses pemasaran produk dan masih dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing. Perlu diingat bahwa hasil dari trik ini beragam dan dapat berbeda tergantung berbagai hal yang mempengaruhi. Dengan demikian, sebelum menerapkan trik tersebut alangkah lebih baik untuk mengecek kesesuaian strategi dan trik dengan apa yang dimiliki serta dibutuhkan.

Referensi


Artikel Terkait

Leave a Comment