Image default

Apa Itu Toxic Relationship? Bagaimana Cara Mengatasinya?

Beberapa waktu terakhir, terdapat berbagai isu-isu yang hangat diperbincangkan oleh sebagian masyarakat. Salah satu dari sekian banyak isu yang bergulir adalah isu terkait toxic relationship. Istilah tersebut juga telah banyak dipergunakan dalam kehidupan sehari-hari untuk melabeli suatu kondisi atau hubungan tertentu.

Misalnya saja seorang pelajar menjalin hubungan asmara yang menyebabkan pelajar tersebut mengalami berbagai perubahan maupun kendala dalam kehidupan sehari-hari maupun akademis, seperti penurunan nilai, perubahan relasi dengan keluarga dan teman dekat hingga melakukan beberapa perilaku yang bertentangan dengan dirinya yang terdahulu yang mana perubahan ini dikarenakan hubungan asmara yang ia jalani. Dengan beberapa kondisi yang terjadi pada pelajar tersebut, sebagian masyarakat akan mengategorikannya ke dalam toxic relationship.

Namun demikian, apakah mengkategorikan sebuah hubungan sebagai sebuah hubungan toxic hanya berdasarkan karakteristik seperti contoh tersebut? Lalu bagi individu yang terlanjur masuk  atau mengalami toxic relationship, bagaimana cara menyelamatkan diri dan keluar dari kondisi tersebut? Berdasarkan kondisi yang ada di tengah masyarakat, artikel ini akan berusaha mengupas istilah toxic relationship dari sudut pandang ilmu psikologi cinta beserta cara yang dapat dilakukan untuk keluar atau escape dari hubungan tersebut.

Apa itu toxic relationship?

Meskipun oleh masyarakat toxic relationship ini cenderung dimaknai atau diasosiasikan dengan hubungan asmara, tetapi pada dasarnya istilah ini bersifat general. Oleh berbagai ahli maupun beragam artikel populer maupun ilmiah, hubungan toxic dapat digunakan untuk melabeli atau diasosiasikan dengan beragam hubungan seperti pertemanan, hubungan antar saudara, hubungan antara orang tua dengan anak dan masih banyak lagi. Dengan demikian, pada artikel ini toxic relationship akan dilihat secara general atau umum dan tidak hanya berkaitan dengan hubungan asmara seperti pacaran maupun pernikahan.

Secara keilmuan, belum terdapat kesepakatan atau konsensus dari para ahli maupun peneliti terkait definisi istilah toxic relationship yang selama ini digunakan oleh masyarakat.

Namun, salah satu ahli yakni Dr. Lillian Glass (dalam Ducharme, 2018) mendefinisikan toxic relationship sebagai hubungan apa pun yang terjadi antar individu yang mana individu yang terlibat memiliki kohesivitas yang rendah, tidak saling mendukung, menghormati bahkan cenderung saling menjatuhkan dan berkompetisi dalam konteks yang kurang baik.

Selain itu, individu yang terlibat dalam toxic relationship tersebut cenderung merasakan hubungan yang dijalin sebagai sebuah hubungan yang tidak menyenangkan, draining, bahkan hal-hal negatif terasa lebih banyak daripada hal positif (Glass dalam Ducharme, 2018). Gaba (2021) juga menjelaskan bahwa hubungan yang toxic ini cenderung didasari oleh konflik, kompetisi hingga keinginan untuk mengontrol.

Ciri-Ciri Toxic Relationship

Jika dilihat dari definisi maupun penjelasan sekilas dari toxic relationship, sepertinya pengkategoriannya cukup mudah untuk melabeli suatu hubungan sebagai hubungan yang toxic. Akan tetapi, proses untuk mengategorikan atau melabeli suatu bentuk hubungan menjadi toxic atau tidak sehat tidaklah semudah yang selama ini dilakukan oleh masyarakat.

Beberapa ahli, praktisi maupun peneliti menyatakan bahwa terdapat beragam karakteristik maupun tanda sebelum melabeli suatu hubungan sebagai hubungan yang toxic. Karakteristik tersebut dapat berupa hal yang mudah diketahui seperti adanya kekerasan maupun karakteristik yang bersifat subtle atau tidak kentara. Karena tidak semua orang menyadari subtle characteristic tersebut, maka artikel ini akan menjelaskan lima karakter yang tidak kentara untuk meningkatkan kesadaran pada individu.

1. Menuntut atau demanding

salah satu karakter yang dapat ditemukan pada hubungan yang toxic menurut Carter (2011) adalah demanding. Karakteristik menuntut atau demanding ini dapat muncul dalam beragam bentuk serta disebabkan oleh berbagai hal yang berbeda antara satu individu dengan individu yang lain. Dalam sebuah artikel yang berjudul “Being Too Demanding” (t.t.), dijelaskan bahwa perilaku demanding ini bisa secara langsung muncul sebagai perilaku demanding maupun bercampur dengan perilaku lain.

Perilaku menuntut ini jika muncul pada saat-saat tertentu mungkin tidak memberikan dampak negatif yang signifikan. Namun demikian, ketika perilaku ini terus menerus muncul, maka dampak negatif bagi hubungan yang dijalani tidak dapat dihindari. Hal ini dikarenakan perilaku demanding dalam bentuk apa pun dapat memunculkan kemarahan, kesedihan, kebingungan, perasaan tidak “nyambung” secara emosional bahkan berakibat fatal seperti putusnya hubungan yang ada (“Being Too Demanding,” t.t.).

2. Rasa tidak aman atau insecure

Selain perilaku demanding, Carter (2011) juga menambahkan bahwa perasaan insecure atau tidak aman yang dirasakan salah satu pihak atau keduanya, juga dapat menjadi salah satu tanda dari toxic relationship. Pada pihak yang cenderung mengontrol atau controller, rasa insecurity ini dapat berupa adanya rasa ingin dibutuhkan dan ingin mengontrol yang berlebihan (Centerstone, t.t.).

Hal ini muncul karena individu tersebut merasa tidak memiliki kekuatan yang cukup sebagai seorang individu. Misalnya saja Malika seorang kakak yang selalu mengontrol dan selalu ingin menjadi orang yang dibutuhkan oleh adiknya Nanda. Perilaku Malika ini sebagai bentuk insecurity-nya karena ia tahu bahwa ia tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk ditunjukkan sebagai seorang kakak, sehingga ia ingin Nanda atau adiknya ini selalu di bawah kontrol atau kendali Malika, sehingga Malika terlihat memiliki power lebih.

Artikel dari centerstone (t.t.) tersebut biasanya jika salah satu pihak adalah controller dengan karakter yang insecure, sangat memungkinkan untuk pihak satunya cenderung bergantung dan insecure.  Bagi pihak yang bergantung, rasa insecure ini muncul dalam bentuk perasaan bahwa ia adalah individu yang lemah, tidak berharga bahkan merasakan membutuhkan perhatian dan kemesraan dari pasangan tetapi tidak berani mengatakannya.

Insecurity yang berlebihan dan beberapa perilaku terkait baik pada pihak yang mengontrol maupun pihak yang bergantung dapat menimbulkan dampak negatif bagi keduanya. Ketika menemukan kecenderungan seperti ini, ada baiknya untuk kedua belah pihak mengkomunikasikan dan berusaha memperbaikinya agar hubungan yang terjalin tidak mengalami pemburukan.

3. Kritik yang berlebihan

Karakteristik lain yang disebutkan oleh Carter (2011) adalah kecenderungan mengkritik atau criticism. Kritik dengan porsi tertentu memanglah diperlukan dan dapat memberikan dampak positif bagi individu. Berbeda dengan kritik yang membangun, kritik yang dimaksudkan dalam artikel ini adalah kritik yang berulang atau berlebihan yang mana dapat memberikan dampak negatif dan fatal bagi pihak lain maupun hubungan yang dijalani.

Misalnya saja Xavier dan Yondu sepasang sahabat karib dan Xavier sering memberikan kritik terhadap Yondu, seperti “Gini aja kamu nggak bisa menentukan pilihan, ini kan gampang nggak perlu minta tolong aku”. Kalimat kritik tersebut sepertinya terdengar sepele, tetapi jika terjadi terus menerus hubungan pertemanan antara Xavier dan Yondu dapat terancam.

Hal ini dikarenakan Yondu menjadi mempertanyakan apakah ia berharga dan worthy untuk berteman dengan Xavier?, Yondu juga dapat meragukan kemampuannya melakukan suatu hal, bahkan kritik yang berlebihan ini berubah menjadi emotional abuse (Borresen, 2019).

4. Ketidakjujuran

Selain ketiga karakteristik yang telah disebutkan sebelumnya, Carter (2011) juga menjelaskan bahwa ketidakjujuran juga bisa menjadi karakteristik dari hubungan yang tidak sehat. Dalam kehidupan sehari-hari, kebohongan-kebohongan kecil memang tidak dapat dihindari apalagi dengan dalih white lies. Namun ketika kebohongan ini terus menerus dilakukan dan cenderung menjadi sebuah kebiasaan, dampak negatif dari perilaku ini tidak dapat dihindari lagi.

Lee dkk (2019) menjelaskan bahwa perilaku berbohong ini dapat mempengaruhi kemampuan pelakunya untuk menilai emosi orang lain yang mana menjadi tidak terlalu akurat. Tidak hanya itu Withers (2021) juga menjelaskan bahwa ketidakjujuran juga dapat mengurangi atau bahkan menghilangkan kepercayaan dari pihak yang merasa dibohongi.

Sebagai contoh, ketika Nanda membohongi Malika atau kakaknya, kemampuan Nanda untuk menilai emosi yang ditunjukkan oleh kakaknya ini menjadi kurang akurat sehingga respons yang diberikan untuk sang kakak juga cenderung meleset. Tidak hanya itu, kepercayaan Malika terhadap Nanda juga akan berkurang setelah insiden Nanda membohongi Malika tersebut.

Dengan demikian, dapat dibayangkan ketika seseorang tidak jujur terus menerus, maka peluang kesalahpahaman akan meningkat dan kepercayaan yang ada di antara keduanya juga berkurang yang mana sangat memungkinkan untuk menciptakan perpecahan pada hubungan tersebut.

5. Cemburu

Rasa cemburu atau jealous bisa saja menjadi salah satu aspek yang penting dalam sebuah hubungan, terutama hubungan asmara. Namun sama seperti karakteristik yang disebutkan sebelumnya, rasa cemburu yang berlebihan ini dapat memberikan dampak negatif dan dapat menjadi salah satu tanda dari hubungan yang tidak sehat (Withers, 2021).

Rasa cemburu yang termasuk dalam karakteristik toxic relationship ini seperti rasa cemburu yang intens maupun tidak rasional (Stritof, 2021). Stritof (2021) menjelaskan bahwa rasa cemburu yang berlebihan ini dapat muncul karena beberapa hal, seperti individu tersebut merasa kewalahan dengan insecurity maupun emosi yang ia rasakan dan memunculkannya dalam bentuk rasa cemburu dan upaya mengontrol pasangannya. Rasa cemburu seperti ini yang perlu untuk mendapatkan perhatian lebih terutama jika terjadi dalam rentang waktu yang lama, karena dapat berakibat fatal bagi hubungan yang ada.

Demikian lima karakteristik dari hubungan yang tidak sehat atau toxic relationship yang dapat ditemukan di berbagai bentuk hubungan. Kelima karakteristik yang cenderung bersifat subtle dan tidak langsung dirasakan ini dapat muncul secara keseluruhan atau juga hanya sebagian dengan beragam hal lain yang menyertai. Penting juga untuk dipahami bahwa kelima karakteristik ini bukanlah sebuah urutan atau proses dari tanda-tanda hubungan yang tidak sehat tersebut.

Cara Mengatasi Toxic Relationship

Setelah memahami definisi dan sebagian karakteristik dari hubungan yang tidak sehat tersebut, mungkin beberapa individu merasa dirinya atau orang yang disayangi berada di dalam tipe hubungan tersebut. Adanya kesadaran akan kondisi sesungguhnya dari istilah toxic relationship ini juga dapat memunculkan beragam pertanyaan terkait langkah atau cara yang bisa dilakukan jika diri sendiri maupun orang terdekat mengalami kondisi tersebut. Berikut terdapat tiga cara yang dapat dilakukan ketika berada pada kondisi hubungan yang tidak sehat atau toxic relationship.

1. Sadari

Langkah pertama dan menjadi kunci yang perlu dilakukan ketika kita merasakan beberapa karakteristik tersebut dalam hubungan yang dijalani tidak sehat atau toxic, baik hubungan dengan rekan kerja, keluarga, pasangan dan sebagainya adalah menyadari kalau kita memang berada pada hubungan yang tidak sehat. Proses untuk sadar ini bukan proses yang cepat. selain itu, proses menyadari ini memanglah tidak mudah, salah satunya dikarenakan adanya denial atau penyangkalan bahwa hubungan yang dijalani adalah hubungan yang tidak sehat (Carter, 2011).

Bagi pihak yang dirugikan, menyadari diri kita berada dalam hubungan yang tidak sehat ini penting untuk menentukan langkah escape yang tepat. Selain bagi pihak yang dirugikan atau korban, langkah “sadari” ini juga penting bagi pihak yang melakukan perilaku atau sikap tertentu yang menyebabkan hubungan tersebut tidak sehat. Dengan menyadari bahwa dirinya menjadi akar dari beberapa kondisi yang ada, diharapkan proses untuk memperbaiki diri dan hubungan dapat dilakukan dengan maksimal. Dengan demikian, hubungan tersebut dapat diupayakan untuk diselamatkan.

2. Ekspresikan

Setelah menyadari kondisi yang terjadi, maka tidak langkah selanjutnya yang perlu dilakukan oleh pihak yang mengalami dampak negatif dari toxic relationship adalah mengutarakan maupun mengekspresikan perasaan yang dialami terhadap pihak yang melakukan, baik pasangan, saudara, rekan kerja dan lain sebagainya (Fuller, 2017).

Mengutarakan perasaan kepada yang bersangkutan terkadang dapat membahayakan diri korban, terlebih jika pelaku cenderung melakukan kekerasan. Fuller (2017) menyarankan untuk menyampaikan perasaan yang dirasakan secara tertulis dengan tangan maupun digital seperti email maupun pesan singkat sehingga lebih aman untuk korban serta memberikan waktu bagi pelaku memikirkan hal yang disampaikan melalui tulisan tersebut.

3. Beritahu orang lain

Ketika memilih untuk keluar dari hubungan yang tidak sehat, terlebih hubungan yang penuh dengan kekerasan, penting bagi individu tersebut untuk mengabari orang lain terutama mereka yang tahu kondisi yang dihadapi. Langkah ini menjadi penting karena kita tidak tahu kemungkinan yang dapat terjadi dan di luar ekspektasi atau rencana awal.

Dengan memberitahu orang lain kita memiliki pihak yang bisa membantu ketika menghadapi kondisi tidak terduga. Feuerman (2021) juga menambahkan ketika kita menghadapi kondisi berbahaya, jangan ragu untuk menghubungi instansi berwajib seperti kepolisian.

4. Cari Bantuan Profesional

Mencari bantuan pada tahap ini lebih condong pada bantuan kesehatan baik psikologi maupun fisik, baik sebelum atau setelah keluar dari toxic relationship. Langkah mencari bantuan ini penting untuk dilakukan karena dampak dari hubungan yang tidak sehat ini dapat berakibat pada fisik maupun psikis korban baik disadari maupun tidak.

Selain dampak bagi korban, bantuan profesional juga membantu individu tersebut untuk memperteguh keyakinannya untuk keluar dari kondisi tersebut dan tidak menyesali keputusan yang dibuat hingga kembali ke dalam toxic relationship tersebut (Feuerman, 2021; Fuller, 2017). Pada kondisi tertentu, bantuan profesional dari pengacara juga dibutuhkan jika hubungannya berupa pernikahan maupun hubungan lain yang berkaitan dengan hukum (Feuerman, 2021).

5. Stop Komunikasi

Menghentikan komunikasi dengan pasangan atau pihak yang menimbulkan toxic relationship juga perlu dilakukan. Hal ini dikarenakan pelaku biasanya cukup licik dan menggunakan berbagai cara untuk membawa korbannya kembali ke dalam hubungan yang sehat tersebut (Feuerman, 2021). Namun apabila komunikasi memang diperlukan, seperti pengasuhan anak (Feuerman, 2021), hubungan kerja maupun keluarga, fokuskan komunikasi pada hal yang memang diperlukan atau bersifat mendesak dan penting.


Demikian penjelasan istilah toxic relationship yang selama ini digunakan oleh masyarakat. Penjelasan tersebut harapannya dapat meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai istilah toxic relationship atau hubungan yang tidak sehat dari sudut pandang ilmu psikologi. Selain itu, dengan adanya peningkatan pemahaman juga diharapkan dapat membuat sebagian masyarakat tidak dengan mudah melabeli atau mengategorisasikan kondisi hubungan tertentu sebagai hubungan yang toxic. Apabila ada yang mengalami atau berada pada hubungan toxic dan memerlukan bantuan, maka jangan ragu untuk mencari bantuan profesional sesuai dengan kebutuhan.

Referensi

Artikel Terkait

Leave a Comment