Pandemi Covid-19 memberikan pengaruh besar pada perubahan aktivitas.  Tak heran jika selama stay at home tetap ingin melakukan sesuatu yang bermakna. Banyak orang di sosial media yang memberikan saran untuk terus mengikuti banyak aktivitas pengembangan diri seperti mengikuti online course, webinar, volunteer belajar bahasa asing, magang dan lain-lain

Terkadang ada orang yang ingin produktif karena merasa insecure melihat orang-orang yang aktif ikut kegiatan sana sini. Alih-alih ingin mengembangkan diri namun bisa berubah menjadi toxic productivity. Apa itu istilah toxic productivity? Simak penjelasan berikut ini.

Pengertian Toxic Productivity

Seorang psikolog dari Inggris bernama Dr Julie Smith mengatakan bahwa toxic productivity adalah sebuah obsesi untuk terus mengembangkan diri dan merasa bersalah jika tidak bisa melakukan banyak hal. Orang yang mengalami toxic productivity cenderung membuat dirinya sibuk mencapai sesuatu tanpa mengenal istirahat.

Toxic productivity dapat muncul karena adanya tekanan sosial dari orang-orang sekitar. Berikut adalah ciri-ciri orang yang mengalami toxic productivity:

1. Terobsesi untuk terus produktif

Hal ini ditandai dengan adanya keinginan bekerja secara terus menerus atau mirip dengan workaholic. Individu yang terobsesi produktif ia akan terus mencari cara untuk tetap beraktivitas secara berlebihan meskipun sudah melewati batas waktu istirahat.

Contohnya: hari minggu adalah hari untuk istirahat atau santai-santai tetapi tetap mengerjakan tugas atau pekerjaan karena ingin setiap hari produktif.

2. Bekerja hingga lupa waktu

Melakukan aktivitas berlebihan hingga lupa waktu seperti makan, minum, tidur, buang air kecil, mandi atau lainnya.

Apabila ini sering terjadi tandanya kalian tidak memberikan perhatian pada tubuh kalian. Hal ini dapat menyebabkan kondisi fisik yang sehat.

3. Relasi sosial yang terganggung

Jika kamu mulai mendapat protes dari orang sekitar karena kamu terlalu sibuk, ini bisa menjadi tanda bahwa kamu mengalami toxic productivity. Sibuk bekerja secara terus menerus hingga tidak punya waktu untuk berinteraksi dengan orang lain atau orang terdekat. Hal ini dapat menyebabkan hubungan yang renggang atau tidak harmonis.

4. Tidak pernah puas dengan pencapaian

Tugas atau keinginan sudah tercapai tetapi masih merasa kurang. Bahkan merasa kurang puas dengan pencapaianmu. Merasa tidak puas bisa menjadi tanda bahwa kamu

5. Ekspektasi yang tidak realisitis

Seseorang yang menentukan target atau ekspektasi di luar batas kemampuan. Ia akan merasa masih banyak hal yang perlu diraih sehingga akan terus berusaha terus menerus agar bisa mencapai harapannya. Meraih suatu hal yang tidak realistis tentunya akan menguras tenaga dan pikiran.

6. Sulit istirahat

Sulit istirahat ditandai ketika sedang istirahat merasa tidak tenang karena masih memikirkan kewajiban. Contohnya saat mau tidur masih kepikiran tugas atau saat istirahat merasa bersalah.

Cara Menghindari Toxic Producitivity

1. Menyadari bahwa diri kita adalah manusia

Manusia mempunyai waktu untuk bekerja, istirahat dan berinteraksi sosial. Artinya, seluruh hidup tidak dihabiskan pada satu kegiatan. Tubuh membutuhkan waktu untuk tidur, makan, minum, mandi dan-lain-lain.

Manusia sebagai makhluk sosial pun membutuhkan interaksi dengan orang sekitar. Istirahat bukan sebuah tanda seorang yang malas. Jadi, istirahat dan menghabiskan waktu bersama orang terdekat adalah hal yang wajar dan tidak perlu merasa bersalah.

2. Membuat rencana realistis

Menetapkan sebuah tujuan yang realistis dapat dilakukan dengan metode SMART.

Spesifik          : tujuan harus jelas dan mengarah pada satu tujuan

Measurebale : pencapaianmu atau tujuan kamu bisa dihitung

Achievable    : tujuanmu dapat dicapai

Relevant        : tujuan yang kamu pilih sesuai dengan tujuan jangka panjangmu

Time               : Dalam menetapkan rencana perlu ada waktu yang jelas kapan dimulai dan kapan berakhir

3. Mindfulness

Mindfulness adalah sebuah cara untuk secara penuh menyadari kondisi saat ini. Terkadang pikiran kita melalang buana ke masa lalu atau ke masa depan. Pikiran yang tidak fokus pada kondisi saat ini menandakan bahwa sedang tidak fokus.

Misalnya saat sedang makan tetapi otak memikirkan tugas atau pekerjaan. Konsep mindfulness mengajarkan untuk menikmati, meresapi dan menyadari apa yang sedang dilakukan saat ini dan menyadari posisi kita sedang di mana. Cara ini membantu untuk lebih rileks dan mengurangi stress.

4. Menetapkan aturan

Otak manusia tidak selamanya bekerja secara maksimal secara terus menerus. Ada waktunya otak semangat namun ada waktunya otak istirahat. Maka dari itu, perlu menetapkan jam kerja yang efektif. Misalnya cukup belajar 2-3 jam dalam sehari. Jika dipaksa, maka seseorang bisa mengalami burnout.

5. Melakukan hobi

Hobi adalah kegiatan yang menyenangkan karena hal ini merupakan bentuk me time dan perhatian pada diri sendiri. Mengembangkan diri adalah hal yang wajar sebagai manusia tetapi istirahat dan bermain pun juga hal yang wajar sebagai manusia. Tetaplah ingat bahwa sebagai manusia perlu menyeimbangkan segala hal. Sesuatu hal yang berlebihan tidak baik bagi kesehatan fisik dan mental.

References

BBC. (2020, May 18). BBC. Retrieved from What is Toxic Productivity?: https://www.bbc.co.uk/bitesize/articles/zj9r92p

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *