Image default

7 Tips Menjawab Pertanyaan Jebakan Saat Interview Kerja

Proses wawancara bukanlah hal yang mudah bagi kebanyakan orang, entah itu bagi employers (pemberi pekerjaan) maupun employee (pelamar kerja). Ada banyak pertimbangan yang dilakukan perusahaan sebelum menentukan pelamar yang akan direkrut, salah satunya adalah hasil wawancara. Di samping itu, meski rasanya sebagian besar pelamar familiar dengan apa yang disebut wawancara kerja dan percaya diri telah menjawab pertanyaan demi pertanyaan dengan baik, hasil bisa saja, dan seringkali, berkata lain.

Sudah jadi rahasia umum bahwa bagian paling krusial dalam proses wawancara ialah respons pelamar kerja terhadap pertanyaan yang diajukan. Pertanyaan yang disediakan pewawancara bukanlah jenis pertanyaan yang bisa dijawab secara manasuka oleh siapa pun tanpa persiapan, tapi pertanyaan spesifik yang menentukan apakah pelamar layak menempati posisi yang ditawarkan atau tidak. Dengan demikian, tiap kesempatan untuk menjawab pertanyaan dengan baik, terutama yang menjebak, perlulah dimaksimalkan.

Apa yang Perlu Disiapkan Sebelum Wawancara Kerja?

1. Persiapkan Pengetahuan Tentang Perusahaan Terkait

Fry (2016) menyatakan bahwa salah satu kunci dari proses wawancara adalah persiapan. Mencari tahu seluk-beluk perusahaan, industri, dan posisi yang hendak ditempati, menyiapkan jawaban yang tepat untuk menjawab pewawancara, melatih diri dengan pengetahuan-pengetahuan yang dapat menarik perhatian pewawancara adalah beberapa contoh di antaranya.

Selagi wawancara atau FGD berlangsung, bukan tak mungkin pelamar akan diuji wawasannya dan kegagalan dalam melewati tantangan itu menjadikan pelamar tak kompeten di mata pewawancara.

2. Datang Tepat Waktu dan Berpakaian Rapi

Bagi pewawancara, terlambatnya kedatangan pelamar adalah faktor utama dalam pembatalan wawancara. Mereka tak peduli apabila lalu lintas macet, terjadi hujan deras dan pelamar perlu meneduh sebab tak membawa jas hujan, atau kasus-kasus tak menguntungkan lainnya. Pelamar kerja seharusnya bisa mengantisipasi kejadian-kejadian semacam itu, bahkan jika itu membuat mereka terpaksa datang berjam-jam sebelum wawancara dimulai.

Selain itu, kemampuan berpenampilan pun perlu diperhatikan. Ini tak berarti bahwa pelamar wajib menggunakan setelan mahal tiap kali hendak pergi wawancara. Pelamar hanya perlu mempertimbangkan penampilan yang sesuai dengan kondisi: berpakaian rapi, sopan, wangi (tidak terlalu wangi pula sebab menyengatnya wewangian dapat dinilai negatif), dan tidak menggunakan aksesoris berlebihan (Fry, 2016).

3. Jangan Coba Memanipulasi Informasi atau Berbohong

Apabila pelamar mencoba berbohong tentang apapun—terutama terkait di mana dan kapan mereka pernah bekerja atau belajar sebelumnya—kemungkinan besar pewawancara akan mengetahuinya (Fry, 2016). Setiap pekerjaan, terlepas dari mudah atau sulitnya, membutuhkan standar tertentu yang perlu diperhatikan oleh pihak pemberi kerja. Mereka akan meluangkan waktu untuk mencari tahu latar belakang pelamar kerja sehingga celah untuk berbohong betul-betul kecil 

7 Pertanyaan Menjebak saat Wawancara Kerja dan Tips Menjawabnya

1. “Bisakah Anda sedikit menceritakan tentang diri sendiri?”

Ini merupakan pertanyaan yang seringkali muncul dan nyatanya sangat menjebak. Dalam kasus ini, pelamar sebenarnya tak diminta untuk menjelaskan sifat diri atau hal-hal yang tak relevan dengan posisi pekerjaan terkait. Misalnya, ketika seseorang melamar menjadi akuntan, ia tak perlu menceritakan hobinya memasak atau cintanya yang begitu besar kepada kucing.

Sebaiknya pelamar menjelaskan kepada wawancara kualitas dirinya yang berkaitan dengan posisi tertuju. Ia bisa menceritakan bagaimana ia memberikan keuntungan pada perusahaan atau organisasi sebelumnya hingga pencapaian apa saja yang telah didapat sehingga pewawancara mampu melihat keunikan yang menguntungkan darinya (Florentine, 2017).

2. “Kelemahan apa yang terdapat dalam diri Anda?”

Jangan menjawab pertanyaan kelebihan dan kekurangan diri dengan cara yang pada akhirnya akan merugikan, seperti, “Saya selalu terlambat menghadiri suatu kegiatan,” atau “Saya tak bisa bekerja dalam tim.” Namun, jangan pula menjawabnya dengan pernyataan, “Saya tak memiliki kelemahan apa pun.”

Jawaban ideal yang bisa pelamar upayakan ialah menunjukkan bahwa ia memiliki kesadaran penuh terkait kelemahan-kelemahannya dan apa saja yang menjadi tantangan baginya sekaligus menyatakan bahwa perbaikan diri sedang dalam proses yang konsisten.

Sebagai contoh, apabila pelamar memiliki kelemahan berbicara di hadapan publik, ia bisa mengatakan bahwa dirinya sedang mengikuti pelatihan di sebuah komunitas yang kemudian membuatnya terbiasa berkomunikasi dengan orang lain secara gradual (Florentine, 2017).

3. “Bagaimana Anda memandang diri Anda beberapa tahun mendatang?”

Pertanyaan ini ditujukan pewawancara untuk melihat apakah pelamar memiliki visi dan misi yang sama dengan perusahaan atau tidak (Florentine, 2017). Pertanyaan ini pun ditujukan untuk meninjau apakah pelamar telah menentukan tujuan yang realistis dalam karirnya.

Mengingat kebanyakan perusahaan tertarik pada mereka yang berambisi meningkatkan keterampilan juga pengalaman, menyatakan bahwa seseorang hendak mencapai titik tertentu di mana potensi dirinya sudah termaksimalkan untuk perusahaannya adalah langkah yang masuk akal.

4. “Apa yang Anda ketahui tentang perusahaan ini?”

Sebuah tugas penting bagi pelamar untuk meneliti perusahaan serta posisi yang ditujunya, ujar Florentine (2017). Pelamar tak hanya disarankan mengetahui struktur organisasi atau letak perusahan dari tempat tinggalnya, tapi ia pun didorong untuk mengetahui proyek apa yang sedang dilakukan oleh perusahaan itu, strategi, visi dan misi perusahaan, serta kultur organisasi, lewat berbagai media yang tersedia (situs resmi perusahaan, koran, dan lain sebagainya).

5. “Mengapa ada riwayat menganggur dalam rekam jejak pekerjaan Anda?”

Di mata pewawancara, histori menganggur bagi mereka yang sebelumnya pernah bekerja seringkali dinilai negatif, bahkan di masa perekonomian sulit sekali pun. Menghadapi hal tersebut, pelamar bisa menyatakan masalah yang dihadapinya secara jelas dan jujur.

Beri tahu apa yang dilakukan selama masa tak bekerja, terutama hal-hal yang sifatnya berbenah diri—melakukan kegiatan kerelawanan, mengambil kelas pelatihan, meraih sertifikat, menulis artikel—dan jelaskan bagaimana aktivitas-aktivitas itu akan bermanfaat bagi posisi yang tersedia nantinya (LiveCareer, 2017).

6. “Berapa gaji yang Anda inginkan?”

Pertanyaan ini bisa jadi merupakan yang paling penting dan paling membingungkan bagi pelamar kerja baru atau bahkan bagi mereka yang pernah bekerja sebelumnya. Menghindari kemungkinan buruk yang dapat terjadi karena kesalahan bernegosiasi, pelamar bisa mencari tahu gambaran mengenai seberapa besar gaji yang didapat oleh pekerja di posisi terkait di situs-situs tertentu.

Jika pelamar memiliki keterampilan, pengalaman, maupun rekam jejak pendidikan yang dirasa bernilai bagi perusahaan, maka ia dapat menegosiasikannya dengan pewawancara lewat pertimbangan yang menguntungkan bagi kedua belah pihak (Florentine, 2017). 

7. “Apa yang dapat Anda tawarkan pada perusahaan sementara kandidat lain tidak?”

Florentine (2017) mewanti-wanti kita untuk berhati-hati dalam menjawab pertanyaan ini sebab pewawancara bisa jadi memancing pelamar untuk menyombongkan diri berlebihan. Alih-alih menjadikan pertanyaan ini sebagai pijakan untuk merendahkan orang lain tanpa dasar, ini pulalah kesempatan bagi pelamar menjelaskan keuntungan perusahaan apabila merekrutnya kemudian. Jelaskan bagaimana keterampilan pelamar yang didapat dari pengalaman sebelumnya akan melengkapi kebutuhan terkait posisi yang ditawarkan.

Kesimpulan

Mendapatkan posisi yang ditawarkan oleh perusahaan, organisasi, atau instansi tertentu merupakan keinginan banyak orang yang membutuhkan pekerjaan. Namun kenyataannya, terdapat beragam tantangan yang menyulitkan proses tersebut dan sesi wawancara adalah salah satunya.

Mempersiapkan diri dengan mengasah keterampilan dan pengalaman sehingga pewawancara melihat nilai kebermanfaatan seseorang memanglah penting, tapi jelas itu saja tak cukup untuk menarik perhatian pewawancara. 

Memegang teguh prinsip, mengetahui kelemahan diri dan memperbaikinya, serta memiliki tujuan jangka panjang yang sesuai dengan visi dan misi perusahaan merupakan aspek lain yang akan dinilai dalam sebuah wawancara kerja. Mempersiapkan dengan baik itu semua agar hasil akhir setelah proses wawancara sesuai dengan harapan awal pelamar kerja adalah satu jalan untuk mencapainya.

Referensi

Artikel Terkait

Leave a Comment