Sudahkah kamu menyusun resolusi tahun baru untuk 2022 yang lebih baik? Kali ini, Kampus Psikologi punya tips untuk kamu yang ingin meningkatkan kemampuan sosial, salah satunya menjadi lebih asertif.

Meskipun topik kali ini lebih menjurus ke dunia kerja, menjadi asertif tidak hanya berlaku dalam kehidupan profesional, namun juga dalam kehidupan sehari-hari.

Sebelumnya, apakah asertif itu? Menurut Dale Carnegie, orang-orang yang asertif adalah orang-orang yang mampu melawan tekanan dan dominasi orang-orang agresif, membela keyakinan pribadi, dan mengendalikan diri dalam situasi penting. Mereka tidak akan mudah dimanipulasi atau dikontrol orang lain.

Contoh Kasus

Sebelum masuk ke tipsnya, coba kita bandingkan kedua contoh kasus di bawah ini:

Contoh Kasus #1

Lintang adalah karyawan baru di kantornya. Namun, pengalamannya di kantor tidak terlalu menyenangkan. Dalam waktu 2 minggu bekerja, ia sudah dihadapkan dengan tugas dan pekerjaan yang bebannya memberatkan. Ia juga sering merasa bosan di kantor, pulang dalam keadaan nyaris tidur di atas motor, dan kedapatan melamun saat bekerja.

Produktivitas Lintang pun makin lama makin menurun. Lintang pun pergi ke psikolog untuk mendapatkan pencerahan atas masalahnya. Psikolog itu menyampaikan bahwa Lintang punya kecenderungan untuk bersikap terlalu permisif, sehingga ia mudah disuruh-suruh oleh rekannya mengerjakan bagian proyek yang tidak sesuai jobdesc, padahal jam kerja Lintang termasuk padat.

Bagi Lintang, menolak pekerjaan yang datang akan membuatnya terlihat tidak produktif, namun ia tidak mau berterus terang bahwa ia merasa lelah. Akhirnya, dalam waktu 3 bulan bekerja, Lintang memutuskan untuk resign.

Contoh Kasus #2

Galuh adalah rekan kerja Lintang, namun berbeda divisi. Ia sering mendapatkan tawaran dari atasannya untuk mengambil proyek yang memungkinkannya menambah bonus dari lembur. Namun, Galuh selalu menolak proyek-proyek tersebut, dengan alasan bahwa jadwalnya sudah sangat padat. Setiap harinya, ia hanya punya waktu 30 menit untuk beristirahat, yakni waktu makan siang dan setelah break kedua pukul 15.00 WIB.

Apalagi, Galuh punya anak perempuan yang masih harus diantar jemput sekolah dan ditemani menggarap PR. Atasan Galuh masih mencoba membujuk dengan menawarkan bonus di luar lembur, namun Galuh masih menolak. Baginya, proyek-proyek itu tidak hanya akan memakan waktu berkualitas dengan anaknya, namun juga waktu me time dan mengembangkan potensi di bidang lain, yakni berwirausaha di sebuah situs belanja online.

Dari kedua kasus di atas, kita bisa menilai bahwa Galuh lebih asertif dibandingkan Lintang, karena Galuh tidak ragu menolak pekerjaan yang memberatkan demi quality time dengan anak dan dirinya sendiri. Menjadi asertif bukan berarti menutup diri, namun melindungi prioritas kita dari hal-hal yang bisa mengancam wellbeing kita.

Cara Menjadi Orang Yang Lebih Asertif

Jadi, bagaimana caranya menjadi orang yang lebih asertif?

1. Ketahui fakta tentang situasi dan kuasai

Coba bayangkan bila kamu berada di posisi Lintang dan Galuh. Sebagai individu yang sering ditekan dengan pekerjaan dan atasan, kamu akan mendapatkan posisi yang kurang nyaman. Itulah mengapa penting bagi kamu untuk mencari tahu situasi yang terjadi dan menguasainya.

Mencari tahu situasi ini bisa dengan cara menanyakan kepada rekan kerja, misalnya seberapa urgent pekerjaan itu, atau kepada atasan, tentang apa saja benefit yang didapatkan bila kita mengerjakannya. Apabila benefit dari suatu pekerjaan tidak terlalu besar dibandingkan dengan konsekuensinya, ada baiknya bila kita menolaknya.

Namun, apabila memang pekerjaan itu urgent, cari tahu apa yang bisa kita lakukan untuk berkontribusi di dalamnya tanpa harus menyita waktu untuk diri sendiri. Dengan mencari tahu dan mempertimbangkan baik-buruknya suatu situasi, kita akan mampu menguasainya.

2. Antisipasi perilaku orang lain dan siapkan respons

Mungkin tidak semua orang akan peka terhadap social cues (isyarat sosial) ketika orang lain mulai menunjukkan sikap-sikap manipulatif, tapi kita bisa melatihnya. Amatilah gerak-gerik atasan, rekan kerja, atau siapa pun yang meminta bantuan pada kita.

Pastikan bahwa mereka memiliki alasan yang logis kenapa membutuhkan bantuan, misalnya karena deadline proyek yang membuat kita harus gercep atau tekanan dari manajemen terkait proyek tertentu. Kalau alasannya hanya karena rekan kita tidak mau repot, ingin liburan, atau alasan-alasan tidak logis lainnya, kamu bisa mengangkat satu tangan dan mengatakan, “No, thanks.

3. Siapkan pertanyaan menyelidik

Kadang, sekalipun kita sudah mengamati dengan cermat, masih ada celah bagi orang-orang untuk memanipulasi kita. Mengajukan pertanyaan yang menyelidik adalah suatu cara mengguncang orang-orang manipulatif, karena pertanyaan-pertanyaan itu akan mengungkap kelemahan ide, kurangnya persiapan, dan pertimbangan atas perbuatan yang mereka lakukan.

Misalnya, ajukan pertanyaan mengenai kebenaran situasi yang mereka klaim, seperti:

Jika kamu sudah mengajukan pertanyaan, namun pertanyaanmu selalu dihindari, ulangi atau gunakan kalimat lain. Jika jawaban mereka masih sama, tinggalkanlah mereka dan fokuslah pada urusanmu sendiri.

4. Pertajam Reaksi terhadap Orang-orang Manipulatif

Ketika atasan atau rekan kerja manipulatif melakukan gaslighting atau menyalahkan kita karena penolakan yang kita lakukan, kita harus bisa mempersenjatai diri dengan reaksi yang tegas. Lontarkan alasan yang logis mengapa kamu tidak mampu melakukan pekerjaan atau mengikuti aktivitas tertentu. Tidak perlu takut mereka marah atau mengumpat padamu, asalkan kamu punya argumen yang logis.

5. Yakinlah pada Kemampuanmu Sendiri

Last but not least, kamu harus percaya diri. Orang-orang manipulatif akan mengguncang self esteem kamu dari berbagai sisi, mulai dari meragukan kemampuanmu atau menyebarkan rumor yang tidak benar tentang dirimu. Jika kamu tidak percaya diri, kamu akan jatuh dalam rasa bersalah yang hebat, rendah diri, dan tampak tidak berdaya di mata mereka. Maka dari itu, penting untuk mengenali kekuatan diri dan gunakanlah untuk memperkuat posisimu.

That’s all tipsnya, Kawan. Jika kamu belum bisa mempraktikkannya, tidak apa-apa. Kita tidak harus langsung menjadi asertif dalam sekejap, karena semua ada prosesnya. Semoga tahun baru ini membawa perubahan positif bagi kita semua, cepat ataupun lambat, termasuk sikap yang lebih asertif.

Referensi:

Carnegie, D. (2009). The 5 Essential People Skills. Jakarta: Gramedia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *