Kalian semua masih ingat dengan prinsip ikigai, bukan? Kalau tidak ingat, kalian bisa membaca artikelnya di sini. Sekedar mengingatkan saja, ikigai adalah sebuah falsafah atau prinsip hidup bangsa Jepang yang berarti menjalani sesuatu, baik itu pekerjaan atau aktivitas lainnya, dengan penuh kesungguhan dan sepenuh hati. Siapa sangka, ternyata bisa dipakai juga untuk menghadapi LDR.

Ikigai terdiri dari lima pilar utama, antara lain:

  1. Memulai dari hal-hal kecil,
  2. Membebaskan diri,
  3. Keselarasan dan kesinambungan,
  4. Kegembiraan dari hal-hal kecil, dan
  5. Hadir di tempat dan waktu sekarang (here and now).

Dari kelima pilar utama ikigai ini, kita sudah bisa menyimpulkan bahwa ikigai merupakan suatu cara lain menikmati hidup dengan cara perlahan, sehingga ikigai juga kadang disandingkan dengan slow living yang saat ini sedang banyak dipraktekkan oleh masyarakat Barat.

Namun, sebetulnya, ikigai tidak hanya melulu berhubungan dengan pekerjaan dan gaya hidup, melainkan juga bisa dipraktekkan dalam hubungan sosial. Salah satunya melalui hubungan kamu dengan si dia, khususnya apabila kamu dengan dia sedang menjalani LDR alias long distance relationship.

Apabila ikigai dalam pekerjaan menyangkut cara kita menyeimbangkan apa yang kita bisa lakukan dengan apa yang kita sukai, maka ikigai dalam hubungan percintaan menyangkut bagaimana cara kita membangun hubungan yang sehat dengan orang lain tanpa harus mengorbankan hal-hal yang senang kita lakukan. Intinya, dalam melakukan sesuatu, jangan sampai kita kehilangan identitas diri sekalipun kita mencintai seseorang. Bagaimana caranya? Berikut tips hubungan langgeng LDR dengan ikigai:

1. Jangan overthinking berlebihan

Menjalani hubungan tanpa overthinking itu memang sulit. Apalagi kalau sudah LDR. Ada saja hal-hal yang membuat kita sebagai pejuang LDR kepikiran macam-macam dengan dia. Apalagi kalau sudah di-ghosting, pasti otak mulai membuat skema berwarna-warni tentang apa pun yang sedang terjadi.

Maka dari itu, tips menjaga hubungan jarak jauh dengan pilar pertama ikigai mengenai memulai dari hal-hal kecil ini sangat penting dalam kasus ini. Pilar pertama ini juga dikenal sebagai kodawari dalam bahasa Jepangnya. Apa hubungannya dengan tidak overthinking?

Kodawari dalam berpikir berarti kita memfokuskan diri pada pikiran sederhana, tidak melebih-lebihkan, dan tidak menganggap sesuatu itu buruk tanpa kita tahu akar masalahnya. Istilah lainnya, jangan suudzon.

Selain itu, kodawari juga berarti tidak mempedulikan pengaruh luar, dalam artian tidak mendengarkan gosip atau perkataan-perkataan yang bisa memicu pikiran negatif mengenai hubungan LDR kita dengan pasangan.     

2. Lakukan hal-hal yang membuat kamu bahagia

Tentu saja selama LDR kita mengalami pacaran jarang ketemu dan komunikasi, dan ada kalanya kita merasa bosan menjalani kehidupan sehari-hari karena kangen dengan pasangan. Hal itu wajar, tapi kita tidak boleh hanya berfokus pada rasa kangen itu. Untuk itu, ada baiknya kita juga mengisi waktu dengan aktivitas-aktivitas yang bermanfaat.

Inilah penerapan prinsip kedua ikigai, yaitu membebaskan diri. Intinya adalah, jangan menggantungkan kebahagiaan kamu kepada keberadaan orang lain. Buatlah kebahagiaan bagi diri kamu sendiri.

3. Menyelaraskan kehidupan pribadi dengan lingkungan

Selanjutnya sebagai tips langgeng pacaran LDR dengan pilar ketiga ikigai yaitu berbicara tentang keselarasan dan kesinambungan. Inti dari pilar ketiga ini adalah membangun relasi dengan lingkungan sekitar, sekaligus berdamai dengan diri sendiri. Salah satu caranya yakni menetapkan boundary yang sehat, baik dengan pasangan maupun dengan orang-orang di sekitarmu.

Sebenarnya, hal ini juga berkaitan dengan cara pertama tadi, yaitu mencegah overthinking dan suudzon.Menetapkan boundary bukan berarti kamu harus membatasi hubungan dengan pasangan atau dengan orang lain selama LDR, namun berarti juga membangun batasan hubungan yang sehat antara ‘yang perlu dilakukan’ atau ‘tidak perlu dilakukan.’

Namun, membangun boundary juga tidak boleh terlalu ketat, karena kamu akan merasa terasing dengan dunia luar dalam prosesnya. Yang penting adalah, kamu merasa nyaman dengan keadaanmu. Jangan sampai situasi emosional karena LDR juga mempengaruhi cara kamu berinteraksi dengan elemen-elemen lingkungan. 

4. Cari makna dari kejadian-kejadian sepele dalam hidup

Pejuang LDR pastinya tak jarang mengalami situasi hubungan LDR yang memberatkan membuat kita berpikiran pendek. Contohnya ketika sudah lama kita tidak berhubungan dengan pasangan atau menghadapi pacar cuek saat LDR, pasti akan muncul kesedihan atau rasa marah. Bukan overthinking lagi, tapi lebih ke marah karena sesuatu yang kita biasanya rasakan tidak lagi kita rasakan atau merasa seolah kita anak kecil yang tidak boleh lagi memainkan sesuatu yang kita suka.

Maka dari itu, pilar keempat ikigai menyarankan kita untuk mencari makna dari hal-hal kecil yang kita lakukan agar LDR langgeng. Contohnya, mengenai kesulitan berkomunikasi dengan pasangan. Kalau kita coba melihatnya dari sisi amarah tadi, kita akan cenderung menginterpretasikannya sebagai bentuk keterbatasan. Tapi, bagaimana kalau kita sesekali coba melihatnya dari sisi anugerah?

Kesulitan berkomunikasi dengan pasangan memang membuat frustrasi, tapi di sisi lain itu bisa membuat kita lebih mandiri. Perlu diingat bahwa kemandirian dalam hubungan itu penting, karena di sisi lain kita bisa memberi ruang bagi pasangan untuk berkembang. Kemandirian inilah yang nanti akan membuat kita mampu menjalani hari-hari tanpa harus khawatir dan berkutat pada frustrasi yang kita rasakan.

5. Pusatkan perhatian pada hal-hal penting

Pilar kelima ikigai sebagai tips menjaga hubungan jarak jauh berbicara tentang here and now, yang artinya dalam setiap kegiatan yang kita lakukan, ada baiknya kita menghadirkan diri pada tempat dan waktu sekarang. Dalam konteks hubungan romantis, bersikap here and now ini berkaitan dengan memfokuskan diri pada hal-hal penting dan tidak mengkhawatirkan tentang apa yang sudah atau belum terjadi.

Karena kenyataannya, hal-hal yang sudah terjadi akan membuat kita terhantui oleh masa lalu, sedangkan hal-hal yang belum mungkin terjadi akan membuat kita cemas dan akhirnya membuat asumsi yang tidak-tidak. Selain itu, dengan memusatkan diri pada hal-hal yang penting, kita juga bisa memberikan kesempatan diri kita mengeksplorasi hal-hal tersebut lebih dalam lagi. Alhasil, kita juga bisa mencari tahu seberapa besar potensi kita.

Untuk mengakhiri artikel ini, ada beberapa hal yang ingin penulis sampaikan. Pada kenyataannya, kita tidak bisa menyamakan konteks pekerjaan dan hubungan sosial dalam praktik ikigai, karena setting-nya berbeda. Namun, antara pekerjaan dan hubungan sosial saling berkesinambungan dan membentuk pribadi seorang manusia. Konsep ikigai sendiri juga mengacu pada kesinambungan antara berbagai elemen kehidupan, jadi sebisa mungkin, kita harus menjaga elemen-elemen itu tetap seimbang.

References:

Mogi, K. (2021). The Book of Ikigai: Untuk Hidup Seimbang, Lebih Bahagia, dan Panjang Umur. Jakarta: Noura Publishing.  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *