Image default

Mengenal Tes Kraepelin: Fungsi dan Cara Mengerjakan

Jika kalian sudah belajar tentang psikodiagnostika atau pernah mengikuti seleksi kerja, kalian pasti pernah mengerjakan tes psikologi bernama Kraepelin. Apa sih tes Kraepelin itu? Bagaimana cara mengerjakannya? Mari kita overview sejenak dalam artikel ini!

Asal Usul Tes Kraepelin

Tes Kraepelin adalah sebuah tes penjumlahan angka yang dikembangkan oleh Emil Kraepelin, psikiater dari Jerman. Tes ini juga akrab disebut Tes Koran dalam bahasa Indonesia.

Emil Kraepelin dikenal sebagai pionir ilmu psikiatri modern dan merupakan murid dari Wilhelm Wundt, yang terkenal sebagai Bapak Psikologi Modern. Bentuk tes Kraepelin berupa baris angka yang membentuk lajur.

Tes ini berjenis Speed Test, yang artinya tes ini diselesaikan bergantung pada kecepatan pengerjaan seseorang. Tes ini digunakan untuk mengukur perhatian seseorang dalam waktu singkat. Karena Kraepelin berdasar pada ilmu psikiatri, tes ini awalnya digunakan untuk menentukan mana orang yang normal dan mana yang memiliki kecenderungan psikosis. Namun, tes Kraepelin yang sekarang sudah terstandardisasi dan mengalami sejumlah penyesuaian.

Kegunaan Tes Kraepelin

Dewasa ini, tes Kraepelin banyak digunakan dalam asesmen psikologi, khususnya untuk penempatan posisi dalam angkatan bersenjata, rekrutmen dan seleksi, promosi jabatan, dan mutasi kerja dalam perusahaan. Meskipun tes Kraepelin melibatkan penjumlahan angka dan kemampuan berhitung, tes ini tidak mengukur intelegensi dan kemampuan aritmatika.

Tes ini lebih digunakan untuk mengukur faktor non-intelektual, yakni tingkat konsentrasi seseorang dan performansi kinerja, yang ditentukan oleh ketelitian kerja, kecepatan kerja, ketahanan kerja, dan keajegan kerja. Aspek-aspek psikologis yang mempengaruhi skor Kraepelin adalah persepsi visual, koordinasi sensori-motorik, kemampuan menghitung, berpikir deduktif/problem solving, dan learning effect.

Mengapa learning effect? Karena dalam pengerjaan Kraepelin, kita akan dituntut untuk menyelesaikan semua lajur angka dalam waktu yang ditentukan tester. Kemungkinan pada baris-baris tertentu, orang akan mulai mencari teknik yang paling efisien dalam mengerjakan tes.

Administrasi dan Cara Mengerjakan Tes Kraepelin

Sebelum kita membahas administrasi, perlu diketahui bahwa tes Kraepelin yang diadaptasi di Indonesia ada dua versi, yakni versi UGM dan versi UI. Perbedaannya ada pada jumlah lajur dan waktu pengerjaan. Dalam versi UGM, jumlah lajur tes Kraepelin adalah 50 sedangkan versi UI adalah 45. Kemudian, waktu pengerjaannya juga berbeda. Pada versi UGM, waktu pengerjaannya 15 detik per lajur, sedangkan versi UI adalah 30 detik per lajur.

Agar lebih maksimal, baca tips mengerjakan psikotes yang dibahas langsung oleh lulusan psikologi.

Sebelum prosesi tes dimulai, tester wajib menyiapkan:

  1. Lembar Kraepelin
  2. Pensil/pulpen
  3. Stopwatch
  4. Alas pengerjaan bila dibutuhkan

Sebelum memulai, jelaskan terlebih dahulu aturan pengerjaan tes, yakni sebagai berikut:

  1. Testi diharapkan untuk mengisi terlebih dahulu identitas di halaman depan dan tidak diperkenankan untuk membuka halaman tes sebelum diperintahkan.
  2. Sebelum menuju ke soal yang sebenarnya, testi akan dipersilakan mengerjakan contoh soal yang sudah disediakan di halaman depan.
  3. Testi harus menjumlahkan dua angka mulai dari baris terbawah dari lajur pertama setelah tester atau pengawas tes memberikan instruksi untuk mulai. Apabila tester mengatakan “pindah,” maka testi diharapkan untuk segera berganti mengerjakan ke lajur berikutnya. Namun, apabila testi sudah selesai mengerjakan selama kurang dari waktu yang ditentukan, testi tidak diperkenankan berpindah lajur sebelum tester menginstruksikan.
  4. Ketika menjumlahkan, testi hanya boleh menuliskan angka satuannya saja. Jadi, apabila angka hasil penjumlahan bersifat puluhan (misalnya penjumlahan 4 dan 8 adalah 12), maka yang ditulis cukup angka 2 saja. Hasil penjumlahan harus ditulis di sebelah kanan, bertempat di antara kedua angka yang sudah dijumlahkan.
  5. Apabila testi membuat kesalahan dalam menjumlahkan angka, testi hanya perlu mencoret angka yang salah dan menulis angka yang benar di sampingnya.

Kelebihan Tes Kraepelin

1. Instruksi Tes yang Mudah

Karena sifatnya sebagai tes performansi kerja, tes Kraepelin diyakini sebagai culture fair karena tes ini relevan dipakai di berbagai jenis setting pengetesan, tidak terbatas dari budaya atau bahasa yang berbeda.

2. Mampu Melihat Stabilitas Emosi

Tes Kraepelin tidak hanya mengukur performansi kerja, namun juga bisa melihat stabilitas emosi testi saat berada dalam situasi tertekan. Hal ini dikarenakan dalam pengerjaannya, semakin banyak kesalahan yang dibuat, akan tampak bahwa testi kurang teliti atau tidak cermat dalam bekerja.

Dalam setting seleksi atau promosi kerja, ini bisa dijadikan patokan bahwa testi bukan orang yang bagus ditempatkan pada situasi menantang. Selain itu, bila testi terlalu banyak salah menjumlahkan, bisa jadi ia mudah terdistraksi atau sukar berkonsentrasi pada pekerjaannya.

3. Mampu Memprediksi Gejala Gangguan Mental

Emil Kraepelin awalnya menciptakan tes Kraepelin untuk melihat kecenderungan orang mengalami gangguan mental, sehingga kita juga bisa memprediksinya melalui skor yang didapatkan testi. Menurut Kraepelin, salah satu indikasi skizofrenia adalah penurunan kemampuan kognitif yang tajam, antara lain berkurangnya kemampuan berpikir logis. Hal ini bisa dilihat pada penjumlahan yang tidak merata, kesenjangan antara puncak tertinggi dan terendah, hingga banyaknya kesalahan testi.

Kekurangan Tes Kraepelin

1. Bergantung pada Kondisi Fisik Testi

Oleh karena tes Kraepelin mengukur konsentrasi seseorang, ada kemungkinan bila kondisi fisik testi kurang mendukung, akan berpengaruh terhadap tingkat konsentrasi testi. Maka dari itu, sebelum tes psikologi apa pun, ada baiknya kita banyak istirahat dan menjaga kesehatan.

2. Kurang Ramah Disabilitas

Administrasi tes Kraepelin yang menggunakan alat tulis secara manual bisa jadi kurang ramah disabilitas, khususnya bagi tunadaksa, tunarungu, dan tunanetra. Tunadaksa akan kesulitan menggunakan alat tulis, tunarungu membutuhkan instruksi dalam bahasa isyarat, dan tunanetra akan kesulitan menjumlahkan angka dalam kecepatan tertentu. 

3. Sangat Ditentukan Kemampuan Berhitung

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, pengerjaan tes Kraepelin mengharuskan testi menjumlahkan angka. Bila testi memiliki latar belakang pendidikan atau pekerjaan yang jarang berhubungan dengan angka, ada kemungkinan testi memiliki skor yang lebih rendah daripada yang memiliki latar belakang pendidikan atau pekerjaan dengan basis aritmatika.

Nah, itu tadi seputar tes Kraepelin yang perlu kita ketahui. Tapi kalau kalian tanya soal skoring tesnya, maaf penulis belum bisa memberi tahu. Karena sesuai dengan Kode Etik Psikologi, skoring tes psikologi apa pun bersifat konfidensial alias rahasia. Jika kalian ingin mengetahui normanya, kalian harus membeli seperangkat alat tesnya sendiri. Tertarik mengetahui tes psikologi lainnya? Simak artikel-artikel seputar tes psikologi hanya di Kampus Psikologi!

Artikel Terkait

Leave a Comment