Image default

Mengenal Tes EPPS (Edwards Personal Preference Schedule): Dari Keperluan Menjadi Kepribadian

Aku jamin kamu pernah melihat video yang isinya mirip dengan ini, yang menunjukkan gambar aneh yang seolah-olah menjelaskan kepribadianmu. Cuplikan diatas adalah salah satu contoh populer dari tes Rosarch, yang merupakan tes proyektif.

Tapi untuk hari ini, kita akan berfokus kepada tes non-proyektif. Tes yang bisa dipegang kebenarannya dan dianggap lebih valid dibandingkan tes proyektif. Salah satu dari tes non-proyektif itu adalah EPPS. Apa itu EPPS? Apa teori yang menjadi pusat dari tes ini? Emang tes ini buat apa? Daripada bingung, mending aku ceritain sejarah singkat dari tes ini.

Sejarah Singkat EPPS

Edwards Personal Preference Schedule (EPPS) adalah sebuah tes psikologi kepribadian non-proyektif. EPPS mengukur pentingnya sebuah kebutuhan yang bersifat personal dan relatif pada individu.

Perkembangan dan terciptanya alat tes EPPS dalam Xu, Mellor dan Read (2017) dimulai dari perkembangan psychogenic needs. Murray dan teman-temannya menemukan kalau studi sistematis mengenai psychogenic needs. Selain itu, perkembangan tes EPPS ini dipengaruhi oleh beberapa aliran di Psikologi (Xu dkk., 2017):

  • Functionalism oleh Dewey dan Angell
  • Dynamic Hypotheses oleh McDougall
  • Paradigma behaviorisme oleh Tolman dan Stone di awal abad ke-20, yang dikembangkan dengan konstruk drive dan dynamic principles.
  • Psikologi Gestalt dan Psikoanalisis (Freud, Jung, dan Adler)

Aliran-aliran diatas menjadi latar belakang riset Murray dan teman-temannya mengenai human needs secara sistematis.

EPPS kemudian diciptakan oleh Allen L. Edwards pada 1954 dan didesain untuk menunjukkan pentingnya needs dan motif seseorang. Tes ini mengalami revisi sekali pada tahun 1959 oleh Journal of Consulting Psychology pada bagian skoring tes dan referensi (n,a, 2014)

Teori Dasar Tes EPPS

Tes EPPS ini didasari oleh teori kepribadian milik Henry Alexander Murray mengenai konsep needs atau kebutuhan yang dikembangkan oleh Allen L. Edwards (APA Dictionary of Psychology, 2021). Menurut Murray dalam Cherry, Kendra (2012) needs seringkali bergerak di tingkat bawah sadar, tetapi berperan besar dalam kepribadian seseorang. Murray juga menambahkan kalau needs digunakan untuk merespon berbagai situasi dengan cara yang tertentu.

Berikut definisi singkat dari Domino & Domino (2006, pp 77) mengenai 15 needs yang dipakai Murray dan sedikit aku tambahin dari materi kuliahku:

1. Achievement: Kebutuhan untuk menyelesaikan tugas dengan baik.

Kebutuhan ini menggambarkan keinginan dari dalam seseorang untuk melakukan dan mencapai yang terbaik dalam kegiatan atau tugas mereka. Seseorang dengan needs achievement yang tinggi itu seperti temanmu yang ambisi. Mereka ingin mengerjakan tugas sebaik mungkin, mendapat nilai setinggi langit, dan suka menyelesaikan hal-hal yang sulit.

2. Deference: Kebutuhan untuk mengikuti/bergabung dengan orang lain.

Nilai yang tinggi pada deference membuat seseorang ingin “berkonformitas” terhadap seseorang atau kelompok tertentu. Dalam prosesnya, mereka perlu mengetahui instruksi, harapan, saran-saran, dan pikiran dari orang lain. Nilai tinggi pada deference membuatnya membiarkan orang lain untuk mengatur dan memimpinnya.

3. Order: Kebutuhan untuk terorganisir dan rapi.

Kamu pasti punya seorang teman yang tampil rapi, dirinya selalu terorganisir dan teliti dalam sehari-harinya. Karakteristik rapi dan tertibnya menjadi pertanda kalau needs order-nya dia tinggi. Selain rapi dan terorganisir, needs order yang tinggi juga bisa terlihat dari caranya mengatur jadwal serta seringkali mereka akan membuatnya dengan sangat detail.

4. Exhibition: Kebutuhan untuk menjadi pusat perhatian.

Needs ini sangat mirip dengan ciri-ciri seseorang yang ekstrovert, suka bercerita, memiliki selera humor dan suka menceritakan pengalaman pribadi mereka. Mereka ingin menjadi pusat perhatian dengan mengatakan hal-hal yang menarik, menggunakan bahasa-bahasa yang “berat”, atau menanyakan sesuatu yang tidak bisa dijawab.

5. Autonomy: Kebutuhan untuk bebas dari tanggung jawab dan kewajiban.

Datang tak diundang dan pulang tanpa pamit. Seseorang dengan needs autonomy yang tinggi akan datang dan pergi sesuai keinginannya. Bisa dikatakan kalau dirinya independen dan tidak akan terkekang oleh sekitarnya.

6. Affiliation: Kebutuhan untuk berteman.

Needs affiliation yang tinggi menandakan kalau orang tersebut setia kepada temannya dan berpartisipasi secara aktif untuk berteman dengan orang lain. Membangun lingkaran pertemanan yang luas, tetapi tetap erat dengan satu dan lainnya.

7. Intraceptions: Kebutuhan untuk menganalisis orang lain dan diri sendiri.

Seseorang dengan intraceptions sangat cocok jadi mahasiswa psikologi. Nilai tinggi pada needs ini menandakan kalau orang tersebut suka menganalisis motif, perasaan, dan bersimpati dengan orang lain. Mereka suka memprediksi cara seseorang bertindak dan memikirkan alasan dibalik tindakan seseorang yang menarik perhatian mereka.

8. Succorance: Kebutuhan untuk menerima dukungan dan pertolongan dari orang lain.

Nilai yang tinggi pada needs ini kerap kali menandakan bahwa orang tersebut suka diberi perhatian, dalam kondisi yang berbeda. Mereka ingin dibantu saat terlihat kesakitan, berusaha mendapatkan simpati dan senang ketika orang lain khawatir saat mereka sakit.

9. Dominance: Kebutuhan untuk memimpin.

Sesuai dengan namanya, seseorang dengan nilai tinggi pada kebutuhan ini akan lebih senang dalam berdebat dengan orang lain. Bisa dikatakan juga kalau mereka kompetitif, ingin menjadi ketua komite, dan memimpin orang-orang lain.

10. Abasement: Kebutuhan untuk mengakui dan menerima kesalahan.

Individu dengan abasement tinggi mudah untuk merasa bersalah saat melakukan kesalahan, merasa jika penderitaan dan kesengsaraan pribadi lebih baik dibandingkan bahaya, merasakan perlunya hukuman atas setiap tindakan yang salah. Sebagai contoh, needs ini cocok dengan stereotip orang yang “tidak enak-an.”

11. Nurturance: Kebutuhan untuk membantu maupun menunjukkan afeksi pada orang lain.

Orang-orang dengan nurturance yang tinggi merupakan sosok temanmu yang baik banget. Mereka selalu membantu teman-teman dan orang lain yang kurang beruntung, memaafkan, bersimpati, dan murah hati bagi orang-orang disekitarnya.

12. Change: Kebutuhan untuk perubahan dalam kehidupan.

Needs change yang tinggi berarti ya, orangnya suka perubahan. Seseorang yang suka menjelajahi dan mencoba hal-hal yang belum pernah dilakukan maupun dicoba sebelumnya. Mereka suka hal-hal baru dan suka mengikuti trend-trend yang senantiasa berubah.

13. Endurance: Kebutuhan untuk menyelesaikan tugas dan bertahan.

Sesuai namanya, kebutuhan ini menunjukkan komitmen dan fokus kepada tugas mereka. Semakin tinggi nilai mereka pada kebutuhan ini, semakin gigih juga mereka ketika mengerjakan tugas. Mereka kebalikan anak yang deadliner, mereka mengerjakan semuanya secepat dan sebaik mungkin.

14. Heterosexuality: Kebutuhan untuk menjadi menarik bagi lawan jenis.

Needs ini berfokus kepada interaksi seseorang terhadap lawan jenisnya. Semakin tinggi nilainya, semakin banyak yang ingin mereka tahu tentang lawan jenisnya. Pastinya hal ini akan meliputi topik-topik sosial dan seksual.

15. Aggression: Kebutuhan untuk mengungkap isi pikiran dan kritis terhadap orang lain.

Sesuai namanya, needs ini bisa diartikan dalam cara yang positif dan negatif. Dalam satu sisi, nilai yang tinggi pada kebutuhan ini bisa berarti kalau dia kritis terhadap pendapat orang lain dan suka menyampaikan pendapatnya sendiri. Namun, di sisi lain orang ini cepat dalam membantah pendapat lain, mudah marah, dan semacamnya.

Fungsi Tes EPPS

Tes Kepribadian EPPS sering digunakan di Indonesia diantara orang dewasa dan mahasiswa (Rosadi, 2018). Secara umum, tes ini digunakan untuk keperluan riset dan konseling dengan menggunakan 15 needs sebagai variabel kepribadian yang independen (Domino & Domino, 2006, 77).

Dalam konseling, tes EPPS digunakan untuk membantu seseorang dalam mencari pekerjaan yang sesuai dengan motif kerja mereka. Sebagai contoh, seseorang yang memiliki nilai Exhibition yang tinggi akan lebih cocok sebagai MC atau Influencer. Kalau nilai Order-nya tinggi, mungkin dia akan lebih cocok jadi ketua karena lebih terorganisir dan rapi.

Bisa dikatakan kalau tes kepribadian ini digunakan untuk mencari tahu needs yang secara tidak sadar dimiliki orang tersebut. Sayangnya, tes ini sering disalahpahami sebagai tes kepribadian yang seperti MBTI, dll (n. a., 2014).

Kritik Terhadap Tes EPPS

Tiada gading yang tak retak, dan begitu pula tes EPPS juga memiliki beberapa kritik terhadapnya. Seperti tes kepribadian lainnya, tes EPPS perlu disesuaikan dengan konteks sosial budaya Indonesia agar culture-fair (dampak budaya tertentu terhadap reliabilitas dan validitas hasil tes) dan menjadi konsisten/reliabel.

Tes ini memiliki scoring ipsative, yang digunakan untuk mengidentifikasi faking, meskipun mampu mengurangi validitas tes (Changing Minds, n.d.). Beberapa ahli psikometrik mengatakan kalau jenis penilaian ini memiliki korelasi negatif dengan metode pengukuran lain (Meglino dan Ravlin, 1998) atau tidak optimal untuk analisis faktor (Cattel dan Brennan, 1994). 

Tes ini juga rentan terhadap social desirability, yaitu jawaban yang mengikuti norma atau harapan dari masyarakat. Untuk menghindari permasalahan social desirability, tes EPPS menggunakan dua pernyataan dengan tingkat social desirability yang sama.

Referensi:

Artikel Terkait

Leave a Comment