“Hei, jangan dekat-dekat dia! Dia itu sosiopat!”

Seringkah kalian mendengar kata sosiopat diucapkan banyak orang? Memang, soisopat seringkali diasosiasikan dengan kriminal yang berbahaya. Namun, apakah memang kenyataannya sosiopat itu demikian? Bisakah sosiopat disembuhkan? Mari kita bahas bersama.

Apa itu Sosiopat?

Sosiopat adalah sebutan umum bagi seseorang yang mengidap gangguan kepribadian antisosial. Gangguan kepribadian ini baru akan tampak pada individu saat beranjak dewasa, namun, kita masih bisa mengenali gejala-gejalanya pada anak-anak.

Mungkin kalian seringkali menyalahartikan sosiopat dengan psikopat, namun kenyataannya keduanya sangat berbeda. Panduan umum gangguan mental DSM-5 sebetulnya tidak pernah menyebut istilah “sosiopat” ketika mendeskripsikan gangguan kepribadian, begitu pula istilah “psikopat” sebetulnya sama sekali tidak pernah disebut-sebut dalam DSM-5 karena bukan merupakan istilah diagnosis klinis yang tepat.

Namun, istilah “psikopatik” mengacu kepada kumpulan sifat atau trait yang dimunculkan oleh seseorang, baik itu secara perilaku maupun gejala psikologis. Jadi, ada kemungkinan bahwa seseorang yang mengidap gangguan kepribadian antisosial (ASPD) juga menunjukkan serangkaian sifat psikopatik.

Dilansir oleh Anderson & Kiehl (2015), sifat-sifat atau trait psikopatik biasanya ditandai dengan respon emosi yang minim, kurangnya empati, dan kontrol perilaku yang buruk. Mengapa tidak semua orang dengan ASPD menunjukkan trait ini? Jawabannya adalah, karena banyak faktor yang bisa mempengaruhi seseorang menunjukkan sifat-sifat tersebut, termasuk di antaranya faktor genetik, sosial, dan budaya.

Artinya, seorang anak yang memiliki gejala-gejala gangguan kepribadian antisosial bisa jadi tidak menjadi psikopat karena dukungan sosial yang baik. Entah dari keluarga atau teman sebayanya. Selain itu, faktor treatment yang tepat juga bisa menjadi faktor berkurangnya gejala-gejala gangguan, sehingga ada kemungkinan besar yang bersangkutan tidak mengembangkan trait psikopat.

Tapi, mari kita kembali pada persoalan utama kita. Seperti apa gejala-gejala dan ciri-ciri seorang sosiopat?

Ciri-ciri Seorang Sosiopat

Sosiopat memiliki sejumlah ciri-ciri yang cukup jelas, antara lain sebagai berikut:

  1. Kurangnya empati kepada orang lain, sehingga wajar bila sosiopat seringkali menyendiri dan tidak punya relasi. Karena ini, mereka juga tidak bisa membangun hubungan sosial, jangankan komitmen, dengan orang lain.
  2. Perilaku yang impulsif, bahkan mungkin tergolong berbahaya. Beberapa perilaku tersebut bisa mengarah pada perilaku kriminal atau kecanduan obat-obatan.
  3. Keinginan mengontrol orang dengan agresi atau manipulasi, baik itu melakukan kekerasan fisik atau verbal seperti menjelek-jelekkan, mengancam, dan gaslighting.
  4. Tidak punya sense tanggung jawab, sehingga orang-orang sosiopat akan cenderung suka melalaikan pekerjaan, tidak membayar tagihan tepat waktu, atau berbohong untuk melarikan diri dari kewajibannya.
  5. Cenderung akan mengulang kesalahannya berkali-kali, jadi tidak ada gunanya bila sosiopat dihukum. Mereka tidak akan merasa bahwa perilaku mereka salah, karena bagi mereka, yang dilakukan adalah benar.

Cara Menghindari Pengaruh Buruk Sosiopat

Sebagai orang yang berkecimpung di dunia psikologi selama 6 tahun lebih, penulis diajarkan untuk tidak menilai buruk gangguan kepribadian apa pun, namun sosiopat bisa merugikan bila menimbulkan korban. Hal ini dikarenakan individu sosiopat bisa jadi hilang kendali atas dirinya dan melakukan hal-hal yang membahayakan bagi orang lain.

Seperti yang sudah penulis jabarkan, mereka bisa melakukan hal-hal seperti merampok, mencuri, merusak barang-barang, atau vandalisme, hingga physical dan emotional abuse tanpa merasa bersalah. Jadi, maksud penulis di sini cenderung kepada memberikan tips untuk mengurangi dampak buruk perilaku sosiopat kepada kita.

Menurut Konrad (1999), dilansir dari Psychcentral.com, ada tiga tips terbaik menghindari pengaruh buruk sosiopat kepada kita, yakni:

1. Menjauh dari mereka

Sosiopat cenderung berperilaku manipulatif kepada orang lain. Maka dari itu, apabila ada seseorang yang disinyalir sebagai sosiopat, jangan biarkan ia memasuki ranah pribadi kita. Kalau bisa, hindari dengan berbagai cara supaya tidak berhubungan lagi.

2. Merubah mereka? No, you can’t

Yang kedua terpenting adalah, jangan pernah berpikir kamu bisa merubah seorang sosiopat. Satu-satunya cara bagi sosiopat untuk berubah adalah melalui dorongan pribadi, yang tentu saja akan sulit dilakukan. Jika kamu menunjukkan empati pada mereka, ada kecenderungan mereka akan memutar balikkan fakta dan malah menyerangmu.

3. Lindungi diri dan jangan lengah

Sosiopat akan mencari berbagai cara untuk mendapatkan kepercayaan kamu melalui kelemahanmu, sehingga kamu tidak boleh sampai menunjukkan kelemahan kita pada mereka. Apabila kamu sudah mencoba melindungi diri dan hasilnya sia-sia, kamu hanya perlu memastikan mereka sejauh mungkin jaraknya denganmu. Sesulit apa pun itu, lakukan saja apa yang kamu pikir itu benar untuk dilakukan.

References:

 American Psychiatric Association. (2013). Diagnostic and statistical manual of mental disorders (5th ed.). American Psychiatric Association.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *