tinder

Taktik Manipulasi yang Digunakan Tinder Swindler dan Cara Menghindarinya!

Siapa sih yang belum pernah mendengar Tinder Swindler? Dokumentasi oleh Netflix ini berhasil menarik perhatian seluruh dunia dan sudah ditonton sebanyak 12 Juta kali. Film ini menampilkan dokumentasi Shimon (Leviev) Hayut yang menipu banyak wanita dan menggunakan uang mereka untuk hidup berfoya-foya. Lantas taktik apa yang digunakan si Tinder Swindler untuk menipu korbannya? Yuk kita bahas dari perspektif psikologi.

Social Proof

Kamu pernah nggak liat iklan pasta sikat gigi? Ingat tidak bagian “9 dari 10 dokter gigi merekomendasi produk ini”? Nah, itulah teman-teman aplikasi dari social proof. Social proof adalah fenomena psikologis dan sosial di mana orang-orang meniru tindakan orang lain untuk merespon suatu situasi (Cialdini, 1948). Dalam konteks si Tinder Swindler ini, social proof yang digunakan adalah uang dan kesuksesan. Setuju nggak?

Dalam film dokumenter itu, terlihat jika si Tinder Swindler sering menggunakan uangnya untuk menerbangkan “pasangannya”, membelikan mereka makanan-makanan mewah, menampilkan kehidupannya yang penuh glamor, dan berbagai tindakan lain yang menunjukkan kayanya dia. Jumlah uang ini bisa menampilkan betapa “suksesnya” dia di depan mata korbannya dan kesuksesan itulah yang menjadi salah satu social proof “medium” yang paling berpengaruh.

Shimon (Leviev) Hayut menggunakan uangnya seperti cara influencer atau sekelompok orang menggunakan statusnya untuk mempromosikan barang yang mereka endorse, hanya saja dalam konteks ini yang dipromosikan adalah citranya sendiri. Mana mungkin seseorang yang hidupnya penuh glamor tidak dikelilingi kesuksesan bukan?

Confirmation Bias

Masih mengambil dari buku Robert Cialdini,mari kita bahas Confirmation Bias. Confirmation Bias adalah kecenderungan kita untuk menangkap informasi yang menurut mereka relevan, sekalipun informasi itu tidak nyata (APA Dictionary of Psychology, 2014). Bias inilah yang disukai orang-orang seperti si “Tinder Swindler” ini. Karena fenomena ini, para korban hanya mendengar dan berfokus kepada kata-kata yang mereka sukai. Khususnya bagi para korban yang sudah putus asa dalam mencari cinta, kata-kata Shimon (Leviev) Hayut dapat dengan mudah menciptakan fantasi romansa yang sempurna bagi korbannya.

Fenomena ini tidak hanya mempengaruhi masuknya informasi, tetapi juga mempengaruhi cara kita mengingat kembali informasi, cara menginterpretasi informasi baru, dan informasi yang orang itu cari (Nickerson, 1998). Singkatnya, dia tidak mau informasi yang berpotensi merusak realita yang sudah dia bangun.

Dalam konteks Tinder Swindler, Confirmation Bias membantu Shimon (Leviev) Hayut untuk memanipulasi korbannya. Secara khusus, fenomena ini membuat para korban kesulitan untuk menyadari motif asli dari Shimon (Leviev) Hayut, yaitu uang mereka. Para korban terlalu terfokus kepada fantasi, romansa, dan imaginasi-imaginasi tentang Shimon (Leviev) Hayut.

Reciprocity

Siapa yang akan kamu bantu lebih dahulu, teman yang pernah meminjamkan kamu uang atau teman yang baru saja kenal? Pasti mayoritas dari kalian akan memilih untuk membantu temanmu yang pernah meminjamkan uang.

Seperti itulah konsep reciprocity. Kita menjadi lebih terbuka untuk membantu kembali seseorang yang pernah membantu atau memberikan sesuatu kepada kita (Cialdini, 2014). Bagi si Tinder Swindler, inilah fenomena yang paling membawa cuan/untung. Bisa kita lihat di dokumentasi itu kalau Shimon (Leviev) Hayut gemar sekali untuk membelikan makanan, membayar tiket pesawat, dan masih banyak lagi aksi-aksi “berderma” untuk korbannya. Dia melakukan tindakan-tindakan seperti ini agar korbannya rela memberikan dia (si Tinder Swindler) uang dalam jumlah besar (entah karena kecelakaan atau lainnya).

Kalau korbannya tidak mampu atau belum ingin memberikan nominal yang besar, Shimon (Leviev) Hayut bisa meminta nominal yang lebih kecil. Teknik psikologi ini sering digunakan di marketing dan disebut “Foot in The Door” (Pascual & Guéguen, 2005). Nanti kalau korbannya setuju ingin memberi uang dengan nominal kecil, mereka akan lebih terbuka untuk memberi uang dengan nominal yang lebih besar.

3 Taktik Anti Manipulasi!

Wah seram juga ya taktik-taktik dan manipulasi seperti itu. Namun, santai saja karena kita punya tips untuk menghindari taktik seperti itu

1. Mindful Thinking:

Semua tindakan harus dipikirkan dengan baik-baik, kalau terlalu tergesa-gesa maka hasilnya akan buruk (biasanya). Sempatkan dirimu untuk berhenti sebentar dan beri otakmu beberapa saat untuk memproses keputusanmu itu. Mindful Thinking akan membantumu menghindari mengambil keputusan yang impulsif, seperti checkout shopee (Korponay et al., 2019).

2. Meminta Saran Seseorang yang Orang Terdekat

Siapa orang terbaik untuk dimintai pendapat? Ya pastinya seseorang yang kamu percaya dan tidak mudah dipengaruhi. Mendapat masukan dari teman-temanmu akan memberimu sudut pandang yang baru serta waktu untuk memikirkan keputusan yang akan kamu ambil (Yaniv, 2004). Namun, kamu juga harus hati-hati karena meminta saran dari terlalu banyak orang, justru dapat berpengaruh negatif (Blunden dkk., 2019). Karena ada potensi kalau kamu bisa dianggap tidak kompeten oleh mereka! Maka dari itu, mintalah pendapat dari teman-teman terdekatmu atau bahkan anggota keluarga.

3. Mengambil Keputusan Saat Sudah Tenang

Keputusan yang kita ambil bisa memengaruhi emosi kita dan hal sebaliknya juga terjadi. Seseorang yang sedang merasa tidak nyaman atau cemas berkemungkinan untuk mengambil keputusan (Lerner, Li, Valdesolo, & Kassam, 2015). Di sisi lain, seseorang yang marah akan mengambil tindakan dengan tujuan merubah situasi dengan melawan, melukai, atau menakklukkannya (Frijda, Kuipers, & ter Schure, 1989). Emosi dapat dengan mudah memengaruhi proses pengambilan keputusan kita dan sebelum kamu tergesa-gesa untuk transfer uangmu kepada si “Tinder Swindler” ada baiknya untuk menenangkan dirimu terlebih dahulu.

Itulah berbagai taktik manipulasi yang digunakan oleh si tinder swindler ini, beserta cara untuk menghadapinya. Nah, sebenarnya fenomena ini juga muncul di kehidupan keseharian kalian meskipun konteksnya pasti akan berbeda. Kamu juga bisa nih menggunakan tips-tips decision-making juga dalam keseharian, seperti saat akan checkout shopee, beli seblak, atau ketika mau membayar “gebetan” virtual kamu.

References

  • APA Dictionary of Psychology. (2014). APA Dictionary of Psychology. Retrieved March 22, 2022, from Apa.org website: https://dictionary.apa.org/confirmation-bias
  • Blunden, H., Logg, J. M., Brooks, A. W., John, L. K., & Gino, F. (2019, May 10). How Asking Multiple People for Advice Can Backfire. Retrieved March 21, 2022, from Harvard Business Review website: https://hbr.org/2019/05/how-asking-multiple-people-for-advice-can-backfire
  • Cialdini, R. B. (2014). Influence: science and practice (5th ed.). Harlow: Pearson Education.
  • Frijda, N. H., Kuipers, P., & ter Schure, E. (1989). Relations among emotion, appraisal, and emotional action readiness. Journal of Personality and Social Psychology, 57(2), 212–228. https://doi.org/10.1037/0022-3514.57.2.212
  • Korponay, C., Dentico, D., Kral, T. R. A., Ly, M., Kruis, A., Davis, K., … Davidson, R. J. (2019). The Effect of Mindfulness Meditation on Impulsivity and its Neurobiological Correlates in Healthy Adults. Scientific Reports, 9(1), 1–17. https://doi.org/10.1038/s41598-019-47662-y
  • Lerner, J. S., Li, Y., Valdesolo, P., & Kassam, K. S. (2015). Emotion and Decision Making. Annual Review of Psychology, 66(1), 799–823. https://doi.org/10.1146/annurev-psych-010213-115043
  • Nickerson, R. S. (1998). Confirmation bias: A ubiquitous phenomenon in many guises. Review of General Psychology, 2(2), 175–220. https://doi.org/10.1037/1089-2680.2.2.175
  • Pascual, A., & Guéguen, N. (2005). Foot-in-the-Door and Door-in-the-Face: A Comparative Meta-Analytic Study. Psychological Reports, 96(1), 122–128. https://doi.org/10.2466/pr0.96.1.122-128
  • Yaniv, I. (2004). Receiving other people’s advice: Influence and benefit. Organizational Behavior and Human Decision Processes, 93(1), 1–13. https://doi.org/10.1016/j.obhdp.2003.08.002

This entry was posted in Serba-Serbi on by .

About K. Lintang Mahadewa

Saat ini, Lintang Mahadewa adalah mahasiswa psikologi di UGM. Karena merasa bosan dan ingin mencari pengalaman, Lintang saat ini menjadi content writer dan ghostwriter dengan jumlah artikel 50+. Lintang mengetik dengan sudut pandang ketiga, karena membuatnya merasa lebih nyaman dan tidak cringe. Namun, akan ada saat dimana Lintang “merasa humoris” dan melontarkan lelucon ala bapak-bapak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *