Image default

Apa itu Sosiopat, Perbedaan dengan Psikopat

Beberapa waktu terakhir, istilah sosiopat dan psikopat sepertinya semakin banyak digunakan maupun ditemukan dalam percakapan sehari-hari. Biasanya penggunaan istilah ini untuk memberikan label pada individu dengan karakteristik atau perilaku tertentu. Misalnya saja pada pelaku pembunuhan berantai yang pada beberapa kondisi disebut sebagai psikopat maupun sosiopat.

Meskipun sebagian masyarakat sudah sering menggunakannya, tidak menutup kemungkinan ada pihak-pihak lain yang belum memahaminya. Kondisi ini terkadang menimbulkan kebingungan bagi mereka karena sosiopat dan psikopat ini kadang digunakan untuk melabeli individu dengan perilaku atau kondisi yang mirip dan perbedaan antara keduanya yang masih abu-abu.

Sejalan dengan kondisi yang ada, artikel ini disusun untuk mengatasi sekaligus membantu mencegah kesalahan pelabelan atas kondisi tertentu yang dialami individu. Selanjutnya, artikel ini akan membahas secara sederhana mengenai beberapa perbedaan mendasar antara sosiopat dan psikopat.

Definisi Sosiopat dan Psikopat

Dalam salah satu artikel Psychology Today yang berjudul Sociopathy (t.t.), sosiopati merupakan sebuah istilah yang merujuk pada pola perilaku dan sikap antisosial individu, termasuk didalamnya adalah perilaku manipulasi, kecurangan, agresi dan kurang berempati terhadap orang lain.

Sedangkan psikopat pada awalnya digunakan untuk mendeskripsikan individu yang curang, manipulatif dan tidak peduli dengan orang lain dan penggunaan istilah ini terus berkembang dari waktu ke waktu (Morin, 2021). Orang dengan gangguan ini memiliki karakteristik yang sesuai dengan psikopatologi.

Meskipun kedua istilah ini terdengar cukup ilmiah, sejatinya kedua istilah ini jarang digunakan oleh para profesional dan/atau praktisi di bidang kesehatan mental dan baru digunakan para ahli pada beberapa dekade terakhir (Frescoe, 2019; Smith, 2021).

Adanya penjelasan singkat mengenai penggunaan istilah dan definisi dari keduanya sangat dimungkinkan menjadikan pembaca kebingungan dengan kedua istilah tersebut dan apakah selama ini istilah yang digunakan sudah tepat?

Karena sejatinya dalam dunia kesehatan mental terutama para praktisi seperti psikolog dan psikiater tidak menggunakan istilah sosiopat ataupun psikopat, melainkan Antisocial Personality Disorder dalam melakukan diagnosa klien atau pasiennya. Lalu apa hubungan sosiopat, psikopat dan Antisocial Personality Disorder?

Definisi Antisocial Personality Disorder (ASPD)

Seperti yang kita ketahui bersama, istilah sosiopat dan psikopat ini merupakan istilah yang digunakan orang awam untuk melabeli individu dengan gangguan kepribadian tertentu. Apabila ditelisik secara mendalam menggunakan kacamata ilmu psikologi, karakteristik dari sosiopat dan psikopat yang selama ini diyakini oleh masyarakat cenderung merujuk atau mirip dengan karakteristik yang ada pada Antisocial Personality Disorder atau ASPD  (Frescoe, 2019; Smith, 2021).

Istilah ASPD sendiri dalam The Diagnostic and Statistical Manual of Mental (DSM-5) digunakan untuk menjelaskan individu yang melakukan tindakan tidak bertanggung jawab, nakal atau jahat serta kriminal secara berulang (Glenn dkk., 2013). Sejalan dengan definisi tersebut American Psychological Association (APA) dalam kamusnya menjelaskan bahwa ASPD merupakan kondisi yang mana terdapat sifat atau watak melanggar dan mengabaikan hak orang lain yang bersifat kronis dan pervasif (Antisocial Personality Disorder, t.t.).

Sejalan dengan penjelasan terkait ASPD dan miripnya karakteristik antara sosiopat dan psikopat terdapat beberapa pihak yang berpendapat bahwa keduanya tidak bisa dibedakan. Salah satunya ialah Dr. Prakash Masand (dalam Lindberg, 2019) yang menyatakan bahwa secara klinis, tidak ada perbedaan antara kedua istilah tersebut, karena pada dasarnya psikopat dan sosiopat berada dalam payung yang sama yakni ASPD. Sejalan dengan hal tersebut, para praktisi biasanya menggunakan kriteria yang ada di bawah ASPD untuk menjelaskan maupun mendiagnosa kedua kondisi tersebut secara klinis.

Berdasarkan penjelasan tersebut, semakin dapat dipahami bahwa dalam dunia klinis, baik sosiopat dan psikopat ini merupakan kondisi gangguan kepribadian yang tidak bisa dibedakan begitu saja. Bagi para ahli yang setuju bahwa kedua istilah ini berbeda, terdapat beragam studi yang dilakukan untuk membuktikannya.

Karena apabila dipahami secara lebih detail, perbedaan tersebut dapat dicermati dari beberapa karakteristik atau ciri keduanya bahkan jika dibandingkan secara neurologis, perbedaan yang ada akan lebih terlihat lagi. Berikut ini terdapat beberapa karakteristik yang membedakan antara psikopat, sosiopat dan ASPD.

Perbedaan Karakteristik

Dengan adanya kesamaan antara psikopat dan sosiopat dalam payung ASPD, maka tidak dapat ditampik bahwa terdapat beberapa karakter yang mirip atau bahkan overlapping antara keduanya. Meskipun demikian, terdapat beberapa karakteristik yang membedakan antara satu dengan yang lainnya, seperti karakter ASPD lebih banyak dideskripsikan secara perilaku individunya sedangkan psikopati lebih mengarah pada kondisi internal individu (Glenn dkk., 2013).

Untuk melihat perbandingan yang jelas antara ASPD yang mana merupakan istilah yang digunakan oleh para praktisi dengan sosiopat dan psikopat, maka pertama-tama akan dibahas terlebih dahulu karakteristik atau kriteria ASPD dan dilanjutkan karakteristik psikopat dan sosiopat.

Kriteria diagnosis ASPD

Berdasarkan kriteria diagnosis ASPD yang tertera pada DSM-5 (Maslim, 2013), terdapat beberapa karakteristik dari perilaku ini. Misalnya saja curang dan tidak jujur, tidak mematuhi norma dan hukum, impulsif, sembrono atau abai, impulsif, rasa penyesalan yang kurang, hingga secara konsisten tidak bertanggung jawab.

Meskipun demikian, perlu diperhatikan bahwa sejumlah karakteristik keperilakuan ini hanyalah sebagian kecil dari serangkaian kriteria yang digunakan untuk menegakkan diagnosa ASPD dan diagnosis sendiri hanya dapat dilakukan oleh psikolog maupun psikiater melalui tes gangguan psikologis.

Karakteristik psikopat

Berbeda dari penjelasan Masand dalam artikel yang ditulis oleh Lindberg (2019) yang mengatakan bahwa psikopat dan sosiopat tidak bisa dipisahkan secara klinis, hasil penelitian Hare dan Babiek  (dalam Pemment, 2013) menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang jelas antara sosiopat dan psikopat.

Salah satu perbedaan yang berhasil ditemukan oleh Hare (dalam Pemment, 2013) yaitu psikopat cenderung tidak memiliki empati ataupun rasa moralitas. Misalnya saja, seseorang melakukan tindakan penyiksaan hingga menyebabkan korbannya meregang nyawa tanpa berempati dan juga tidak berpikir bahwa tindakan yang ia lakukan tidak sesuai dengan moralitas yang selayaknya dimiliki manusia.

Karakteristik sosiopat

Meskipun dalam pembahasan-pembahasan sebelumnya dinyatakan bahwa keduanya dalam payung yang sama, ternyata tetap saja ada perilaku yang cukup mendasar untuk membedakan seorang sosiopat dengan psikopat. Hal yang hal yang membedakan tersebut adalah moralitas dan hati nurani yang berkembang dengan baik ditemukan pada sosiopat.

Namun demikian, individu sosiopat ini rasa benar atau salah yang ada pada dirinya tidak berkembang dengan baik atau dapat dikatakan mengalami gangguan (Hare & Babiek  dalam Pemment, 2013). Sebagai contoh, seorang sosiopat tidak dapat menentukan atau memilih yang dilakukan (misal: memukul) benar atau salah. Walaupun tela


Selain perbedaan tersebut, masih ada hal-hal lain yang menjadi pembeda serta beragam penelitian lain yang sedang berjalan untuk mengungkap perbedaan sosiopat dan psikopat secara lebih presisi dan detail. Walaupun studi masih terus berjalan, diharapkan masyarakat dapat memahami perbedaan dari keduanya dan bagaimana ilmu psikologi maupun kesehatan mental memahami serta melihat kedua kondisi tersebut.

Selanjutnya, meskipun kedua istilah ini secara klinis masuk kedalam payung ASPD, perlu diketahui bahwa walaupun ada individu ASPD yang memiliki sifat atau karakteristik sosiopat maupun psikopat, belum tentu semua individu ASPD mengalaminya (Glenn dkk, 2013)

Referensi

Artikel Terkait

Leave a Comment