Waktu masih kuliah dulu, Cinta sering mampir ke sekretariat Bulaksumur Pos untuk mengerjakan tugas atau sekedar bertemu teman-teman. Sekretariat Bulaksumur Pos dan Balairung Press memiliki lokasi yang sama. Sudah menjadi kebiasaan anak-anak Bulaksumur Pos dan Balairung Press, dua pers mahasiswa UGM, nongkrong di teras kecil yang disebut “Plaza Mbak Jajan.”

Alasan terasnya disebut demikian adalah karena seorang penjual makanan yang kami panggil Mbak Jajan sering mampir menawarkan jualannya di teras itu. Usut punya usut, sudah sejak awal 2000-an Mbak Jajan berjualan di sana. Hebatnya, selama itu, Mbak Jajan masih belum ganti pelanggan, dan selalu setia menjadi langganan anak-anak pers. Cinta yang bosan mengerjakan tugas mengobrol dengan Mbak Jajan. Tanya Cinta, “Kenapa Mbak, kok masih senang mampir ke sini? Nggak mencoba ke tempat lain yang lebih banyak pembelinya?”

Sambil tersenyum, Mbak Jajan menjawab, “Ya, karena bagi saya, yang penting bukan pembelinya, tapi karena bisa ngobrol dengan Mbak-Mbak dan Mas-Mas di sini. Tempat lain mungkin lebih ramai, tapi saya senang karena bisa denger cerita Mbak-Mbak dan Mas-Mas di sini.”

Jawaban sederhana Mbak Jajan tadi masih terngiang di kepala Cinta sampai sekarang. Siapa sangka bahwa ternyata, Mbak Jajan menerapkan konsep ikigai dalam kehidupannya. Nah, apakah ikigai itu?

Lima Pilar Ikigai

Menurut Ken Mogi dalam bukunya The Book of Ikigai, istilah ikigai adalah suatu prinsip hidup yang sudah turun temurun dipraktikkan bangsa Jepang. Bangsa Jepang terkenal dengan kerja kerasnya. Namun, kerja keras ini tidak semata-mata untuk mencari keuntungan, namun di balik kerja kerasnya, bangsa Jepang menganut nilai bahwa segala pekerjaan yang kita lakukan itu juga harus menyertakan passion dan kesenangan pribadi.

Namun, ikigai sebetulnya tidak hanya diterapkan dalam konteks pekerjaan saja, tetapi juga pada kegiatan sehari-hari. Bahkan dalam berolahraga atau menggambar pun, kita juga bisa menerapkan ikigai. Tapi khusus untuk kali ini, kita akan membahas ikigai dalam konteks pekerjaan.

Ikigai tersusun dari lima pilar utama yang diuraikan sebagai berikut:

1.  Memulai dari hal-hal kecil

Ken Mogi menyebut bahwa kodawari adalah falsafah hidup yang melatarbelakangi pilar pertama ikigai ini. Kodawari dalam bahasa Jepang berarti ‘etos kerja untuk mengembangkan sesuatu secara berkelanjutan dengan penuh ketekunan.’ Hm, mungkin terdengar abstrak bagi kalian? Contohnya bisa lebih dijelaskan dalam cerita dibawah ini.

Pernahkah kalian menonton SpongeBob Squarepants? Tentunya kalau kalian anak 90-an, pasti kenal dengan Tuan Krabs, bukan? Dalam perjalanannya mendirikan restoran, ia sempat berteman dengan Plankton. Mereka dulunya pemuda miskin yang selalu di-bully karena tidak punya uang untuk membeli burger. Sampai suatu ketika, Plankton dan Krabs memutuskan untuk mendirikan gerai burger bersama-sama.

Usaha mereka awalnya hanya berupa gerai burger sederhana dan tidak terlalu sukses karena harus bersaing dengan restoran lain yang lebih populer. Namun ketika akhirnya usaha mereka berkembang, keduanya justru berpisah karena perbedaan prinsip. Plankton ingin menambahkan bumbu lain dalam resep burger mereka, sedangkan Krabs tidak setuju dengan hal itu. Mereka pun bertengkar dan akhirnya Plankton mendirikan restorannya sendiri. Krabs pun mengurus gerainya sendiri hingga akhirnya mendirikan Krusty Krab.

Yah, mungkin cerita ini hanyalah fiksi, tapi cerita ini memuat falsafah kodawari. Tuan Krabs tidak langsung sukses dalam bisnisnya, tapi ia memulai dari gerai sederhana yang sepi pengunjung. Ia juga harus merasakan di-bully, dikhianati sahabat sendiri, sampai akhirnya lewat etos kerja dan ketekunannya, ia bisa membangkitkan bisnisnya dan mendirikan restoran burger paling populer di Bikini Bottom.

Contoh lain di dunia nyata dari kodawari adalah perusahaan Apple yang didirikan Steve Jobs. Kita tahu bahwa produk-produk Apple selalu menjunjung inovasi dan kreativitas, namun di sisi lain, mereka juga menjaga kualitas produk mereka. Kodawari yang diterapkan Apple adalah terus memperbaiki diri selagi berproses, selalu mengikuti perkembangan zaman, dan memahami kebutuhan konsumen. Maka dari itu, hingga kini, belum ada perusahaan teknologi yang bisa menyaingi kualitas fitur-fitur produk Apple. Mungkin saja prinsip dari kodawari yang menyebabkan iPhone jarang drop dipasaran.

2.  Membebaskan diri

Pilar kedua ikigai ini mengingatkan kembali dengan cerita SpongeBob. Kalian tentu kenal dengan Squidward, kan? Kita semua yang tumbuh dengan SpongeBob di masa kecil pasti sepakat bahwa Squidward dan adalah perwujudan ‘masa dewasa yang kelam.’ Squidward selalu bermimpi menjadi seorang seniman, namun karya seninya tidak pernah dihargai.

Bekerja di Krusty Krab sebagai kasir pun dijalaninya untuk bertahan hidup. Itu pun dengan digaji seadanya oleh Tuan Krabs. Berbeda 180 derajat dengan SpongeBob. Sekalipun bekerja sebagai koki, SpongeBob masih suka bersenang-senang dengan Patrick, contohnya meniup gelembung, menangkap ubur-ubur, atau sekedar main-main dengan kotak bekas.

Singkatnya, SpongeBob adalah perwujudan pilar kedua ikigai, yaitu membebaskan diri merasakan hal-hal yang membuatnya senang, berkebalikan dengan Squidward yang selalu mengeluh, tidak membiarkan dirinya merasakan kenikmatan hidup.

Nah, bagi kalian yang merasa burnout dengan pekerjaan, cobalah untuk berhenti sejenak dan menarik napas. Tidak ada salahnya kalian menghentikan pekerjaan untuk bermain-main. Pepatah Inggris juga berkata: “All work and no play makes Jack a dull boy,” yang artinya “kalau kita tidak punya waktu untuk bermain-main, kita akan menjadi pribadi yang membosankan.” Terdengar seperti Squidward, bukan?

3.  Keselarasan dan kesinambungan

Poin ketiga ini dicontohkan dengan kartun Kung Fu Panda. Kartun ini adalah salah satu tontonan yang dapat diambil pelajaran untuk menerapkan pilar kedua ikigai.

Di salah satu adegan film kedua Kung Fu Panda, si tokoh utama, Po, belajar mencari inner peace lewat latihan semadi bersama gurunya, Master Shifu. Awalnya, Po kesulitan menerapkan ajaran gurunya itu, karena baginya akan sulit sekali bersemadi kalau selalu terdistraksi oleh dunia luar.

Singkat cerita, dia berhasil menemukan inner peace bukan melalui semadi, tapi melalui banyak aspek dalam hidupnya. Ia berdamai dengan trauma masa lalunya, membangun kembali koneksi dengan ayahnya, dan berlatih dengan tekun.

Sama halnya dengan perjalanan Po menemukan inner peace, pilar ‘keselarasan dan kesinambungan’ dalam ikigai adalah menikmati proses dalam mencapai sesuatu yang kita inginkan dan tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan.

Kalian juga akan menemukan kemiripan pilar ketiga ini dengan prinsip slow living dalam lifestyle Barat yang sedang populer saat ini. Slow living sering kali diasosiasikan dengan hidup tradisional, meninggalkan teknologi, dan ‘menyepi’ ke daerah terpencil. Tapi sebetulnya, slow living juga bisa dilakukan dengan membiarkan diri beristirahat jika memang diperlukan.

4.  Kegembiraan dari hal-hal kecil

Ingat kisah Mbak Jajan yang tadi diceritakan? Sebetulnya, Mbak Jajan ini bisa berjualan di tempat lain yang lebih banyak pelanggan, tapi beliau memilih setia di sekretariat B-21 dan menjajakan makanan dengan harga terjangkau. Alasan beliau suka mampir berjualan ke sekretariat adalah karena merasa senang diajak ngobrol dengan mahasiswa-mahasiswa yang nongkrong di sana. Mengobrol dengan mahasiswa dan mendengarkan keluh kesah mereka adalah kesenangan dari hal-hal kecil yang ditemukan Mbak Jajan.

Contoh lainnya, di sebuah program televisi Jepang bertajuk TV Champion yang dulu sempat populer di pertengahan 2000-an, pernah disiarkan sebuah lomba membuat sushi. Juara lomba ini adalah seorang pembuat sushi yang merupakan pemilik kedai kecil sederhana. Ia meneruskan usaha kedai sushi dari keluarganya, yang secara turun temurun mewariskan pula teknik membuat sushi secara tradisional.

Tapi ketika ditanya, kenapa dia tidak membuat sushi secara modern, ia hanya menjawab, “Karena membuat sushi dengan cara (tradisional) membuat saya menghargai prosesnya. Saya menikmati sensasi kepuasan yang saya dapatkan setelah sushi tersebut disajikan kepada pelanggan. Ketika mereka memakannya dan tersenyum, bagi mereka sushi buatan saya mengingatkan mereka dengan masa kecil.”

Pilar keempat ikigai menggarisbawahi pentingnya kita untuk menikmati hal-hal kecil yang terjadi dalam proses kita mempersembahkan atau melakukan sesuatu. Bagi Mbak Jajan dan sang juara TV Champion, hal-hal kecil yang mereka temui dalam pekerjaan mungkin berbeda, tetapi inti kesenangannya tetap sama: mereka senang apabila orang lain senang akan keberadaan mereka, meskipun mereka hanya menjual makanan atau membuat sushi.

5.  Hadir di tempat dan waktu sekarang

Masih ingat konsep psikologi tentang mindfulness? Mindfulness dan pilar kelima ikigai ini sangat berkaitan erat, bahkan bisa jadi sangat mirip. Intinya, dalam melakukan pekerjaan atau kegiatan sehari-hari, usahakan kita fokus pada apa yang kita lakukan.

Sering kali kasusnya adalah kalau kita sudah berasumsi duluan bahwa pekerjaan kita jelek, tidak akan dihargai orang, atau bakal ada sesuatu yang buruk menimpa kita sehingga menghambat pekerjaan, kita akan terpaku pada pikiran-pikiran itu dan susah fokus.

Atau misalnya, ada pertengkaran dalam hubungan bersama pacar, lalu dalam semalam pasangan menggunakan silent treatment, padahal keesokan harinya masih harus meeting dengan rekan kantor. Akan sangat memalukan, jika tiba-tiba teringat wajah pacar lalu ditertawakan rekan kerja atau kena semprot atasan karena bengong di tengah meeting?

Kembali lagi pada prinsip bahwa ikigai berpatokan pada etos kerja dan ketekunan, menurut pilar kelima ikigai ini, menjadi mindful terhadap pekerjaan penting untuk membangun sense terhadap kenyataan yang terjadi pada diri kita. Kalau kita capek, maka kita harus istirahat. Jangan sampai gara-gara kurang istirahat, pekerjaan kita terhambat. Ingat, menikmati proses dalam pekerjaan juga bukan berarti mengabaikan kebutuhan fisik dan mental, ya!

Itu dia sekilas mengenai ikigai. Apakah di antara kalian sudah ada yang mempraktikkannya? Kalau belum, bukan berarti terlambat bagi kalian untuk memulainya. Sambil jalan, mari renungkan bersama lima pertanyaan ini:

  1. Selain soal uang, apa saja 3 hal yang membuat kamu ingin menjalani pekerjaanmu saat ini?
  2. Apa saja hal-hal menyenangkan yang kamu dapatkan dari pekerjaanmu saat ini?
  3. Jika kamu diminta mengerjakan sesuatu yang berat sesuai dengan keahlianmu, bagaimana kamu memandangnya?
  4. Jika kamu harus berhenti dari pekerjaanmu, apa yang membuat kamu merasa kehilangan selain uang?
  5. Bayangkan dirimu 10 tahun ke depan. Jika kamu masih akan melaksanakan pekerjaan yang sama, apakah kamu akan tetap menyukai pekerjaanmu? Mengapa?

Cobalah jawab lima pertanyaan di atas, lalu cocokkan dengan esensi lima pilar ikigai. Kalau kalian belum bisa menjawab seluruhnya, tidak apa-apa. Refleksi kan diri kalian termasuk kegiatan sehari-hari yang butuh proses. Jadi, selamat ber-refleksi diri untuk mencapai ikigai!

References:

Mogi, K. (2021). The Book of Ikigai: Untuk Hidup Seimbang, Lebih Bahagia, dan Panjang Umur. Jakarta: Noura Publishing.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *