Kita semua tahu teman kita yang sebenarnya pintar, tetapi mengakuinya kalau dia bodoh. Fenomena ini di dalam Psikologi Sosial dinamakan Self-Deprecation atau merendahkan diri. Padahal, bukannya kita harus menjadi nama baik dan imej kita di muka umum? Simak lebih lanjut untuk penjelasannya.

Apa itu Self-Deprecation?

Self-deprecation merupakan salah satu cara untuk berkomunikasi dan sering kali hadir melalui self-deprecating jokes. Bisa dikatakan jika perkataan yang mengandung evaluasi diri negatif termasuk self deprecating (Speer, 2019).

Berarti temanmu yang pintar itu, tetapi mengatakan dirinya bodoh termasuk self-deprecating! Masih ada banyak contoh lainnya, seperti lelucon yang menertawakan diri sendiri.

Namun apa tujuan orang-orang ini? Kenapa mereka menjatuhkan diri mereka di depan orang lain? Seharusnya mereka bangga dan positif terhadap diri mereka sendiri bukan?

Menurut Speer SA (2019) kita melakukan self-deprecation agar terkesan rendah hati dan tidak angkuh kepada lawan bicara, serta sering kali dilakukan saat ada seseorang dengan status yang lebih tinggi. Penelitian tersebut juga menambahkan jika aksi “merendahkan diri” itu akan membuatmu terkesan lebih disukai, karena menciptakan pemahaman di antara kamu dan orang lain.

Coba kamu bayangkan bertemu orang baru, tetapi dia langsung menyombongkan pencapaiannya saat kalian bertemu. Apakah orang tersebut akan kamu anggap sopan? Tidak bukan? Secara kebudayaan, menyombongkan pencapaian selalu diasosiasikan dengan pribadi yang tidak sopan dan narsis. Karena itu, kita berusaha meremehkan nilai positif diri dan merendahkan diri agar terlihat rendah hati.

Self Deprecating Jokes

Contoh Self-deprecating jokes
Contoh Self-deprecating jokes

Lelucon yang menertawakan diri sendiri atau self-deprecating jokes kerap kita temui di media sosial, baik itu di FaceBook, Twitter, atau Instagram, seperti contoh yang diatas. Self-deprecating jokes sudah ada sejak lama dan studi Matwick & Matwick (2017) mendorong ide jika lelucon ini merupakan salah satu cara untuk berkomunikasi.

Tentunya tidak salah untuk melakukan lelucon seperti ini, justru pada beberapa saat bisa membantu membuat kita merasa lebih baik. Namun, kalau digunakan untuk mencari perhatian sudah beda lagi ya kasusnya.

Menurut Dr Sheri Jacobson, direktur klinis di Harley Therapy, tidak semua orang melakukan Self-deprecation secara sengaja dan itulah yang menjadi titik awal permasalahannya. Kebiasaan untuk melakukan self-deprecation dapat menjadi penanda awal harga diri yang rendah (Chandler, 2017).

Apabila self-deprecation ini terus menerus dilakukan dan orang-orang lain juga setuju dengan pernyataan itu, harga diri individu tersebut bisa menjadi lebih parah.

Apa Dampak dari Self-Deprecation?

Well, pastinya kita perlu melihat konteks dulu sebelum menilai dampak-dampak dari self-deprecation ini. Sering kali, orang-orang dengan kepercayaan diri yang rendah tidak menghargai dirinya sendiri. Sehingga hanya melihat kelemahan mereka dan karenanya menganggap diri mereka “tidak layak, tidak sebanding, atau sangat kekurangan” (Rosenberg 1979, p.54 dalam Owens, 1993).

Meskipun self-deprecation diasosiasikan dengan rendah hati, tetap ada kemungkinan terjadinya self-sabotage, efek samping yang bisa berpengaruh buruk. Self-sabotage adalah perilaku atau pola pikir yang menghambat dan mencegah seseorang untuk melakukan sesuatu (Raypole, 2019).

Kita semua pasti pernah berpikir “wah sepertinya ini tidak mungkin”, “Mana saya mampu, saya hanya orang biasa” atau “Kenapa sih aku seperti ini, bodoh banget”. Pikiran seperti itu hanya mencegah kita dalam mencapai kehebatan, seakan-akan sudah kalah sebelum berperang.

Self-deprecation secara konstan dapat mendorongmu semakin jauh ke dalam jurang kegelapan. Kamu melihatnya sebagai cara membuat orang di sekitarmu tertawa dengan mengorbankan harga diri dan kepercayaan dirimu. Nantinya kamu akan semakin mengabaikan pencapaianmu dan hanya berfokus terhadap kekuranganmu. Berikut beberapa dampak negatif self-deprecation yang dapat termanifestasi:

Merasa depresi dan cemas

            Coba lihat self-deprecation sebagai ejekan terhadap dirimu sendiri. Memang terkadang tidak apa-apa untuk melakukannya, tetapi jika dilakukan terus menerus bisa menjadi bahaya bukan? Bahkan self-deprecating humour diasosiasikan dengan depresi dan kecemasan (Rnic, Dozois, & Martin, 2016).

Menjadi semakin pesimis

Bayangkan jika seseorang mengatakan lelucon jika seluruh pencapaian selama kehidupannya tidak berharga dan dia hanya beruntung, apakah kamu akan ikut tertawa bersamanya? Justru kamu akan merasa kasihan bukan? Melalui self-deprecation, kebahagiaan baik besar atau kecil akan mudah hilang karena orang tersebut tidak berfokus kepada kebahagiaan itu.

Efek Positif dari Self-Deprecation 

Menariknya, self-deprecating juga memiliki efek positif! Temuan Matwick & Matwick (2017, p.33) menggagas jika lelucon yang menertawakan diri itu seperti kritik terhadap diri sendiri dan mampu mengurangi judgement yang diterima.

Jurnal yang menganalisis self-deprecating humour (Chaerani & Junaidi, 2019) pada akun @dietstartstomorrow menemukan bahwa melalui lelucon seperti ini, para pengikutnya bisa melakukan self-disclosure mengenai kegelisahan atau sisi negatif mereka dengan lebih nyaman. Di konteks tersebut, self-deprecating humour menciptakan “safe space” yaitu kondisi tanpa judgement atau ejekan.

Melalui humor yang seperti ini, tidak jarang orang-orang bisa menemukan teman baru yang merasakan hal yang sama. Lelucon ini seperti mengenalkan diri kita kepada orang lain dengan cara yang rendah hati dan sekaligus memberitahu mereka kerentanan kita. Bahkan penggunaan self-deprecating jokes secara tepat dapat membuat orang lain merasa nyaman (Martin et al., 2013).

Pada akhir hari, memang merendahkan diri dapat menjadi metode untuk memulai percakapan, membuat teman tertawa, atau merendahkan diri agar tidak terlalu sombong. Namun, perlu diawasi agar tidak terlalu konstan dilakukan. Menertawakan diri memang asik, tetapi kalau terus-menerus juga berlebihan bukan?

“The neurotic who learns to laugh at himself may be on the way to self-management, perhaps to cure” – Gordon Allport (1968) dalam Brown (2019).

References

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *