Image default

Menggunakan Role Model untuk Mendukung Proses Belajar dan Perjalanan Pendidikan

Belum lama ini, Indonesia mendapatkan kabar gembira dari salah satu public figure yang berhasil menyelesaikan pendidikan pascasarjana di sebuah universitas prestigious dunia. Ia adalah Maudy Ayunda, sosok public figure yang tidak hanya terkenal dengan kepiawaiannya di dunia seni, tetapi juga kecerdasan serta capaian di dunia pendidikan yang tidak perlu diragukan lagi. Berkat capaiannya tersebut, banyak dari pelajar yang menjadikan Maudy sebagai panutan atau role model dalam belajar untuk meraih cita-cita mereka.

Berkaitan dengan role model, setiap individu pasti memiliki sosok atau orang yang dijadikan role model, terlepas dari perbedaan makna dan nilai yang diyakini setiap individu. Peran role model ini tidak dapat dilepaskan dari keseharian kita, baik berkaitan dengan kehidupan terutama mengenai pendidikan.

Pernahkah terlintas dalam benak kita kenapa kita memerlukan sosok role model dan seberapa besar pengaruh yang diberikan dalam kehidupan kita, terutama berkaitan dengan pendidikan dan pembelajaran? Melalui artikel ini akan dibahas beberapa hal untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan terkait role model dalam kehidupan kita sebagai seorang pelajar.

Apa itu role model?

Role model adalah seseorang yang penting bagi individu yang bersangkutan baik dari keluarga, lingkungan, maupun orang yang tidak dikenal secara pribadi. Role model memberikan contoh perilaku yang dapat diikuti atau dicontoh oleh orang lain (Kearney & Levine, 2020).

Sedangkan Morgenroth, Ryan dan Peters (2015) menambahkan bahwa role model merupakan sumber pengaruh sosial positif yang dapat mempengaruhi orang lain dengan cara tertentu, baik mempengaruhi perilaku untuk mencapai tujuan yang sudah ada ataupun mempengaruhi munculnya tujuan baru dan juga memotivasi untuk meraihnya.

Berdasarkan definisi tersebut, role model pada konteks pendidikan dapat dimaknai sebagai sosok atau orang memiliki peranan penting dan menjadi sumber dan inspirasi positif pada bidang pendidikan bagi individu baik dari keluarga maupun di luar keluarga.

Misalnya saja seperti Maudy Ayunda, Tasya Kamila, Jerome Poline dan masih banyak lagi yang menjadi role model bagi individu yang memiliki cita-cita melanjutkan pendidikan di luar negeri dengan bantuan pendanaan dari instansi tertentu.

Peran role model

Pada beberapa aspek kehidupan manusia terutama berkaitan dengan belajar dan pendidikan, role model memberikan dampak tersendiri bagi individu yang bersangkutan. Tidak sedikit dari kita yang telah merasakan dampak tersebut baik secara langsung maupun tidak langsung.

Meskipun role model telah banyak digunakan dan diterapkan dalam kehidupan, mungkin beberapa orang masih bertanya-tanya mengenai cara role model mempengaruhi motivasi individu mencapai tujuan yang yang dimiliki setiap individu.

Role model pada dasarnya mengacu pada theory of social learning yang dikemukakan oleh Bandura. Teori tersebut menjelaskan bahwa pada dasarnya proses belajar pada individu dapat terjadi karena observasi yang dilakukan individu terhadap lingkungan maupun orang lain yang yang di sekitarnya (Cherry, 2019).

Hal ini dapat dilihat pada eksperimen Bobo Doll yang dilakukan Bandura yang menunjukkan bahwa individu (dalam penelitian ini adalah anak-anak) melakukan hal yang sama dengan apa yang mereka lihat.

Sedangkan ketika teori tersebut diaplikasikan untuk menjelaskan role model seperti yang dijabarkan Morgenroth dkk. (2015) maka dapat dipahami bahwa role model membawa manfaat pada peningkatan motivasi pada indidivu yang melihat atau mengobservasi model tersebut yang mana akan meningkatkan outcome yang ada maupun sebaliknya.

Contoh sederhananya adalah seorang mahasiswa baru yang termotivasi dan cenderung melakukan hal yang sama dengan kakak tingkatnya yang telah berhasil memenangkan juara diajang bergengsi. Rasa motivasi dan perilaku tersebut muncul setelah mahasiswa baru tersebut mengamati kakak tingkat yang ia jadikan role model tersebut.

Selain mempengaruhi cara individu berperilaku terhadap cita-citanya, role model juga turut mempengaruhi fungsi kognitif dan strategi emosional pada individu sehingga motivasi untuk mencapai tujuan juga semakin meningkat (Morgenroth dkk., 2015).

Melalui penelitian berupa literature review yang dilakukan, Morgenroth, Ryan dan Peters (2015) menjelaskan dinamika role model, motivasi serta tujuan atau goals dengan framework terbaru yakni the Motivational Theory of Role Modeling.

Berdasarkan analisis Morgenroth dkk (2015) terhadap beragam definisi dan hasil penelitian terdahulu, dapat dipahami bahwa role model memiliki tiga peran yang mempengaruhi motivasi dan tujuan individu. Ketiga fungsi dijelaskan oleh Morgenroth, Ryan dan Peters (2015) sebagai berikut

1. Model perilaku atau behavioral models

Pada fungsi ini, role model berperan sebagai model atau contoh perilaku maupun keterampilan tertentu yang dilakukan oleh seorang profesional dan menjadi contoh bagi orang lain untuk mencapai hal serupa (Ibarra & Petriglieri dalam Morgenroth dkk., 2015). Perilaku yang muncul dari role model tersebut berfungsi layaknya deskripsi akan perilaku yang membawa pelakunya kepada kesuksesan mencapai target tertentu.

Sebagai contoh, seorang siswa peserta Olimpiade Sains Nasional (OSN) memiliki goal untuk memenangkan olimpiade tersebut seperti sang pelatih. siswa tersebut ini menjadikan sang pelatih sebagai role model untuk mencapai targetnya. Dalam upayanya mencapai target yang ada, ia menggunakan perilaku yang serupa dengan yang dahulu dilakukan pelatihnya untuk memenangkan OSN.

2. Representasi dari sebuah kemungkinan atau representing the possible

Peranan role model kedua menurut Morgenroth dkk. (2015) adalah role models as a representing of the possible. Fungsi ini bermakna bahwa role model mampu menunjukkan bahwa suatu target itu bisa untuk dicapai.

Namun demikian, hal yang ditunjukkan pada fungsi yang kedua ini tidak hanya menekankan pada vicarious learning. Pada peran kedua ini, role model memberikan kesempatan kepada orang lain mempelajari bahwa target yang dimiliki itu memungkinkan atau possible untuk dicapai.

Pada konteks pendidikan dan belajar, misalnya saja pada seorang siswa putra daerah berkesempatan untuk melanjutkan pendidikan pascasarjana dan mendapatkan beasiswa dari sebuah lembaga prestigious. Tokoh ini dapat menjadi role model bagi siswa lain yang berasal dari daerah yang sama atau serupa dengan putra daerah tersebut.

Dengan menjadi role model, ia dapat menunjukkan bahwa cita-cita untuk melanjutkan pendidikan tinggi dapat ia lakukan walaupun memiliki keterbatasan ekonomi dan berasal dari daerah yang jauh dari Ibu kota. Tidak hanya itu, pencapaian siswa putra daerah tersebut dapat memotivasi siswa lain dan juga menguatkan perilaku serupa.

3. Inspirasi atau being inspirational

Fungsi sebagai inspirasi berbeda dengan fungsi role model sebagai representasi dari sebuah kemungkinan maupun model perilaku. Jika pada fungsi representing the possible role model menunjukkan bahwa suatu target itu memungkinkan untuk dicapai, maka pada fungsi inspirasi ini role model berperan untuk pertama-tama memunculkan keinginan baru untuk melakukan sesuatu.

Yang dimaksudkan pada penjelasan tersebut, role model berfungsi untuk memunculkan semangat dan motivasi orang lain untuk berjuang untuk mencapai yang lebih baik dari sebelumnya maupun target baru lainnya. Sebuah contoh untuk menggambarkan fungsi inspirasi dari seorang role model adalah adanya inspirasi yang muncul dari keberhasilan kakak kelas yang diterima di sebuah universitas bergengsi.

Adik kelas yang melihatnya sebagai seorang role model akan cenderung mengembangkan karakteristik yang serupa dengan role model-nya tersebut serta memiliki target atau tujuan yang hampir sama atau lebih baik dari sosok kakak kelas tersebut.

Penerapan role model dalam belajar dan pendidikan

Setelah memahami yang makna, peranan dan juga dinamika singkat mengenai role model, kita jadi mengetahui kelebihan dari role model terutama untuk mendukung pencapaian cita-cita kita. Menentukan role model bukanlah perkara yang mudah untuk dilakukan dan tidak dapat disamakan antara satu individu dengan individu yang lain. Ada kalanya individu menemukan mimpi dan target yang ada kemudian menemukan sosok yang ia jadi role model karena mampu memotivasinya, tapi ada juga yang sebaliknya.

Sebagai contoh, seorang siswa SD memiliki seorang role model yaitu salah satu wanita yang mengabdikan dirinya di bidang kemanusiaan. Dengan fungsi inspirasi dari role model tersebut, siswa yang bersangkutan berupaya untuk menjadi seperti tokoh alpha girl tersebut secara positif dengan berbagai cara. Berdasarkan inspirasi yang datang dari role model-nya, siswa itu mulai mengembangkan kecintaan dan minat yang besar di bidang kemanusiaan.

Tidak berhenti pada hal tersebut, ia juga memiliki cita-cita atau target baru yang harus ia capai dengan belajar dan usaha ekstra. Kini berkat adanya inspirasi, motivasi, dan reinforcement dari role modelnya, siswa yang dulu masih kecil tersebut sedikit demi sedikit sudah hampir mencapai targetnya untuk mengabdi di ranah kemanusiaan seperti sang role model.

Dengan adanya penjelasan dan contoh singkat dari penerapan role model tersebut diharapkan dapat menjadi pilihan lain bagi teman-teman yang sedang mencari guidance untuk meraih cita-citanya. Role model ini penting untuk dicoba terutama terutama dalam kaitannya dengan proses belajar untuk meraih cita-cita. Sosok role model yang memberikan dampak positif saat ini lebih mudah untuk dicari melalui beragam pilihan media yang dapat diakses kapan pun dan dimana pun.

Referensi

  • Cherry, K. (2019, Desember 1). How Does Observational Learning Actually Work? Verywell Mind. https://www.verywellmind.com/social-learning-theory-2795074
  • Kearney, M. S., & Levine, P. B. (2020). Role Models, Mentors, and Media Influences. The Future of Children, 30(1), 83–106.
  • Morgenroth, T., Ryan, M., & Peters, K. (2015). The Motivational Theory of Role Modeling: How Role Models Influence Role Aspirants’ Goals. Review of General Psychology, 19. https://doi.org/10.1037/gpr0000059

Artikel Terkait

Leave a Comment