Seorang psikolog bernama Viktor Frankl pernah bilang dengan gamblang, bahwa makna hidup berasal dari keberanian dalam menghadapi kesulitan. Itulah mengapa harapan, atau hope memiliki peran penting dalam perjalanan hidup manusia di dunia. Frankl sendiri bilang, jika kamu tidak punya harapan, artinya kamu tidak punya tujuan hidup, dan apabila kita tidak punya tujuan hidup, kita akan kehilangan makna hidup itu sendiri.

Menurut Matthew Radcliffe (2012), kehilangan harapan termasuk dalam kesulitan-kesulitan psikologis dalam kasus depresi berat. Secara rinci, kesulitan-kesulitan psikologis itu terdiri atas:

1. Tidak adanya kemampuan untuk berharap akan sesuatu.

2. Tidak adanya kapasitas untuk mengharapkan sesuatu, ditambah dengan kurangnya kesadaran bahwa ada sesuatu yang hilang.

3. Hilangnya ‘aspiring hope,‘ yakni harapan untuk memperbaiki diri sendiri atau meningkatkan kehidupan seseorang.

4. Hilangnya rasa masa depan seseorang sebagai dimensi harapan, yakni keadaan demoralisasi yang sulit yang tidak perlu sepenuhnya kehilangan kapasitas untuk berharap.

5. Hilangnya kepercayaan pada dunia, yang membuat semua harapan ‘rapuh’ dan dapat membatasi cakupan konten harapan potensial.

Sebelum kita terpeleset lebih jauh, mari kembali pada definisi harapan itu sendiri. Menurut Bruininks (2012), harapan adalah atribut manusia yang biasanya dikategorikan sebagai emosi positif, seringkali terjadi di tengah keadaan negatif atau tidak pasti, dan bersifat kognitif, namun memiliki kualitas afektif unik yang memberi manusia motivasi untuk mengejar hasil di masa depan. Maka dari itu, harapan sering kita asumsikan sebagai suatu cara ‘melarikan diri dari realita,’ yang disebut Radcliffe sebagai radical hope. Radcliffe mengatakan radical hope sebagai optimisme tingkat tinggi, bahwa di balik kesulitan pasti ada akhir yang bahagia.

Tapi, yeah, technically, hidup tidak semulus itu, Ferguso. Selain itu, job saya kali ini bukan me-review karya tulis Radcliffe atau Frankl, melainkan sebuah buku dari Mark Manson dengan judul yang… eh, menggelitik, yaitu Everything is F*cked: A Book About Hope atau lebih dikenal dengan judul “Segala-galanya Ambyar: Sebuah Buku tentang Harapan” dalam bahasa Indonesia.

Sekilas Tentang Penulis

Apabila kalian belum mengenalnya, Mark Manson adalah seorang penulis, entrepreneur, dan motivator yang terkenal dari Amerika Serikat. Ia juga mendapatkan penghargaan New York Times Bestseller berkat karyanya, The Subtle Art of Not Giving A F*ck, yang menjadi rekomendasi buku psikologi hits di kalangan anak muda karena gaya penulisannya yang terkesan kekinian dan tidak judgmental dengan selipan dark jokes alias lelucon gelap yang akan membuat pembaca terkekeh-kekeh sendiri.

Buku The Subtle Art of Not Giving A F*ck atau Seni untuk Bersikap Bodoh Amat sudah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa, dan melalui buku itu, Manson mengajak pembaca untuk merenungkan hal-hal yang seharusnya tidak perlu dipikirkan. Salah satu karakter Manson yang menonjol dibandingkan penulis buku-buku pengembangan diri lainnya adalah kemampuannya menggabungkan humor sarkastis dan studi ilmiah untuk memaparkan ide-idenya.

Everything is F*cked
Sumber gambar: holidaymatinee.com

Nah, belakangan ini, Manson sekali lagi mengutak-atik otak kiri pembacanya dalam buku Everything is F*cked. Ia juga menyajikan kisah-kisah yang menarik sebagai pengikat teori-teori yang dipaparkannya, namun kita tidak tahu apakah kisah itu benar-benar terjadi atau tidak. Terlepas dari penuturannya yang menggelitik, saya mengakui bahwa topik buku ini ternyata lumayan berat untuk dicerna sebagai bacaan ringan.

Implikasi pada Dunia Saat Ini

Buku Everything is F*cked mulai ditulis sejak tahun 2019, namun pesannya dapat diaplikasikan pada keadaan kacau di dunia yang tengah dilanda pandemi COVID-19. Suka atau tidak, keambyaran akan selalu menjadi bagian dari hidup kita. Tapi bukan berarti ketika keadaan di sekeliling kita ambyar, kita juga ikut ambyar. Manson memang bukan psikolog seperti Frankl, tetapi poin-poin yang dipaparkannya mengajak kita untuk kembali pada pernyataan Frankl, bahwa harapan itu diperlukan agar kita bisa kembali melanjutkan hidup, tak peduli tantangan apa pun yang terjadi.

Masalahnya yang dituturkan Manson adalah, terkadang kita terlalu berpegang pada sebuah harapan yang terlalu tinggi, sampai lupa untuk fokus pada hal-hal yang kita bisa kontrol. Padahal, dengan kekacauan yang merajalela di mana-mana, ada kalanya harapan tidak membantu. Manusia tetap memiliki rasa takut dan khawatir. Hal-hal yang tak terduga di masa depan selalu menjadi momok. Contohnya pandemi COVID-19. Siapa, sih, yang menduga bahwa COVID-19 akan meluas dari Wuhan dan menjadi bagian dari keseharian kita? Sudah banyak korban berjatuhan akibat COVID-19. Apakah kita tidak boleh cemas akan situasi ini?

Tentu saja boleh, kecemasan itu hal yang manusiawi. Namun, terlalu cemas dan tidak melakukan apa-apa bisa menjadi masalah serius. Manson mewanti-wanti pembaca dalam buku ini mengenai bahayanya terlalu mengandalkan Otak Perasa dan tidak mengindahkan Otak Pemikir. Karena dengan demikian, kita jadi lupa bahwa di dalam kekalutan yang kita rasakan, kita bisa mencari pemecahan masalah. Namun begitu pula sebaliknya, apabila Otak Pemikir juga terlalu diandalkan dan Otak Perasa tidak diindahkan, hasilnya kita menjadi individu yang tidak seimbang. Kita jadi mengabaikan nilai-nilai moral, bertindak gegabah hanya karena menurut kita itu logis, dan sebagainya.

Kritik dan Saran Untuk Pembaca

Buku ini merupakan sebuah bacaan yang menarik, dan kamu tidak harus memahami psikologi untuk mencerna isi bukunya. Justru hal itulah yang membuat bahasan Manson cocok bagi semua kalangan. Ia tidak membatasi latar belakang ilmu, sosial, maupun ekonomi yang ingin membaca bukunya. Meskipun demikian, saya mengingatkan bahwa buku ini juga membawa sebuah bahasan yang cukup sensitif, apalagi bila kamu termasuk orang-orang yang tidak menyukai dark jokes.

Salah satunya, ada bab dalam buku ini yang menyinggung tentang pemahaman agama, dan bagi pembaca yang salah tangkap bisa mengartikan bahwa Manson menjelek-jelekkan agama yang seolah-olah mengendalikan cara berpikir manusia dengan memberikan ‘implan’ harapan yang tinggi kepada mereka, misalnya dengan konsep bahwa Tuhan adalah Maha Pengampun, sehingga kebanyakan orang mengartikannya bahwa manusia bisa sesukanya berbuat dosa, karena mereka yakin manusia toh akan diampuni.

Nah, sebetulnya, poin pemahaman seperti inilah yang disinggung Manson. Kok berani-beraninya manusia menilai apa yang dipikirkan Tuhan? Padahal, tidak ada seorang pun yang tahu apakah kita bakal masih bekerja di tempat yang sama pada esok hari atau tidak mengalami kecelakaan saat mengemudi. Intinya, Manson mengkritik orang-orang yang bersikap ‘sok tahu’ ini karena mereka terlalu percaya dengan apa yang mereka yakini sampai-sampai lupa bahwa hidup membutuhkan usaha yang praktis.

 Eh, tapi tidak hanya itu saja. Masih banyak kritik-kritik lain yang dipaparkan Manson dalam buku ini, baik dari perspektif  ekonomi, sosial, dan politik. Saya tidak akan membeberkan poin-poin lain yang saya dapatkan dari buku ini, karena review ini akan terlalu panjang jadinya.

Maka dari itu, apabila kalian tertarik membaca buku ini, akan ada baiknya bila kalian tidak membacanya hanya karena kalian menginginkan motivasi, tetapi kalian juga harus memiliki pemikiran yang terbuka dan kritis.

Daripada mencari-cari harapan, berusahalah tidak berharap, tidak pula kalut. Juga, jangan takabur seakan Anda yakin Anda mengetahui semuanya. Anggapan bahwa Anda tahu segala-galanya dengan kepastian yang emosional, kuat, dan butalah yang terlebih dahulu membuat kita malu. Tidak perlu berharap menjadi lebih baik. Cukup jadilah lebih baik. Jadilah sesuatu yang lebih baik. Jadilah lebih murah hati, lebih tabah, lebih rendah hati, lebih disiplin. Banyak orang juga akan menambahkan petuah ‘jadilah manusia,’ tapi tidak… jadilah manusia yang lebih baik. Dan barangkali, jika kita mujur, suatu saat kita akan menjadi lebih dari sekadar manusia.”

Mark Manson

References:

Bruininks, P. (2012). The Unique Psychology of Hope. Dalam Patterns of Promise: Art, Imagination, and Christian Hope. Ashgate Publishing.

Manson, M. (2020). Everything is F*cked: A Book about Hope. New York: Harper Collins Publisher.

Ratcliffe, M. (2012). What is it to lose hope?. Phenomenology and The Cognitive Sciences. 12. 10.1007/s11097-011-9215-1.

2 Responses

  1. Wah ini adalah Wishlist bukuku setelah buku terjemahannya yang berjudul “SEBUAH SENI BERSIKAP BODO AMAT ” aku membelinya bulan November 2020 dan selesai kubaca Januari awal 2021. Bukunya bagus dan memotivasi sekali , Mark Manson menghadirkan berbagai kisah inspiratif dan tips yang menarik yang dikemas dalam buku ini , aku paling suka saat ungkapan ini ” Jika mengejar yang positif adalah negatif, maka mengejar yang negatif menghasilkan yang positif. Rasa sakit yang kamu kejar di gym menghasilkan kesehatan dan energi yang lebih baik. Kegagalan dalam bisnis adalah apa yang mengarah pada pemahaman yang lebih baik tentang apa yang dibutuhkan untuk menjadi sukses. ” Saat pertama kali baca kalimat awal , aku sangat terkejut dalam hatiku ” masa iya aku harus mengejar hal negatif ” setelah kubaca sampai selesai aku tau Mark Manson atas tulisannya. Kalau aku bisa kasih rating aku mau kasih untuk buku ini 4,5 dari 5 . Pokokya recomended buat yang suka baca buku self improvement sepertiku dan semoga punya rezeki buat baca buku ini versi terjemahannya ” SEGALA – GALANYA AMBYAR “

  2. Aku punya temen yang dia itu akhir-akhir ini bingung karena ngga punya rencana apa-apa ke depan. Ngga ada gairah punya harapan apa nanti ke depan. Apa itu tandanya dia sedang mengalami depresi kak?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *