Image default

Review Film Soul Dari Sudut Pandang Psikologi: Mencari Life Purpose Demi Kebermaknaan Hidup

Perhatian: mungkin mengandung spoiler.

Pada 25 Desember 2020, Disney/Pixar merilis sebuah film animasi berjudul Soul. Film ini mengisahkan tentang Joe Gardner, seorang pria yang bercita-cita menjadi pianis jazz terkenal, namun justru mengalami banyak rintangan dalam perjalanannya menggapai mimpi. Film ini digadang-gadang menjadi kandidat pemenang Oscar untuk Best Animated Feature. Selain itu, Soul juga diharapkan menjadi pemenang Best Picture pertama dari Pixar. Di balik animasinya yang indah dan ceritanya yang menarik, Soul juga menyimpan banyak pesan mengenai pencarian life purpose. Seperti apa, sih? Kali ini kita akan mengkaji sedikit mengenai film ini serta beberapa pesan di dalamnya yang mengarah pada life purpose.

Kisah di Balik Layar

Soul merupakan salah satu proyek ambisius Disney/Pixar yang disetir oleh Pete Docter. Sebelumnya, Pete Docter pernah bekerjasama dengan Pixar dalam beberapa film, antara lain Monsters, Inc. (2001), Up (2009), dan Inside Out (2015), yang berhasil memenangkan piala Oscar pada tahun 2016. Pete Docter memiliki ide menggarap proyek Soul di tahun yang sama. Docter mengeksplorasi tema tentang pencarian makna hidup dalam film ini dengan sebuah pertanyaan besar: “Dalam waktu yang yang terbatas di bumi ini, apa saja hal-hal yang ingin kamu raih?”

Melalui film Soul, Docter mengajak kita untuk berkontemplasi. Ia terus menerus menyodorkan pertanyaan, “Apakah hidup yang kita jalani ini sudah seperti yang kita inginkan?” dan “Apakah kita sudah mencapai tujuan hidup kita?” dalam setiap dialog di film ini. Bisa dibilang bahwa topik yang berat seperti ini sangat sulit dibahas dalam film animasi, yang notabene diperuntukkan bagi anak-anak. Maka dari itu, Docter juga berharap bahwa penonton Soul tidak hanya anak-anak, tetapi juga orang dewasa, termasuk diantaranya yang sedang mengalami krisis identitas diri.

Tema-tema lain yang dieksplorasi oleh Soul selain makna kehidupan adalah persahabatan, keluarga, dan emosi negatif. Apabila sebelumnya, dalam film Inside Out, Pete Docter juga membahas mengenai pentingnya mengeksplorasi emosi negatif, dalam film Soul, Pete Docter memperluas kajian mengenai emosi negatif yang diasosiasikan dengan grief atau duka cita. Maka dari itu, Docter menegaskan pada kita melalui Soul, bahwa tidak hanya menyadari adanya emosi negatif, kita juga diharapkan bisa mengatasinya. Tidak hanya karena kehilangan orang terdekat, tetapi juga duka cita karena kehilangan mimpi dan harapan.

Tina Fey dan Jamie Foxx
Pemeran Soul: Tina Fey dan Jamie Foxx | Alberto E. Rodriguez/Getty Images for Disney

Kisah Utama

Seperti yang sudah disampaikan sebelumnya, Soul adalah kisah tentang Joe Gardner, seorang guru musik SMP yang sedang bersusah payah melatih murid-muridnya bermain dalam sebuah band jazz. Suatu ketika, Joe mendapatkan tawaran untuk melamar sebagai pianis grup jazz di sebuah klub. Joe begitu kegirangan, apalagi klub tersebut dulunya adalah tempat ayahnya bekerja sebagai pianis juga. Meskipun demikian, awalnya Joe merasa grogi, karena pentolan grup musik jazz di klub tersebut adalah idolanya, Dorothea Williams. Untungnya, ketika Dorothea menyaksikan bakat Joe, ia terkesan dan menerima lamarannya. Saking gembiranya, saat berjalan pulang, Joe terjatuh ke dalam sebuah lubang galian dan terbangun dalam wujud jiwa yang melayang-layang. Saat itu, Joe menyadari bahwa ia berada dalam dunia ambang batas hidup dan mati. Jiwa-jiwa itu akan menaiki eskalator menuju The Great Beyond (semacam akhirat). Joe terkejut. Ia belum siap untuk mati, padahal ia baru saja memulai impiannya. Joe pun berusaha kembali ke bumi, tapi selalu gagal.

Di saat-saat sulitnya tersebut, Joe dipertemukan dengan jiwa baru bernama 22. Dikisahkan, jiwa 22 tidak kunjung diloloskan ke bumi karena selalu menolak belajar tata cara hidup di bumi. Tapi akhirnya, 22 setuju bekerjasama dengan Joe untuk membantunya kembali ke bumi.

Singkat cerita, keduanya berhasil pergi ke bumi melalui sebuah portal berkat bantuan jiwa lain bernama Moonwind. Namun karena sebuah keteledoran, jiwa 22 malah masuk ke tubuh Joe yang terbangun rumah sakit, sedangkan jiwa Joe masuk ke tubuh seekor kucing terapi. Repotnya, di hari yang sama, rupanya Joe harus menghadiri pentas pertamanya dengan band jazz Dorothea Williams. Akhirnya, Joe dan 22 harus mencari cara mengembalikan jiwa Joe ke tubuh aslinya. Di sisi lain, dalam tubuh Joe, 22 justru mengalami banyak kejadian yang tidak dia alami selama di The Great Before dan belajar hal-hal baru. Nah, sementara 22 dan Joe berkutat dengan masalah-masalah duniawi, seorang akuntan di dunia ambang bernama Terry mencari Joe gara-gara Joe melarikan diri dari rombongan jiwa yang akan dibawa ke akhirat. Cerita pun menjadi semakin kompleks. Tentu saja, untuk mengetahui kelanjutannya, kamu bisa menontonnya sendiri apabila tidak menginginkan spoiler.

Selain mengisahkan petualangan 22 dan Joe, film Soul juga memaparkan kisah-kisah sampingan yang relatable. Seperti apa sajakah itu?

Pelajaran Hidup dalam Kisah Sampingan

Yang pertama adalah kisah teman Joe yang bernama Dez yang mengorbankan sekolah kedokteran demi bekerja di sebuah salon. Meskipun demikian, ia tidak merasa menyesal karena memilih jalan hidup tersebut. Justru dengan menjadi tukang cukur, ia banyak bertemu dengan orang-orang dan mendengar kisah-kisah hidup dari mereka. Menurut Dez, hanya dengan mendengarkan dan mencukur rambut orang, dia sudah membuat orang merasa bahagia, apalagi ketika melihat penampilan mereka yang lebih baik. Dari situlah Dez juga menyadari bahwa life purpose-nya adalah menjadi orang yang berguna bagi orang lain dan membuat mereka bahagia melalui usaha cukur rambutnya.

Kisah kedua adalah mengenai 22. Selain menjadi jiwa yang paling bandel, rupanya 22 memiliki masalah kepercayaan diri. Ia selalu merasa tidak layak jika harus menjalani hidup di bumi. Ia juga mendapatkan banyak cercaan jiwa-jiwa lain yang pernah berusaha mengajarinya tentang kehidupan bumi. Itulah yang menyebabkan 22 jengah dengan usaha pergi ke bumi dan merasa tidak lagi tertarik jika harus menjalani hidup di bumi. Kisah 22 ini banyak dialami oleh orang-orang di sekitar kita, bahkan kadang oleh kita sendiri.

Kisah ketiga adalah mengenai jiwa-jiwa yang hilang. Film ini mengenalkan kita pada tokoh Moonwind, seorang tukang pembawa papan nama toko yang bekerja sampingan menjadi guru spiritual. Ketika bertemu Joe dan 22, Moonwind mengenalkan mereka pada jiwa-jiwa yang hilang tersebut. Ia mengatakan kepada Joe bahwa jiwa-jiwa yang hilang adalah perwujudan dari orang-orang yang depresi. Apabila sudah demikian, maka jiwa-jiwa tersebut harus disembuhkan dengan treatment berupa musik dan meditasi.

Kisah keempat terletak di pertengahan akhir film, yakni mengenai keluarga Joe. Ibu Joe adalah seorang penjahit yang memiliki butik sendiri, sementara ayah Joe hanya dikisahkan bekerja serabutan. Ayah Joe juga menyukai jazz dan ingin menjadi pianis jazz terkenal, namun ia tak kunjung menghidupi mimpinya tersebut hingga ia meninggal. Inilah yang menjadi salah satu pendorong Joe untuk menjadi pianis jazz, yakni demi meneruskan mimpi ayahnya dan membuat ayahnya bangga. Meskipun demikian, ibu Joe selalu bersikap skeptis terhadap mimpi Joe menjadi pianis. Ia menginginkan Joe memiliki pekerjaan yang lebih layak, sehingga ia bisa mengangkat perekonomian keluarganya menjadi lebih baik.

OK, kita sudah selesai membahas kisah utama dan kisah-kisah sampingan dalam film ini. Tapi, bagaimana dengan life purpose itu sendiri? Mari lanjutkan kajian kita!

Apa Itu Life Purpose?

Banyak sekali kajian psikologi yang bisa kita ambil dari Soul. Namun, tetap saja tema terbesar yang digarisbawahi oleh film ini adalah life purpose. Tapi, apa sih sebenarnya life purpose?

Dalam bukunya, Life on Purpose How Living for What Matters Most Changes Everything, profesor dari University of Michigan, Victor Strecher, menyusun sebuah soal menarik yang dapat membantu kita memahami dan menemukan life purpose, yang terdiri atas pertanyaan sebagai berikut:

  1. Apa yang paling berharga bagi Anda?
  2. Siapa yang bergantung pada Anda?
  3. Siapa yang menginspirasi Anda?
  4. Apa saja alasan-alasan yang Anda pedulikan (dalam hidup)?
  5. Apa yang Anda syukuri?
  6. Apa yang membuat Anda bersemangat bangun pagi?
  7. Bagaimana Anda ingin dikenang?

Ketujuh pertanyaan itu terdengar sepele, tapi cobalah untuk menjawabnya satu per satu dengan bersungguh-sungguh. Mungkin banyak di antara kalian yang merasa kesulitan menjawabnya. Tidak semudah yang dibayangkan, bukan?

Itulah yang dimaksud oleh Strecher. Menemukan life purpose memang tidak mudah. Strecher (2016) mendefinisikan life purpose sebagai suatu hal menjadi motivasi kita untuk menggerakkan diri mencapai keinginan terbesar dalam hidup. Life purpose adalah sebuah tujuan hidup yang tersentralisasi. Oleh sebab itu, setiap orang yang memiliki life purpose harus melalui tahap self affirmation, yakni meyakini bahwa suatu hal adalah sesuatu yang penting baginya. Life purpose berbeda dari cita-cita. Suatu cita-cita bisa hanya berupa materiil seperti status dan kekayaan. Life purpose adalah suatu kebermaknaan hidup, yang terdiri dari nilai-nilai yang bersifat transendental. Dalam teori subjective well being, nilai well being yang dianut manusia terbagi menjadi dua jenis, yaitu nilai hedonik dan nilai eudaimonik, yang juga disebut sebagai nilai transendental. Apabila nilai hedonik berfokus pada hal-hal nyata yang bisa dirasakan dan mengacu pada kebahagiaan pribadi, maka nilai eudaimonik adalah sebaliknya. Nilai eudaimonik mengacu pada kebahagiaan yang didapatkan dari pemaknaan terhadap hidup (Angelina, 2006).

Nah, bagaimana kaitannya dalam film Soul? Contoh penerapan nilai eudaimonik ada pada tokoh Dez, teman Joe yang bekerja jadi tukang cukur alih-alih meneruskan kuliah kedokteran. Meskipun gagal memenuhi mimpinya menjadi dokter, ia tetap bahagia karena pekerjaannya sebagai tukang cukur masih bisa bermanfaat bagi orang lain dan membuat orang lain bahagia. Inilah nilai eudaimonik yang dianut Dez. Contoh kedua mungkin akan menjadi spoiler bagi yang belum menonton Soul, tapi bagi kamu yang sudah menonton, kamu tahu pada akhirnya, 22 terancam menjadi jiwa yang hilang karena keputusasaannya mengenai hidup di bumi. Pada titik inilah nilai eudaimonik Joe diuji. Ia dihadapkan pada dua pilihan: haruskah ia menyelamatkan 22 dengan mengorbankan impiannya, atau tetap mempertahankan nilai hedoniknya sebagai pianis jazz?

Manfaat Life Purpose

Kalau berbicara soal makna hidup, setiap orang pasti mendefinisikan hidupnya dengan makna yang berbeda-beda. Begitu pula dengan perjalanan untuk mencapainya. Apabila seseorang memiliki life purpose, orang tersebut akan lebih termotivasi untuk menjalani kehidupan itu sendiri. Adapun Strecher menyampaikan bahwa life purpose mempengaruhi individu melalui dua cara, yaitu secara psikologis dan biologis.

Manfaat Life Purpose Secara Psikologis

Kasus yang dipaparkan Strecher (2016) adalah saat Victor Frankl mengunjungi kamp konsentrasi Auschwitz. Ia bertemu dengan orang-orang yang mengalami peristiwa traumatis akibat perlakuan Nazi. Selama Frankl tinggal bersama penghuni Auschwitz, Frankl menemukan bahwa kebanyakan orang di sana memiliki tujuan hidup yang jauh berbeda dari sebelum dimasukkan ke dalam kamp. Hal ini membuktikan bahwa kehidupan di kamp konsentrasi telah mempengaruhi pola pikir mereka. Kemudian, studi lain juga dilakukan oleh Anthony Burrow dari Cornell University. Ia melakukan eksperimen dengan menanyai orang-orang yang naik L-train setiap hari dengan pertanyaan yang sama: “Apa tujuan hidupmu?” untuk mendapatkan afirmasi dari orang-orang tersebut. Mereka diminta menuliskan jawabannya pada kertas dan mengisi kuesioner. Hasilnya, orang-orang yang menuliskan tujuan hidupnya cenderung mengalami stres yang rendah daripada orang-orang yang tidak menuliskan tujuan hidupnya.

Manfaat Life Purpose Secara Biologis

Manfaat life purpose secara biologis juga dapat dibuktikan melalui hasil studi menggunakan fMRI. Otak memiliki sebuah bagian khusus bernama amygdala yang berperan penting dalam menghadapi peristiwa memicu emosi dan trauma, khususnya dalam proses recovery dari peristiwa tersebut (Gupta, dkk., 2011). Maka dari itu, ketika kita merasa takut, cemas, atau mengalami peristiwa traumatis, aliran darah akan semakin memusat ke amygdala, mengaktifkannya untuk melepaskan reaksi ‘keharusan melakukan sesuatu,’ sehingga amygdala-nyaakan membesar (Gongora, 2019). Namun uniknya, seseorang yang memiliki resiliensi yang tinggi akan cenderung memiliki aktivitas amygdala yang lebih stabil, karena amygdala-nyaakan lebih mudah kembali ke ukuran normal (Morey, 2012).

Meskipun demikian, peran amygdala tidak sebesar peran sebuah area bernama VmPC (ventromedial prefrontal cortex). Area kecil di otak ini berperan dalam penentuan life purpose karena berhubungan dengan kemampuan decision making serta mengatur respon emosi terhadap hal-hal di sekeliling kita. Apabila VmPC kita rusak, kita akan kesulitan menghubungkan perasaan dengan orang lain dan kurang memiliki kemampuan memutuskan sesuatu dengan tepat. Hal ini dibuktikan sebuah studi klinis bahwa pasien dengan kerusakan di area VmPC memiliki kecenderungan pengelolaan dan perencanaan keuangan yang lebih rendah daripada orang dengan VmPC normal, serta cenderung tidak memiliki kesadaran pengalaman emosional (Beadle, dkk., 2018). Padahal, kesadaran terhadap pengalaman emosional adalah salah satu faktor yang menentukan kesadaran diri seseorang, sehingga individu bisa mengetahui apa yang baik bagi dirinya dan apa yang tidak (Silvia, 2002).

Demikianlah, studi-studi ini mengkonfirmasi apa yang dipaparkan Strecher, bahwa adanya life purpose bisa menumbuhkan kesadaran diri untuk menjadi pribadi lebih baik dari sebelumnya. Memiliki life purpose membuat kita mengalami pertumbuhan psikologis karena mendorong kita untuk memiliki hidup yang bermakna. Hal ini dikonfirmasi oleh hasil-hasil studi fMRI lainnya dari Waytz, Hershfield, dan Tamir (2015), yang melaporkan bahwa penemuan makna dalam hidup dapat menstimulasi aktivitas mental, sehingga well being seseorang secara psikologis juga akan lebih tinggi.

Tujuh Pertanyaan

Nah, mari kembali pada tujuh pertanyaan tentang life purpose dari Profesor Strecher yang sempat kita bahas tadi. Ketujuh pertanyaan itu dapat menjadi cara kamu berkontemplasi mengenai life purpose-mu. Apabila kamu masih bimbang, mari kita breakdown ketujuh pertanyaan ini bersama-sama!

1.  Apa yang paling berharga bagi Anda?

Kalau kalian tidak memiliki satu hal yang paling berharga dalam hidup, kalian pasti bohong. Setiap orang memiliki satu hal yang selalu ia pandang sebagai sumber motivasinya, yang membuatnya ingin terus melangkah. Misalnya, dalam film Soul, tokoh Joe memiliki ayah yang selalu dia banggakan. Ia juga memiliki mimpi sebagai pianis jazz. Namun, jika kalian menganggap bahwa ayah dan mimpi Joe adalah hal yang berharga baginya, kalian keliru. Hal yang paling berharga bagi Joe bukanlah ayahnya atau mimpinya, tetapi musik jazz itu sendiri. Musik itulah yang mendorongnya untuk maju dan menggapai life purpose-nya. Nah, sekarang giliranmu. Apa yang paling berharga bagimu dalam hidup ini?

2.  Siapa yang bergantung pada Anda?

Dalam film Soul, Joe memiliki seorang ibu yang bekerja sebagai penjahit. Ibu Joe tidak mendukung Joe menjadi pianis bukan karena ia tidak peduli dengan Joe, tetapi karena ia ingin Joe bersikap realistis. Itulah mengapa ia menuntut Joe memiliki pekerjaan yang lebih layak daripada menjadi pianis. Ia justru mendorong Joe tetap menjadi guru musik karena gajinya lebih terjamin. Jika Joe memiliki sosok ibunya yang bergantung padanya, bagaimana denganmu? Siapa saja yang menjadi ‘sosok ibu Joe’ bagi kamu?

3.  Siapa yang menginspirasi Anda?

Albert Einstein dengan kecerdasannya, kah? Walt Disney dengan keuletannya, kah? Atau mungkin Salahuddin Al-Ayyubi dengan keberaniannya? Kamu pasti memiliki sosok idola atau orang-orang inspiratif dalam hidupmu. Tidak harus tokoh terkenal, sosok-sosok ini bisa merupakan orang-orang di sekelilingmu. Misalnya, Joe mengidolakan ayahnya yang begitu passionate terhadap jazz. Bagaimana denganmu? Tuliskan sosok-sosok yang menginspirasimu besar-besar. Kamu juga bisa menyertakan alasan kenapa kamu menjadikan mereka sebagai inspirasimu.

4.  Apa saja alasan-alasan yang Anda pedulikan (dalam hidup)?

Bayangkanlah kamu ada di posisi Joe. Tiba-tiba saja kamu berada di dunia ambang antara hidup dan mati tanpa terencana. Jika kamu masih ingin hidup, mengapa kamu menginginkannya? Joe memiliki satu alasan untuk hidup, yaitu mewujudkan mimpinya menjadi seorang pianis jazz. Kamu juga pasti memiliki alasan tersendiri, bukan?

5.  Apa yang Anda syukuri?

Ingatkah kamu kisah mengenai Victor Frankl yang bertemu para penghuni kamp konsentrasi? Frankl menemukan bahwa setiap orang memiliki satu hal yang ingin mereka capai dalam hidupnya, sesuatu yang sangat bermakna. Namun, kebanyakan dari keinginan itu pupus karena keadaan yang harus mereka alami. Karena itulah mereka harus menyesuaikan diri. Mereka tidak meminta yang muluk-muluk kecuali kebebasan. Dan jika tidak bisa bebas, mereka hanya meminta untuk terus diberi kesempatan menjalani hidup. Melalui kisah penghuni kamp ini, kita diajari untuk bersyukur mengenai keadaan yang kita alami, namun kamu tidak harus mengalami kamp konsentrasi untuk belajar bersyukur, bukan?

6.  Apa yang membuat Anda bersemangat bangun pagi?

Pertanyaan ini tentunya sangat umum, bukan? Kebanyakan orang pasti menjawab, “Oh, aku bangun pagi karena alarm-ku.” Tapi tentunya, tanpa alarm pun, ada kalanya kamu akan tetap bangun, bukan? Cobalah pikirkan, dorongan internal apa yang membuatmu ingin memulai hari-harimu?

7.  Bagaimana Anda ingin dikenang?

Kebanyakan dari kita mungkin merasa tidak nyaman membicarakan tentang kematian, tapi… well, kita adalah makhluk fana. Hidup kita bisa berakhir kapan saja dan di mana saja. Apabila kamu pada akhirnya harus meninggalkan dunia ini, apa yang ingin kamu wariskan untuk orang-orang yang mengenalmu? Bila kamu ingin menjadi musisi seperti Joe, kesan apa yang ingin kamu tinggalkan bagi pendengarmu di masa depan? Bila kamu ingin menjadi kartunis, kamu ingin dikenang sebagai kartunis macam apa? Atau bila kamu hanya ingin menjadi orang baik, dalam wujud apa kamu ingin orang mengenang kebaikanmu?

Penutup

O’right, apakah kalian sudah memikirkan jawaban dari ketujuh pertanyaan tadi? Jika sudah, coba tuliskan jawaban tersebut pada secarik kertas, lalu tempelkan di dinding kamar kalian. Bila kamu kehilangan arah, cobalah pandangi jawaban tersebut dan mulailah merenungkannya baik-baik.

Kembali lagi pada film Soul, kita tahu akhirnya Joe belajar tentang menghargai hidup dan menemukan makna hidup. Sayangnya, kecil kemungkinannya kita diberi kesempatan mengalami hal-hal fantastis seperti Joe dalam film. Namun, ada satu nilai moral yang bisa kita petik. Kita tidak perlu memaksakan diri untuk menggapai life purpose, apa pun wujudnya. Yang penting adalah kita menikmati hidup dan menghargai setiap detiknya.

References:

Angelina, J. (2016). Eudaimonic Well Being : Tentang Pribadi, Makna Hidup, dan Kebahagiaan. [Undergraduate thesis]

Beadle, J.N., Paradiso, S., and Tranel, D. (2018). Ventromedial Prefrontal Cortex Is Critical for Helping Others Who Are Suffering. Front. Neurol. 9:288. doi: 10.3389/fneur.2018.00288

Fisher, K. (2020). What Is Pixar Soul All About?. Dipetik dari Film School Rejects: https://filmschoolrejects.com/pixar-soul-about/

Gupta, R., Koscik, T. R., Bechara, A., & Tranel, D. (2011). The amygdala and decision-making. Neuropsychologia, 49(4), 760–766. https://doi.org/10.1016/j.neuropsychologia.2010.09.029

Marsh, J., Zakrzewski, V. (2015, Juli 14). Four Lessons from “Inside Out” to Discuss With Kids. Dipetik dari Greater Good Magazine: https://greatergood.berkeley.edu/article/item/four_lessons_from_inside_out_to_discuss_with_kids

Morey, R. A., Gold, A. L., LaBar, K. S., Beall, S. K., Brown, V. M., Haswell, C. C., Nasser, J. D., Wagner, H. R., McCarthy, G., & Mid-Atlantic MIRECC Workgroup (2012). Amygdala volume changes in posttraumatic stress disorder in a large case-controlled veterans group. Archives of general psychiatry, 69(11), 1169–1178. https://doi.org/10.1001/archgenpsychiatry.2012.50

Murphy, C. (2020). Review: Pixar’s Soul. Dipetik dari Murphy’s Multiverse: https://www.murphysmultiverse.com/review-pixars-soul/

Silvia, P. (2002). Self-awareness and Emotional Intensity. Cognition & Emotion – COGNITION EMOTION. 16. 195-216. 10.1080/02699930143000310.

Stretcher, V. J. (2016). Life on Purpose How Living for What Matters Most Changes Everything. New York: HarperCollins.

Waytz A., Hershfield, H.E., Tamir, D.I. Mental simulation and meaning in life. J Pers Soc Psychol. 2015 Feb;108(2):336-355. doi: 10.1037/a0038322. PMID: 25603379; PMCID: PMC4480924.

Artikel Terkait

Leave a Comment