Carl Jung selalu mengatakan bahwa setiap manusia memiliki sisi gelap, atau yang disebut ‘The Shadow,’ yaitu salah satu aspek tak sadar dari kepribadian yang tidak diidentifikasi oleh ego yang sadar; atau keseluruhan dari alam bawah sadar, yaitu segala sesuatu yang tidak disadari sepenuhnya oleh seseorang. Dengan kata lain, kita tidak pernah bisa melihat sisi gelap orang lain, bahkan orang tersebut pun mungkin tidak mengetahuinya.

Namun, bagaimana bila ada orang yang menyadari bahwa sisi gelapnya bisa dimanfaatkan untuk mencari keuntungan pribadi dengan menyakiti orang lain? Nah, inilah hal-hal yang digali dalam dark psychology, yaitu suatu cabang kajian perilaku manusia yang mengungkap fenomena individu dalam menggunakan taktik, motivasi, dan manipulasi demi mendapatkan apa yang dia inginkan. Kalau kalian pernah menonton serial Criminal Minds atau Mindhunter, kalian akan familier dengan organisasi Behavioral Analysis Unit (BAU) yang berada di bawah Federal Bureau of Investigation (FBI). Orang-orang yang bekerja di BAU akan menggunakan ilmu kriminologi dan psikologi untuk melakukan analisis dan profiling mengenai tindakan para pelaku kriminal.

Eh, tapi bukankah memanipulasi orang dalam psikologi itu juga dipelajari, ya?

Well, secara teknis… ya. Dilansir dari website American Psychological Association, manipulasi psikologis merupakan suatu cara mempengaruhi orang lain agar bertindak sesuai keinginan kita. Tetapi tentu saja, manipulasinya juga harus dilakukan dengan etika dan prosedur yang benar sesuai dengan Kode Etik Psikologi.

Misalnya, nih, manipulasi dalam penelitian eksperimen psikologi. Katakanlah, seorang peneliti ingin membuktikan efek obat antidepresan terbaru kepada sejumlah partisipan. Manipulasi psikologis yang dilakukan adalah membagi pasien ke dalam dua kelompok, lalu salah satu kelompok itu diberi obat antidepresan, sementara kelompok yang lain diberi plasebo.

Nah, beda lagi dengan manipulasi psikologis yang negatif. Secara kerennya, kita mengenalnya sebagai gaslighting, emotional blackmail, peer pressure, atau guilt trip. Manipulasi psikologis seperti itu bisa menyebabkan korban menjadi stres, tidak memiliki kontrol terhadap tindakannya, terus menerus merasa bersalah, tidak percaya diri, hingga depresi. Yang terparah, belakangan ini, apalagi di era digital, bentuk-bentuk manipulasi psikologis yang negatif semakin meluas dan beragam bentuknya. Tidak jarang kita menemukan praktik-praktik manipulasi psikologis yang terselubung melalui teks, gambar, video, maupun perkataan secara langsung. Era digital merupakan era serba mudah dan serba cepat, sehingga informasi bisa bertukar dengan cepat pula di sekitar kita. Dalam kasus ini, akan semakin mudah pula bagi orang-orang untuk mendapatkan informasi yang salah pula, yang akan mengarah pada digital crime.

Overview Buku Dark Psychology

cover buku dark psychology
Sumber: barnesandnoble.com

Melalui salah satu buku psikologi terbaik yang berjudul Dark Psychology: The Practical Uses and Best Defenses of Psychological Warfare in Everyday Life, psikolog sekaligus penulis James R. Williams tidak hanya mengajak kita untuk mengenali ciri-ciri atau karakteristik seorang manipulator, tetapi juga mencoba mencari tahu bagaimana cara para manipulator memilih korban, hingga menggunakan taktiknya untuk mempengaruhi korban. Menurut Williams, para manipulator ini bekerja dengan sangat hati-hati. Maka dari itu, kita juga harus jeli untuk bisa menangkap gerak-gerik para manipulator ini. 

Manipulasi dan Akarnya yang Beragam

Satu hal menarik yang dibeberkan Williams dalam buku ini adalah mengenai efek ‘bola salju’ yang dapat terjadi pada korban manipulasi. Misalnya, seorang anak yang berasal dari keluarga yang sering menggunakan manipulasi psikologis untuk menyuruhnya mematuhi orang tua akan cenderung melakukan tindakan yang sama pada orang lain. Lebih parah lagi apabila tindakan manipulasi ini juga disertai dengan kekerasan fisik yang berujung pada kematian. Williams memberi kita beberapa contohnya dalam buku ini.

Yang pertama adalah kasus pembunuhan yang dilakukan oleh seorang lelaki kepada wanita-wanita yang pernah dikencaninya. Wanita-wanita yang pernah dikencani lelaki itu terpikat kepada si manipulator karena gaya bicaranya yang smooth dan menarik. Gesturnya pun tidak mencurigakan, malah terkesan sangat perhatian.

Tapi rupanya, usut punya usut, ketika korbannya lengah, lelaki ini memanfaatkan kesempatan untuk menggiring korban ke rumahnya. Di tengah penyiksaan yang dilakukannya kepada korban, lelaki itu memberinya pilihan tentang bagaimana korban ingin dibunuh: dengan cara cepat atau dengan cara lambat. Apabila korban menjerit minta tolong, ia akan menyekap korban berhari-hari tanpa makanan, lalu menarget orang terdekat korban. Korban yang merasa ketakutan dan terjebak merasa dia tidak punya pilihan, akhirnya harus meregang nyawa. Manipulasi psikologis yang dilakukan lelaki itu ada dua jenis, yang pertama berpura-pura menjadi baik untuk menggiring korban, dan yang kedua, ia membuat korban tidak berdaya dengan memberinya pilihan sulit.

Kasus kedua ada pada seorang pemimpin sebuah sekte keagamaan. Ia berhasil membuat orang-orang percaya bahwa ia seorang wali Tuhan, sehingga orang-orang pun menjadi pengikut ajarannya. Namun di balik itu, ia menyimpan rencana busuk. Memanfaatkan hubungan sakral antara para pengikutnya dengan dirinya, ia mengaku memiliki komunikasi langsung dengan Tuhan. Tidak hanya itu, pemimpin sekte ini menyatakan dirinya memiliki mandat untuk tidur dengan 7 perawan yang juga merupakan anak di bawah umur. Pengikut sektenya yang sudah terlajur percaya dengan ajarannya tak bisa berbuat apa-apa, kecuali ada salah satu orang yang menyadari bahwa tindakan ini tidak benar, lalu meninggalkan sekte tersebut.

Intinya, dari sekian banyak manipulasi psikologis yang terjadi, latar belakang keberhasilan suatu manipulasi adalah rasa takut. Para manipulator akan memanfaatkan ketakutan korban, karena kebutuhan emosional yang muncul dari rasa takut akan cenderung mengalahkan logika rasional.

Kritik, Saran, dan Tips Bagi Pembaca

Buku ini tidak hanya bagus dijadikan sebagai referensi ilmiah bagi teman-teman dari jurusan Psikologi yang tertarik dengan psikologi kriminal atau forensik, tetapi juga bisa dijadikan sebagai pedoman bagi kehidupan sehari-hari. Tata bahasa yang digunakan Williams cenderung mudah dipahami oleh orang-orang awam, selain itu ia juga menjelaskan dengan runtut disertai contoh-contoh dari kasus nyata. Kalian juga akan diajari taktik menangkal manipulasi psikologis dari orang lain dan menghindari diri kalian melakukan hal yang sama, yaitu dengan melihat ke dalam diri sendiri.

Yang pertama, tanyakan pada diri kalian, “Sebenarnya, masalahku apa? Jika benar aku punya masalah, bagaimana aku bisa menerima masalah tersebut?” Setiap masalah dapat menjadi sumber ketakutan yang memudahkan orang untuk dimanipulasi secara psikologis, jadi dengan mengenali masalahmu, kamu tahu bagaimana cara mengatasi dirimu untuk terjatuh ke dalam ‘jurang’ manipulasi.

Yang kedua, Williams menyarankan agar kalian bergerak cepat. Ketika kita dimanipulasi orang yang bagi kita sangat terpercaya, akan cenderung sulit kita menangkap red flag alias tanda-tanda bahwa kita dimanipulasi, jadi teruslah mengamati dengan seksama. Ingatlah bahwa mereka sering bekerja secara tak kasatmata.

Yang ketiga, apabila kalian terlanjur dimanipulasi, jangan terus menerus merasa bersalah. Ada kalanya kita harus menerima bahwa kita adalah manusia yang tidak sempurna. Maafkanlah diri kalian dan belajarlah dari kesalahan itu.

Yang terakhir, percayalah pada insting. Terkadang kita terlalu terpaku pada hal-hal yang tampak indah sampai lupa bahwa insting kita memberi tahu sesuatu yang seharusnya tidak benar. Ehm, bukan berarti kita jadi paranormal, lho! Tapi, gunakanlah insting disertai dengan logika rasional untuk memutuskan sesuatu yang baik bagi diri kalian.

Orang-orang tertentu melakukan sesuatu hanya karena mereka bisa. Bukan karena mereka didorong oleh luka masa kecil, namun ada kebutuhan untuk melakukan pembalasan atas suatu pelanggaran yang mungkin atau mungkin tidak Anda lakukan. Mereka melakukannya hanya karena mereka bisa.

James R. Williams

References:

Bolea, Ș. (2016). The Persona and the Shadow in Analytic Psychology and Existential Philosophy. Philobiblon. 21.

Williams, J. R. (2019). Dark Psychology: The Practical Uses and Best Defenses of Psychological Warfare in Everyday Life. Kindle.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *