Image default

7 Rekomendasi Anime Tentang Psikologi, Wajib Masuk Watchlist-mu!

7 Anime dengan Tema dan Pesan Psikologis

Anime atau animasi Jepang memang tidak asing lagi di telinga kita. Bagi penggemar anime di seluruh dunia, menonton anime tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga bagian dari lifestyle. Namun, karena lifestyle penggemar anime seringkali terbilang tak biasa,tak jarang penggemar anime yang dipanggil weebs atau wibu mendapatkan stigma negatif, apalagi seringkali para wibu menjunjung tinggi budaya Jepang dibandingkan budaya lain.

Tapi sesungguhnya, persepsi bahwa anime hanya sebagai hiburan belaka tidak sepenuhnya benar. Anime adalah salah satu bentuk dari kreativitas penyampaian cerita. Jalan cerita anime, seperti serial televisi lainnya, bergerak mengikuti plot yang terdiri dari perkenalan, klimaks, dan penyelesaian.

Dan selama perjalanan plot tersebut, sejumlah anime menyimpan pesan yang dalam, baik itu secara tersirat maupun tersurat. Pesan yang disampaikan anime bisa mengenai tuntutan sosial, ekonomi, maupun psikologis.

Berikut ini adalah beberapa anime dengan tema maupun pesan psikologis yang mungkin bisa kalian jadikan referensi tontonan sambil mengisi waktu luang!

1. Psycho-Pass

Psycho Pass
Sumber : wallpapercave.com

Psycho-Pass merupakan anime tentang psikologi terbaik, dengan genre science fiction yang membahas tentang suatu kelompok kepolisian bernama Public Safety Bureau. Kelompok polisi tersebut bertugas menangkap penjahat-penjahat di Jepang pada timeline masa depan. Kelompok ini berada di bawah sistem terintegrasi yang mengontrol pemerintahan bernama Sybil System.

Tidak hanya menegakkan hukum, Sybil System juga melakukan komputerisasi terhadap perilaku seluruh warga Jepang dan mengkategorikan mereka ke dalam kelompok-kelompok tertentu berdasarkan kecenderungan berbuat perilaku kriminal. Beberapa pelaku kriminal yang lolos scanning Sybil biasanya ditugaskan untuk bekerjasama dengan Public Safety Bureau dan melindungi para inspektur.

Anime ini jelas mengambil tema psikologi yang dekat dengan dunia profiling pada psikologi kriminal. Psikologi kriminal adalah salah satu cabang psikologi yang mempelajari perilaku seorang pelaku kriminal dan bagaimana seorang pelaku kriminal berproses secara mental.

Perbedaannya, dalam anime ini, para pelaku kriminal yang lolos scanning akan ditugaskan sebagai pengawal para polisi dalam menangkap pelaku kriminal lainnya. Yang jelas, di samping plot yang menarik, adegan aksidalam anime ini sangat seru. Dijamin, kalian takkan kecewa!

2. My Roommate is A Cat

My Roommate is A Cat
Sumber : reelgood.com

Anime psikologi yang wajib ditonton bergenre slice of life ini menceritakan seorang penulis novel yang antisosial bernama Subaru, yang hidupnya berubah drastis setelah bertemu seekor kucing bernama Haru. Subaru sebagai tokoh utama yang digambarkan antisosial rupanya memiliki anxious attachment kepada orang lain, sehingga ia tidak ingin bergaul dengan siapa pun seumur hidupnya.

Ternyata, salah satu penyebab Subaru menjadi tertutup dari dunia luar adalah karena ia kehilangan orang tuanya akibat kecelakaan tragis. Hal tersebut menimbulkan trauma yang mendalam bagi Subaru. Saking sedihnya, ia sering mengurung diri dalam rumah. Interaksi Subaru dengan Haru adalah yang membuka pemikiran Subaru untuk berinteraksi dan kembali ke kehidupan sosial.

Kebanyakan karena tingkah Haru yang impulsif dan membuat repot. Meskipun demikian, Subaru dan Haru kemudian membentuk sebuah ikatan persahabatan yang erat. Subaru mulai menyadari bahwa Haru membutuhkannya, begitu pula Haru menyadari Subaru membutuhkannya.

Lambat laun, attachment Subaru yang sebelumnya anxious pun berubah menjadi secure dengan orang-orang di lingkungannya. Haru sebagai tokoh kucing merupakan pendorong Subaru untuk bersosialisasi, namun sebagai gantinya, Subaru juga menerima Haru apa adanya. Itulah yang dinamakan unconditional positive regard.

Melalui anime ini, kita diajarkan bahwa membuka diri kepada orang lain pasca mengalami trauma. Memang sulit untuk melepaskan diri dari perasaan sedih dan dukacita, namun kita harus menyadari bahwa selama kita masih hidup, kita adalah makhluk sosial yang membutuhkan orang lain. Begitu pula sebaliknya. Orang lain pasti akan membutuhkan bantuan kita, sekecil apa pun itu.

3. Natsume’s Book of Friends

Natsume’s Book of Friends
Sumber : gojinshi.com

Rekomendasi anime psikologi selanjutnya menceritakan tentang seorang remaja bernama Natsume yang bisa melihat hantu sejak kecil, bahkan berinteraksi dengan mereka. Suatu ketika, Natsume berkunjung ke kuil dan dia menarik perhatian arwah kucing yang kemudian selalu mengikutinya ke mana-mana.

Anime dengan genre slice of life dan komedi ini akan membuat kalian tertawa karena tingkah tokoh-tokohnya yang jenaka dan cerita-ceritanya yang lucu. Namun, siapa sangka bahwa anime ini menyimpan pesan psikologi yang dalam mengenai penerimaan diri atau self-acceptance. Secara konsep, penerimaan diri terjadi apabila kita sudah mengetahui apa saja kekurangan dan kelebihan kita, sekaligus berusaha untuk terus bertumbuh.

Kasus penerimaan diri yang dibicarakan dalam anime ini adalah mengenai Natsume. Ia digambarkan sebagai remaja yang tidak punya teman manusia karena takut dianggap aneh oleh orang-orang di sekitarnya. Namun, seiring berjalannya waktu, Natsume mulai menerima bahwa kemampuan supernaturalnya tersebut bukanlah kutukan, melainkan bisa digunakannya untuk membantu para hantu mencapai kebahagiaan.

Selain itu, ia juga menyadari bahwa ada gunanya membuka relasi dengan orang lain dan membiarkan orang untuk berbuat baik padanya. Dijamin, bagi kalian yang menyukai drama, kisah-kisahdari hantu-hantu yang ditolong Natsume akan sukses membuat kalian menangis terharu.

4. Steins;Gate

Steins;Gate
Sumber : otakuusamagazine.com

Anime ini merupakan salah satu anime psikologi yang bagus tentang di masa depan, ketika time travel menjadi penemuan mutakhir umat manusia. Plot utamanya menceritakan seorang ilmuwan bernama Kintaro yang menemukan gadis bernama Kurisu yang sedang sekarat.

Tiba-tiba, ketika Kintaro sedang memberitahu temannya mengenai kejadian tersebut, seluruh lingkungan di sekitar Kintaro menghilang dan ia bertemu dengan Kurisu yang telah hidup kembali. Ternyata, kejadian di mana Kurisu sekarat tadi tidak pernah terjadi karena alat yang diciptakan Kintaro berhasil mengirim pesan ke masa lalu.

Pada akhirnya, penelitian Rintaro diketahui organisasi bernama SERN dan rekan Rintaro yang bernama Mayuri dibunuh karenanya. Rintaro pun melakukan perjalanan waktu untuk menyelamatkan temannya itu, namun pilihannya sulit karena di sisi lain, ia harus kembali ke garis waktu di mana Kurisu terbunuh.

Anime Steins;Gate yang merupakan adaptasi visual novel ini tidak hanya membahas tentang paradoks waktu, tetapi juga mengenai konsekuensi yang kita buat apabila bermain-main dengan waktu. Apa pun yang terjadi, memang harus terjadi.

Tentu saja, di dunia nyata, kita tidak punya mesin waktu seperti Rintaro untuk merubah apa yang sudah kita lakukan, namun kita bisa belajar dari masa lalu tersebut agar di masa depan, kita tidak melakukan sesuatu yang merugikan pada diri kita sendiri.

Maka dari itu, dalam psikologi, kita mengenal konsep acceptance. Dalam psikoterapi, acceptance digambarkan sebagai suatu keadaan di mana seseorang menerima kenyataan yang ada, dan tidak berkutat dengan masa lalu.

Namun, menerima kenyataan bukan berarti kita tidak melakukan apa-apa. Justru dengan menerima bahwa segala kejadian itu takkan terulang, kita punya bekal mindset bahwa kita harus tetap menjalani hidup dan terus melakukan self improvement.

5. Shoujo Kageki: Revue Starlight

Shoujo Kageki: Revue Starlight
Sumber : randomc.net

Produser anime ini adalah perusahaan Bushiroad yang juga memproduksi anime Vanguard. Hanya saja, berbeda dengan Vanguard yang berfokus pada permainan kartu dengan target demografi remaja laki-laki, Revue Starlight ditujukan pada remaja perempuan dengan latar cerita sebuah sekolah seni bernama Seisho Music Academy.

Di sekolah ini, sekelompok anak perempuan sedang berjuang menampilkan sebuah pertunjukan berjudul “Starlight.” Tokoh utama anime ini adalah Karen dan Hikari, dua orang sahabat yang terpisah saat mereka kecil karena Hikari pindah ke London.

Ternyata, suatu hari Karen mendapati Hikari kembali ke Jepang dan bersekolah di Seisho, di kelas yang sama dengannya. Tanpa sepengetahuan Karen, ternyata Hikari mengikuti sebuah audisi misterius yang menentukan siapa yang pantas menjadi pemeran utama dalam drama “Starlight.”

Anime genre psychological terbaik ini tidak hanya membahas tentang pentingnya persahabatan, tetapi juga menggali tema yang sensitif seperti depresi dan sisi gelap dunia pertunjukan. Dalam kasus Hikari, misalnya, ia memiliki ambisi menjadi aktris utama dalam pertunjukan “Starlight” karena kegagalannya di masa lalu untuk lolos audisi sebagai pemeran utama menimbulkan perasaan tak berharga yang berujung pada depresi.

Ia tidak lagi menikmati hidup, bahkan melupakan Karen, sahabatnya. Di sisi lain, Karen tetap resilien meskipun gagal berkali-kali dalam audisi, dan ia selalu mencari Hikari di saat teman-teman lainnya tidak peduli, memastikan Hikari baik-baik saja. Karena itu, berpikir positif dan self-efficacy adalah tema psikologi yang diusung dalam anime ini.

6. Chicchana Yukitsukai Sugar

Chicchana Yukitsukai Sugar
Sumber : senseianime.com

Secara demografis, anime bertema psikologi ini memang ditujukan untuk anak-anak, namun pesan moralnya tidak kalah menarik dengan anime yang ditujukan pada remaja atau dewasa. Ceritanya mengenai seorang gadis bernama Saga yang tinggal di Jerman. Saga memiliki kemampuan melihat peri, namun ia tidak mengetahuinya sampai bertemu dengan peri salju bernama Sugar yang tersesat dan kesepian di tengah badai.

Awalnya, Saga terganggu dengan keberadaan Sugar, tapi lama-lama ia menaruh iba pada Sugar dan mengizinkannya tinggal di rumah. Persahabatan Saga dan Sugar selalu diwarnai kejadian-kejadian konyol, terutama karena kepribadian mereka saling bertolak belakang. Saga adalah seorang gadis pekerja keras, serius, dan rajin. Berbeda 180 derajat dengan Sugar yang polos dan pemalas, tapi selalu ceria.

Teori psikologi yang dekat dengan anime ini adalah openness to experience dari kepribadian Big Five. Karena dengan openness to experience, kita membiarkan diri sendiri untuk menerima pengalaman baru dan melihat dunia dari berbagai sudut pandang. Dalam anime ini, pelajaran openness Saga adalah jangan terlalu mengkhawatirkan banyak hal yang tidak terencana dengan baik.

Sejak bertemu Sugar, Saga belajar bahwa hidup itu tidak selamanya harus serius dan penuh perhitungan. Terkadang ia juga harus spontan dan menjalani hidup dengan fleksibel apabila ada kejadian-kejadian yang tak terduga menimpanya.

Di sisi lain, Sugar belajar untuk bertanggung jawab terhadap perilakunya. Tumbuh sebagai peri pemalas dan tak pernah serius, ia pun menyadari bahwa hidup manusiatidak selalu penuh kebahagiaan. Ada kalanya manusia harus merasakan kehilangan atau perasaan negatif lainnya.

7. Kekkai Sensen

Kekkai Sensen
Sumber : yourgameinformer.blogspot.com

Anime ini berlokasi di Hellsalem’s Lot, kota fiksi yang terletak di Amerika Serikat. Hellsalem’s Lot bukanlah kota biasa. Di sana, kekacauan dan tindakan kriminal banyak terjadi. Semuanya terjadi sejak makhluk-makhluk gaib dari Otherworld, sebuah gerbang menuju dimensi lain, lepas ke kota.

Bagi kalian yang suka cerita fantasi dan action, ini masuk di daftar anime psikologi yang wajib ditonton bisa menjadi referensi tontonan yang asyik. Yang menarik dari anime ini, setiap episodenya menyimpan pesan moral yang berbeda-beda. Salah satunya kisah Black dan White, sepasang saudara kembar. Black memiliki kekuatan ajaib, tapi White tidak.

Namun, Black memiliki self-esteem yang rendah karena sering di-bully oleh teman-teman di sekolahnya. Meskipun demikian, ia selalu ingin melindungi White, saudaranya. Black bahkan mengorbankan dirinya sendiri menjadi tubuh bagi makhluk gaib bernama King of Despair demi menyelamatkan White.

King of Despair adalah makhluk yang hidup dari penderitaan orang, dan karena Black menjadi tubuhnya, ia menjadi semakin kuat bukan hanya karena memiliki kekuatan ajaib, tetapi juga karena kontrol emosi yang lemah dan self-esteem yang rendah. Apalagi, Black juga mengalami trauma karena menyaksikan orang tuanya meninggal.

Pengaruh King of Despair kepada orang yang menjadi tubuhnya sangat mirip dengan depresi dalam psikologi. Ia membuat si ‘tubuh’ menjadi tidak percaya diri dan tak berdaya. Akhirnya, memanfaatkan kelemahan si ‘tubuh,’ ia pun memaksa si ‘tubuh’ melakukan tindakan-tindakan jahat hanya untuk kesenangan pribadinya.

Sementara White merepresentasikan satu-satunya harapan dan motivasi Black untuk hidup, karena White adalah satu-satunya keluarga yang ia miliki. Ia ingin menjadi kuat dengan tujuan melindungi White. Dari kisah Black dan White ini, kita diberi pelajaran bahwa penting bagi kita memiliki konsep diri yang positif.

Dengan demikian, kita takkan semudah itu putus asa dan termakan oleh omongan orang lain. Selain itu, tidak selamanya motivasi dari luar itu akan membuat kita puas dengan diri kita, karena justru pada akhirnya kita akan membutuhkan afirmasi orang lain. Keinginan diakui dan menjadi orang yang hebat di mata White-lah yang menyebabkan Black menjadi santapan mudah bagi King of Despair.

Nah, di antara ketujuh anime di atas, mana nih yang menarik perhatian kalian? Atau mungkin ada yang mau merekomendasikan anime menarik lainnya? Silakan tambahkan di kolom komentar!

Artikel Terkait

Leave a Comment