Apakah saat ini usiamu mulai memasuki 20 tahun? Apakah kamu mulai merasa galau atau bingung mengenai masa depan? Mungkin, istilah quarter life crisis sudah tidak asing bagimu. Kamu pun penasaran arti sebenarnya dari istilah tersebut. Bisa jadi saat ini kamu sedang mengalami hal tersebut. Sebelum menerka-nerka, lebih baik ketahui dulu tanda-tanda kamu sedang mengalami quarter life crisis. Simak penjelasan lengkapnya di artikel ini. 

Apa Itu Quarter Life Crisis

Istilah quarter-life crisis atau krisis seperempat baya pertama kali diperkenalkan oleh Robbins dan Wilner (2001) berdasarkan teori emerging adulthood dari Arnett (2000). Krisis emosional ini banyak dialami oleh individu pada usia dua puluh tahunan. Quarter-life crisis merupakan periode pergolakan emosional dan perasaan insecure setelah perubahan besar dari masa remaja menuju dewasa, biasanya dimulai pada usia 21-28 tahun.

Menurut Fischer (2008) quarter-life crisis adalah periode krisis emosional yang terjadi pada usia awal 20-an disebabkan perasaan khawatir terhadap ketidakpastian hidup di masa depan seputar relasi, karier,dan kehidupan sosial. Seseorang dalam melewati tahapan perkembangannya tidak mampu merespons dengan baik berbagai persoalan yang dihadapi, diprediksi akan mengalami berbagai masalah psikologis, merasa terombang-ambing dalam ketidakpastian dan mengalami krisis emosional.

Quarter life crisis sebagai masa dimana individu akan berusaha untuk mencapai kebebasan keuangan dan emosional dari orangtua, membangun karir, membentuk identitas yang menguntungkan, mencari keintiman, menjadi bagian dari kelompok sosial atau masyarakat, memilih pasangan, dan menyesuaikan diri dalam perkawinan.

Periode ini dapat menjadi proses bertumbuh yang awalnya dari perguruan tinggi menuju dunia kerja, namun biasanya akan diiringi dengan perasaan putus asa, cemas hingga depresi. Pada masa transisi dari dunia akademis menuju dunia nyata, individu menjadi lebih sering mempertanyakan masa depan dan pengalaman masa lalunya dalam mempengaruhi masa depan.

Fase quarter life crisis dapat menyebabkan depresi dan mental illness karena mencakup perasaan sulit, tertekan dan tidak stabil yang umumnya akan berlangsung selama kurang lebih satu tahun, sehingga dapat menjadi momen penting dalam episode kehidupan (Robinson, 2015). Seseorang memiliki keinginan untuk berproses dan berkembang pada fase ini tetapi tidak mempertimbangkan solusi atas situasi yang sedang dihadapi saat ini, sehingga mereka semakin memiliki penghalang yang  tidak  dapat diatasi antara dirinya dengan  kehidupan di masa depan. Pada fase awal seseorang merasa aktif dan optimis untuk memasuki peran penting, namun dapat  menjadi awal dari perasaan frustasi dan kecewa. Kemudian fase berikutnya mengalami kegagalan berulang  dalam  mencapai  suatu  peran,  tujuan  dan  hubungan,  yang  sangat mungkin  membawa  kecemasan  dan  depresi  karena  perasaan  kehilangan.

Ciri Mengalami QLC

Robins dan Wilner (2001) menyebutkan tujuh aspek yang dapat menjadi pertanda individu mengalami quarter life crisis diantaranya:

a. Kebimbangan dalam pengambilan keputusan

b. Putus asa

c. Penilaian terhadap diri sendiri yang negatif

d. Terjebak dalam situasi sulit

e. Cemas

f. Tertekan

g. Khawatir terhadap hubungan interpersonal (teman, keluarga, pasangan)

Penyebab QLC

Penyebab yang paling dominan adalah karena adanya tuntutan dari keluarga tentang rencana masa depan yang akan diambil dan permasalahan di bidang akademik sehingga menyebabkan stress (Arnett, 2004; Slamet 2003; Kartika, Deria, & Ruhansih, 2018). Robbins (dalam Nash & Murray, 2010) berpendapat bahwa periode quarter life crisis dapat dipengaruhi oleh faktor internal, yang berawal dari pemikiran diri sendiri mengenai berbagai aspek kehidupan.

Berikut adalah faktor internal yang dapat berpengaruh terhadap periode quarter-life crisis:

1) Hopes and Dream

Harapan dan mimpi ini terkait dengan karir, keluarga, pasangan, pertemanan. Seseorang ingin memiliki karir sukses, bisa membahagiakan keluarga, memiliki pasangan setia, memiliki teman suportif. Semua orang tentu memiliki mimpi dan harapan, namun terkadang ada saat dimana kita ragu dan membayangkan apa yang terjadi dimasa depan. Keraguan dan ketakutan inilah yang menimbulkan kondisi krisis emosional.

2) Religion and Spirituality

Semakin dewasa kita semakin berpikir kritis, termasuk masalah agama dan spiritualitas. Kematangan emosi yang belum stabil turut berperan dalam menjalankan kewajiban beragama masing-masing. Terkadang bertanya-tanya apakah ini agama yang sesuai dengan diri atau hanya karna ajaran dari orang tua. Individu merasa belum cukup memahami ajaran agama masing-masing sehingga timbul perasaan bingung.

Selain faktor internal, individu yang mengalami quarter life crisis juga dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yang berasal dari luar diri individu, di antaranya (Nash & Murray, 2010):

1) Hubungan Percintaan, Keluarga dan Pertemanan.

Manusia tentunya tidak hidup sendiri, manusia adalah makhluk sosial. Selama hidup, kita tidak terlepas dari berinteraksi dengan orang lain, terutama orang terdekat yang diantaranya adalah keluarga, teman dan pasangan. Dalam psikologi cinta, individu merasa membutuhkan seorang pasangan tapi mempertahankan hubungan tidaklah mudah dan merasa apakah ini hubungan yang tepat atau tidak. Individu ingin terbebas dari keluarga dan bisa hidup mandiri. Individu juga terkadang merasa tidak menemukan teman yang selalu hadir disaat duka maupun suka dan dapat dipercaya seutuhnya. Orang-orang terdekat inilah yang nantinya akan menentukan berhasil atau tidak seseorang dalam melewati fase quarter life crisis ini.

2) Tantangan Akademis

Semua orang tentunya ingin memiliki pendidikan yang baik. Pendidikan adalah hal penting untuk  menunjang kesuksesan. Namun ada titik dimana seseorang akan merasa apakah jurusan yang diambil sudah tepat, apakah sudah mempelajari semuanya dengan benar dan apakah akan lanjut untuk kuliah pascasarjana atau tidak. Hal-hal ini menimbulkan ketakutan untuk mengambil sebuah keputusan.

3) Kehidupan Pekerjaan

Hidup ini tidaklah gratis. Bahkan untuk ke toilet terkadang membutuhkan uang. Kita semua membutuhkan uang untuk bertahan hidup. Saat kecil kita hidup dari hasil jerih payah orang tua kita. Seiring bertambahnya usia, kita harus mandiri dan tidak bergantung dengan orang tua. Ketika mulai dewasa, terkadang merasa belum siap untuk mandiri secara finansial. Mau/tidak mau, bisa/tidak bisa kita mulai memikirkan mengenai pekerjaan. Seseorang mempertimbangkan antara memilih untuk melakukan pekerjaan yang disukai atau pekerjaan yang menghasilkan banyak uang. Seseorang merasa memiliki potensi, tetapi masih ragu untuk mengaktualisasikannya.

Individu pada periode ini, biasanya juga memiliki keinginan untuk mendapatkan pekerjaan yang tidak akan membuatnya merasa tertekan, akan tetapi terkadang individu juga masih mempertanyakan mengenai perubahan karier yang mungkin terjadi di masa depan dan seperti apa menjaga keseimbangan hidup ketika pekerjaan sedang menumpuk. Ketidakpastian mengenai pekerjaan ini tentunya akan membuat kita merasa cemas.

Cara menghadapi Quarter Life Crisis

Semua orang akan mengalami usia 20 tahun keatas. Dalam proses perkembangan ini semua orang ada kalanya merasa cemas, tidak siap, frustasi, bingung untuk menghadapinya. Artikel ini akan menjelaskan cara agar bisa melewati fase quarter life crisis :

1. Fokus

Fokus pada apa yang penting saat ini. Ini berarti untuk menyelamatkan diri dari situasi yang tidak aman atau hanya berfokus pada hal-hal penting. Hindari multitasking dan simpan energi sehingga kamu dapat mengatasi masalah yang kamu hadapi. Investasilah pada dirimu untuk membuatmu berkembang, tidak perlu ikut campur masalah orang lain.

2. Cari bantuan

Sangat penting untuk memiliki teman, keluarga dan pasangan yang suportif untuk mendukungmu. Jika kamu merasa lingkunganmu tidak mendukung, kamu dapat mencari bantuan lewat komunitas kesehatan mental atau ke psikolog langsung.

3. Buatlah rencana

Buatlah rencana dalam lima tahun kedepan dengan jelas. Hidup ini perlu rencana, jika hidup berjalan tanpa tujuan dan langkah yang tidak jelas kita akan semakin bingung. Rencana yang jelas akan membantumu untuk mengukur sejauh mana perkembanganmu. Pastikan kamu sudah melakukan banyak riset(penelitian) untuk memantapkan rencanamu.

4. Kembangkan kemampuan

Pertama kamu harus tahu dirimu sendiri, apa saja kelebihan dan kekuranganmu. Tentunya kamu mempunyai kelebihan/ potensi yang tidak orang lain punya. Kamu sangat perlu untuk mengetahui potensimu. Dengan mengenali potensi, kamu memiliki fokus yang jelas dalam hidup. Pastikan potensimu dapat berkembang setiap harinya dengan mulai dari langkah kecil dan konsisten. Mulailah dengan mengikuti seminar/kelas/komunitas untuk memperdalam kemampuanmu.

5. Menulis jurnal

Menulis jurnal harian memiliki manfaat yang baik untuk kondisi mentalmu. Tulislah segala sesuatu yang kamu rasakan dan yang terjadi pada hari itu. Ini akan membantumu untuk lebih sadar keadaan emosimu dan ingat apa saja yang telah kamu lalui.

6. Mindfulness

Kegiatan mindfulness salah satunya juga untuk refleksi diri. Melepas segala hiruk pihuk dunia dan melatih diri untuk sejenak hening. Duduk diatas karpet yang lembut dalam suasana tenang akan membantu menjernihkan pikiran. Menikmati secangkir teh tanpa gangguan dari telfon genggam sangat membantu untuk menenangkan diri. Sadari kegiatanmu saat ini dengan menghayatinya tanpa tergesa dan memikirkan hal lain juga termasuk mindfulness.

7. Melatih tanggungjawab.

Kamu tidak bisa mengontrol orang lain, tapi kamu bisa mengontrol dirimu sendiri. Sebaik apapun rencana yang kita buat tentu tidak berjalan mulus. Kita tidak bisa serta merta untuk menyalahkan keadaan ataupun menyalahkan orang lain. Yang perlu kita lakukan adalah untuk mengambil alih kendali dalam diri kita, berlatih bertanggungjawab. Mulailah dari hal kecil, lakukan dengan memberi seterbaik mungkin. Ini akan memberi dampak yang besar jika kamu mulai dari sekarang.

8. Seimbang

Hidup harus seimbang, jika berlebihan itu tidak baik. Salah satunya adalah overthinking, itu pertanda buruk. Kita harus seimbang dalam menjaga pikiran, jiwa, dan badan. Untuk menjaga badanmu, ini berarti makan dengan benar, istirahat dengan baik dan berolahraga. Sedangkan menjaga pikiran, ini bisa berarti tidak perlu overthinking, berlatih mindfulness. Menjaga kesehatan jiwa dengan menyadari apa yang kita rasakan. Jiwa/ perasaan yang kita rasakan bisa menjadi suara penuntun mengenai situasi tertentu. Ini bukan untuk mengatakan bahwa kamu harus diatur oleh emosi, tetapi juga jangan mengabaikan suara hati – ini sering kali memberikan nasihat yang paling bijaksana.

9. Berhenti membandingkan dengan orang lain

Hidup bukanlah sebuah kompetisi atau perlombaan. Semua mempunyai jalannya dan garis waktu masing-masing. Waktu yang tepat tidaklah waktu yang cepat. Tetap lakukan yang terbaik meskipun sedang menghadapi quarter life crisis dan jangan menyerah hanya karena melihat teman sebayamu sudah lebih sukses. Banyak kisah orang sukses tidak di usia muda. Sukses perlu usaha yang konsisten dan semangat pantang menyerah. Kita tidak pernah tahu, apa yang kita lihat sukses dalam waktu cepat bisa jadi beberapa tahun mendatang tidak bertahan.

Life is long journey, enjoy and be happy. Good luck!

Referensi :

Arnett,  J.  (2000). Emerging  Adulthood:  A  Theory  of  Development  from  The  Late Teens through The Twenties. University of Maryland College Park: American Psychologist.

Fischer,  K.  (2008). Ramen  Noodles,  Rent  and  Resumes:  An  After-College  Guide  to Life. California: SuperCollege LLC.

Kartika, R. D., Deria, D. & Ruhansih, D. S., (2018).   Hubungan   antara   strategi penanggulangan  stres  (coping  stress) dengan keyakinan diri mampu (Self-Eficacy)     pada     mahasiswa     yang sedang   menyusun   tugas   akhir   di jurusan radiodiagnostik dan radiotherapy   politeknik   “X” Bandung. Fokus,    1(1).    1-10. doi: 10.22460/q.v1i1p11-18.498

Nash & Murray. (2010). Helping College Student Find Purpose (The Campus Guide of Meaning Making). San Fransisco: Jossey-Bass

Robbins & Wilner. (2001). Quarterlife Crisis: The Unique Challenges of Life in Your Twenties. New York: Peguin Putnam Inc.

Robinson,  O.  C.  (2015). Emerging  Adulthood,  Early  Adulthood  and  Quarter-life Crisis: Updating Erikson for the 21st Century. New York: Routledge.

Slamet. (2003). Belajar dan faktor-faktor yang memengaruhinya. Jakarta:    Rieneka Cipta

One Response

  1. Woah! Tengkyu banget artikelnya bener² ngebantu diri aku yg emg lg ada difase quarter life crisis:(
    Bahasa yang digunain juga mudah banget buat di pahami
    Good!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *