Image default

Apa itu Psikologi Prenatal dan Perinatal?

Periode prenatal dan psikologi perinatal berpengaruh besar terhadap kondisi ibu serta perkembangan janin. Masa prenatal terjadi pada saat ayah dan ibu memutuskan untuk menjadi orang tua (sebelum bayi lahir), sedangkan perinatal terjadi ketika melahirkan hingga setahun setelahnya. Kedua masa ini sangat penting bagi ibu dan bayi, sehingga harus didukung karena mempengaruhi perkembangan janin.

Jadi, apa itu psikologi prenatal dan perinatal? Mengapa sangat berpengaruh pada kondisi ibu serta janinnya? Simak uraian lengkapnya berikut ini.

Psikologi Prenatal

Masa prenatal adalah waktu di mana calon ayah dan ibu memutuskan untuk menjadi orang tua, periode ini merupakan tahap awal perkembangan manusia sejak dibuahinya ovum oleh sperma sampai tiba waktunya kelahiran sang buah hati. Masa prenatal berlangsung relatif cepat, namun berpengaruh terhadap perkembangan individu itu sendiri, sehingga harus diketahui pula mengenai polanya.

Menurut William Sallenbach pada tahun 1998, periode prenatal termasuk dalam tahap kritis yang mempengaruhi perkembangan fisik sekaligus mental dan emosi si buah hati. Oleh karena itu, hal tersebut juga berhubungan dengan hubungan kedekatan antara ibu dan bayi yang dampaknya sangat panjang (berkelanjutan), serta ada kaitannya dengan kemampuan dan kecerdasan janin.

Faktor yang berpengaruh pada periode prenatal

Selama masa periode prenatal, kondisi ibu dan janin termasuk sangat rawan terkena dampak akibat perubahan di lingkungan sekitarnya, termasuk dampak baik maupun buruk. Jika lingkungannya baik, maka akan terbentuk pula individu yang baik, lalu berlaku pula sebaliknya jika kondisi sekitarnya kurang mendukung atau buruk.

Sebab prenatal merupakan masa-masa janin berevolusi, maka tentu sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan di sekitarnya. Apa saja faktor yang mempengaruhi periode prenatal? Ini penjelasannya.

1. Kondisi kesehatan ibu

Faktor yang berpengaruh terhadap periode prenatal adalah kondisi kesehatan ibu hamil. Jika kondisinya sehat, maka kemungkinan besar bayi pun dapat terlahir dalam keadaan sehat pula. Namun berbeda jika sang ibu mempunyai penyakit bawaan ataupun sedang terkena penyakit saat masa kehamilan, maka bisa diturunkan kepada sang buah hati dan hal ini akhirnya berpengaruh besar terhadap perkembangannya, kemudian memiliki kemungkinan melahirkan anak dalam kondisi cacat.

Contohnya jika ibu membawa penyakit seperti TBC, infeksi saluran kencing, diabetes, TBC, HIV/AIDS, dan sebagainya. Adanya penyakit tersebut dapat menyebabkan kondisi bayi lahir cacat sampai risiko kematian. Apalagi AIDS, di mana penyakit ini merupakan peringkat tertinggi penyebab kematian anak usia balita 1-4 tahun.

2. Asupan gizi ibu

Asupan gizi ibu pun berpengaruh terhadap perkembangan janin di dalam kandungannya. Sehingga, harus diberikan asupan gizi cukup dan seimbang supaya jabang bayi dapat berkembang dengan baik di dalam rahim.

Asupan gizi meliputi vitamin, mineral, karbohidrat, protein, kalsium, lemak, dan lainnya didapatkan dari makanan maupun minuman yang dikonsumsi oleh ibu. Oleh karena itu, konsumsi selama kehamilan memang harus diperhatikan dengan sebaik-baiknya supaya janin selalu dalam kondisi sehat.

Guna memenuhi asupan gizi dan nutrisi, Anda bisa mendapatkannya dengan membeli susu pembantu perkembangan janin yang tersedia di LOTTE Mart. Selain itu, di LOTTE Mart juga tersedia bahan-bahan makanan segar, berkualitas, sekaligus aman sebagai tambahan gizi selama masa mengandung. Contohnya produk ikan segar, sayuran, maupun buah-buahan berkualitas.

3. Paparan bahan-bahan kimia

Pengaruh lainnya pada periode prenatal juga datang dari paparan bahan-bahan kimia, baik itu dari konsumsi sehari-hari, produk kosmetik dan perawatan tubuh, maupun obat-obatan yang dipakai oleh ibu hamil. Bahan-bahan kimia ini berpengaruh terhadap kondisi rahim, kemudian juga pasti berdampak pada kesehatan janin.

Maka dari itu, sebaiknya calon orang tua pun mengetahui apa saja bahan kimia berbahaya yang harus dihindari selama masa kehamilan. Ini penting sekali diketahui guna mencegah risiko bayi lahir cacat, sampai kematian.

Tahap Prenatal

Para ahli psikologi berpendapat bahwa perkembangan manusia dimulai sejak proses bertemunya sel telur (ovum) dengan sel sperma, pembentukan embrio sebagai awal kehidupan, sampai tumbuh menjadi janin, kemudian lahir ke dunia. Berikut ini merupakan penjelasan masing-masing tahapan prenatal.

1. Tahap germinal (germinal stage)

Tahap prenatal pertama adalah germinal atau germinal stage, biasanya disebut dengan pembentukan zigot. Pada tahapan ini merupakan periode awal mula terbentuknya manusia sebagai suatu individu, berlangsung selama dua minggu sejak setelah adanya pertemuan antara sel telur (ovum) perempuan dengan sel sperma laki-laki. Masa ini juga disebut sebagai pembuahan.

Masa pembentukan zigot pada tahap germinal terus mengalami perkembangan menjadi blastosis dan berlangsung selama tiga hari mempunyai sekitar 60 sel terdiri atas tiga lapisan, antara lain ektoderm (luar/permukaan), mesoderm (tengah), serta endoderm (dalam). Proses ini terjadi di sepanjang tuba falopi.

Lapisan ektoderm membentuk kulit, rambut, gigi, sistem saraf, serta panca indera. Mesoderm merupakan bagian tengah akan berkembang membentuk tulang, otot, sistem ekskresi (pembuangan kotoran), sistem peredaran darah, serta kulit bagian dalam. Sedangkan lapisan endoderm berkembang membentuk sistem pencernaan, organ dalam, sistem pernapasan, serta kelenjar ludah.

Pada tahapan germinal masa prenatal ini nantinya juga akan terbentuk plasenta, tali pusar, serta kantong amniotic dari sel blastosis. Jika sudah tertanam di dinding rahim akan terbentuk embrio sebagai proses akhir dari tahap germinal.

2. Tahap embrionik (embryonic stage)

Setelah melalui germinal stage, selanjutnya pada masa prenatal juga akan melalui tahap embrionik atau embryonic stage, di mana tahap ini terjadi selama 2-8 minggu. Ciri-ciri yang menandainya yaitu adanya perubahan pada sistem organ sekaligus fisiologisnya.

Ketika berada dalam tahap embrionik, struktur janin didukung oleh adanya tali pusar, plasenta, dan kantong amniotic.

Pada saat usianya mencapai 6 minggu, kita sudah dapat mengenalinya sebagai manusia. Setelah itu terus berkembang, perubahannya tampak semakin jelas, bahkan sudah dapat mengenali wajah dan jenis kelaminnya.

3. Tahap janin (fetus stage)

Tahap terakhir masa prenatal yaitu fetus stage atau tahap janin yang ditemui pada usia kandungan 9 minggu (3 bulan ke atas). Sejak usia kehamilan tersebut, sudah terjadi pembentukan sel tulang dan ciri fisik manusia lainnya perlahan mulai terlihat.

Jika pada tahap embrionik ukurannya masih 1 inci, maka pada tahap janin ini ukurannya terus berkembang hingga 3 inci dengan berat ¾ ons. Setelah itu akan terus berkembang dengan memiliki denyut jantung, sampai pembentukan fisik (kepala, tangan, kaki) menjadi manusia sempurna.

Dalam Islam, janin berusia mulai 4 minggu telah ditiupkan ruh ke dalamnya. Sehingga seiring berjalannya waktu, janin terus berkembang dan ibu sudah mampu merasakan pergerakan buah hati dari dalam rahimnya. Tak hanya itu, bahkan janin pun dapat mendengar suara dari lingkungan di luar rahim, ini disebut stimulasi atau rangsangan dari luar.

Psikologi Perinatal

Setelah mengetahui masa prenatal dalam psikologi perkembangan yang meliputi tahapan serta faktor berpengaruh, selanjutnya mari membahas lebih jauh tentang psikologi prenatal. Tentang perinatal juga penting diketahui oleh calon orang tua karena hubungannya dengan kondisi fisik, mental, dan emosi ibu serta bayinya.

Psikologi prenatal adalah ilmu psikologi yang mendalami tentang semua aspek sejak sebelum dan selama masa kehamilan, saat melahirkan, sesudah melahirkan, sampai masa pengasuhan anak. Perinatal ini juga berkaitan dengan hubungan antara orang tua dengan anaknya, sehingga perannya sangat penting untuk membantu para orang tua dalam mengatasi permasalahan pada setiap tahap kehidupan. Tujuannya agar bisa membantu meningkatkan kesejahteraan sekaligus kualitas hidup.

Inilah mengapa psikologi perinatal sangatlah penting. Mari membahasnya lebih lanjut tentang pentingnya psikologi perinatal, serta aspek apa yang dituju pada poin selanjutnya.

Pentingnya psikologi perinatal

Saat masa kehamilan sampai si buah hati terlahir ke dunia merupakan masa sulit yang dihadapi oleh orang tua, khususnya para ibu karena masa perinatal adalah fase paling rentan menyebabkan stres hingga depresi. Sehingga hal ini pun sangat berpengaruh terhadap kondisi psikologis mereka, di mana hal ini juga berdampak pada emosi, mental, hingga kesehatan sang ibu.

Banyak momen dikhawatirkan oleh calon orang tua ketika masa prenatal maupun perinatal. Misalnya takut tidak mampu menjadi orang tua yang baik, ketakutan akan melahirkan, mengasuh anak, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, pentingnya psikologi perinatal untuk memperkuat mental orang tua dalam menghadapi fase tersebut.

Psikologi perinatal tidak hanya fokus kepada sang ibu saja, tetapi juga sosok ayah karena ada kaitannya dengan hubungan antara orang tua dan anaknya. Ayah maupun ibu sejak memutuskan menjadi orang tua hingga sudah melahirkan anaknya, harus mampu menyesuaikan kehidupan baru dengan hadirnya si buah hati. Oleh karenanya, mulailah menyesuaikan diri dengan adanya anak di dalam keluarga.

Adanya perinatal psikologi ini juga bermaksud untuk memberikan dukungan kepada ayah dan ibu yang sedang melewati masa prenatal hingga pengasuhan anak. Apalagi seorang ibu sangat rentan mengalami depresi akibat pengaruh dari lingkungan sekitarnya. Itulah mengapa psikologi perinatal jadi sangat penting.

Aspek yang dituju psikologi perinatal

Aspek yang dituju psikologi perinatal meliputi masa kehamilan, melahirkan, masa nifas, hingga pengasuhan anak. Momen-momen tersebut merupakan masa paling rentan mengalami kesulitan (terutama bagi ibu) hingga membutuhkan dukungan secara psikologis.

Misalnya jika sedang masa merencanakan momongan, di mana bisa jadi salah satu pihak memiliki masalah kesuburan. Kemudian pada saat kehamilan berlangsung jadi takut melahirkan, bayi cacat, atau mungkin khawatir tidak bisa mengasuh anak dengan baik, takut akan omongan orang, dan lain sebagainya. Maka dari itu, adanya psikologi perinatal ini membantu orang tua menghadapi seluruh fase secara sehat, guna menghadapi rasa takut, serta mengurangi kekhawatiran tersebut.

Begitulah penjelasan lengkapnya. Semoga penjelasan tentang psikologi prenatal dan perinatal ini dapat membantu dan mudah dipahami.

Artikel Terkait

Leave a Comment