Image default

Psikologi Komunikasi – Pengertian dan Teori Komunikasi

Kamu pikir komunikasi cuma ngomong doang, terus selesai?

Kalo jawabanmu iya berati kamu salah, meskipun ada benernya. Karena inti dari psikologi komunikasi adalah pertukaran ide, perasaan, dan pikiran. Semua ini biar semua pihak paham sama yang diomongin pihak yang berbicara.

Kadang kita cuma berpikiran kalau psikologi komunikasi bukanlah hal yang besar, semua orang bisa, dan emang gampang. Namun, kenyataan berkata sebaliknya.

Proses komunikasi sangatlah rumit, ada banyak faktor yang memainkan sebuah peran penting. Ada faktor yang berpusat pada orang tersebut (internal) dan ada faktor-faktor eksternal seperti lingkungan kalian berbicara.

Hal-hal diatas akan memengaruhi reaksi pihak yang berbicara dan pesan yang diterima kedua pihak.

Ada beberapa prinsip dalam psikologi komunikasi, yang dapat memengaruhi proses komunikasi. Ada juga beberapa keterampilan yang bisa dipelajari dan dilatih.

Kalau kamu memahami prinsip-prinsip ini, kemungkinan adanya pihak yang salah paham akan menurun drastis, dan meningkatkan peluang komunikasi efektif yang memenuhi tujuanmu.

Psikologi komunikasi di dunia nyata

4 Prinsip Psikologi Komunikasi

1.  Salah Paham Pasti Akan Terjadi

Kita sering berasumsi kalau orang lain selalu mengetahui maksud perkataan kita. Namun, pada kenyataannya kesalahpahaman akan sering terjadi. Kita sering mikir “wah ini karena dia kurang bacaan” tetapi ini juga bisa salah kita.

Semua pihak salah kok di situasi ini. Hanya kamu yang sepenuhnya memahami perkataanmu, tidak ada jaminan kalau lawan bicaramu paham.

Katakanlah begini, semua pesan yang didengarkan seseorang akan melalui sebuah “filter” yang berhubungan dengan pikiran dan perasaan.

Sebagai contoh dalam psikologi komunikasi: kamu sedang marah karena dosenmu memberi 3 tugas dengan deadline besok. Kamu bertemu dengan keluargamu dan ketika kamu diajak bicara, nadamu terkesan marah seperti sedang melampiaskan amarah. Hal ini bisa terjadi tanpa disengaja kok, bahkan perkataan mereka yang baik-baik bisa terkesan jahat karena “filtermu” sedang terpengaruhi emosimu.

Jadi, semakin besar perhatian lawan bicaramu, semakin kecil kemungkinan miskomunikasi antara kalian. Akan tetapi, cara terbaik untuk menghindari kesalahpahaman adalah dengan meminta umpan balik.

Hal ini sangatlah penting pada setiap jenis komunikasi, bahkan semakin penting apabila pesanmu ditujukan pada masa (seperti pidato). Feedback dilakukan untuk memeriksa akurasi pesanmu, dengan ya nanya pendengarnya.

Kalau ada yang salah, kamu bisa klarifikasi bagian yang dia tanyakan. Setelah kamu klarifikasi pemahamannya dan membenarkan kalimatmu, coba ditanya lagi untuk feedback.

Apakah prosesnya lama dan merepotkan? Iya pastinya, tetapi sepadan kalau kamu ingin semua orang memahami pesanmu. Demi komunikasi yang efektif dan sukses, apa sih yang enggak?

2.  Mustahil untuk Tidak Berkomunikasi

Semua aksi yang sengaja ataupun tidak, memberikan sebuah pesan. Bahkan ketika kamu mengabaikan orang di dm Instagram milikmu. Aksimu memberi pesan kalau kamu tidak tertarik dengannya, bahwa kamu juga cuek dengan dia.

Komunikasi verbal (dengan perkataan) hanya sebagian kecil dari proses komunikasi. Ada hal-hal lain seperti body language, ekspresi wajah, nada suara, dan keras-lembutnya suara mereka.

3.  Setiap Pesan Memiliki Pesan dan Perasaan

Mungkin terdengar sedikit membingungkan, jadi marilah kita samakan pandangan yuk!

Disini, arti “pesan” adalah makna dari perkataan yang kamu pakai. Sedangkan, perasaan adalah emosi yang diberikan pada perkataanmu itu. Emosi ini bisa disalurkan melalui mimik wajah, gerak dan postur tubuh, nada, dan besar suara mereka.

Tapi ketika dua hal ini bertabrakan, maka pendengar akan bingung. Contoh mudahnya bisa dilihat di sekitarmu kok, seperti ketika temanmu mengatakan “AKU NGGAK MARAH KOK” sambil berteriak.

Membingungkan bukan?

Aspek psikologi komunikasi melalui media sosial justru lebih rentan pada kesalahpahaman. Karena di media sosial/chat hanya ada komunikasi verbal yang tidak diiringi perasaan. Kecuali, bila mereka menggunakan HURUF KAPITAL, tanda tanya (?), ataupun emoji.

Sayangnya orang masih bisa salah paham, karena mereka bisa mengatakan kalau lawan bicaranya sedang sarkastik/menyindir.

4.  Isyarat Non-verbal Lebih Dapat Dipercaya Daripada Isyarat Verbal

Kita semua tahu kalau umat manusia pintar menipu. Mulai dari sulap, membohongi satu sama lain, sampai kata-kata manis yang tidak bermakna.

Ketika seseorang kebingungan karena pesan dan perasaan yang bertabrakan, mereka akan cenderung mengutamakan sisi perasaan. Dalam kata lain, ketika kata yang digunakan si pembicara tidak sesuai dengan nada, mimik wajah, gerak dan postur tubuh, dan isyarat non-verbal lainnya, si pendengar akan fokus kepada isyarat non-verbalnya.

Ingatkah kamu reaksi kalian ketika pesan dan perasaan temanmu tidak nyambung? Bagian manakah yang kamu pertimbangan terlebih dahulu?

Ketika kamu mendengar seseorang mengatakan “wah kamu kok cantik/ganteng banget” dengan suara yang kecil, rendah, muka yang sombong, ditambah nada yang merendahkan kamu akan lebih percaya pesan atau perasaannya? Verbal atau non-verbal?

Semua aspek psikologi komunikasi ini bersifat universal dan memberi perhatian kepada keempat aspek diatas terbukti keberhasilannya dalam komunikasi efektifmu. Sebagai pembicara ataupun pendengar, pemakaian aspek ini akan membuat proses komunikasimu lebih efektif dan sukses.

Referensi: www.psychologytoday.com/us/blog/some-assembly-required/201702/the-4-primary-principles-communication

Artikel Terkait

1 comment

Azwa Maret 22, 2021 at 7:19 PM

Aku ngerasa kalau aku kurang pandai berkomunikasi tau kak

Reply

Leave a Comment