Pengertian Psikologi Kognitif Menurut Para Ahli

Psikologi kognitif adalah ilmu mengenai cara kita berpikir. Ilmu ini sangat berhubungan dengan proses mental kita seperti atensi, persepsi, ingatan, perencanaan aksi, dan bahasa. Setiap komponen ini sangatlah penting dalam membentuk identitas dan perilaku kita.

Pemikiran yang berhubungan dengan konsep ini bisa terjadi secara sadar maupun tidak. Secara sadar kita bisa memperhatikan orang lain, tetapi ketika seseorang yang mencurigakan tiba-tiba terjadi kita bisa secara tidak sadar melompat.

Psikologi kognitif juga bertumpang tindih dengan neuropsikologi kognitif dan neurosains lainnya.

Psikologi kognitif

Awal Mula Psikologi Kognitif

Untuk memahami bagian yang bertumpang tindih ini, sangatlah penting untuk memahami konteks dan tahun psikologi kognitif muncul.

Diawali sebagai sebuah bidang di tahun 1950an, bidang ini menjadi semacam reaksi terhadap psikologi behavioral (yang saat itu sedang naik daun).

Psikologi behavioral dimulai dengan konsep bahwa semua perilaku manusia dipelajari dan diadaptasi dengan konteks sekitarnya. Sebuah perilaku dapat diperkuat atau diperlemah dalam berbagai cara, yang menuntun kepada meningkatnya atau berkurangnya aksi tertentu.

Seiring berjalannya waktu, seperangkat perilaku akan dibentuk dari pengalaman ini, membentuk berbagai macam manusia dengan ketertarikan, keinginan, bakat, dan kebiasaan yang unik.

Pada sisi lain, psikologi kognitif melihat bahwa tindakan manusia juga melibatkan perasaan dan pikiran secara signifikan. Para individu dipandang sebagai mampu memproses pikiran yang menentukan tindakan mereka selanjutnya. Hal ini juga berhubungan dengan kecerdasan dalam psikologi.

Perubahan cara pikir ini sangat dipengaruhi oleh kemunculan teori informasi dan kritik besar Noam Chomsky mengenai ilmu behaviorisme.

Teori Informasi

Teori informasi merupakan sebuah teori yang membahasakan komunikasi. Pengaruh dari teori ini sangatlah besar, karena kurang lebih semua hal di dunia ini terdampak. Bahkan hal-hal seperti genetik, fisika, cara otak mengirim sinyal, terpengaruh oleh teori ini.

Teori ini secara kebetulan muncul bersama dengan salah satu ciptaan terpenting umat manusia, yaitu komputer. Kehadiran komputer mengajak pihak saintifik dan fantasi untuk mencari tahu bagaimana otak bekerja.

Otak yang memproses dunia melalui pemahaman input, output, penyimpanan, serta pengolahannya secara logis lebih mudah dibandingkan dengan lingkungan/stimuli, perilaku, ingatan, dan kognisi. (secara runtut)

Melihat otak sebagai sebuah “komputer” psikologi kognitif menjadi semakin terkenal dengan peraturan yang dapat dirumuskan, dikurangi, dan dipahami. Meski behaviorisme juga memakai pendekatan “reductionist”, mereka secara sengaja menghindari pentingnya proses pemikiran dan dampaknya.

Chomsky vs. Skinner

Salah satu pengaruh besar yang ikut mempengaruhi terkenalnya behaviorisme dan kemunculan psikologi kognitif, berasal dari debat mengenai linguistik.

Siapa yang menduga bahwa psikologi dan dunia akan berubah karena dua pihak yang berdebat mengenai bahasa serta strukturnya.

B.F. Skinner, salah satu tokoh utama dari psikologi perilaku menciptakan artikel mengenai bahasa. Mengajukan ide bahwa bahasa dipelajari dengan cara “behavioris”, kata-kata dihafalkan, dibicarakan, dan dipahami karena suara, produksi, dan arti yang diperkuat.

Kemudian Noam Chomsky menuliskan sebuah kritik terhadap artikel milik Skinner tentang bahasa. Dirinya menegaskan bahwa sebuah komponen yang dari dalam berperan penting dalam perkembangan bahasa.

Chomsky melanjutkan argumennya dengan mengatakan bahwa bahasa terlalu umum dan terlalu cepat untuk dipelajari, membuatnya tidak bisa dijelaskan hanya oleh reinforcement /bantuan pihak luar.

Konflik ini kembali kepada topic Nature vs. Nurture. Skinner membawakan nature sedangkan Chomsky mewakili nurture.

Sebenarnya mereka berdua mengembangkan cara pandang yang lebih dalam terhadap bahasa dan cara belajar. Bahkan argumen mereka berdua tidak seutuhnya benar, tetapi kritik mereka mempengaruhi banyak psikolog terhadap cara pandang mereka terhadap behaviorisme.

Pengubahan cara pandang mereka terhadap behaviorisme melahirkan pendekatan baru yaitu pendekatan secara kognitif.

Psikologi Kognitif Saat Ini

Kedepannya psikologi kognitif semakin diterima dan terkenal di dunia psikologi. Bahkan beberapa studi besar muncul untuk menjelaskan fungsi dari pendekatan kognitif.

Pada tahun 1950-1960 seorang psikolog dari Rusia bernama Alfred Yarbus menunjukkan bagaimana pergerakan mata sakadik dapat mencerminkan proses kognitif. Pergerakan mata sakadik terjadi ketika sedang membaca buku atau ketika lagi melihat-lihat ruangan. Ketika kamu fokus pada satu tempat/benda lalu dengan cepat melihat tempat/benda lain.

Penemuan ini tentunya menjadi sebuah terobosan, tetapi bukan karena penemuan bahwa pergerakan mata berhubungan dengan kognisi. Namun, karena alat pengukuran yang dipakai oleh Alfred Yarbus.

Alat pengukuran milik Yarbus dipasangkan dengan teknologi pengisapan. Teknologi ini memiliki tingkat akurasi yang bisa membantu dalam memberikan jawaban reliabel terhadap proses kognitif dan detail-detil kecil mengenai mata.

Penelitian terbaru juga dibangun berdasarkan pekerjaan milik Yarbus ini, menunjukkan bahwa investigasi mengenai proses kognitif bisa meliputi lingkungan yang alami.

Penelitian ini juga menunjukkan hasil perdebatan antara psikologi behaviorisme dengan kognitif. Penemuan bahwa gerakan mata tergantung dengan proses kognitif, yang kemudian diarahkan dengan prinsip behaviorisme.

Perkembangan ide-ide mengenai kognisi juga mempengaruhi cara mimik wajah dipahami. Para peneliti dari Uppsala University di Swedia menginvestigasi pergerakan otot secara tidak sadar pada wajah yang muncul ketika ada paparan emosi bawah sadar dari ekspresi wajah. Untuk melihat apakah expresi wajah memengaruhi pikiran mereka, tanpa sepengetahuan individu tersebut.

Memakai metode masking untuk mencegah evaluasi (secara sadar) oleh para partisipan dan facial electromyography untuk mendeteksi perubahan di aktivitas otot yang terkadang tidak bisa dilihat. Para peneliti berhasil menunjukkan bagaimana respon psikologis dan fisiologis pada saat seseorang tidak sadar proses kognisi itu.

Salah satu contoh lainnya mengenai otak yang dipengaruhi kemunculan psikologi kognitif adalah cognitive load. Istilah ini diciptakan oleh John Sweller pada 1988, istilah ini merujuk pada jumlah working memory yang dibutuhkan untuk memenuhi tugas yang ada. Mereka berusaha menjelaskan proses yang muncul saat otak memiliki cognitive load yang tinggi.

Kesimpulan

Studi-studi diatas hanyalah sebagian kecil dari hasil eksplorasi para peneliti terhadap otak manusia. Seiring waktu akan ada semakin banyak studi-studi besar terhadap otak manusia dibawah pendekatan psikologi kognitif. Cabang psikologi ini diprediksi akan semakin dipakai pada tahun-tahun kedepannya, jadi boleh juga untuk dijadikan fokus kamu!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *