abnormal psychology

Psikologi Abnormal: Definisi, Penyebab, Diagnosis

Hari ini kamu bangun dari tempat tidur, sarapan, mandi kemudian bergegas menuju tempatmu bekerja/sekolah/kuliah. Seharian beraktivitas membuatmu lelah namun kamu berhasil melewati hari itu dengan baik. Di suatu waktu pernahkah kamu berpikir bahwa diluar sana ada orang yang secara fisik sehat tapi tidak mampu beraktivitas normal dalam kesehariannya?

Ketidakmampuan beraktivitas normal dapat dikatakan memiliki gangguan psikologis atau perilaku abnormal. Mempelajari hal ini bisa membutuhkan 14 kali pertemuan saat kuliah, namun di artikel ini akan di jelaskan secara jelas, singkat, dan padat.

Definisi Psikologi Abnormal

Psikologi abnormal adalah sebuah disfungsi dalam diri individu yang terkait dengan distres atau hendaya dalam fungsinya dan sebuah respon yang tidak diterima secara kultural (Duran & Barlow, 2006).

Disfungsi psikologis mengacu pada terganggunya fungsi kognitif, emosional atau perilaku. Contoh: saat berkencan, seharusnya kencan itu hal yang menyenangkan, namun apabila setiap kencan merasa takut dan ingin cepat pulang meskipun sebenarnya tidak ada yang perlu ditakutkan, bisa pertanda memiliki masalah psikologis.

Perbedaan antara normal dan abnormal tidak sama dengan baik atau buruk. Banyak orang menganggap dirinya pemalu dan pemalas, ini bukan berarti mereka abnormal. Tetapi jika sebegitu pemalunya sehingga merasa tidak bisa berkencan atau bahkan sekedar berinteraksi dengan orang lain, berusaha keras menghindari interaksi, maka ini jelas mengalami abnormalitas sosial. Namun, ada orang yang memiliki reaksi tersebut tetapi tidak terlalu berat tidak dapat dikategorikan abnormal. Perbedaan normal atau tidak, pada gangguan psikologis/perilaku abnormal adalah ekspresi ekstrem dari emosi, perilaku, dan psikologi kognitif yang dirasakan.

Dapat dikatakan normal bila mengalami stres yang amat sangat, misalnya ketika orang terdekat meninggal dunia, itu merupakan bagian kehidupan manusia dan manusiawi jika mengalami stress yang amat sangat. Namun pada gangguan psikologis/abnormal kondisi menderita atau stres yang amat sangat itu tidak ada. Kadang-kadang sesuatu dianggap abnormal karena sangat jarang terjadi, menyimpang dari keadaan yang biasa.

Semakin besar penyimpangan semakin dianggap abnormal. Banyak orang yang menyimpang, tapi hanya sedikit yang dianggap memiliki gangguan perilaku. contoh : seseorang yang sangat berbakat atau eksentrik. Hal ini menyimpang dari rata-rata tapi bukan gangguan psikologis.

Dalam psikologi abnormal terdapat istilah psikopatologi. Psikopatologi adalah kajian ilmiah mengenai gangguan-gangguan psikologis (Duran & Barlow, 2006). Professional yang bekerja di bidang ini meliputi psikolog klinis, psikiater, pekerja sosial, perawat psikiatrik, terapis Kesehatan mental. Professional Kesehatan mental harus berpijak pada hasil penelitian terbaru dalam diagnosis dan penanganannya, mengevaluasi metode sendiri, melakukan penelitian sendiri tentang gangguan psikologis.

Oleh karena itu, jika kamu memiliki keluhan mengenai permasalahan psikologis sebaiknya datang langsung ke professional kesehatan mental dan tidak melakukan diagnosis gangguan psikologis sendiri tanpa bantuan professional. Percayakan pada professional untuk menangani masalahmu karena dalam proses penanganannya berbasis ilmiah.

Dalam mempelajari gangguan psikologis, diperlukan deskripsi klinis, menentukan penyebab, melakukan penanganan. Tidak bisa sesuka hati menentukan jenis gangguan psikolois, karena setiap individu berbeda kasusnya dan perlu ditelaah lebih dalam. Di bidang ini terdapat istilah prognosis yakni prediksi mengenai masa depan gangguan dari waktu ke waktu. Jadi, jika prognosisnya baik maka kemungkinan untuk sembuh, namun jika prognosisnya buruk maka hasilnya tidak begitu baik.

Penyebab Abnormalitas

Penyebab psikologi abnormal tidak hanya memiliki satu penyebab saja, tetapi memiliki banyak penyebab dan saling berkaitan. Penyebab gangguan psikologis sangatlah kompleks diantaranya dari faktor nature (biologis) atau nurture (lingkungan). Beberapa pertimbangan dalam menentukan penyebab gangguan yakni (Duran & Barlow, 2006):

1. Kontribusi genetik

Model diatesis stres

Dalam pembahasan mengenai kontribusi gen terdapat istilah diathesis-stress model yang artinya individu mewarisi banyak gen, berbagai kecenderungan untuk mengekspresikan sifat atau perilaku tertentu yang dapat diaktifkan melalui kondisi stress.

Diatesis sendiri memiliki makna yakni kondisi yang membuat seseorang rentan untuk mengembangkan gangguan tertentu. Misalnya seorang anak memiliki orang tua yang ketika stres cenderung untuk marah-marah maka sang anak bisa memiliki kecenderungan yang sama dengan orang tuanya.

Model gen lingkungan resiprokal

Model ini berarti bahwa orang memiliki kecenderungan genetik untuk menciptakan faktor risiko lingkungan yang meningkatkan kemungkinan timbulnya gangguan itu. Tienari et al (1994) menemukan bahwa anak dari orangtua yang menderita skizofrenia yang diadopsi waktu bayi ada kecenderungan mengembangkan gangguan psikiatrik termasuk skizofrenia jika diadopsi oleh keluarga disfungsional. Namun jika keluarga fungsional dan pola asuh baik maka tidak mengembangkan gangguan itu.

Catatan penting : Interaksi antara gen dan lingkungan berperan penting dalam gangguan psikologis.

2. Peran system saraf

Pakar psikopatologi merumuskan teori mengenai peran aktivitas neurotransmitter yang mempengaruhi kepribadian. Contoh : orang yang impulsive mungkin memiliki aktivitas serotonin rendah. Perlu diketahui bahwa serotonin berfungsi untuk mengatur perilaku, mood, dan proses berpikir.

3. Proses perilaku dan kognitif

Learned helplessness (ketidakberdayaan yang dipelajari)

Teori Seligman menyebutkan bahwa orang menjadi gelisah dan depresi ketika mereka membuat atribusi bahwa mereka tidak memiliki control atas stress yang terjadi dalam hidupnya (baik yang mereka lakukan maupun tidak).

Modelling

Belajar melalui observasi dan imitasi(meniru) perilaku orang lain. Eskperimen bandura mengenai bobo doll eskperimen menemukan bahwa anak yang diperlihatkan perilaku agresif dari model maka cenderung merespon dengan Tindakan agresif pula.

4. Pengaruh emosional

Terdapat istilah fight or flight response adalah reaksi biologis terhadap stres yang mengancam yang mengarahkan sumber daya pada tubuh (aliran darah, pernafasan) untuk melawan (fight) atau menjauhi (flight) ancaman. Misalnya ketika sedang dimarahi oleh orang lain, kita punya pilihan untuk memarahi orang tersebut juga (fight) atau mendiamkan orang tersebut (flight).

Catatan penting: mood dan emosi berbeda, mood (suasana perasaan) adalah periode emosi yang bertahan lama, sedangkan emosi adalah keadaan perasaan dan Tindakan yang dipicu oleh kejadian yang disertai dengan respon fisiologis.

5. Pengaruh sosial dan interpersonal

Grant, Patterson dan yager (1988) menemukan bahwa orang lansia yang memiliki dukungan sosial kecil dari keluarga menunjukkan tingkat depresi tinggi dan kualitas hidup yang kurang memuaskan. Pentingnya dukungan sosial bagi kesejahteraan mental seseorang. Mencari dan memilih didalam lingkungan yang baik akan membuatmu lebih bahagia.

6. Faktor perkembangan

Dalam perjalanan hidup terdapat banyak fase perkembangan dari bayi, anak-anak, remaja, dewasa hingga lanjut usia. Setiap perubahan menuju dari fase berikutnya tentunya mengalami pergejolakan. Ada banyak masa-masa krisis kehidupan selama kita hidup dan tentunya jika kita mampu menghadapinya dan mampu melewatinya kita akan menjadi manusia yang bertumbuh. Namun, jika kita tidak mampu menetapkan pilihan yang bijak selama fase kehidupan kita, maka ada kerentanan gangguan psikologis.

Diagnosis Psikologi Abnormal

Dalam mendiagnosis psikologi abnormal, terdapat istilah klasifikasi. Klasifikasi adalah usaha untuk mengelompokkan/mengkategorikan dan memasukkan objek atau orang ke dalam kategori tersebut berdasarkan atribut dan hubungan yang sama.

Jika dibidang kedokteran terdapat international Classification of Diseases (ICD) maka di bidang psikologi terdapat Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM). DSM terbaru yakni terbit pada tahun 2013 edisi ke 5 yang diterbitkan oleh American Psychiatric Association (APA). DSM adalah buku panduan di bidang kejiwaan yang pengkategoriannya berdasarkan penemuan empirik untuk mengidentifikasi kriteria masing-masing diagnosis.

Adapun abnormalitas yang dijelaskan dalam DSM-V yakni:

  1. Gangguan perkembangan saraf
  2. Gangguan Spektrum Skizofrenia dan Psikotik Lainnya
  3. Bipolar dan gangguan yang terkait
  4. Gangguan depresif
  5. Gangguan kecemasan
  6. Obsesif-Kompulsif dan gangguan yang terkait
  7. Gangguan Terkait Trauma dan Stresor
  8. Gangguan Disosiatif
  9. Gejala Somatik dan Gangguan Terkait
  10. Gangguan makan
  11. Gangguan eliminasi
  12. Gangguan tidur
  13. Disfungsi seksual
  14. Disporia jenis kelamin
  15. Gangguan mengganggu, pengendalian impuls, dan perilaku
  16. Gangguan terkait zat dan adiktif
  17. Gangguan saraf kognitif
  18. Gangguan kepribadian
  19. Gangguan paraphilik

Terkadang ada seseorang yang memiliki lebih dari satu gangguan yang sering disebut dengan istilah komorbiditas. Karena gangguan psikologis masing-masing kategorinya saling berkaitan. Adanya pengkategorian berkaitan dengan labelling. Begitu menerima label, individu yang menderita sebuah gangguan mungkin dikonotasikan negatif, hal ini tentunya mempengaruhi self-esteem mereka.

Adanya labelling dan stigma negatif dari masyarakat membuat banyak orang enggan pergi ke professional Kesehatan mental. Hal ini tentunya mempersulit individu tersebut dan bisa memperparah kondisi yang pada akhirnya banyak kasus bunuh diri.

Gangguan mental terkadang dikaitkan dengan kerasukan dan salah memberi penanganan. Bahkan orang dengan skizofrenia dipasung, ini sungguh tidak memanusiakan manusia. Meskipun begitu, para pasien di RSJ atau orang yang memiliki gangguan mental tetaplah manusia hanya saja memiliki perbedaan.

Stigma negatif membuat orang juga lebih sering memendam masalah dibanding menceritakan keadaan sebenarnya untuk mendapatkan dukungan. Tetapi terkadang jika sudah dikatakan memiliki gangguan mental oleh professional, ada individu yang memanfaatkan gangguannya tersebut agar orang lain memaklumi perilakunya, tentu hal ini juga tidak benar.

Gangguan mental sama pentingnya dengan sakit fisik. Jika didiamkan/disepelekan maka bisa lebih parah dan tentunya membutuhkan waktu lama untuk sembuh. Jika ada orang terdekat mengalami gangguan mental/psikologis jangan jauhi orangnya, berikan empati dan dukung untuk bertumbuh.

Sangat tidak etis bila sampai memberi julukan “dia bipolar”. Berbeda halnya dengan “dia adalah orang yang memiliki bipolar”. Kita harus tau dan ingat bahwa istilah psikopatologi tidak mendeskripsikan orang melainkan mendeskripsikan pola perilaku yang muncul.

Saat ini sudah banyak bertebaran di sosial media mengenai kesehatan mental. Mulai dari penjelasan penyakitnya, penanganan bagi orang terdekat, informasi konseling darurat, hingga psikoterapi.

Hal ini semata-mata dilakukan untuk mencegah kasus bunuh diri dan mengurangi stigma negatif di masyarakat agar semua elemen masyarakat lebih sadar mengenai Kesehatan mentalnya masing-masing juga turut serta menjaga kesehatan mental lingkungan sekitar.

Ketidaknormalan tidak selamanya merupakan sesuatu yang buruk. Untuk pejuang sehat mental, tetaplah bertahan untuk dirimu sendiri.

Referensi:

Durand, V.M., Barlow, D.H. (2006). Intisari Psikologi Abnormal. Edisi IV. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Grant, I., Patterson, T. L., & Yager, J. (1988). Social supports in relation to physical health and symptoms of depression in the elderly. The American Journal of Psychiatry, 145(10), 1254–1258. https://doi.org/10.1176/ajp.145.10.1254

Tienari, P., Wynne, L. C., Moring, J., Lahti, I., et al. (1994). The Finnish adoptive family study of schizophrenia: Implications for family research. The British Journal of Psychiatry, 164(Suppl 23), 20–26.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *