Image default

Perspektif Perkembangan dalam Psikologi Olahraga

Halo, Kawan-kawan! Sudah baca artikel tentang psikologi olahraga, belum? Kalau kalian sudah membacanya, kalian pasti sudah tahu dong apa saja bahasan utama psikologi olahraga.

Tapi kalau belum, saya akan mengajak kalian overview sekali lagi. Psikologi olahraga adalah salah satu cabang psikologi yang membahas mengenai aspek-aspek psikologis manusia yang berperan dalam dunia olahraga, khususnya faktor-faktor yang dapat mempengaruhi performansi atlet dan kesehatan mentalnya.

Nah, apabila dikaji lebih lanjut, jelas bahwa setiap atlet pasti memiliki latar belakang yang berbeda-beda, mulai dari usia, jenis kelamin, pendidikan, atau sosio-ekonomi. Tapi, yang paling sering dijadikan klasifikasi dalam olahraga adalah usia dan jenis kelamin. Katakanlah, nggak mungkin juga sepakbola anak berusia 10 tahun akan ditandingkan dengan sepakbola orang dewasa. Stamina mereka jelas akan berbeda, begitu pula pola pikir dalam permainan. Bicara masalah performansi, kenapa sih aspek-aspek psikologi perkembangan perlu diperhatikan dalam psikologi olahraga?

Sekilas Rentang Perkembangan Manusia

Banyak sekali teori mengenai perkembangan manusia. Perkembangan manusia dapat ditinjau melalui empat aspek, yakni aspek biologis, sosio-emosional, kognitif, dan sosial. Secara biologis, manusia mengalami perkembangan tubuh yang akan terus berlanjut dari lahir hingga menjadi lansia. Proses perkembangan secara biologis ini terdiri atas perkembangan motorik, sensorik, dan perseptual. Faktor-faktor prenatal, parenting, hingga lingkungan berpengaruh terhadap proses perkembangan biologis seseorang.

Kemudian, dalam perkembangan sosio-emosional, kita akan berkenalan dengan elemen-elemen seperti emosi, temperamen, dan gaya attachment. Dalam perkembangan kognitif, pembahasan utamanya adalah bagaimana seseorang mengembangkan gaya belajar serta mendalami berbagai hal. Sedangkan perkembangan sosial manusia mencakup hubungan sosial seseorang yang dibangun dari masa kanak-kanak, dewasa, hingga lanjut usia.

Perkembangan sosial juga membahas mengenai bagaimana seseorang melihat dunia melalui kacamatanya sendiri dan membentuk moral. Maka dari itu, dalam pembahasan perkembangan sosial, kita akan lebih sering mengacu pada pengaruh lingkungan terhadap individu, sekalipun pengaruh lingkungan juga dapat membentuk seseorang secara biologis kognitif, dan emosionalnya.

Aspek Biologis

Seperti yang sudah kita tahu, aspek biologis juga berkaitan dengan bagaimana cara kerja otak mempengaruhi perilaku. Tidak hanya itu juga, pengaruh hormon, genetik, dan sistem imun juga menjadi penyebab seseorang berperilaku, atau bahkan sebaliknya. Salah satu topik yang paling sering dibahas terkait dengan peran aspek biologis dalam psikologi olahraga adalah mengenai agresi. Ada sejumlah teori mengenai agresi dalam olahraga.

Menurut Dollard, Doob, Miller, Mowrer, & Sears (1939) agresi bisa terjadi karena keadaan yang membuat frustrasi seseorang, sedangkan menurut Anderson dan Bushman (2002), agresi bisa juga terjadi karena memang karakter seseorang mudah terpancing saat terjadi situasi yang meresahkan. Nah, masih ingatkah Teman-teman bahwa emosi diatur oleh suatu area di otak yang dinamakan sistem limbik.

Sistem limbik terdiri atas hypothalamus, anterior thalamic nucleus, cingulate gyrus, hippocampus, dan bagian-bagian yang menghubungkannya, yang berperan dalam ekspresi emosional. Agresi terjadi karena ada stimulus dari luar tubuh yang kemudian diteruskan ke sistem limbik, misalnya dalam sepakbola, berupa penjegalan yang menyebabkan seorang pemain terguling, dan akhirnya si pemain yang terjegal membalas pelanggaran tersebut dengan omongan kasar.

Aspek Sosio-Emosional

Dalam olahraga, kestabilan emosi sangat diperlukan dalam menjaga performansi atlet, terutama ketika atlet sedang berada dalam kompetisi yang ketat. Ketika atlet kesulitan mengendalikan emosi dirinya dalam kompetisi, ia bisa kehilangan konsentrasi dan kontrol diri. Untuk mengatasinya, terdapat sejumlah cara untuk membantu atlet memanajemen emosinya dalam kompetisi.

Sebuah penelitian oleh Arikan (2020) mencatat bahwa pelatihan Socio-Emotional Learning Program pada pelajaran olahraga terbukti memiliki peran positif terhadap kecerdasan emosi. Secara umum, menurut Jones, et. al. (dalam Kahn, et. al., 2019), pelatihan Socio-Emotional Learning mengacu pada proses yang melaluinya individu belajar dan menerapkan seperangkat keterampilan sosial, emosional, perilaku, dan karakter yang diperlukan untuk berhasil di sekolah, tempat kerja, hubungan, dan kewarganegaraan.

Oleh sebab itu, tidak hanya membantu memanajemen emosi, tetapi pelatihan Socio-Emotional Learning juga membantu mengidentifikasi kelebihan dan kekurangan diri serta meningkatkan kemampuan berkomunikasi individu.

Aspek Kognitif

Ingatkah kalian dengan gol tendangan bebas fenomenal David Beckham yang dikenal sebagai “gol tendangan pisang?” Gol yang menakjubkan itu tidak hanya sempat membuat dunia sepakbola heboh, tetapi juga dunia ilmu pengetahuan hingga dianalisis secara mendalam menggunakan ilmu fisika.

Nah, sebagai pesepakbola, kita tentu tidak tahu apakah Beckham punya keahlian fisika atau tidak, tetapi jelas dalam permainannya, ia memerlukan skill yang disertai dengan kecerdasan kognitif. Seorang atlet seperti Beckham bekerja dengan banyak orang, termasuk teman-teman satu timnya. Apabila ia tidak cukup cerdas untuk memahami instruksi manajernya atau peraturan sepakbola, tentunya ia tidak akan bisa bermain di lapangan, boro-boro menjadi bintang sepakbola. Menurut Scott Burkhart, Ph.D., kemampuan kognitif atlet yang utama meliputi fokus, visual attention, visual tracking dan kecepatan pengambilan keputusan (decision making).

Dalam kasus tendangan bebas Beckham, misalnya, ia harus bisa mengira-ngira jarak gawang dengan titik tempatnya menendang bola. Kemudian, ia harus bisa mengatur seberapa kuat ia perlu menendang sambil mengantisipasi cara menembus barisan pemain lawan di hadapannya. Kunci utama untuk mendapatkan skill seperti Beckham adalah terus berlatih dan memfokuskan perhatian terhadap keadaan lapangan.

Maka dari itu, seperti ditekankan oleh Walton, et. al. (2018), ada kebutuhan mengembangkan kemampuan kognitif untuk atlet di masa depan melalui cognitive training agar ke depannya atlet tidak hanya mengandalkan kemampuan fisiknya untuk bertanding, tetapi juga bisa menggunakan insight-nya untuk memecahkan masalah dalam situasi olahraga.

Aspek Sosial

Albert Bandura adalah salah satu tokoh psikologi sosial yang memperkenalkan social learning theory. Teori ini mengatakan bahwa individu, dalam belajar hal-hal baru dari lingkungannya, akan melalui dua macam cara yang mengandalkan observasi, yaitu modelling dan reinforcement atau penguatan.

Modelling adalah suatu peniruan terhadap perilaku orang lain tanpa adanya penguatan, sedangkan penguatan bisa digunakan sebagai bentuk penghargaan terhadap perilaku individu yang dikehendaki (positive reinforcement), atau suatu tindakan untuk mengurangi stimulus yang bisa menghambat perilaku yang dikehendaki (negative reinforcement).

Nah, demikian juga dalam olahraga, pada awalnya kita pasti akan memperhatikan terlebih dahulu cara melakukan suatu olahraga. Atlet sepakbola tidak serta merta bisa melakukan tendangan penalti dengan tepat, begitu pula atlet badminton tidak serta merta bisa melakukan smash yang kuat. Memperhatikan instruksi dan mengikuti arahan pelatih tidaklah cukup, namun penguatan positif seperti pujian dan dukungan pelatih juga berperan penting dalam memotivasi latihan seorang atlet. Sementara penguatan negatif, misalnya mengatur jenis latihan seorang atlet agar tidak mengalami kelelahan berlebih.

Kebutuhan Psikologi Olahraga Sejak Dini

Pelajaran dan latihan yang giat juga dibutuhkan demi mengasah skill. Namun, ketika latihan hanya dilakukan tanpa adanya aspek psikologis yang diperhatikan, ditakutkan bahwa latihan yang terlalu berat bisa menjadi bentuk ‘siksaan mental’ kepada atlet, apalagi ketika atlet dihadapkan pada kompetisi yang membuatnya stres dan harus selalu siap menghadapi kegagalan.

Riset menyatakan bahwa kegagalan dan stres bisa menjadi penyebab mental dan performance breakdown pada atlet. Itulah mengapa American Psychological Association (APA) menekankan bahwa psikolog olahraga benar-benar dibutuhkan di masa kini, tidak hanya bertugas untuk membantu atlet mengatasi mental roadblocks, tetapi juga meningkatkan performansi. Apalagi, jika atlet tersebut sudah menggeluti olahraga sejak usia dini. Seperti sudah dijelaskan di atas, faktor-faktor lingkungan berpengaruh terhadap perkembangan individu, namun faktor-faktor biologis dan pribadi juga tidak kalah pentingnya diperhatikan.

Menurut David Asp dari Mayo Clinic, cara mendampingi atlet muda secara psikologis dapat meningkatkan sense of control dan keyakinan terhadap diri, mendorong keinginan untuk sukses, berfokus pada tujuan, serta membantunya mengenali langkah-langkah mencapai tujuan tersebut. Pendampingan psikologis ini juga meliputi memberikan model positive attitude agar atlet muda tidak terus menerus berfokus pada kegagalan di masa lalu dan mampu melihat kemungkinan untuk berhasil di masa depan.

Referensi:

Arikan, N. (2020). Effect of Sport Education Model-Based Social-Emotional Learning Program on Emotional Intelligence. International Education Studies. 13. 41. 10.5539/ies.v13n4p41.

Elias, M. J. (2003). Academic and Social-Emotional Learning. International Academy of Education (IAE) Educational Practices Series-11.

Jones, S. M., & Doolittle, E. J. (2017). Social and emotional learning: Introducing the issue. The Future of Children, 27(1), 3-11.

Maxwell, J. & Masters, R., Poolton, J. (2013). Performance Breakdown in Sport. Research Quarterly for Exercise and Sport. 77. 271-276. 10.1080/02701367.2006.10599360.

Rajmohan, V., & Mohandas, E. (2007). The limbic system. Indian journal of psychiatry, 49(2), 132–139. https://doi.org/10.4103/0019-5545.33264

Walton, C. C., Keegan, R. J., Martin, M., & Hallock, H. (2018). The Potential Role for Cognitive Training in Sport: More Research Needed. Frontiers in Psychology, 9. doi:10.3389/fpsyg.2018.01121

Artikel Terkait

Leave a Comment