Image default

Perspektif Dalam Psikologi: 5 Pendekatan Umum

Psikologi merupakan salah satu bidang ilmu yang bersifat ilmiah; mengenai bagaimana kita berfikir, merasa, dan berperilaku. Pada tulisan ini, kami akan berbagi tentang lima perspektif dalam psikologi yang telah berkembang dan menjadi pedoman penelitian psikologi modern.

Apakah kamu pernah berfikir mengapa kamu bertindak atau berperilaku seperti ini? Mengapa beberapa orang menjalani hidup mereka dengan berpesta sedangkan beberapa orang yang lain memilih untuk menghabiskan waktu dengan membaca buku? Atau, mengapa kamu mengingat beberapa peristiwa tertentu saja tapi melupakan peristiwa yang lain? Peneliti sebelumnya telah melakukan kajian mengenai proses berpikir sejak zaman Yunani kuno, tetapi studi ilmiah mengenai psikologi baru dimulai sekitar 100 tahun yang lalu.

Sejak Willhelm Wundt mendirikan laboraturium pertama pada tahun 1879, psikolog telah melakukan studi tentang berbagai aspek mengenai perilaku manusia, seperti kepribadian, fungsi otak dan pengaruhnya dari aspek sosiokultural. Perkembangan ilmu  ini juga telah menjawab pertanyaan mengenai alasan ilmiah dari perilaku manusia dalam berbagai perspektif, yaitu : biologis, psikodinamika, behavioral, kognitif, dan humanistik. Selanjutnya, kita akan mempelajari lebih detail tentang masing-masing perspektif psikologi tersebut.

Perspektif dalam psikologi

Perspektif Biologis

Biopsychologist atau psikolog yang meneliti ilmu ini dari perspektif biologi mengkaji pada bagaimana sistem saraf, hormon, dan genetika mempengaruhi perilaku kita. Peneliti mengeksplor hubungan antara kondisi mental, struktur otak, saraf, dan hormon untuk mengetahui bagaimana pikiran, mood, dan perilaku kita terbentuk.

Jadi, menurut perspektif dalam psikologi menurut biologis, kita adalah kompilasi dari bagian-bagian yang ada dalam diri kita secara fisik. Kita berpikir dengan cara tertentu dikarenakan adanya proses kinerja otak dan kebutuhan dari tubuh. Segala pilihan yang diambil dalam hidup kita juga bergantung pada kondisi biologis tubuh, sehingga mempengaruhi gaya belajar, prestasi, persepsi, dan kerentanan terhadap gangguan emosional. Selain memahami kondisi otak yang normal, pendekatan psikologis juga memahami proses berfikir dan kondisi badan untuk menyimpulkan bagaimana penyakit seperti schizhophrenia dapat berkembang secara genetik.

[irp]

Perspektif Psikodinamika

Pendekatan Psikodinamika diusung oleh Sigmund Freud, yang mempercayai bahwa impuls yang kita miliki dipengaruhi oleh dorongan seksual. Selain itu, ia mempercayai bahwa dorongan ketidaksadaran dan pengalaman sejak masa dini atau kanak-kanak merupakan akar dari perilaku manusia. Oleh karena itu, konflik akan muncul ketika dorongan tersebut dihambat oleh batasan sosial.

Teori oleh Freud ini seringkali dijadikan bahan gurauan dan dianggap sudah tertinggal oleh perkembangan zaman. Namun, apakah kamu pernah berfikir bahwa segala hal tentang dirimu saat ini bergantung pada pengalamanmu saat kecil? Seperti contoh, orang yang menyalahkan kebiasaan merokoknya dikaitkan dengan fiksasi oral karena proses sapih yang terlalu dini saat bayi. Hal tersebut termasuk contoh dalam perspektif psikologi Freud karena melibatkan peristiwa yang dialami pada masa kanak-kanak dan berdampak sampai usia dewasa.

I cannot think of any need in childhood as strong as the need for a father’s protection.

Sigmund Freud

Perspektif Behavioristik

Psikolog behavioral percaya bahwa stimulus dari lingkungan mempengaruhi perilaku kita. Skinner, salah satu peneliti yang mengembangkan teori ini, tidak mempercayai adanya ‘free will’, menurutnya  perilaku kita dapat diperkuat dengan reinforcement atau dikurangi intentitasnya dengan punishment.

Penganut aliran behavioristik tidak melibatkan pikiran atau kondisi mental untuk menjelaskan perilaku. Namun, berpegang teguh pada hal yang dapat diobservasi dan diukur secara langsung. Teori ini dapat menjelaskan segala aktivitas dalam kehidupan kita termasuk mengapa kita mengikuti aturan di jalan raya saat kita mengemudikan kendaraan hingga bagaimana perusahaan iklan membuat kita ingin membeli produk mereka.

Perspektif Psikologi Kognitif

Berbeda dengan behaviorist, perspektif dalam psikologi cognitive psychologist percaya bahwa perilaku kita ditentukan oleh oleh ekspektasi dan emosi. Jean Piaget, salah satu psikolog kognitif, berargumen bahwa kita mengingat hal berdasarkan pada apa yang telah kita pahami. Kita juga memecahkan masalah dengan memori yang telah kita miliki dari pengalaman sebelumnya. Menurut teori ini, otak manusia menjadi tempat untuk memproses aktivitas mental seperti mengingat, mengambil keputusan, merencanakan, menentukan tujuan, dan membangun kreativitas.

Jadi, melalui pendekatan ini, kita beralih dari anggapan bahwa manusia seperti mesin tanpa ‘free will’ atau kehendak bebas dan mempelajari kembali perasaan dan tindakan. Bagaimana kamu bertindak didasarkan pada setiap pemrosesan internal dan tekanan yang berbeda-beda pada setiap individu. Singkatnya. berdasarkan perspektif kognitif ini, ekspektasi yang dimiliki terhadap pengalaman yang akan datang, akan mempengaruhi bagaimana kamu merasa dan berperilaku ketika kamu kelak mengalaminya.

Perspektif Psikologi Humanistik

Psikolog penganut aliran humanistik percaya bahwa pada dasarnya setiap manusia hebat dan memiliki motivasi untuk mengembangkan potensi yang dimiliki.  Pendekatan ini berfokus pada bagaimana kamu memiliki perasaan yang nyaman tentang diri sendiri dengan memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan. Psikolog humanistik yaitu Carl Rogers menyebut pasiennya dengan panggilan’klien’ dan menawarkan lingkungan suportif dimana klien dapat memperoleh pemahaman tentang perasaan mereka sendiri.

Berbeda dengan pendekatan behavioral, perspektif dalam psikologi yang bersifat humanistik berpusat pada pemberdayaan secara individu. Bagaimanapun dirimu sekarang, baik atau buruk, kamu memiliki kesempatan untuk menjadi versi terbaik dari dirimu sendiri dengan mengembangkan potensi yang ada. Semua pilihan yang diambil pun berkaitan dengan upaya untuk meningkatkan kualitas hidupmu. Jadi, jika kamu ingin mengurangi kebiasaan begadang, maka terapis humanistik akan mendukungmu tanpa harus memberikan perintah langsung untuk berhenti begadang atau mencoba menganalisis mengapa kamu sering begadang.

Ditulis oleh: Lita Aprilia

Artikel Terkait

Leave a Comment