Memahami perkembangan emosi remaja harus dimulai dari definisi dasarnya. Masa remaja adalah masa peralihan dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa. Kata remaja, menurut Santrock (2012) berasal dari kata latin adolescence yang berarti individu telah tumbuh dan berkembang menjadi remaja. Berbagai pendapat membahas tentang batasan usia remaja. Steinberg (2002) membaginya dalam tiga kategori yaitu remaja awal (11-14 tahun), remaja madya (15-18 tahun) dan remaja akhir (18-21 tahun).

Masa Storm dan Stres

Bagi orang dewasa, masa remaja adalah masa menyenangkan karena tantangan yang dihadapi belum terlalu berat dibanding usia dewasa. Walaupun begitu, setiap usia memiliki tantangan tersendiri dan pasti bisa melalui tantangan tersebut. Pikunas (1976) menyatakan bahwa periode remaja ini dipandang sebagai masa storm and stres, frustasi dan penderitaan, konflik dan krisis penyesuaian, mimpi dan melamun tentang cinta, dan perasaan teralienasi (tersisihkan) dari kehidupan sosial budaya. Allport (1953) menyatakan bahwa masa remaja sebagai masa pemberontakan. Pada masa ini ketegangan emosi meninggi sebagai  akibat dari perubahan fisik dan hormon. Walaupun tidak semua mengalami masa badai dan tekanan, namun sebagian besar mengalami ketidakstabilan sebagai konsekuensi dari usaha penyesuaian diri pada pola perilaku baru dan harapan sosial yang baru. Sebuah penelitian longitudinal terhadap 220 remaja mengungkapkan bahwa keadaan emosi rata-rata menjadi semakin negatif dari awal hingga pertengahan masa remaja (Larson, Moneta, Richards, Wilson, 2002).

Dalam studi pengambilan sampel pengalaman, remaja telah diamati untuk transisi yang melalui keadaan emosional lebih cepat dan lebih cenderung bereaksi terhadap situasi dengan campuran pengaruh positif dan negatif dibandingkan dengan anak-anak (Larson, Moneta, Richards, Wilson, 2002; Riediger, Schmiedek, Wagner, Lindenberger, 2009). Selain itu, stressor menimbulkan pengaruh negatif yang lebih kuat di antara remaja daripada anak-anak, (Larson dan Ham, 1993) menunjukkan bahwa remaja mengalami asosiasi yang lebih kuat antara peristiwa stres dan munculnya pengaruh negatif. Model perkembangan remaja bersamaan sebagai “tumpukan” stresor (sumber stres) emosional, (Petersen, 1988) menyoroti tantangan yang dihadapi oleh remaja saat mereka mencoba untuk memahami dan mengelola perubahan tubuh, hubungan, dan tanggung jawab mereka. Adanya perubahan tubuh, hubungan dan tanggung jawab inilah menjadikan sumber stres bagi remaja karena merupakan suatu hal yang baru dan tentunya tidak mudah untuk terbiasa dengan hal tersebut.

Masalah Mental Remaja

Secara emosional, meskipun remaja secara keseluruhan lebih bahagia daripada tidak bahagia, (Larson, Moneta, Richards, Wilson, 2002) bukti menunjukkan bahwa remaja mengalami emosi yang sering dan intens yang menyertai peningkatan risiko gangguan mental yang ditandai dengan masalah dengan regulasi emosi. Hasil penelitian WHO (2010) dalam Damayanti (2011) menyatakan bahwa 1 dari 5 anak yang berusia kurang dari 16 tahun mengalami masalah mental emosional. Pada remaja putri tingkat suasana hati tertekan yang lebih tinggi daripada anak laki-laki. (Weinstein et al, 2007; Holsen, Kraft,  & Vittersø, 2000).

Emosi dan Otak

Setiap reaksi yang dihasilkan tubuh pasti akan berkaitan dengan pusat kendali tubuh yakni otak. Tak terkecuali emosi yang memang berkaitan dengan hasil dari aktivitas dalam otak. Studi yang berfokus pada fungsi amigdala telah menemukan pola reaktivitas yang berlebihan pada remaja dibandingkan usia lain (Guyer et al, 2008; Hare et al, 2008). Sebaliknya, korteks prefrontal yang memainkan peran sentral dalam upaya regulasi emosi (pengendalian emosi) menunjukkan perkembangan yang berkelanjutan selama masa remaja, dan dapat membatasi efisiensi regulasi emosi.(McRae et al, 2012; Silvers et al, 2015)

Apa Itu Emosi?

emosi pada remaja

Emosi yang menggebu-gebu ini adakalanya menyulitkan, baik bagi si remaja maupun bagi orangtua/ orang dewasa di sekitarnya. Namun emosi yang menggebu-gebu ini juga bermanfaat bagi remaja dalam upayanya menemukan identitas diri. Reaksi orang-orang di sekitarnya akan menjadi pengalaman belajar bagi si remaja untuk menentukan tindakan apa yang kelak akan dilakukannya. Menurut Hude (2006) “bahwa emosi adalah suatu gejala psikologis yang menimbulkan efek pada persepsi, sikap dan tingkah laku, serta dalam bentuk ekspresi tertentu”. Sedangkan menurut Goleman (dalam Asrori, 2007) mengidentifikasi sejumlah emosi, yaitu: (1) Amarah; (2) Kesedihan; (3) Rasa takut; (4) Kenikmatan; (5) Cinta; (6) Terkejut; (7) Jengkel; (8) Malu

Emosi pada Remaja

Hurlock (2002) mengemukakan bahwa ada 3 (tiga) jenis emosi yang menonjol pada periode remaja, yaitu:

a. Emosi marah

Emosi marah lebih mudah timbul apabila dibandingkan dengan emosi lainnya dalam kehidupan remaja. Hal ini berkaitan dengan bagian otak yang mana meregulasi emosi masih dalam proses berkembang. Meskipun terkadang remaja melakukan tindakan kekerasan dalam melampiaskan emosi marah, namun mereka berusaha menekan keinginan untuk bertingkah laku seperti itu. Pada dasarnya remaja cenderung mengganti emosi dengan cara yang lebih sopan.

b. Emosi takut

Ketakutan yang dialami selama masa remaja berkaitan dengan masalah dengan orang tua yang terkadang berbeda dengan keinginannya, ketakutan diasingkan dalam lingkungan pertemanan, ketakutan akan masa depan yang berkaitan dengan cita-cita, ketakutan dengan penolakan dari lawan jenis. Pada saat akhir masa remaja dan memasuki perkembangan dewasa awal, ketakutan atau kecemasan yang baru muncul adalah menyangkut masalah keuangan, pekerjaan, kemunduran usaha, pendirian/pandangan politik, kepercayaan/agama, perkawinan dan keluarga. Remaja yang sudah matang akan berusaha untuk mengatasi masalah-masalah  ketakutannya.

c. Emosi Cinta

Perasaan cinta pertama kali dirasakan dari kasih sayang seorang ibu. Kemudian seiring bertambah usia rasa cinta mulai ke arah lawan jenis. Dalam merasakan emosi cinta pertama kali yang tentunya berbeda dengan cinta kepada orang tua, remaja mengalami kebingungan. Emosi ini menimbulkan kegelisahan dan menyebabkan suasana hati berubah-ubah. Remaja perlu menceritakan isi hati kepada orang yang tepat untuk mendapatkan arahan yang sesuai agar tidak terjebak dengan cinta yang buta.

Kematangan Emosi Remaja

Hurlock (1990) berpendapat bahwa emosi yang tidak stabil menyebabkan kesukaran seremaja remaja dalam menjalani kehidupannya, remaja yang dapat mengendalikan emosinya akan lebih mudah baginya untuk menjalani hidupnya dengan sukses. Oleh karena itu, sangatlah perlu bagi remaja untuk memiliki kematangan emosi yang baik, setidaknya ada usaha untuk mengendalikan emosinya. Remaja yang memiliki kematangan emosi adalah remaja yang memiliki kesanggupan untuk menghadapi tekanan hidup baik yang ringan maupun yang berat (Meichati, 1983).

Sementara Hurlock (1980) mengemukakan dua ciri-ciri kematangan emosi, yaitu: (a) Kontrol diri, individu mampu menunggu saat dan tempat yang tepat untuk mengungkapkan emosinya dengan cara-cara yang diterima, (b) Pemahaman diri individu, individu memiliki reaksi emosional yang stabil, dapat berubah dari satu emosi ke emosi lain. Individu tersebut dapat memahami hal yang dirasakan dan mengetahui penyebab dari emosi yang dihadapi.

remaja yang matang secara emosi

Mencapai Kematangan Emosi Remaja

Menurut Effendi dalam Fitri dan Adelya (2017), kiat orang tua dalam membentuk kematangan emosi anaknya, dengan sikap yang hangat dan terbuka, aturan dibuat bersama, aturan dilaksanakan secara konsisten, hadiah dan hukuman dilakukan secara rasional, anak diberi kebebasan untuk mengemukakan pendapat, perasaan dan keinginannya, orang tua sebagai pemberi pendapat dan pertimbangan terhadap aktivitas anak, dan orang tua menerima keadaan anak.

Hurlock (1998) menyatakan untuk mencapai kematangan emosi, remaja harus belajar memperoleh gambaran tentang situasi-situasi yang dapat menimbulkan reaksi emosional, dengan cara: (a) Menceritakan berbagai masalah pribadi dengan orang lain. Remaja terbuka dalam menceritakan berbagai permasalahan dan kesulitan yang sedang dialami, (b) Katarsis Emosi adalah menyalurkan emosi, dengan cara latihan fisik yang berat, bermain atau bekerja, tertawa atau menangis.

EPILOG

Don’t let your emotions get in the way of rational decision making.”

Referensi:

Allport, G.W. (1953). The Individual And His Religion: A Psychological Interpretation. New York: The McMillan Company

Asih G. Y. &Pratiwi, M. M. (2010). Prilaku Prososial Ditinjau dari Empati dan Kematangan Emosi.  Jurnal Psikologi Universitas Muria Kudus. 1(1)

Asrori, M. (2007). Psikologi Pembelajaran. Bandung: Wacana Prima

Damayanti, M. (2011). Masalah Mental Emosional pada Remaja: Deteksi dan Intervensi. Sari Pediatri. 13 : 45-51

Fitri, N. F., & Adelya, B. (2017). Kematangan emosi remaja dalam pengentasan masalah. Jurnal Penelitian Guru Indonesia. 2 (2): 30-39.

Guyer,  A. E., Monk C. S., McClure-Tone, E. B., et al. (2008) A developmental ex-amination of amygdala response to facial expressions. J Cogn Neurosci. 20(9):1565–1582.

Holsen, I., Kraft, P., & Vittersø, J. (2000). Stability in depressed mood in adolescence: Results from a 6-year longitudinal panel study. Journal of Youth and Adolescence, 29(1), 61–78. https://doi.org/10.1023/A:1005121121721

Hude, D. (2006). Emosi. Ciputat: Erlangga

Hurlock, E. B. (1980). Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan

Sepanjang Rentang Kehidupan. Jakarta : Gramedia.

Hurlock, E. B. (1998). Adolescence Development. Fourth Edition. Mcgrawhill Kagokusha, Ltd

Hurlock, E. B. (1990). Developmental Psychology: A Lifespan Approach.(terjemahan oleh Istiwidayanti). Jakarta: Erlangga Gunarsa

Hurlock, E. B. (2002). Psikologi perkembangan : suatu pendekatan sepanjang rentang kehidupan. Surabaya : Erlangga.

Larson, R. W., Ham, M. (1993). Stress and “storm and stress” in early adolescence: The relationship of negative events with dysphoric affect. Dev Psychol. 29:130–140

Larson, R. W., Moneta, G., Richards, M. H., Wilson, S. (2002). Continuity, stability, and change in daily emotional experience across adolescence. Child Dev. 73(4):1151–1165

McRae K., Gross JJ., Weber J., et al. (2012). The development of emotion regulation: an fMRI study of cognitive reappraisal in children, adolescents and young adults. Soc Cogn Affect Neurosci. 7(1):11–22.

Meichati, S. (1983). Kesehatan Mental. Yogyakarta: Yayasan Penerbit Fakultas Psikologi UGM.

Petersen, A. C. (1988). Adolescent development. Annu Rev Psychol. 39:583–607.

Pikunas, L. (1976). Human Development. Tokyo: McGraw-Hill Kogakusha, Ltd.

Riediger M., Schmiedek F., Wagner GG., Lindenberger U. (2009). Seeking pleasure and seeking pain: Differences in prohedonic and contrahedonic motivation from adolescence to old age. Psychol Sci. 20(2):1529–1535.

Santrock, J.W. (2012). Life-Span Development (Perkembangan Masa Hidup Edisi 13 Jilid 1, Penerjemah: Widyasinta,B). Jakarta: Erlangga

Sarwono, S. (2011). Psikologi Remaja. Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada.

Silvers, J. A., Shu, J., Hubbard, A. D., Weber, J., Ochsner, K. N. (2015). Concurrent and lasting effects of emotion regulation on amygdala response in adolescence and young adulthood. Dev Sci. 18(5):771–784.

Steinberg, L. (2002). Adolescence. Sixth edition, New York: McGraw Hill Inc.

2 Responses

  1. Untuk emosi cinta mungkin semua remaja juga ngerasain sadar gk sadar. Aku pun juga lagi ngerasain gimana gelisah tiap saat, tb tb nangis overthinking cuma karna gk ada kabar dari dia, moody parah. Dan dulu aku gk bisa ngontrol emosi bgt kalo marah semua ikut kena marah, dan sekarang udah mulai belajar kontrol emosi, mematangkan emosi karna ku mau masuk psikologi huhu dulu masih kayak bodo amatan luapin aja lah tp aku sadar itu gak baik buat diri sendiri sih dan sekarang mulai sadar dan mulai punya tujuan, ya masa mau masuk jurusan psikologi blm punya kematangan emosi ya nanti oleng tengah jalan karna gk kuat banyak tekanan dari luar maupun dari diri sendiri

  2. Wah valid, aku masi remaja dan emang bener lagi ngerasain ini. Emm, kak aku mau nanya, kenapa pada remaja putri tingkat suasana hati tertekan yang lebih tinggi daripada anak laki-laki?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *