Image default

Pengalaman Kuliah di Jurusan Psikologi dari Alumni Psikologi UGM

Halo! Perkenalkan, namaku Cinta. Pembaca Kampus Psikologi mungkin selama ini mengenal namaku dengan artikel 15 Cara Move On Dari Mantan Ala Psikologi (ini artikel pertamaku). Kali ini, aku berkesempatan sharing sedikit soal kegiatan kuliahku di Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada. Nggak usah pakai bahasa formal nggak apa-apa, kan? Supaya kita lebih akrab. Hehehe.

Awal Masuk Kuliah

Tapi sebelumnya, aku ingin menyampaikan bahwa sebetulnya, aku tidak pernah terpikir untuk masuk Psikologi sewaktu SMA. Ketertarikanku terhadap Psikologi tidak sebanding dengan minatku kepada Geografi. Namun sayangnya, Geografi di universitas mana pun termasuk rumpun IPA dan aku masuk IPS, aku memutuskan untuk mencari aman saja dengan mengambil jurusan kuliah IPS.

Heck, bahkan aku sendiri tidak punya tujuan jurusan apa yang akan kuambil dan hanya mengikuti apa yang menurutku populer di mata teman-teman. Kebanyakan temanku ingin masuk Akuntansi. Tapi kemudian, menjelang Ujian Nasional, aku bagai tersambar petir melihat nilai-nilai ulangan yang dibagikan.

Ternyata, aku tidak berbakat Akuntansi sama sekali. Aku selalu salah menghitung karena kurang teliti, atau karena salah mengategorikan hutang dan piutang. Pada detik itulah, aku memutuskan, “Nope, you’re out!” Dan aku pun harus mencari jurusan kuliah selain Akuntansi.

Sampai suatu ketika, ada seorang mahasiswa yang sedang kerja praktik di sekolahku. Beliau adalah yang memperkenalkan Psikologi kepadaku. Dan sejak saat itu, aku menyadari bahwa ternyata Psikologi cukup menarik. Lucu, sih, bisa mengetahui kepribadian orang. Aku pun memasukkan Psikologi Universitas Gadjah Mada sebagai pilihan pertama Seleksi Nasional Masuk PTN.

Alhamdulillah, aku diterima! Tapi, karena ketertarikan pada Psikologi hanya berdasar pengetahuan terbatas, aku kaget begitu tahu bahwa Psikologi sangat kompleks untuk diartikan sebagai ‘ilmu pembaca kepribadian.’ Well, sebagai rumpun ilmu IPS, Psikologi mempunyai banyak bahan bacaan dan teori, tapi siapa sangka kalau Psikologi juga belajar Statistika? Ilmu Statistika dalam Psikologi digunakan sebagai dasar Psikometri, atau ilmu menyusun dan mengembangkan alat tes.

Sejak kecil, apa pun yang berhubungan dengan angka adalah momok bagiku. Apalagi, karena aku bukan orang yang mudah mempelajari konsep matematika. Jadi, apakah aku menyesal masuk Psikologi karena bertemu angka lagi sekalipun masuk IPS?

Nope! Aku tidak pernah menyesal memilih Psikologi sebagai jurusan kuliah. Psikologi punya tantangannya sendiri. Begitu pula dengan jurusan lainnya. Justru dengan adanya tantangan itu, kita diajarkan untuk mengembangkan diri.

Maka dari itu, bagiku, mempelajari Psikologi tidak hanya berkutat pada buku-buku dan jurnal, atau mengejar IPK cum laude. Aku ingin merasakan semuanya, menggali potensi, dan menggunakan ilmu Psikologi sebagai teropong dalam menelaah kejadian dalam kehidupan sehari-hari.

Maka dari itu, salah besar kalau kalian pikir aku mahasiswa Psikologi teladan, tapi aku juga bukan mahasiswa bandel. Aku hanya ingin mengeksplorasi dunia dengan bekal yang aku miliki: rasa penasaran.

Kegiatanku Sebagai Mahasiswa Psikologi

Rasa penasaran yang menggebu-gebu mendorongku ikut banyak organisasi di luar Fakultas. Di tingkat Universitas, aku bergabung dengan pers mahasiswa Bulaksumur yang mengenalkanku kepada orang-orang kritis dan berbakat yang memiliki pandangan tak biasa tentang Indonesia.

Mereka tak segan-segan mengkritik pemerintah atau ikut aksi, tapi mereka juga tak lupa dengan pentingnya kuliah. Kemudian, aku juga ikut Unit Seni Rupa (USER), komunitas pencinta seni yang penuh orang-orang kreatif. Lewat USER, aku menemukan ruang untuk mengekplorasi hobi menggambarku, dan aku beruntung punya banyak teman nongkrong di sana. Aku juga mengikuti beberapa komunitas relawan di luar kampus, meskipun kegiatannya tidak sesibuk organisasi kampus.

Memang ada kalanya, ketika kembali ke Fakultas, aku menjadi ‘terasingkan’ dengan lingkunganku. Saking seringnya bergaul dengan teman di luar Fakultas maupun di luar kampus, jarang ada teman di Fakultas yang betul-betul dekat denganku. Meskipun demikian, aku tidak peduli apakah aku dekat dengan mereka atau tidak.

Yang penting, apabila aku bersama mereka, aku bisa get along dan tidak kehabisan bahan ngobrol. Ya, itulah salah satu kemampuan yang Psikologi berikan padaku. Mau dengan orang asing atau teman sendiri, kita harus bisa ngobrol. Komunikasi yang baik adalah skill yang wajib dimiliki mahasiswa Psikologi. Khususnya, apabila setelah lulus, kamu tertarik menjadi praktisi. Nggak lucu, kan, kalau kamu diam disuatu ruangan dengan klien, lalu nggak tahu apa yang harus diobrolin?

OK, katakanlah kamu sudah punya skill komunikasi yang baik. Tapi, masih ada lagi skill wajib seorang mahasiswa Psikologi, yaitu kepekaan sosial. Skill ini tidak hanya melibatkan cara kerja intuisi, tetapi juga kognisi. Aku tidak mau mengatakan bahwa kepekaanku bagus, tapi setiap kali seseorang yang dekat denganku berperilaku aneh atau tidak biasa, mindset pertamaku adalah tidak langsung men-judge apa yang mereka lakukan.

Psikologi mengajarkanku untuk memahami makna di balik tindakan-tindakan mereka, karena dalam psikologi, segala perilaku manusia selalu didasari oleh motif. Tidak ada perilaku yang tak berdasar motif, baik sesimpel atau seaneh apa pun.

Yang ketiga, skill mahasiswa Psikologi yang wajib dimiliki adalah kesabaran. Apabila kamu ingin menjadi praktisi Psikologi, kamu harus memiliki kesabaran yang tinggi. Sebut saja, saat kamu harus duduk berjam-jam mendengarkan cerita klien atau bekerja sama dengan rekan yang sulit. Namun, yang terpenting adalah bersabar pada dirimu sendiri.

Karena apabila kamu bisa bersabar pada dirimu sendiri, kamu takkan merasa rendah diri saat kamu usaha yang kamu lakukan belum membuahkan hasil. Setiap orang punya prosesnya sendiri dalam belajar untuk bersabar. Tidak ada teori yang jelas mengenai kesabaran, tapi kesabaran bisa diasah dengan pengalaman hidup. Maka dari itu, carilah pengalaman hidup sebanyak-banyaknya selama kuliah!

Mempraktikkan Ilmu Psikologi

Nah, apabila kamu sudah memiliki skill sebagai bekal menjadi praktisi Psikologi, kamu tinggal mencari lokasi untuk mempraktikkannya. Nggak usah terlalu jauh mikirnya. Lokasi terbaik mempraktikkan Psikologi adalah di masyarakat. Tapi, bagaimana jika keadaan pandemi seperti sekarang ini? Tenang, kamu masih tetap bisa mempraktikkan pelajaran Psikologi di rumah. Khususnya, kepada dirimu sendiri.

Waktu kuliah S1 dulu, aku pernah masuk ke kelas Psikologi Emosi yang dipandu salah seorang dosen, Ibu Sofia Retnowati atau yang kami panggil Bu Sofi. Beliau sering mengajak kami relaksasi sebelum mulai kuliah dengan menyetel instrumental klasik sambil bermeditasi.

Relaksasi dan meditasi dalam Psikologi adalah suatu cara untuk mengendalikan emosi sekaligus memfokuskan pikiran kita terhadap apa yang kita alami saat ini. Apabila kami sudah rileks, Bu Sofi akan mengajak kami sharing tentang apa pun yang kami alami. Mendengar cerita teman-teman yang menarik, lucu, atau konyol biasanya membuat mood kami di hari itu semakin baik, sehingga kami bisa mengikuti kuliah dengan bersemangat.

Nah, teknik relaksasi dan meditasi yang diajarkan Bu Sofi itu kemudian ku terapkan di rumah. Kalau sedang mengerjakan tugas atau menulis artikel, aku sering mendengarkan musik. Biasanya, yang kudengarkan musik indie atau folk yang memiliki irama mellow, agar pikiranku tidak mengembara ke mana-mana. Teknik ini juga membantu apabila kamu sedang merasa kesepian di rumah, merasa gabut, tapi nggak ada yang bisa diajak ngobrol.

Apabila kamu nggak terlalu suka mendengarkan musik, mungkin podcast meditasi bisa jadi pilihan lain. Yang penting, kamu bisa sejenak membuang pikiran negatifmu, sehingga mentalmu kembali siap untuk mengerjakan hal lainnya.

Yang kedua, mempraktikkan ilmu Psikologi selama di rumah bisa dilakukan saat berkumpul dengan keluarga. Terutama sebagai introvert, aku jarang ikut serta saat keluargaku mengobrol dan jauh lebih suka mengobservasi. Misalnya, ketika pamanku menceritakan sesuatu yang membahagiakan, aku akan mengamati gesture, melihat ekspresinya, dan berpikir pada diriku sendiri, “Benarkah dia bahagia?” atau “Apakah yang dikatakannya ada benarnya?”

Well, memang agak aneh kedengarannya, tapi menurutku, belajar Psikologi sangat membantu ketika kita ingin mencari kebenaran atas reaksi emosional seseorang. Mengamati gesture dan ekspresi orang adalah salah satu caranya. Selain itu, kamu juga bisa mengoptimalkan indera pendengaran untuk menangkap intonasi orang saat bicara. Biasanya, intonasi yang akan menentukan, apakah lawan bicara kita memang bersungguh-sungguh, atau dia hanya mengarang-ngarang reaksi emosinya.

Yang ketiga, kita juga bisa mempraktikkan ilmu Psikologi dengan teman. Aku sering mendapat telpon dari teman-teman yang butuh curhat. Di sinilah pelajaran utama mengenai kesabaran saat mendengarkan. Kita tidak boleh menginterupsi orang saat bercerita. Namun, kita bisa memberikan respons untuk konfirmasikan topik yang dibicarakan orang tersebut.

Inilah mengapa skill komunikasi merupakan hal yang vital dalam Psikologi. Komunikasi adalah penjembatan kita dengan orang-orang yang membutuhkan kita, baik dalam hubungan profesional maupun pertemanan. Dan tentu saja, melalui komunikasi itulah kita bisa memahami orang lain. Tujuan utama seorang psikolog adalah memahami orang lain, bukan?

Penutup

Well, kira-kira itulah yang ku dapat selama berkuliah di Psikologi. Aku tak menyuruh kalian mengalami apa yang kualami, kok. Satu pesanku untuk kalian: mau kuliah di mana pun, pastikan kalian juga mempraktikkan ilmu kalian dalam kehidupan sehari-hari. Jangan lupa untuk cari pengalaman di luar kuliah. Jadilah gelas yang setengah kosong. Perbesar circle-mu selagi sempat! Carilah teman sebanyak-banyaknya! Percayalah, luasnya relasi akan sangat membantu kalian untuk berkembang, entah kalian memilih menjalani profesi sebagai psikolog, ilmuwan, atau apa pun yang kalian inginkan.

Artikel Terkait

Leave a Comment