Image default

4 Pekerjaan Yang Cocok Untuk Ambivert, Apa Saja Pilihan Karirnya?

Kita sudah membahas tentang pilihan profesi dan karir bagi ekstrovert dan introvert di dua artikel sebelumnya. Jadi, kurang rasanya bila kita tidak mengikutsertakan kaum-kaum perbatasan alias para ambivert serta pekerjaan yang cocok bagi mereka. Tapi sebelum kita mulai, apakah di antara kalian sudah tahu apa itu ambivert?

Ambivert dalam Psikologi Kepribadian

Ambivert adalah kepribadian yang dicirikan dengan keseimbangan antara ekstraversi dan introversi dalam diri individu. Memang akhir-akhir ini, ilmuwan psikologi kepribadian masih meragukan sebutan ‘ambivert,’ karena kenyataannya, ekstraversi dan introversi sebenarnya bukanlah dua kutub yang berlawanan, melainkan suatu preferensi.

Jadi, tidak ada orang yang benar-benar ekstrovert maupun benar-benar introvert, dan setiap orang pasti memiliki bagian ekstrovert dan bagian introvert dalam dirinya, meskipun setiap orang akan berbeda-beda susunannya. Pandangan ini didukung oleh Myers-Briggs Institute, yang apabila kalian familier, menyusun alat tes Myers-Briggs Type Inventory (MBTI).

Lalu, dari mana sebenarnya asal sebutan ‘ambivert’ ini? Tidak ada yang tahu pasti. Yang jelas, dalam artikel riset yang ditulis oleh Adam Grant pada tahun 2013, istilah ambivert sudah muncul dan digunakan untuk menjelaskan kepribadian yang berada di tengah-tengah antara ekstrovert dan introvert.

Grant juga menyatakan dalam artikelnya bahwa kepribadian ambivert adalah kepribadian yang paling stabil, karena tidak terlalu terbuka atau terlalu tertutup.

Pekerjaan Yang Cocok Untuk Ambivert

Berikut ini adalah empat pilihan karir yang mungkin cocok bagi kamu yang merasa dirimu ambivert:

1.  Fotografer

Profesi fotografer memang lekat dengan seseorang yang suka jalan-jalan sambil mengabadikan momen menggunakan kamera. Apabila kamu termasuk salah satunya, kamu bisa mulai menjadi fotografer profesional. Tapi ingat, fotografer profesional juga perlu portofolio yang meyakinkan. Untungnya, sekarang banyak website yang bisa digunakan untuk membuat portofolio foto atau mengenalkan karyamu.

Sebut saja Flickr, Youpic, Pinterest, dan tentu saja Instagram. Selain itu, fotografer juga harus bisa membangun relasi dengan banyak orang untuk mengembangkan dan mempromosikan bisnisnya kepada klien. Lepas dari introvert maupun ekstrovert, bagi kebanyakan fotografer profesional, membangun relasi dan komunikasi membutuhkan tingkat ekstraversi tinggi, apalagi jika harus berada dalam situasi seperti pernikahan atau event yang melibatkan banyak orang.

Pendapatan fotografer profesional berbeda-beda tergantung pengalaman dan tingkat kesulitan. Contohnya, bagi kontributor foto National Geographic, pendapatannya bisa mencapai 400-500 USD atau sekitar 6-7 juta rupiah per hari, dengan kontrak per artikel. Sementara untuk fotografer majalah secara umum di Amerika Serikat, per tahun pendapatannya bisa mencapai 42.516 USD atau sekitar 602 juta rupiah.

2.  Podcaster

Menjadi podcaster adalah salah satu pekerjaan yang cocok bagi ambivert.

Anak-anak muda kekinian pasti akrab dengan podcast, bukan? Merambahnya pendengar podcast diperluas dengan penggunaan aplikasi streaming audioseperti Spotify, Joox, dan Deezer. Kurang lebih seorang podcaster punya deskripsi pekerjaan yang serupa dengan penyiar radio. Perbedaannya, jika penyiar radio bekerja secara live, seorang podcaster tidak harus live karena pada umumnya, podcast di-upload ke internet dan bisa di-download oleh pendengarnya.

Meskipun demikian, sama seperti penyiar radio, podcaster harus mempunyai kemampuan komunikasi yang baik karena ia harus membawa topik pembicaraan dengan luwes dengan narasumber maupun tanpa narasumber. Maka dari itu, kepribadian seorang podcaster memang kebanyakan terbuka, outgoing,dan menyenangkan.

Namun bukan berarti hanya ekstrovert yang bisa menjadi podcaster, sebab critical thinking akan sangat dibutuhkan podcaster, apalagi karena sejumlah topik yang dibahas dalam podcast bervariasi, dan bisa saja nyeleneh.

Sejumlah podcaster juga berperan sebagai editor dan produser, sehingga ketekunan dan kreativitas juga dibutuhkan dalam menghasilkan suatu konten yang berkualitas. Rata-rata penghasilan podcaster bervariasi, tergantung dari popularitas konten dan sponsor. Podcaster populer, Joe Rogan, memperoleh pendapatan hingga 30 milyar USD per tahun pada tahun 2019, diikuti oleh My Favourite Murder dengan pendapatan 15 milyar USD per tahun.

Bagaimana dengan Indonesia? Dilansir dari Kompas, pendapatan podcaster diperkirakan bisa mencapai 14 triliun rupiah per tahun, karena meskipun iklan di podcast berdurasi lebih sedikit daripada iklan di radio, kepopuleran podcast berdampak pada peningkatan kepercayaan pengiklan terhadap podcaster. Namun apabila masih kurang, podcaster juga bisa menggunakan platform donasi seperti Patreon sebagai penggalang dana podcast-nya.

3.  Penulis

Penulis memang sering identik dengan para introvert, namun belakangan ini, penulis-penulis ekstrovert juga bermunculan dengan karya-karya yang tidak kalah menarik. Sebut saja Trinity, penulis Nekad Traveler yang terkenal dengan pengalamannya keliling dunia. Ada juga Mark Manson dengan buku Seni Bersikap Bodo Amat-nya.

Malah sebetulnya, ekstraversi dan introversi jarang tampak dalam kepenulisan, karena menulis mencerminkan kemampuan seseorang menuangkan gagasannya dalam bentuk karya tulis. Gagasan dihasilkan dari inteligensi. Inteligensi tidak ditentukan oleh kepribadian seseorang, karena inteligensi menunjukkan kemampuan belajar dan beradaptasi, sedangkan kepribadian merujuk pada variasi kecenderungan perilaku yang ditampakkan seseorang sebagai respon terhadap suatu kejadian dalam lingkungan.

Karenanya, menjadi penulis merupakan pilihan karir yang cocok untuk ambivert.

Soal pendapatan, penulis akan berbeda-beda bergantung dari popularitas karyanya. Menurut data US Bureau of Statistics tahun 2016, pendapatan rata-rata penulis novel di Amerika Serikat meraih 61 ribu USD per tahun. Lain lagi dengan penulis yang masuk dalam kategori New York Times Best-Seller. Mengingat royalti dari kontrak standar, seorang penulis yang menjual 20.000 buku dengan harga 25 USD akan mendapatkan 65.625 USD pada minggu pertama dalam daftar best-seller. Semakin laris bukunya, semakin tinggi pula pendapatannya.

4.  Jurnalis

Siapa yang tidak kenal dengan jurnalis seperti Rosiana Silalahi, Aiman Witjaksono, Michael Tjandra, atau Najwa Shihab? Mereka semua adalah orang-orang yang memiliki pemikiran kritis dan penuh keingintahuan. Inilah mengapa jurnalisme amat lekat dengan orang-orang berkepribadian ekstrovert.

Meskipun begitu, tidak semua jurnalis adalah ekstrovert. Introvert pun bisa menjadi jurnalis, karena selain kepribadian, jurnalisme juga membutuhkan dukungan elemen-elemen seperti kreativitas, kecermatan, dan efisiensi, terutama dalam beradaptasi dengan tuntutan zaman. Kemudian, soal kritis dalam berpikir juga dibutuhkan dalam jurnalisme.

Dalam teori Myers-Briggs, pemikiran kritis dan mendalam adalah trait salah satu fungsi kognitif introvert yang dinamakan introvert thinking, namun teori tersebut juga menjelaskan bahwa tiap kepribadian memiliki fungsi kognitif ekstrovert dan introvert dalam diri mereka, sehingga orang sangat mungkin bagi orang berkepribadian ekstrovert memiliki introvert thinking.

Bagaimana dengan pendapatannya? Di Singapura, jurnalis berpengalaman bisa mendapat upah rata-rata 3.400 dolar Singapura atau sekitar 36.5 juta rupiah per bulan. Sementara di Indonesia, jurnalis rata-rata mendapatkan upah 14.9 juta rupiah per bulan dengan range gaji antara 7 hingga 24 juta rupiah per bulan.

Kepribadian dalam Karir, Pentingkah?

Sebenarnya, masih ada lagi banyak pilihan karir bagi ambivert, tapi akan sangat panjang kalau dituliskan dalam artikel ini. Sebagai gantinya, mari kita renungkan sejenak.

Di dunia nyata, kita melihat banyaknya kecenderungan orang mengutamakan kepribadian dalam karir. Padahal sebetulnya, kepribadian bukan hanya penentu kesuksesan karir seseorang. Riggio menyatakan dalam risetnya bahwa kepribadian seseorang tidak terlalu menentukan bagus tidaknya leadership dalam organisasi, melainkan social skill-nya. Di samping itu, kecerdasan emosi juga perlu dipertimbangkan apabila kita ingin menilai seseorang, karena berdasarkan riset oleh Ghiabi dan Besharat (2011), kecerdasan emosi dapat berpengaruh terhadap kepribadian individu.

Selain itu, perlu diingat bahwa banyak unsur-unsur lain yang mendukung kepribadian seseorang, bukan hanya ekstraversi atau introversi. Dalam teori Big Five, misalnya, kepribadian seseorang terdiri dari lima faktor, yaitu agreeableness, openness, conscientiousness, extraversion, dan neuroticism. Menurut teori Big Five, kepribadian individu menyerupai spektrum, yang artinya dari kelima faktor tersebut, seseorang tidak ada yang benar-benar condong ke salah satu atau kelima faktor tersebut.

Misalnya, tingkat agreeableness setiap orang akan berbeda-beda, begitu pula tingkat openness dan conscientiousness-nya. Lain lagi dengan Hans Eysenck, yang menyatakan bahwa kepribadian seseorang dipengaruhi faktor biologis, sehingga setiap individu mewarisi kemampuan belajar yang ditentukan oleh kinerja sistem saraf otonom.

Kemudian, ada teori lain, yaitu 16 faktor yang dikemukakan Raymond Cattell. Cattell menyatakan bahwa individu memiliki 16 dimensi yang menyusun kepribadiannya, yaitu warmth, reasoning, emotional stability, dominance, liveliness, rule-consciousness, social boldness, sensitivity, vigilance, abstractedness, privateness, apprehension, openness to change, self-reliance, perfectionism, dan tension. (Mungkin soal ini akan kita bahas di artikel berikutnya. Setuju?)

Sebenarnya, masih banyak lagi teori yang berbeda-beda tentang kepribadian. Perkara kamu termasuk ekstrovert, introvert, maupun ambivert hanyalah sebagian kecil dari faktor yang menyusun kepribadianmu. Peran lingkungan serta motivasi dari dalam diri juga penting dalam kepribadian, jadi tidak selamanya kepribadianmu hanya ditentukan oleh label-label tersebut.

Maka dari itu, lepas dari segala pilihan karir yang ada, kamu tetap membutuhkan jam terbang yang tinggi dan ketekunan untuk mencapai kesuksesan. Yang penting adalah niat untuk selalu berkembang dan terus belajar.

References:

  • Ghiabi, B., & Besharat, M. A. (2011). An investigation of the relationship between Personality dimensions and emotional intelligence. Procedia – Social and Behavioral Sciences, 30, 416–420. doi:10.1016/j.sbspro.2011.10.082
  • Grant, A.M. (2013). Rethinking the Extraverted Sales Ideal: The Ambivert Advantage. Psychological Science, 24(6), 1024-1030.
  • Küssner, M. B. (2017). Eysenck’s Theory of Personality and the Role of Background Music in Cognitive Task Performance: A Mini-Review of Conflicting Findings and a New Perspective. Frontiers in Psychology, 8. doi:10.3389/fpsyg.2017.01991
  • Myers, I. B. (1987). Introduction to Type : A Guide to Understanding Your Results on the Myers-Briggs Type Indicator. Consulting Psychology Press, Inc.

Artikel Terkait

Leave a Comment