Dalam dunia ini, semuanya telah menjadi serba online. Belajar dari rumah, belanja juga menggunakan marketplace seperti Tokopedia atau Shopee, bahkan kita sekarang telah beradaptasi untuk mencari pasangan secara online dengan aplikasi seperti Tinder atau Bumble. Namun, apakah situs kencan online akan menjadi sarang individu-individu yang bermasalah? Artikel ini hadir untuk menjelaskan tentang relasi narsisme dan dunia online!

Apa itu Narsisme?

Seringkali para pembelajar psikologi akan dihadapkan dengan pertanyaan:

“Kak, narsisme itu kayak lebay kan? Kayak berlebihan gitu padahal biasa aja.”

atau

“Bang, orang yang narsis itu sering “Ge-er” dan sombong gitu nggak sih?”

Pertanyaan diatas hanya bisa dijawab dengan “well, yes but actually no” atau “bener sih, tapi enggak begitu juga”

Seorang mahasiswa psikologi memiliki tuntutan untuk memberikan informasi yang benar dan sayangnya harus mendetail agar tidak disalahpahami. Karenanya, kalian akan sering mendengar kata DSM (Diagnostic and Statistical Manual for Mental Disorder), PPDGJ (Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia), bahkan APA (American Psychiatric Association) yang turut mendampingi informasi dari anak psikologi itu.

Narsisme bisa dianggap sebagai pandangan berlebihan terhadap diri sendiri. Kata “narsis” seringkali digunakan untuk menjelaskan seseorang yang terfokus pada diri sendiri, egois, sombong, arogan dan tidak tahu malu (Jonason, Webster, Schmitt, Li, & Crysel, 2012). Kerap kali pandangan terlalu positif ini membuat individu yang menderitanya berusaha keras untuk mempertahankan imej positif itu (Morf & Rhodewalt, 2001). Agar lebih spesifik, kita perlu memisahkan Narsisme menjadi dua bagian, yaitu;

1. Gangguan Kepribadian Narcissistic Personality Disorder

Narsisme sebagai gangguan kepribadian “hadir” untuk melindungi self-esteem penderitanya yang rendah dan rapuh (Rogoza, Żemojtel-Piotrowska, Kwiatkowska, & Kwiatkowska, 2018). Bisa dikatakan kalau penderita Narsisme berada pada sebuah spektrum, jadi seperti ada level dan jenis-jenisnya yang beda. Selain itu, seseorang yang menderita NPD grandiosity, kekurangan empati dan haus akan pujian/rasa kagum (American Psychiatric Association, 1994).

Contohnya seperti seseorang yang secara konstan berperilaku secara berlebihan, menggunakan kata-kata besar tanpa tahu artinya, dan susah memahami perasaan orang lain. Untuk lebih lengkapnya, cek artikel aku tentang NPD dan Narsisme.

2. Narcissism dari Dark Triad

Dark Triad adalah sebutan keren yang mengelompokkan Narcissism, Machiavellianism, dan Psychopathy. Baik dalam Dark Triad dan di dalam konteks yang saintifik, narsisme dibagi menjadi dua yaitu Grandiose Narcissism dan Vulnerable Narcissism (Miller, Price, Gentile, Lynam, & Campbell, 2012). Berikut penjelasan lebih detailnya:

a. Grandiose Narcissism (GN):

Grandiose Narcissism dicirikan oleh dominansi, kepercayaan diri, ketidaksopanan, ekshibisionisme, dan agresi. Perilaku seseorang dengan GN lebih diasosiasikan dengan perilaku; tidak sopan, licik, dan menolak untuk bekerjasama dengan otoritas (Miller, Price, Gentile, Lynam, & Campbell, 2012).

b. Vulnerable Narcissism (VN):

Sebaliknya, Vulnerable Narcissism lebih mengarah kepada perilaku hipersensitif. Narsisme jenis ini dicirikan oleh introversi, emosi negatif, dingin kepada rekan/orang lain, permusuhan, rasa perlu rekognisi, egosentrisme, dan merasa berhak atas perlakuan tertentu. Individu dengan Vulnerable Narcissism akan cenderung memiliki gaya komunikasi yang distrustful (tidak percaya-an) dan agresif.

Menurut Miller dkk (2010, 2011) gaya komunikasi interpersonal ini didorong oleh emosi negatif, gaya attachment yang problematik, dan kekerasan ataupun pengabaian pada masa anak-anak yang diasosiasikan dengan dimensi narsisme ini.

Ciri-ciri ini menjadi pembeda antara kedua dimensi narsisme ini. Perilaku dan gejala masing-masing dimensi narsisme ini berbeda, sehingga diperlukan bantuan klinis yang berbeda pula  (Pincus et al., 2009).

Dampak Narcissism dalam Kencan Online

Di bagian ini, karena kamu sudah tahu narsisme dan definisinya, saatnya kita melihat perilaku para individu narsis dalam media kencan online (Tinder, Bumble, dll). Kencan online merupakan sesuatu yang baru muncul akhir-akhir ini dan menjadi sangat terkenal di era pandemi. Kurangnya mobilitas orang-orang untuk bertemu calon pasangan memindahkan mereka ke aplikasi-aplikasi ini untuk menemukan pasangan yang cocok.

Saya langsung terjun untuk mencari-cari riset yang menemukan dampak narsisme dalam perilaku seseorang di aplikasi kencan online. Saya menemukan jika narsisme dan kencan online merupakan pasangan yang hubungannya kurang baik. Berikut beberapa temuan saya dan penjelasannya:

1. Narsisme sebagai Prediktor Cyber Dating Abuse (CDA)

Dalam jurnal Dangerous dating in the digital age: Jealousy, hostility, narcissism, and psychopathy as predictors of Cyber Dating Abuse (CDA) (Branson & March, 2021), para peneliti berargumen bahwa perkembangan metode kencan akan membawa evolusi kepada kekerasan pada pasangan intim atau Intimate Partner Violence (IPV).

CDA ini melibatkan metode mengendalikan atau mengganggu pasangan mereka melalui aplikasi kencan online, sosmed, dan lain sebagainya (Zweig dkk., 2014). Para peneliti menemukan jika CDA ini dipengaruhi secara signifikan oleh Grandiose dan Vulnerable Narcissism.

Lebih parahnya lagi, perilaku ini didorong oleh medsos yang mendorong perilaku narsisme (aggression, grandiosity, and exploitation). Kesimpulannya adalah Vulnerable Narcissism dan Secondary Psychopathy dapat menjadi prediktor CDA.

2. Individu Narsis Cenderung untuk Lebih Sering Membuka Aplikasi Kencan Online

Seperti judulnya, jurnal “How bright and dark personality traits predict dating app behavior”  (Freyth & Batinic, 2021) melakukan survey untuk mencari tahu jenis kepribadian apa yang paling sering membuka aplikasi kencan online. Subclinical-Narcissism diukur menggunakan Naughty Nine.

Mereka menemukan jika Narsisme, motif untuk mencintai, dan sex menjadi prediktor bagi AU (Any Usage/penggunaan Tinder secara Umum). Sedangkan Machiavellism menjadi prediktor ADUT (Average Daily Using Time).

Sayangnya, penelitian ini tidak mendalami alasan dibalik hasilnya, seperti alasan narsisme dan machiavellism menjadi prediktor AU dan ADUT, sedangkan Psychopathy tidak. Mereka menyarankan jika aspek NArsisme bisa didalami jika dibagi menjadi Grandiosity dan Rivalry (Back dkk., 2013)

3. Grandiose Narcissism yang menjadi Prediktor Perbuatan Kejahatan

Pada jurnal “To swipe or not to swipe: The Dark Tetrad and risks associated with mobile dating app use” ditemukan jika kepribadian Grandiose Narcissism dapat menjadi prediktor perbuatan kejahatan (Mayshak, King, Chandler, & Hannah, 2020). Namun, dalam jurnal ini ditegaskan jika hal ini lebih sering terjadi pada face-to-face meeting, jika kedua orang yang bertemu di aplikasi kencan online tersebut memilih untuk bertemu.

Penutup:

Gangguan kepribadian Narsisme dapat muncul dalam berbagai situasi dan memunculkan berbagai perilaku sesuai konteksnya. Secara general, mereka merupakan individu yang berlebihan yang berusaha mempertahankan citra yang sangat baik, mendapatkan pujian dari orang sekitarnya.

Dalam proses mempertahankan citra ini, mereka melakukan perilaku yang kurang terpuji, bahkan mengganggu pasangannya. Kalau dari pengalaman kalian gimana nih? Bagaimana sih rasanya pacaran sama seseorang yang narsis?

References

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *