Tentunya kita sering mendengar beberapa pepatah yang sering dikaitkan dengan manusia dan cara mereka untuk memuaskan rasa keingintahuan mereka. Kata-kata bijak tentang metode pembelajaran efektif bisa berasal dari berbagai sumber dan sering temui, entah dari berbagai cerita fiksi yang tersebar di kalangan masyarakat dan bisa jadi menjadi makna implisit suatu puisi yang diciptakan oleh seorang pengarang ternama. Satu kesimpulan yang dapat diambil dari sekian banyaknya pepatah adalah manusia tidak akan pernah bisa mencapai titik kepuasan dalam rasa keingintahuan mereka, dengan itu lah manusia ditakdirkan menjadi spesies yang akan terus belajar.

Suatu hal yang lazim di kalangan masyarakat adalah kita sering mengasosiasikan belajar dengan kegagalan yang mengikuti kegiatan tersebut, oleh sebab itu kita menyebutnya proses pembelajaran karena tidak bisa dicapai secara instan. Sebagai contoh, seorang bayi tidak akan bisa langsung berjalan pada saat pertama kali mencoba, dia akan sering mendapati dirinya terjatuh sebelum bisa berjalan; seorang karyawan pabrik akan mempunyai peluang yang besar untuk mendapati dirinya kesusahan mengoperasikan alat industri manufaktur untuk pertama kali. Namun, bayi dan karyawan tersebut akan terus mencoba sehingga tujuan mereka menguasai kemampuan tersebut dapat mereka kuasai. Terlepas dari berbagai pemahaman kita tentang proses pembelajaran dan banyaknya contoh proses tersebut yang mungkin sudah kita lakukan, apakah pemahan tersebut tepat?

Definisi Proses Pembelajaran

Banyak ahli mencoba untuk mendefinisikan kegiatan belajar. Selama ini kita menganggap belajar sebagai perubahan perilaku yang disebabkan oleh pelatihan dan pengalaman. Namun, Lachman (1997) mempunyai pendapat yang berbeda tentang definisi belajar yang selama ini umum dipercayai, dia berpendapat bahwa belajar sebagai sebuah proses harus dibedakan dengan hasil perilaku yang muncul; proses belajar tidak selamanya menghasilkan perubahan terhadap perilaku yang dihasilkan, namun mentargetkan perubahan efektivitas rangsangan yang membuat suatu perilaku muncul. Hal ini selaras dengan pendapat De Houwer (2013) yang menyatakan bahwa belajar merupakan kemampuan individu untuk beradaptasi yang disebabkan oleh berhasilnya individu tersebut menciptakan keteraturan di lingkungan tempat dia berada.

Penjelasan di atas menekankan cara menilai metode pembelajaran yang efektif bukan dengan cara menitikkan fokus kepada hasil perilaku yang mampu dimunculkan seseorang, melainkan, berfokus kepada proses yang dijalani seorang individu. Seorang individu harus menemukan alasan kenapa dia ingin menjalani proses tersebut dengan sendirinya.

Kenapa Kita Belajar?

Kembali ke kasus bayi dan seorang karyawan yang sudah disebutkan di atas. Kenapa mereka memutuskan untuk belajar? Walaupun bayi tersebut mempunyai resiko untuk terjatuh dan terluka serta karyawan tersebut mungkin mempunyai resiko untuk merusak alat industri manufaktur tersebut, mereka tetap melakukan kegiatan tersebut dan mencoba berulang kali. Kenapa?

Seperti pendapat De Houwer, manusia akan mencari cara untuk menciptakan keteraturan di lingkungan mereka sehingga mereka dapat beradaptasi. Agar bayi bisa melaksakan kegiatannya dengan mudah dia memutuskan untuk belajar berjalan begitu juga dengan karyawan yang memutuskan untuk mempelajari cara alat industri manufaktur bekerja agar bisa beradaptasi dengan lingkungan kerjanya dan mendapatkan upah.

implementasi dari metode pembelajaran efektif
Photo by Gaelle Marcel on Unsplash

Di lingkungan kerja yang sangat kompetitif akibat globalisasi seperti saat ini, perusahaan-perusahaan harus mencoba beradaptasi dengan keadaan dunia untuk selalu bisa unggul dari kompetitornya. Perusahaan-perusahaan tersebut membutuhkan karyawan dengan berbagai skill-set mumpuni yang mampu menunjang kemampuan adaptasi dengan situasi yang terjadi di dunia. Untuk itu, perusahaan menciptakan berbagai pelatihan bagi karyawannya dengan tujuan membentuk perusahaan dengan performa efisien dan mampu bersaing. Masih ada satu pertanyaan yang belum terjawab, metode pembelajaran seperti apa yang efektif untuk digunakan sekarang?

Metode Pembelajaran Aktif

Banyak artikel penelitian yang menjelaskan tetang pemilihan metode pembelajaran aktif sebagai metode yang efektif. Berbeda dengan metode pembelajaran konservatif di mana guru menerangkan suatu materi lalu pada akhirnya akan menanyakan sesuatu di kelas untuk mengetahui apakah murid yang menghadiri kelasnya memahami materi yang dia jelaskan, metode pembelajaran aktif terdiri dari beberapa course pendek yang diwajibkan untuk diikuti semua murid (baik secara individu maupun pembentukan kelompok kecil) untuk mengerjakan dan membahas materi yang dijelaskan pada hari itu, hasil diskusi nantinya akan dipresentasikan kepada semua orang yang hadir di dalam kelas tersebut (Felder, 2009).  Hal ini diharapkan akan menciptakan lingkungan dimana semua murid mempunyai semangat untuk belajar dan terlibat aktif dalam diskusi kelas, contohnya dalam belajar psikologi.

Contoh Penerapan Dan Jenis Metode Pembelajaran Aktif

Active learning (metode pembelajaran aktif) mempunyai beberapa jenis metode. Prince (2004) membagi jenis-jenis metode pembelajaran aktif:

  1.  Collaboratif learning (pembelajaran kolaborasi)

Murid diharapkan untuk bekerja sama dalam kelompok untuk menyelesaikan suatu tujuan dan peniliain akhirnya adalah hasil dari kerja kelompok tersebut. Sebagai contoh, tugas kelompok di perkuliahan yang akhirnya dipresentasikan.

Hampir sama seperti pembelajaran kolaboratif, kelompok murid diminta untuk mengerjakan suatu tugas. Namun, penilaian yang akan dilakukan berdasar kepada kontribusi individual di dalam kelompok tersebut. Sebagai contoh, tugas kelompok di perkuliahan namun memiliki peer rating (setiap anggota kelompok menilai anggota kelompok mereka) sebagai dasar penilaian.

Dirancang dengan tujuan para murid mampu memecahkan dan memahami suatu masalah secara konstruktif. Murid diharapkan dapat memecahkan masalah yang ada dengan pendekatan sistemik. Jenis metode ini bisa digunakan secara kelompok maupun individual. Sebagai contoh, tugas makalah yang ada di perkuliahan.

Alasan Memilih Metode Pembelajaran Aktif

Metode pembelajaran aktif menurut psikologi dinilai menjadi metode pembelajaran efektif karena beberapa faktor:

Driver (1994) berpendapat bahwa pengetahuan tidak dapat dipelajari dengan cara diterangkan saja. Melainkan, murid harus bisa memberikan pemaknaan terhadap materi yang dijelaskan dengan tujuan membentuk pandangan yang konstruktif.

Ryle (1984) menyatakan bahwa terdapat perbedaan signifikan antara mengetahui apa dan mengetahu bagaimana. Tantangan proses pembelajaran hingga saat ini bisa dianalogikan dengan mengetahui tentang suatu masalah bukan berarti mengetahui bagaimana cara menyelesaikan masalah tersebut.

Seorang individu yang belajar secara kelompok memiliki kemampuan lebih besar untuk untuk mendapatkan insight dari anggota kelompoknya dan akhirnya lebih cepat menyelesaikan tugas yang diberikan daripada individu yang bekerja secara sendirian (Michael, 2006).

Namun, metode pembelajaran aktif tidak selamanya efektif untuk skill-set tertentu. Kembali ke kasus karyawan pabrik manufaktur yang sudah diterangkan di atas, bayangkan saja apabila terdapat banyak kelompok-kelompok yang akan mempelajari cara mengoperasikan alat manufaktur sedangkan hanya ada satu alat yang tersedia.

Pesan dari KampusPsikologi.com

Tidak ada metode pembelajaran efektif yang bisa digunakan untuk semua kondisi, semua tergantung situasi dan apa target hasil pemberlajaran tersebut. Namun, dalam kondisi tertentu terdapat metode pembelajaran yang dinilai lebih efektif daripada metode lainnya. Hal ini menjadi pertimbangan bagai perancang pelatihan untuk mendesain model pelatihan yang akan dia pakai.

References:

De Houwer, J., Barnes-Holmes, D., & Moors, A. (2013). What is learning? On the nature and merits of a functional definition of learning. Psychonomic Bulletin & Review, 20(4), 631-642. doi: 10.3758/s13423-013-0386-3

Driver, R., Asoko, H., Leach, J., Scott, P., & Mortimer, E. (1994). Constructing scientific knowledge in the classroom. Educational researcher, 23(7), 5-12.

Felder, R. M., & Brent, R. (2009). Active learning: An introduction. ASQ higher education brief, 2(4), 1-5.

Lachman, S. J. (1997). Learning is a Process: Toward an Improved Definition of Learning. The Journal of Psychology, 131(5), 477–480. doi:10.1080/00223989709603535 

Michael, J. (2006). Where’s the evidence that active learning works?. Advances in physiology education.

Ryle, G. (1984). The concept of mind (1949). London: Hutchinson.

Prince, M. (2004). Does Active Learning Work? A Review of the Research. Journal of Engineering Education, 93(3), 223–231. doi:10.1002/j.2168-9830.2004.tb00809.x

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *