Image default

Menilik Stigma Kesehatan Mental Di Indonesia

Pernahkah kalian berada di titik di mana kalian mengalami kesulitan untuk merasa bersemangat? Atau pernahkah orang-orang terdekat kalian mengalami kecemasan yang membuat mereka jadi sulit melaksanakan pekerjaan sehari-hari? Kalau kamu perhatian dengan hal-hal semacam itu, berarti kamu sudah memiliki awareness atau kesadaran mengenai kesehatan mental. Nah, tapi apa pentingnya memiliki kesadaran akan kesehatan mental? Bagaimana kesadaran stigma kesehatan mental itu bisa mempengaruhi pola pikir orang Indonesia?

Jawabannya adalah jelas, kesehatan mental merupakan hak seluruh manusia, tidak terkecuali ras, suku, agama, gender, dan status sosial. Kesehatan mental berkorelasi kuat dengan kesehatan fisik. Sebuah riset Canadian Mental Health Association (2020) menyatakan bahwa orang dengan kesehatan mental yang rendah akan sering mengalami gangguan kesehatan fisik, begitu pula sebaliknya, orang yang memiliki kesehatan fisik rendah memiliki risiko kesehatan mental yang juga rendah. Maka dari itu, riset juga menyarankan bahwa segala tindakan yang bertujuan untuk mengedukasi masyarakat tentang menjaga kesehatan fisik pun harus menyasar kepada kesehatan mental (Ohrnberger, Fischera, & Sutton, 2017).

mental health

Pandangan Masyarakat Indonesia terkait Kesehatan Mental

Uraian di atas menggarisbawahi bahwa kesadaran akan kesehatan mental seharusnya dimiliki oleh semua orang, tak terkecuali teman-teman kita yang belum memiliki pengetahuan psikologi. Keuntungannya, menurut sebuah penelitian terkini, seseorang yang aware terhadap kesehatan mental akan cenderung memiliki life skill yang diperlukan untuk menghadapi situasi yang sulit, termasuk diantaranya memiliki coping skill yang efektif dan perilaku help seeking behavior yang tinggi (Salerno, 2016). Namun kenyataannya, masyarakat Indonesia masih memiliki pengetahuan dan kesadaran yang rendah mengenai kesehatan mental. Dilansir oleh VOA Indonesia (2019), sesungguhnya rendahnya kesadaran masyarakat Indonesia mengenai kesehatan mental disebabkan oleh stigmatisasi dan miskonsepsi masyarakat mengenai penderita gangguan psikologis. Masyarakat Indonesia juga masih melabeli penderita gangguan mental sebagai orang berbahaya dan tidak bisa disamaratakan perlakuannya dengan orang-orang biasa. Andreas Kurniawan, seorang psikiater yang diwawancarai dalam berita VOA tersebut, mengatakan bahwa kebanyakan masyarakat Indonesia masih bingung cara merespon orang yang ingin bunuh diri atau depresi. Hal ini cukup ironis, mengingat negara kita dikenal sebagai negara paling ramah di dunia dan memiliki budaya gotong royong yang tinggi.

Usaha-usaha Mengubah Stigma Di Masyarakat

Meskipun kesehatan mental masih menjadi masalah dalam masyarakat Indonesia, ada sejumlah cara untuk mengajak masyarakat menyadari pentingnya kesehatan mental serta mengurangi stigmatisasi dan miskonsepsi tersebut, antara lain:

  1. Memberikan informasi yang akurat dan relevan

Segala hal yang berhubungan dengan penyebaran informasi di era digital ini merupakan suatu bahasan yang cukup serius. Kamu akan menemukan banyak sekali informasi yang tidak tahu benar atau tidaknya sumbernya. Oleh sebab itu, calon-calon psikolog Indonesia sudah seharusnya memberikan informasi yang akurat dan relevan kepada publik mengenai kesehatan mental. Salah satu usaha edukasi kesehatan mental adalah melalui webinar. Dilansir oleh Media Indonesia (2020), dalam rangka menyambut Hari Kesehatan Mental Dunia 2020, alumni Ikatan Alumni Universitas Indonesia (Iluni UI) Psikologi mengadakan webinar yang menekankan bahwa salah satu usaha meningkatkan kesadaran kesehatan mental dimulai dari keluarga, antara lain perlu adanya sistem dan relasi sosial yang peduli dengan kesehatan mental di keluarga.

  1. Melibatkan diri dalam treatment

Apabila kamu atau orang terdekatmu memerlukan treatment kesehatan mental, jadilah pihak yang men-support serta menyuarakan tentang pentingnya treatment tersebut. Tidak hanya itu, sebagai perwakilan klien, kamu juga bisa menyuarakan ketidakpuasanmu mengenai treatment yang kamu dapatkan. Ingat, pendapatmu sangat penting untuk kemajuan penanganan kesehatan mental di Indonesia.

  1. Melakukan kampanye kesehatan mental
Lelaki juga bisa sedih
Lelaki juga bisa sedih ya!

Selain memulai dari hal-hal yang mudah, kamu tidak harus melakukan kampanye kesehatan mental dengan mengumpulkan banyak orang. Cukup dengan melakukan kegiatan sehari-hari yang mendukung kesehatan mental, menyebarkan informasi mengenai layanan kesehatan mental, atau berbicara tentang masalah kesehatan mental yang pernah kamu alami. Di zaman sekarang, media sosial yang semakin tinggi penggunanya bisa menjadi platform untukmu berbagi cerita dan pengetahuan dengan orang-orang di sekitarmu. Kamu bisa memulai dengan membuat post di Instagram, Facebook, dan Twitter, atau membuat podcast dan video Youtube tentang kesehatan mental.

Bagaimana Usaha Ini Bisa Berkelanjutan?

Teori Health Belief Model (HDM) memberi penekanan pada empat pandangan individu yang menyebabkan seseorang mempertahankan help seeking behavior atau perilaku mencari bantuan terkait kesehatannya, yaitu:

  1. Perceived susceptibility (pandangan mengenai kerentanan individu dalam menghadapi penyakit)
  2. Perceived severity (pandangan terhadap tingkat keparahan penyakit)
  3. Perceived benefits (pandangan terkait manfaat menerima treatment)
  4. Perceived barriers (pandangan terkait hambatan menerima treatment)

Di antara keempat pandangan ini, bisa disimpulkan bahwa help seeking behavior individu bergantung pada kesadarannya mengenai suatu penyakit dan bagaimana treatment akan berperan penting baginya. Teori ini begitu erat kaitannya dengan topik kita kali ini. Seringkali, orang-orang memiliki kecenderungan ‘takut ke psikolog’ karena beranggapan mereka akan dibawa ke rumah sakit jiwa, yang memiliki konotasi negatif di masyarakat. Tidak menampik pula bahwa film-film dan berita di televisi menyiarkan ‘orang sakit jiwa’ sebagai individu yang berbahaya dan tidak normal. Maka dari itu, tugas kita sebagai warga Indonesia, terutama yang berpendidikan si psikologi, adalah menghapus konotasi negatif itu. Memang tidak bisa secara keseluruhan, tetapi dengan cara bertahap dan berkelanjutan.

Kampanye mengubah stigma kesehatan mental yang terus menerus dilakukan di Hari Kesehatan Mental pun tidak bisa efektif dampaknya bila tidak disertai dengan tindakan nyata dan peran  para pemangku jabatan. Dalam situasi COVID-19, pemerintah Amerika Serikat telah menerbitkan sebuah kebijakan mengenai kesehatan mental bagi warga negaranya. Dikutip dari Psychiatry Online (2020), diketahui bahwa dana yang dikeluarkan pemerintah Amerika Serikat mencapai 425 juta dollar yang diberikan kepada Substance Abuse and Mental Health Services Administration (SAMHSA) untuk menangani isu-isu kesehatan mental yang dialami warga, sementara 250 juta dollar diberikan kepada Certified Community Behavioral Health Clinic (CCBHC) untuk mendukung tindakan darurat selama pandemi COVID-19. Sementara di Indonesia, kita tahu bahwa usaha pemerintah dalam mengatasi pandemi COVID-19 masih terhambat oleh minimnya fasilitas. Itu pun baru terkait penanganan secara fisik. Dilansir oleh The Jakarta Post, berdasarkan data WHO terkini, Indonesia termasuk ke dalam 93% negara yang mengalami darurat kesehatan mental selama pandemi dan tercatat sebanyak 260 juta jiwa penduduk Indonesia mengalami kecemasan diakibatkan pandemi. Oleh sebab itu, pemerintah Indonesia tidak hanya diharapkan untuk menyerahkan penanganan kesehatan mental kepada psikolog dan Rumah Sakit Jiwa saja, tetapi juga mengalokasikan dana agar bantuan kesehatan mental yang dibutuhkan masyarakat bisa terlaksanakan.

Yang terakhir, dan yang terpenting, apabila dana sudah dikeluarkan, tinggal niat yang diteguhkan. Tanyakanlah pada dirimu sendiri, siapkah kamu sebagai generasi muda Indonesia untuk menjadi agen perubahan stigma mental health? Seperti yang sudah disampaikan pada uraian sebelumnya, kampanye kesehatan mental bisa dimulai dari hal-hal kecil, termasuk diri kita sendiri. Bukan berarti kamu harus kuliah psikologi, tetapi dengan membuka pikiran dan memperluas pandangan agar ke depannya, Indonesia tidak hanya bebas korupsi, tetapi juga bebas stigmatisasi.

References:

Canadian Mental Health Association. (2020). Connection Between Mental and Physical Health. Dipetik dari Canadian Mental Health Association: https://ontario.cmha.ca/documents/connection-between-mental-and-physical-health/#:~:text=The%20associations%20between%20mental%20and,of%20developing%20poor%20mental%20health.

Goldman, M. L., Druss, B. G., Horvitz-Lennon, M., Norquist, G. S., Kroeger Ptakowski, K., Brinkley, A., … Dixon, L. B. (2020). Mental Health Policy in the Era of COVID-19. Psychiatric Services, appi.ps.2020002. doi:10.1176/appi.ps.202000219

Mind for Better Mental Health. (2017). Mental Health Problems – An Introduction. Dipatik dari Mind for Better Mental Health: https://www.mind.org.uk/information-support/types-of-mental-health-problems/mental-health-problems-introduction/stigma-misconceptions/.

Nurcahyadi, G. (2020, Oktober 13). Kesadaran tentang Kesehatan Mental Mulai Meningkat. Dipetik dari Media Indonesia: https://mediaindonesia.com/humaniora/352480/kesadaran-tentang-kesehatan-mental-mulai-meningkat.

Ohrnberger, J. & Fichera, E. & Sutton, M. (2017). The relationship between physical and mental health: A mediation analysis. Social Science & Medicine. 195. 10.1016/j.socscimed.2017.11.008.

Rural Health Info. (2020). The Health Belief Model. Dipetik dari Rural Health Information Hub: https://www.ruralhealthinfo.org/toolkits/health-promotion/2/theories-and-models/health-belief#:~:text=The%20Health%20Belief%20Model%20is,models%20for%20understanding%20health%20behaviors.

Salerno, J. (2016). Effectiveness of Universal School-Based Mental Health Awareness Programs Among Youth in the United States: A Systematic Review. Journal of School Health. 86. 922-931. 10.1111/josh.12461.

The Jakarta Post. (2020, Oktober 8). Mental health services disrupted in 93% of countries during COVID-19 pandemic: WHO. Dipetik dari The Jakarta Post: https://www.thejakartapost.com/news/2020/10/08/mental-health-services-disrupted-in-93-of-countries-during-covid-19-pandemic-who.html.

Tuasikal, R. (2019, Oktober 16). Kesehatan Jiwa Indonesia Makin Sadar Tapi Terganjal Stigma. Dipetik dari VOA Indonesia: https://www.voaindonesia.com/a/kesehatan-jiwa-indonesia-makin-sadar-tapi-terganjal-stigma/5125203.html.

Artikel Terkait

1 comment

Marzuqotun Najiyah Maret 24, 2021 at 3:13 PM

Maaf mau tanya, bagaimana cara mengubah stigma negatif mengenai orang dengan gangguan mental dimana stigma tersebut sudah sangat erat melekat di masyarakat terlebih masyarakat pedesaan? Sudah semacam budaya sehingga susah sekali untuk dihilangkan

Reply

Leave a Comment