Image default

Apa itu Leader-Member Exchange?

Pernah kah kamu saat menjadi bagian di sebuah organisasi atau bekerja di sebuah perusahaan memiliki relasi yang dekat dengan atasan? Baik ketika bekerja atau pun di luar kegiatan kerja? Jika iya, artinya pemimpin Anda menggunakan pendekatan Leader Member Exchange (LMX).

Banyak orang rela meninggalkan pekerjaannya karena pemimpin yang buruk. Jika suatu saat ditunjuk menjadi seorang pemimpin perlu menjalin relasi yang baik dengan anggota tim. Maka dari itu, simak penjelasan berikut ini agar mengetahui cara menjadi pemimpin yang menyenangkan.

Leader-Member Exchange

Leader member exchange (LMX) adalah tipe kepemimpinan yang menekankan pada kualitas hubungan antara pemimpin dan anggota (Dienesch & Liden, 1986). Seorang pemimpin menjalin hubungan pada setiap anggota tim. Relasi tersebut tidak hanya saat bekerja namun di luar pekerjaan pun memiliki hubungan yang baik.

Kualitas hubungan antara pemimpin dengan anggota ditentukan pada saat dua bulan pertama (Dansereau dalam Shapiro, Shore, Taylor, & Tetrick, 2004). Pada kesempatan tersebut, pemimpin perlu berkenalan secara mendalam pada anggotanya. Namun perlu diingat ada batasan-batasan pribadi yang tidak perlu diketahui seluruhnya. 

Seorang pekerja yang memiliki kualitas hubungan yang baik dengan pemimpinya akan memberikan dampak positif pada pekerjaan (Dansereau dalam Shapiro, Shore, Taylor, & Tetrick, 2004). Pekerja akan memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi, memberikan kontribusi yang lebih pada tim dan menunjukkan kinerja yang lebih bagus. Sebaliknya, jika pemimpin memiliki relasi yang buruk dengan anggota maka akan mempengaruhi kinerja dan memicu intensi untuk keluar dari pekerjaan.

Aspek-aspek Leader Member Exchange

Menurut Liden & Maslyn (1998) mengungkapkan bahwa terdapat empat aspek atau komponen dalam leader member exchange, berikut keempat aspek atau komponennya:

1. Afek

Afek ditunjukkan dengan adanya ketertarikan antar satu sama lain untuk berkenalan. Ketertarikan tersebut berupa keinginan untuk berteman dan mengenal lebih dalam, serta terdapat empati dalam bekerja. Selain itu, pemimpin dan anggota sama-sama menikmati menjadi bagian dari sebuah organisasi atau perusahaan.

2. Loyal

Loyal yaitu anggota dan pemimpin saling memberikan dukungan dan kepercayaan. Misalnya pemimpin percaya bahwa anggotanya bisa menyelesaikan tugas dengan bagus tanpa dikontrol setiap saat.

3. Kontribusi

Kontribusi menggambarkan apa yang dilakukan pemimpin dan anggota memberikan kontribusi positif untuk organisasi . Artinya, apa yang dikerjakan akan membuahkan hasil yang bermanfaat pada tempat ia bekerja.

4. Hormat

Rasa hormat menggambarkan tingkat saling menghargai keunikan, keunggulan atau keahlian masing-masing. Pada dasarnya setiap manusia adalah individual differences yang artinya setiap individu memiliki kelebihan dan karakter masing-masing. Jadi, perbedaan pada setiap orang tidak bisa dibandingkan namun perlu dihargai.

Tips Menjadi Pemimpin dengan LMX

Pemimpin yang buruk dapat menjadi alasan seseorang tidak betah dengan pekerjaannya dan dapat menganggu kesehatan mental. Diperlukan sebuah pemimpin yang mampu mengayomi dan membuat nyaman anggotanya. Berikut tips dalam mengaplikasikan LMX atau leader member exchange:

1. Menyambut anggota baru

Apabila dalam sebuah tim kedatangan anggota baru, pemimpin wajib mengajak anggota lama untuk memberikan sambutan dan perkenalan pada anggota baru. Adanya sambutan menunjukkan bahwa tim terbuka dengan orang baru. Anggota baru pun akan merasa lebih diterima di lingkungan baru.

2. Kenali love language

Pada umumnya love language diaplikasikan untuk hubungan dengan partner namun love language bisa diaplikasikan juga dengan rekan kerja. Sebagai pemimpin baiknya mengerti jenis love language anggota timnya sehingga bisa mengekspresikan bentuk kepedulian dengan cara yang tepat. Misalnya dengan memberikan hadiah kecil, kata-kata suportif atau hangout bersama.

3. Bonding

Bonding adalah sebuah kegiatan yang bertujuan untuk menambah keakraban dengan sesama anggota. Kegiatan tersebut menjadi waktu yang tepat untuk saling mengenal karakter seseorang di luar pekerjaan. Pilihlah sebuah acara yang menyenangkan dan jangan membahas pekerjaan. 

Aktivitas bonding bisa dilakukan setelah jam kerja, weekend atau di hari tertentu. Misalnya makan malam bersama, nonton bioskop, bersepeda atau jalan-jalan keluar kota.

4. Menyelaraskan tujuan

Organisasi atau perusahaan serta sebuah tim memiliki tujuan bersama yang harus dicapai. Pemimpin perlu memperjelas dan menyelaraskan tujuan dengan anggota tim agar bekerja pada arah yang sama. Jika antar pemimpin dan anggota memiliki persepsi yang sama serta selaras dalam memaknai pekerjaan maka akan memberikan kontribusi dan manfaat yang baik bagi perusahaan.

5. Memberikan Otonomi

Otonomi adalah sebuah kebebasan untuk mengatur diri sendiri. Apabila seorang pemimpin memberikan otonomi artinya pemimpin menaruh kepercayaan pada anggota timnya.

Pemimpin tidak perlu melakukan kontrol pada setiap aktivitas anggotanya. Anggota tim diberi keleluasaan dalam berpikir dan mengatur pekerjaan sendiri. Kebebasan dalam berpikir dan bertindak akan mengarahkan kreativitas.

6. Memberikan apresiasi dan feedback

Memberikan apresiasi sebagai bentuk menghargai usaha dan kerja keras. Apresiasi diberikan kepada anggota timnya setelah menyelesaikan sebuah pekerjaan. Apresiasi dapat berwujud ungkapan atau benda.

Feedback yang membangun dapat menjadi masukan yang berharga bagi individu. Melalui feedback seseorang mengetahui hal-hal yang perlu ditingkatkan dan dipertahankan sehingga ada peningkatan kualitas diri.


Menjadi pemimpin bukan hanya berfokus pada tugas namun perlu hubungan baik dengan anggota. Jadi, LMX sangat tepat diaplikasikan untuk efektivitas sebuah tim.

References

  • Dienesch, R. M., & Liden, R. C. (1986). Leader-member exchange model of leadership: A critique and further development. The Academy of Management Review, 628-634.
  • Liden, R. C., & Maslyn, J. (1998). Multidimensionafity of Leader-Member Exchange: An Empirical Assessment through Scale Development. Journal of Management, 43-72.
  • Shapiro, J., Shore, L., Taylor, M. S., & Tetrick, L. (2004). The employment relationship. New York: Oxford University Press.

Artikel Terkait

Leave a Comment