Image default

Memahami Ketindihan dari Sudut Pandang Psikologi

Adakah yang pernah mengalami ketindihan baru-baru ini? Ketindihan atau sleep paralysis adalah salah satu gangguan tidur yang ditandai oleh tubuh tiba-tiba kaku saat kita sedang berbaring. Di kepercayaan dan budaya kita, ketindihan itu selalu dikait-kaitkan dengan fenomena mistis. Tapi sebetulnya, ada pandangan psikologis yang bisa menjelaskan fenomena ini, lho! Yuk, simak bersama dalam artikel ini!

Gejala dan Mitos

Bagi yang sudah pernah mengalami sleep paralysis, kalian pasti sudah sangat awam dengan munculnya gejala-gejala berikut ini:

  1. Sulit bergerak saat tidur.
  2. Pikiran terjaga, namun tubuh terasa kaku.
  3. Kesulitan bernafas.
  4. Munculnya halusinasi.
  5. Mimpi yang terlihat begitu nyata.
  6. Sering terbangun dan tidak bisa tidur nyenyak.

Seperti yang sudah diuraikan secara singkat di atas, sleep paralysis sangat lekat dengan mitos-mitos yang muncul di masyarakat, khususnya di Indonesia. Masih banyak orang yang percaya bahwa ketindihan merupakan gangguan roh jahat atau jin. Namun sebetulnya, ada penyebab scientific yang bisa menjelaskannya.

Pandangan Medis

Secara umum, penyebab sleep paralysis berkaitan dengan kebiasaan dan gaya hidup kita. Maka dari itu, sleep paralysis paling sering terjadi pada orang yang suka mengonsumsi alkohol dan memiliki hipertensi.

Selain itu, sleep paralysis ternyata bisa dipengaruhi oleh adanya gangguan tidur lainnya, misalnya narcolepsy, di mana otak kita cenderung sulit meregulasi pola tidur. Pemicu lainnya adalah insomnia, gangguan pernafasan, stres berat, post-traumatic disorder, serta gangguan mental lainnya seperti kecemasan dan depresi. Hm, menarik, ya? 

Jadi, bisa disimpulkan bahwa sleep paralysis alias ketindihan itu bisa jadi bukan gangguan supranatural, melainkan pertanda bahwa tubuh kita sedang nggak baik-baik saja, sehingga berefek kepada proses tidur kita. Usut punya usut, tidur nyenyak itu bermanfaat bagi kesehatan kita, lho! Mari baca kelanjutannya.

Mengapa Kita Butuh Tidur Nyenyak?

Ketika kita tidur, sebetulnya terdapat proses yang bertahap, yang dinamakan fase tidur. Menurut Mark Wu selaku expert dari John Hopkins Medicine, fase tidur yang kita alami terdiri dari rapid eye movement (REM) dan non-REM. Fase non-REM sendiri terdiri dari empat tahapan sebagai berikut:

  • Tahap 1: Terjaga dan tidur
  • Tahap 2: Tidur ringan
  • Tahap 3 dan 4: Deep sleep atau tidur nyenyak

Tidur REM atau REM sleep ditandai dengan gerakan mata yang cepat di balik kelopak mata yang tertutup. Apabila diperiksa dengan EEG, gelombang otak kita saat mengalami REM sleep serupa dengan gelombang saat terjaga. Saat itulah kita biasanya mengalami mimpi yang beraneka warna.

REM sleep adalah fase tidur yang penting bagi anak-anak, karena berperan dalam proses pertumbuhan mereka. REM sleep juga sangat penting bagi proses belajar dan memori. Persentase kebutuhan REM sleep berkurang ketika kita beranjak dewasa. Maka dari itu, orang dewasa dianjurkan tidur minimal 7 jam atau lebih dalam sehari. Jika kita kekurangan tidur, banyak risiko penyakit yang bisa menyerang kita, seperti obesitas, hipertensi, penyakit jantung, dan lain-lain.

Lalu, di fase apa sleep paralysis biasanya terjadi? Dikutip dari website Stanford Health, sleep paralysis biasanya terjadi pada fase REM Sleep, dan itu adalah hal yang normal. Namun, apabila terjadi di luar fase tersebut, berarti memang merupakan gangguan yang harus disembuhkan. Jadi, apabila kamu sering mengalami ketindihan saat baru beberapa saat tertidur, mungkin inilah waktunya kamu berkonsultasi dengan ahlinya.

Pengobatan dan Pencegahan

Mencegah sleep paralysis bisa dilakukan dengan pengobatan profesional jika sudah terlalu sering terjadi, namun bisa juga kita atasi dengan mengubah kebiasaan sehari-hari. Berikut ini adalah hal-hal yang bisa kita lakukan untuk mencegah ketindihan:

1. Tidak mengonsumsi kafein secara berlebihan

Kopi, teh, dan coklat adalah beberapa makanan dan minuman mengandung kafein yang sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Berdasarkan riset, daun teh mengandung 3.5 % kafein, lebih tinggi daripada biji kopi yang hanya 1.1-2.2 % kafein.

Namun, dalam proses penyeduhan, air panas yang merendam biji kopi bisa melarutkan kafein, sehingga minuman kopi akan memiliki kadar kafein yang lebih tinggi daripada teh. Kafein sendiri bisa menstimulasi tubuh, sehingga kamu tidak akan merasa mengantuk. Makanya, kafein cocok buat kamu yang suka lembur.

Namun, apabila kamu mengonsumsinya terlalu banyak, kamu harus berhadapan dengan risiko kesehatan, dan sleep paralysis adalah salah satunya. Gangguan kesehatan lainnya yang diakibatkan konsumsi kafein berlebihan ialah insomnia, tubuh gemetar, sakit kepala, jantung berdebar-debar, hingga keinginan terus menerus buang air kecil. 

2. Meregulasi jadwal tidur dan tidak begadang

Ingat, otot-otot di tubuh kamu bisa mengalami tension alias kaku kalau terus menerus beraktivitas tanpa henti. Akibat kelelahan hebat tidak hanya berefek kepada tubuhmu, melainkan juga kesehatan mental. Jika kamu tidak mau terserang depresi dan kecemasan, biasakan tidur tepat waktu, ya!

3. Rajin membersihkan lingkungan tempat tidur

Sleep paralysis juga ditandai dengan kesulitan bernafas. Jadi, apabila kamu punya waktu luang, bersihkan dan rapikan kamarmu supaya kamu tidak kekurangan oksigen saat tidur. Lebih parah lagi, debu di kamar dan tungau yang hidup di dalamnya bisa menyebabkan penyakit paru-paru, salah satunya asthma.

4. Menghindari aktivitas fisik yang berat sebelum tidur

Siapa yang suka berolahraga malam-malam? Ya, meskipun olahraga itu bagus untuk kesehatan fisik dan mental kita, para ahli menyarankan untuk tidak berolahraga terlalu berat di malam hari. Hal ini dikarenakan olahraga bisa men-trigger sistem saraf dan meningkatkan detak jantung. Alhasil, alih-alih bisa istirahat dengan nyenyak, kamu akan semakin rawan terkena gangguan tidur.

5. Meditasi sebelum tidur

Istirahat yang optimal tidak hanya bisa didapatkan lewat tidur, namun juga meditasi atau latihan pernafasan (breathing exercise). Meditasi sebelum tidur bisa membantumu meredam ketegangan dalam tubuh dan menstimulasi ketenangan dalam jiwa. Hal ini disebabkan meditasi bisa meningkatkan produksi serotonin dan melatonin, yang bisa membantumu tidur nyenyak.

Hari gini masih menganggap ketindihan itu berhubungan dengan mitos? Mending coba refleksi diri, sudah berkualitas kah tidurmu? Jika kamu masih sering mengalami ketindihan, coba terapkan tips-tips di atas, yuk! Jika bukan kita yang menjaga pola hidup demi kesehatan kita sendiri, siapa lagi?

Artikel Terkait

Leave a Comment