Image default

Kenapa Pria Lebih Sulit Mengekspresikan Emosi?

Pernahkah kamu mendengar istilah ‘Real Men Don’t Cry’, yang berarti bahwa laki-laki sejati tidak menangis atau menunjukkan kesedihannya. Hal ini menjadi sebuah pandangan yang melekat secara turun-temurun mengenai konsep pria sejati. Apakah kamu setuju mengenai konsep ini? Lalu bagaimana cara pria mengekspresikan emosinya?

Gender dan Emosi pada Pria

Berbicara mengenai ekspresi emosi pada pria, tidak layak rasanya jika tidak membahas mengenai bagaimana sebenarnya konsep gender dan emosi. Apakah terdapat perbedaan antara pria dan wanita dalam mengekspresikan emosi?

Ekspresi emosi sendiri menurut Gunarsa (2009) adalah suatu bentuk komunikasi guna menyampaikan dan mengungkapkan perasaan maupun emosi yang dirasakan melalui perubahan raut wajah maupun gesture. Seseorang melakukan ekspresi atas emosi yang dirasakan guna mengomunikasikan bagaimana perasaannya seperti menangis, tertawa, hingga marah. Emosi yang dimiliki oleh setiap individu baik pria maupun wanita dapat diekspresikan guna memberikan informasi perihal apa yang sedang dirasakan pada saat atau kondisi tertentu.

Ekspresi emosi dipengaruhi oleh banyak hal, seperti faktor budaya dan lingkungan hingga faktor biologis. Pada berbagai penelitian disebutkan bahwa wanita cenderung lebih mudah untuk mengekspresikan emosinya dibandingkan dengan pria. Salah satu penelitian menyebutkan bahwa wanita memiliki skor yang jauh lebih tinggi daripada pria dalam tes standar pengenalan emosi, kepekaan sosial, dan empati.

Hal ini dijelaskan melalui studi neuron bahwa wanita lebih banyak menggunakan area otak yang mengandung neuron cermin (mirror neuron) dibandingkan pria. Neuron cermin memungkinkan seseorang untuk turut dapat merasakan suatu peristiwa dari sudut pandang orang lain. Hal tersebut mungkin menjelaskan mengapa wanita bisa mengalami dan merasakan kesedihan yang lebih dalam dibandingkan dengan pria.

Perbedaan ekspresi emosi antara pria dan wanita lebih banyak dijelaskan dari faktor sosial dan budaya. Adanya standar sosial dan budaya terhadap bagaimana pria dan wanita mengekspresikan emosi menjadi penyebab dominan kenapa pria cenderung sulit untuk mengekspresikan emosinya. Penelitian menunjukkan bahwa adanya peran-peran tertentu yang diemban di dalam sosial yang mempengaruhi perbedaan ekspresi emosi pada pria dan wanita.

Wanita cenderung ditempatkan pada peran-peran feminin yang sering kali dikaitkan dengan sosok pengasuh, penyayang. Sedangkan pria ditempatkan pada peran sosial maskulin yang dikaitkan dengan sosok yang kuat dan pelindung.

Peran sosial tersebut kemudian berkembang sehingga menempatkan pria lebih banyak menekan atau tidak mengungkapkan secara terbuka emosi mereka daripada wanita. Hal ini membuat pria jarang melatih dan mengenali emosinya sehingga mengalami kesulitan untuk dapat mengekspresikan emosinya sendiri. Kondisi ini menuntun pria cenderung melakukan perilaku agresif dan lebih mudah mengalami risiko gejala depresi.

Cara Mengekspresikan Emosi pada Pria

Emosi merupakan hal yang dimiliki oleh setiap individu, baik wanita maupun pria. Merasakan kesedihan, kebahagiaan, kemarahan merupakan sebuah anugerah yang dimiliki oleh setiap manusia. Ekspresi emosi dapat dilakukan oleh siapa pun guna untuk memfasilitasi emosi agar dapat tersalurkan dengan baik. Emosi yang tidak diekspresikan akan menjadi tumpukan emosi yang berbahaya di kemudian hari.

Konsep ‘Real Men Don’t Cry’ merupakan bentuk pembatasan pengekspresian emosi pada pria yang termasuk toxic masculinity. Konsep ini mendorong pria untuk lebih banyak menahan emosinya bahkan menolak untuk merasakan emosi tertentu, terutama dalam hal ini kesedihan. Pria yang menangis dipandang sebagai pria yang lemah atau tidak sejati. Padahal semua orang tidak terbatas gender dan berhak untuk mengekspresikan emosinya, termasuk menangis.

Ekspresi emosi merupakan sebuah aktivitas yang memiliki banyak manfaat di dalam kehidupan. Dengan mengekspresikan emosimu, kamu dapat mengenali emosi dan dirimu sendiri jauh lebih dalam dan juga mencegah hadirnya berbagai gangguan seperti kecemasan, stres hingga depresi. Jika kamu adalah seorang pria dan mengalami kesulitan atau kebingungan dalam mengekspresikan emosi, berikut Kampuspsikologi telah merangkum beberapa tips yang bisa kamu lakukan untuk mengekspresikan emosimu!

1. Journaling

Menulis jurnal atau diari merupakan salah satu wadah untuk dapat memfasilitasi emosimu dengan baik. Melalui proses menulis, kamu dapat mencurahkan isi pikiran dan emosimu dalam bentuk tulisan. Proses tersebut akan membantumu untuk dapat mengenali dan memahami lebih jauh mengenai diri dan lebih cerdas secara emosional. Kamu dapat memulai journaling melalui berbagai media seperti menggunakan buku catatan, notes handphone, hingga membuat sebuah blog atau wadah journaling online.

2. Berdialog dengan Teman

Dalam kondisi emosional, pikiranmu akan mengalami kecenderungan kesulitan untuk secara rasional. Bercerita dapat menjadi salah satu cara untuk mengekspresikan emosi dengan baik. Berbicara dengan orang lain seperti teman, sahabat, rekan kerja hingga keluarga dapat membantumu untuk melihat perspektif lain dari apa yang kamu rasakan dan membantumu mengenali emosimu dengan lebih objektif.

3. Take a Break!

Mengambil jeda dalam aktivitas bisa juga menjadi salah satu cara yang membantumu untuk mengenali dan mengekspresikan emosimu. Kamu dapat menggunakan waktu jeda untuk berbagai kegiatan yang dapat membantumu untuk merelease emosi yang kamu rasa. Berbagai kegiatan positif yang produktif seperti melakukan hobi, jalan-jalan, melukis, bermain musik, hingga meditasi dapat menjadi pilihanmu untuk dapat mengekspresikan emosimu!

Merasakan berbagai pengalaman emosi dan melakukan pengekspresian atas emosi yang dirasakan merupakan hal yang sangat baik dan wajar untuk dilakukan oleh seseorang tanpa adanya batasan gender. Baik pria maupun wanita dapat melakukannya. Hal yang menjadi salah adalah ketika kita tidak mampu untuk melakukan pengelolaan atas emosi yang dirasakan. Jadi tidak ada lagi istilah ‘Real Men Don’t Cry’ karena pada dasarnya ‘Real Men Do Cry’.

Referensi

  • Motaqhey, M., Ghanjal, A., Mastri Farahani, R., Ghabaee, M., Kaka, G., Noroziyan, M., & Fadaee Fathabadi, F. (2015). Sex Differences in Neuroanatomy of the Human Mirror Neuron System: Impact on Functional Recovery of Ischemic Hemiparetic Patients. Iranian Red Crescent medical journal, 17(8), e28363. https://doi.org/10.5812/ircmj.28363
  • Safdar, S., Matsumoto, D., Kwantes, C.T., Friedlmeier, W., Yoo, S.H. & Kakai, H. (2009). Variations of Emotional Display Rules Within and Across Cultures: A Comparison Between Canada, USA, and Japan. Canadian Journal of Behavioural Science Vol. 41, No. 1, 1–10
  • Safaria, T. dan Saputra, N. E. (2009). Manajemen emosi: Sebuah panduan cerdas bagaimana mengelola emosi positif dalam hidup anda. Jakarta: Bumi Aksara

Artikel Terkait

Leave a Comment