Image default

5 Kekurangan Jurusan Psikologi

Yup, betul. Seperti yang sudah umum diperbincangkan dimana-mana, psikologi adalah ilmu yang mengenal dan memahami pikiran, perilaku, dan perbuatan manusia. Karena memahami manusia bukanlah hal yang mudah, cabang ilmu psikologi sangat luas dan mencakup area-area seperti perkembangan, kesehatan, perilaku sosial, dan proses kognitif manusia.

Terlihat rumit dan menantang, bukan? Tapi layaknya segala hal di dunia ini, belajar ilmu psikologi juga ada naik turunnya, ada keunggulan dan kekurangannya.

Kekurangan Jurusan Psikologi

Nah, apa saja sih kekurangan masuk jurusan Psikologi?

1. Jika kamu bukan people-person, psikologi mungkin bukan untukmu 

Psikologi itu ilmu yang people-oriented banget. Artinya, hampir semua peluang kerja lulusan Psikologi melibatkan banyak sekali interaksi dan kolaborasi dengan orang lain. Contoh paling umum adalah profesi konselor dan psikolog. Seorang konselor atau psikolog menghabiskan sebagian besar waktu mereka dengan orang lain, baik itu menangani klien secara langsung ataupun berdiskusi dengan rekan kerja sesama terapis. 

Jika kamu tipe orang yang lebih suka menyendiri, tipe yang mandiri, dan lebih menikmati pekerjaan dimana kamu bisa hanyut dalam pikiranmu sendiri dibanding berinteraksi dengan orang, mungkin aspek sosial dari ilmu psikologi ini bisa menjadi tantangan tersendiri untukmu. Tentu ini bukan berarti kamu sama sekali tidak bisa bekerja dalam ruang lingkup psikologi. Ada juga beberapa profesi psikologi yang tidak mengharuskanmu terlibat dengan banyak orang secara langsung. 

2. Lebih suka hal-hal praktikal? Pikir-pikir lagi sebelum masuk jurusan Psikologi 

Hampir semua yang dipelajari di S1 Psikologi itu sifatnya teoritikal. Contohnya, di S1 Psikologi kamu akan belajar tentang topik depresi, namun hal itu masih sebatas definisi, macam-macamnya, dan jenis-jenis terapinya saja. Lulus dari S1 Psikologi, kamu belum punya pengalaman menangani seseorang yang memiliki gangguan depresi, dan tentunya kamu tidak bisa langsung terjun ke dunia praktik dimana kamu bisa menangani klien secara langsung. 

Jadi, kenali dulu dirimu sebelum memilih jurusan psikologi. Apa kamu gemar membaca? Apa kamu tidak masalah mempelajari teori terus menerus selama empat tahun menjalani S1? Apa kamu benar-benar menyukai ilmu psikologi? Apa kamu siap sekolah lebih lama jika ingin terjun ke dunia praktik? 

3. Seringkali sekolah S1 saja tidak cukup

Tentu kamu bisa mendapat pekerjaan yang layak dengan lulusan S1 Psikologi. Dengan sarjana Psikologi (S.Psi), kamu bisa bekerja di instansi yang memberikan layanan psikologis sebagai terapis, content specialist, penulis lepas, dan lainnya. Kamu juga bisa menjadi HR (Human Resources) di perusahaan-perusahaan rintisan. 

Namun, jika kamu menginginkan prospek kerja yang lebih baik dan bayaran yang lebih tinggi, kamu membutuhkan S2 atau S3. Umumnya, pekerjaan seperti psikolog organisasi, psikolog sekolah dan psikolog kesehatan membutuhkan S2. Untuk menjadi psikolog klinis yang menangani orang-orang dengan gangguan mental seperti depresi, kecemasan dan lainnya, tidak hanya S2 yang kamu butuhkan namun juga masa magang yang membutuhkan waktu dua tahun. 

4. Menjadi konselor, psikolog, dan terapis rawan burnout 

Tentu saja burnout bisa dialami siapapun terlepas pekerjaan mereka. Namun sebagai seorang konselor, psikolog, atau terapis yang kesehariannya menangani permasalahan hidup orang lain, burnout jadi lebih memungkinkan. Tidak hanya beban hidup sendiri yang harus dipikul seorang psikolog, namun juga beban hidup orang lain yang ditanganinya sehari-hari. Selain itu, pekerjaan psikolog juga tidak luput dari hal-hal administratif yang harus dikerjakan sebelum tenggat waktu tertentu. 

Maka dari itu, pekerjaan sebagai konselor, psikolog, maupun terapis membutuhkan keterampilan manajemen stres dan pengelolaan emosi yang baik. Meskipun ada hal-hal yang dapat dilakukan untuk meningkatkan keterampilan ini, masuk ke jurusan psikologi dan bercita-cita menjadi psikolog mungkin bukan hal yang bijak dilakukan jika kamu merasa tidak bisa mengatasi situasi-situasi yang menguras emosimu sehari-hari. 

5. Masuk jurusan Psikologi untuk uang? Mungkin jurusan ini kurang tepat untukmu

Layaknya jadi dokter, kurang tepat rasanya masuk jurusan Psikologi karena iming-iming gaji yang besar nantinya. Nyatanya, banyak pekerjaan dalam ruang lingkup psikologi yang digaji rendah atau sedang. Beda ceritanya jika kamu sudah menyelesaikan S2 atau S3. Dengan kualifikasi pendidikan yang lebih tinggi, kamu dapat berkarir di dunia Psikologi dengan gaji yang lebih menjanjikan. 

Namun tidak hanya kualifikasi pendidikan yang menentukan. Gajimu nanti juga bergantung pada faktor-faktor lainnya termasuk bidang spesialisasi apa yang kamu pilih, sektor tempat kamu bekerja, pengalaman kerja yang kamu miliki, dan tempat tinggal yang kamu pilih nantinya. 

Referensi 

  • Cherry, K. (2020). Reasons Not to Major in Psychology. verywellmind. Retrieved from https://www.verywellmind.com/reasons-why-you-shouldnt-major-in-psychology-2795136
  • Jefferys, A. (2021). The Disadvantages of Receiving a Psychology Degree. seattlepi. Retrieved from https://education.seattlepi.com/difference-between-bachelors-degree-psychology-social-work-2907.html

Artikel Terkait

Leave a Comment