Image default

Mendefinisikan Kebosanan dari Kacamata Psikologi

Setelah kuliah online sore ini, aku tiba-tiba merasa bosan. Bukan karena setiap hari belajar psikologi, tetapi bosan merasa capek.

Nah lho, kok bisa begitu? Nggak tau juga ya sebenernya, tetapi gegara itu aku langsung kepikiran untuk menulis tentang kebosanan dari sudut pandang psikologi. Mulai dari definisnya hingga alasan kita bosan.

Oke, kita mulai dari pengertiannya dulu.

Definisi Kebosanan

Jadi, apa definisinya menurut teori kebosanan psikologi?

Kebosanan dapat didefinisikan sebagai keinginan untuk melakukan aktifitas yang menarik yang tak terpenuhi (Eastwood et al., 2012).

Secara detail, Eastwood menjelaskan kebosanan sebagai  keadaan aversif/enggan, yang terjadi saat:

  • Tidak mampu melibatkan perhatian internal atau eksternal.
  • Terfokuskan pada fakta bahwa kita tidak mampu melibatkan perhatian dan partisipasi dalam kegiatan yang memuaskan.
  • Menyalahkan lingkungan atas keadaan enggan mereka.

Kalau lagi bosan itu rasanya kayak waktu jadi lambat. Entah kerena apa, tetapi 10 menit seolah terasa seperti 1 jam. Biasanya sih, refleks kita kalau bosan ya cari hiburan. Mungkin bisa bermain game, buka Instagram, atau cari ribut di Twitter. Namun, kebanyakan tindakan kita hanyalah solusi jangka pendek dan bahkan bisa membuat kita semakin bosan.

Namun, bagaimana perasaan bosan bisa diukur? Skala-skala kebosanan kerap kali menggunakan valens dan arousal untuk mengukur jenis kebosanan seseorang. Colombetti Giovanna (2005) menjelaskan istilah valence dijelaskan karakteristik positif dan negatif dari aspek sebuah emosi. Sedangkan istilah arousal berkisar dari tenang hingga gelisah.

Studi milik Goetz, Frenzel, Hall, Nett, Pekrun, dan Lipanovich (2013) menjadi dukungan empiris terhadap jenis-jenis kebosanan yang diusulkan oleh Goetz dan Frenzel (2006).

Jenis-Jenis Kebosanan

Kebosanan juga dibagi dalam 5 jenis berdasarkan tingkatan valens dan rangsangan.

  1. Indifferent Boredom: Dengan tingkat valens positif yang minimal dan diselingi arousal yang minim. Jenis ini cenderung tenang, memiliki sikap menarik diri, dan acuh tak acuh terhadap sekitar.
  2. Calibrating Boredom: Tingkat valens negatif jenis ini lebih tinggi daripada indifferent boredom, tetapi memiliki tingkat arousal yang rendah. Kebosanan ini membawa cenderung merasa tidak yakin, tetapi terbuka terhadap perubahan suasana atau distraksi/selingan.
  3. Searching Boredom: Tingkat valensnya masih lebih tinggi daripada indifferent boredom, tetapi memiliki tingkat arousal yang lebih tinggi. Jenis ini kerap kali membawa rasa kegelisahan dan mengejar perubahan suasana ataupun selingan secara aktif
  4. Reactant Boredom:  Sesuai dengan namanya, tipe kebosanan ini tingkat valens negatif dan arousal yang tinggi. Jenis ini juga memiliki motivasi yang tinggi untuk meninggalkan kondisi bosan.
  5. Apathetic Boredom: Berbeda dengan tipe lainnya, jenis yang ini memiliki karakteristik afektif (positif/negatif) yang minimal. Kebosanan apathetic juga memiliki tingkat arousal yang sangat rendah. Goetx dkk juga menjelaskan kebosanan ini seperti “learned helplessness.”

Penyebab Kebosanan

Kebosanan memanglah sesuatu yang bisa mempengaruhi semua orang dalam intensitas yang berbeda-beda. Ada yang banyak faktor personal, lingkungan, dan bahkan budaya.

Penelitian dari Chin, Markey, Bhargava, Kassam dan Loewenstein (2017) menemukan bahwa manusia memang mudah merasa bosan. Mereka juga menemukan kalau kita kerap kali bosan saat belajar, melakukan pekerjaan yang sulit, pokoknya hal-hal yang bosenin, monoton, dan susah.

Kebosanan selalu identik dengan hal-hal buruk. Mengusir kebosanan bisa menuntun kita kepada kegiatan-kegiatan yang berbahaya karena kita mencari sensasi, adrenalin, sesuatu yang seru lah. Semua jenis kebosanan akan membutuhkan solusi yang berbeda. Mungkin kamu perlu sesuatu yang menarik perhatian atau mungkin sesuatu yang lebih bermakna. Semua kembali ke masing-masing individu.

Dalam jurnal milik Erin C. Westgate (2019) dikatakan kalau kebosanan berperan penting dalam kehidupan kita. Kebosanan bisa menandakan besarnya perhatian yang kita tuang dan makna dibalik kegiatan yang kita lakukan.

Kesimpulan

Kebosanan adalah perasaan yang muncul ketika kegiatan yang kita lakukan kurang menarik, tidak bermakna, atau gabungan dari keduanya. Orang dapat merasakan kebosanan dalam kerja, rumah tangga, berpacaran, atau dalam hidup. Terdapat juga berbagai jenis yang merupakan gabungan dari emosi afektif (positif/negatif) dan tingkat arousal.

Sayangnya, cara mengatasi kebosanan berbeda-beda sesuai dengan karakter setiap orang, tetapi setidaknya sekarang kamu tahu alasan dibalik kebosanan. Iya kan?

Daftar Pustaka:

Eastwood JD, Frischen A, Fenske MJ, Smilek D. The unengaged mind: Defining boredom in terms of attention. Perspectives on Psychological Science. 2012;7:482–495. doi: 10.1177/1745691612456044.

Chin, A., Markey, A., Bhargava, S., Kassam, K. S., & Loewenstein, G. (2017). Bored in the USA: Experience sampling and boredom in everyday life. Emotion (Washington, D.C.), 17(2), 359–368. https://doi.org/10.1037/emo0000232

Colombetti, Giovanna. (2005). Appraising valence. J Consciousness Stud. 12.

Goetz, T., Frenzel, A. C., Hall, N. C., Nett, U. E., Pekrun, R., & Lipnevich, A. A. (2013). Types of boredom: An experience sampling approach. Motivation and Emotion, 38(3), 401–419. doi:10.1007/s11031-013-9385-y

Goetz, T., & Frenzel, A. C. (2006). Pha ̈nomenologie schulischer Langeweile [Phenomenology of boredom at school]. Zeitschrift fu ̈ r Entwicklungspsychologie und Pa ̈ dagogische Psychologie, 38(4), 149–153. doi:10.1026/0049-8637.38.4.149.

Westgate, E. C. (2019). Why Boredom Is Interesting. Association For Psychological Science, 29(1), 33-40. https://doi.org/10.1177/0963721419884309

Artikel Terkait

Leave a Comment