Image default

15 Istilah Psikologi Yang Wajib Diketahui

Memiliki ketertarikan terhadap ilmu psikologi sering kali membawa kita untuk mempelajari dan mencari tahu berbagai hal yang berkaitan dengan ilmu tersebut. Pada umumnya, proses belajar tersebut biasanya dilakukan secara formal melalui institusi-institusi pendidikan maupun tidak.

Dewasa ini, mempelajari hal-hal umum mengenai dalam ranah psikologi dapat dilakukan dengan lebih mudah melalui artikel-artikel terpercaya, podcast, tayangan video edukasi hingga webinar yang dapat diakses secara mudah dan murah bahkan gratis. Banyaknya informasi dan istilah baru tersebut disadari atau tidak, seringkali mengakibatkan kebingungan atau bahkan kesalahan penafsiran yang membawa dampak yang tidak diharapkan seperti miskomunikasi.

Fenomena kurang tepatnya penafsiran maupun penggunaan istilah dalam psikologi ini dapat diminimalisir dengan memberikan edukasi terkait makna yang sesungguhnya dari kata-kata tersebut. Sejalan dengan hal tersebut, artikel ini disusun dengan tujuan untuk meminimalisir kesalahan penafsiran dan penggunaan kamus dan istilah psikologis pada kehidupan sehari-hari. Berikut ini daftar istilah psikologi beserta artinya yang sering digunakan atau ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.

Berbagai istilah yang dibahas dalam artikel ini hanyalah sebagian kecil dari ribuan istilah lain yang digunakan dalam ilmu psikologi.

1. Post Traumatic Growth

Membicarakan tentang trauma, kondisi psikologis yang dapat muncul pada individu tidak hanya sebatas post traumatic stress disorder atau PTSD. Fenomena lain yang dapat ditemukan terkait trauma adalah post traumatic growth (PTG) yang mana tidak sefenomenal PTSD yang telah banyak diketahui oleh masyarakat.

Kanako Toku (dalam Collier, 2016) menjelaskan bahwa PTG ini merupakan suatu kondisi dimana orang yang memiliki resiliensi yang buruk mengalami pengalaman traumatis yang memberi dampak mendalam atau hingga menimbulkan gangguan mental dan pada akhirnya yang bersangkutan dapat menemukan personal growth.

2. Delusi atau waham

Delusi atau waham merupakan kata yang sering dijumpai dan digunakan untuk menggambarkan kondisi orang baik secara tepat maupun tidak. Sejatinya delusi atau waham merupakan suatu kondisi dimana seseorang memiliki keyakinan yang salah dan merasa bahwa keyakinan yang tidak tepat itu benar. Kiran dan Chaudhury (2009) menjelaskan bahwa keyakinan yang salah atau false beliefs ini tidak ada kaitannya dengan budaya maupun agama tertentu.

Selain itu, kondisi deluasi yang dialami oleh individu juga ditunjukkan dari seberapa kuat yang bersangkutan meyakini keyakinan yang tidak tepat tersebut sebagai sebuah keyakinan yang tepat atau benar (Kiran & Chaudhury, 2009). Misalnya saja seseorang merasa sangat yakin bahwa ia memiliki kekuatan super yang mampu menahan langit yang runtuh.

3. Halusinasi

Selain istilah delusi, halusinasi merupakan kata atau istilah yang juga sering terdengar dalam percakapan sekelompok orang. Dalam ilmu psikologi, halusinasi merupakan sebuah persepsi akan sensori yang salah dan muncul tanpa adanya sumber atau stimulus eksternal (Gazzaniga dkk., 2011).

Bentuk dari halusinasi ini dapat beragam mulai dari penciuman hingga penglihatan. sebagai contoh, individu yang mengalami halusinasi penciuman merasa bahwa ia mencium sebuah bau yang tidak tercium oleh orang lain dan juga tidak ada sumber atau benda yang mengeluarkan bau tersebut.

4. Social loafing

Dalam kehidupan sehari-hari, terutama bagi para pelajar maupun mahasiswa, seringkali kita terlibat dalam kegiatan kelompok. Beberapa waktu mungkin pernah terdengar teman kita menyebutkan istilah social loafing yang belum banyak dipahami oleh orang umum.

Social loafing adalah istilah psikologi yang jarang diketahui, yang menjelaskan fenomena di mana satu atau sebagian anggota kelompok tidak mengerjakan tugas kelompok semaksimal mereka bekerja sendiri karena merasa ada anggota lain yang juga bertanggung jawab atas tugas kelompok tersebut (Pandeirot & Aseng, 2017).

5. Moral dilemmas

Dilema moral atau moral dilemmas sering terjadi dalam kehidupan manusia dan istilah ini tidak hanya digunakan khusus sebagai istilah psikologis karena banyak juga digunakan pada disiplin ilmu lain. Meskipun demikian, dalam ilmu psikologis terdapat definisi tersendiri untuk istilah yang juga dikenal dengan istilah ethical dilemma ini (Ethical Dilemma, t.t.).

Moral dilemmas didefinisikan sebagai kondisi yang mana individu pengambil keputusan harus mempertimbangkan dua atau lebih nilai moral dalam mengambil keputusan dan memilih satu hal yang tetap melanggar nilai norma yang ada (Kvalnes, 2019). Misalnya saja seseorang harus memilih antara mempertahankan diri dengan menembak penjahat dan mempertimbangkan bahwa perilaku menembak orang lain itu salah.

6. Prejudice

Prejudice adalah istilah psikologi sosial yang populer. Sebagai individu yang menjadi bagian masyarakat, rasanya sering kali mendengar dan menggunakan istilah diskriminasi untuk menjelaskan suatu kondisi, tetapi apakah pernah mendengar istilah prejudice?

Kata prejudice mengarah pada sebuah penilaian, sikap, maupun opini tertentu yang telah terbentuk sebelumnya tentang seseorang yang didasarkan keanggotaannya pada kelompok tertentu yang mana mengarahkan pada diskriminasi (Rouse dkk., 2011). Sebagai contoh, ketika seseorang (anggap saja X) melihat individu bertato dan memiliki piercing atau tindik, X menganggap bahwa individu tersebut orang jahat atau bagian dari kelompok gangster.

7. Executive function

Istilah executive function sepertinya belum banyak diketahui oleh orang awam. Meskipun demikian, sepertinya tidak dengan makna dibalik istilah tersebut. Dalam ilmu psikologi kognitif, executive function didefinisikan sebagai keterampilan kognitif tingkat tinggi yang berfungsi untuk mengontrol serta melakukan koordinasi perilaku dan kemampuan kognitif lain yang dimiliki manusia (Executive Functions, t.t.).

Adanya kemampuan ini menjadikan manusia berbeda dari makhluk hidup lain. Hal ini dikarenakan executive function mampu mengatur dan mengarahkan manusia seperti menahan godaan, fokus dan memperhatikan hingga berpikir out of the box (Diamond, 2013).

8. Mnemonics

Masih berkaitan dengan kemampuan kognitif manusia, kata mnemonics mungkin terbilang jarang terdengar dalam keseharian masyarakat kita. Meskipun demikian, tahukah bahwa mnemonics ini sering digunakan terutama oleh para pelajar? Mnemonics merupakan sebuah istilah dalam psikologi untuk strategi tertentu yang digunakan untuk meningkatkan ingatan sebuah informasi baru dengan cara menghubungkan dengan memori yang sudah ada (Gazzaniga dkk., 2011; Mnemonic, t.t.).

9. Delay of Gratification

Istilah delay of gratification mungkin tidak begitu asing tapi tidak juga sepopuler istilah psikologis lain yang sering digunakan seperti halusinasi, delusi dan lain sebagainya. Pada dasarnya istilah ini masih berkaitan dengan executive function yang dijelaskan pada bagian sebelumnya.

Istilah ini didefinisikan oleh Mischel, Shoda dan Rodriguez (dalam Drobetz, 2012) sebagai sebuah penundaan reward atau hadiah yang cepat tapi bernilai kecil untuk mendapatkan reward yang bernilai lebih besar meskipun tidak didapatkan secara cepat. Sebuah contoh dari delay of gratification ini adalah menahan untuk tidak bermain smartphone selama mengerjakan tugas sekolah, agar tetap berkonsentrasi sehingga mendapatkan nilai yang baik setelah tugas tersebut dikumpulkan.

10. Freudian slip

Istilah fruedian slip mungkin belum terlalu banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Namun sama seperti istilah-istilah lain yakni fenomena ini sering ditemukan di tengah masyarakat kita.

Freudian slip seringkali digunakan untuk menyebutkan istilah parapraxis yang didefinisikan sebagai ketidakberfungsian sementara dari seperangkat “alat” ingatan yang ada pada individu yang mana biasanya terjadi tanpa disadari dan mengganggu kinerja yang dilakukan secara sadar (Mahon, 2016). Freudian slip ini dapat memiliki beberapa manifestasi yang bermacam-macam, seperti salah mengucap, membaca, maupun menuliskan kata.

11. Vicarious learning

Pernahkah Anda belajar dari kesalahan orang lain? Seperti melihat teman yang terlambat masuk kelas dan mendapatkan hukuman, kemudian Anda menjadikan hal yang tersebut sebuah pelajaran agar Anda tidak terlambat? Sepertinya sebagian besar dari manusia pernah belajar dari pengalaman orang lain meskipun bentuknya berbeda dari contoh tersebut.

Istilah psikologi pendidikan bernama vicarious learning digunakan oleh Bandura untuk menunjukkan kemampuan individu untuk belajar dari apa yang diobservasi atau dilihat orang tersebut tanpa perlu mengalami sendiri (Mayes, 2015).

12. Catharsis

Sebagian besar dari kita pasti sudah tidak asing dengan istilah catharsis atau katarsis. Jika dilihat berdasarkan teori psikoanalisis katarsis diartikan sebagai proses menghilangkan gejala histeris dengan cara “membicarakan” masalah yang dimiliki (Breuer dan Freud dalam Feist & Feist, 2009).

Secara lebih detail, American Psychological Association mendefinisikan katarsis sebagai bentuk pelepasan afek atau emosi atau perasaan yang berkaitan dengan trauma yang mana sebelumnya ditekan atau repressed ketika pengalaman traumatis tersebut terulang atau terpikirkan kembali (Catharsis, t.t.).

Contohnya saat individu merasakan emosi yang memuncak akan pengalaman tertentu, individu tersebut melepaskan emosinya dengan melakukan aktivitas tertentu seperti bernyanyi, melukis, menggambar, olahraga dan sebagainya.

13. Intelligence

Secara umum, istilah intelligence atau intelegensi dapat diartikan menjadi berbagai bentuk bergantung pada konteksnya. Masyarakat umum mungkin juga jarang menggunakan istilah ini dalam kehidupan sehari-hari terutama dalam konteks psikologis.

Menurut ilmu psikologi, intelegensi didefinisikan sebagai kemampuan individu untuk memecahkan masalah, beradaptasi dan belajar dari pengalaman yang ada (Santrock, 2014). Intelegensi pada individu dewasa terdiri atas dua bentuk yaitu crystalised yang berupa akumulasi kemampuan individu yang akan terus bertambah seiring bertambahnya usia dan fluid yakni kemampuan individu untuk berpikir abstrak yang mana akan menurun saat yang bersangkutan mencapai usia dewasa tengah.

14. Scaffolding

Istilah scaffolding mungkin terdengar asing bagi masyarakat jika dikaitkan dengan konteks psikologi, tetapi nyatanya istilah ini lumrah digunakan terutama dalam menjelaskan perkembangan kognitif anak. Vygotsky (dalam santrock, 2014) mendefinisikan scaffolding sebagai istilah yang menggambarkan di mana orang yang lebih terampil memberikan bantuan yang jumlahnya disesuaikan dengan kemampuan anak.

Sebagai contoh, ketika seorang anak masih kesulitan untuk berjalan sendiri, maka orang lain memberikan bantuan dengan memegang tangan kedua tangan dan kemudian berkurang menjadi satu tangan, sesuai dengan kebutuhan anak tersebut. Secara sederhana, scaffolding dalam konteks psikologi memiliki konsep yang serupa dengan scaffolding yang digunakan dalam pembangunan gedung hanya saja konteksnya berbeda.

15. Sensitive Periods

Selain scaffolding, dalam perkembangan seorang anak sering kita jumpai istilah sensitive periods. Istilah psikologi perkembangan ini digunakan untuk menunjukkan sebuah gagasan yang mana pada saat tertentu stimulus dari lingkungan dapat memberikan efek yang lebih kuat bagi individu dibandingkan saat-saat lain selama masa perkembangan (Bodin dkk., 2011). Misalnya saja periode sensitif untuk mengembangkan secure attachment pada anak terjadi pada tahun pertama usia anak tersebut, yakni 0 hingga satu tahun (Sensitive Period, t.t.).

Demikian sedikit pembahasan mengenai lima belas istilah dalam ilmu psikologi yang perlu untuk dipahami. Semoga dengan adanya penjelasan tersebut dapat meningkatkan pengetahuan dan mengurangi kesalahan pemahaman maupun penggunaan istilah-istilah psikologis dalam kehidupan sehari-hari. Namun perlu diingat kembali bahwa daftar yang ada pada artikel ini hanya sebagian kecil dari istilah psikologis yang digunakan selama ini.

Referensi:

Artikel Terkait

Leave a Comment